“Oh, jadi kamu nantang ya, HAH?!” bentak Yudhis. Mereka berdua beradu pandang. Seakan ada kilatan petir yang terhubung di antara keduanya. BUGH! Tinju melayang tepat mengenai pipi Una. Emosi Yudhis meledak-ledak. Tetapi sayangnya reflek Una sangat buruk kali ini. Ia tak sempat menghindari pukulan Yudhis dan jatuh terjerembab. Darah segar menghiasi sudut bibirnya. Bola di tangan Una menggelinding jauh. Kaka terkejut melihat Una dipukul. Ia semakin ketakutan. Kaka ingin melindungi Una, tetapi tidak tahu harus berbuat apa. “Pegangi dia!” perintah Yudhis pada ketiga anak buahnya. Ketiganya langsung memegangi kedua tangan Yudhis yang hendak melancarkan pukulan kedua. “Apa-apaan kalian ini? Pegangi dia, bukan aku. Bodoh!” maki Yudhis. Ia berusaha lepas dari cengkeraman ketiga temannya. “Ja

