Sesosok serigala berbulu abu-abu gelap dengan ukuran luar biasa berdiri megah di tepi jurang, mengawasi bus yang melaju di bawahnya. Angin kencang meniup bulu lebatnya, dan saat bus melintas tepat di bawah tebing itu, serigala raksasa melompat turun dengan anggun, berlari kencang sejajar dengan laju bus sekolah. Makhluk itu melompati batang-batang pohon tumbang dan bebatuan tanpa kesulitan sedikit pun, tatapan mata emas menyala miliknya terkunci lurus hanya pada jendela tempat Maya duduk.
Jantung Maya berdegup liar. Ia menempelkan telapak tangannya ke kaca bus yang dingin. Serigala itu sempat melambatkan larinya sejenak tepat di samping kaca, menatap Maya dengan binar keemasan yang sarat akan janji posesif, sebelum akhirnya berbelok tajam menyelinap kembali ke rimbunnya semak perbatasan kota.
Bus melaju kian jauh memasuki jalan aspal perkotaan, meninggalkan hutan rimba di belakang. Namun ketika Maya menggenggam erat liontin di lehernya, ia tahu persis bahwa Kael tidak akan membiarkan jarak memisahkan mereka terlalu lama. Rimba itu mungkin telah tertinggal, tetapi bayangan sang pemangsa buas kini telah mengikutinya pulang.
Hari Senin berikutnya terasa jauh dari kata normal. Suasana SMA Garuda dipenuhi keriuhan khas awal pekan, namun Maya berjalan menyusuri koridor sekolah seperti melayang di antara dua dunia. Setiap kali udara dingin menyentuh kulit lehernya, denyut hangat dari balik kerah seragamnya mengingatkan bahwa liontin giok itu masih setia tersemat di dadanya.
Saat bel masuk berdentang nyaring, langkah Bu Rina—wali kelas Maya—terdengar memasuki ruang kelas XII IPA 2. Suasana mendadak senyap saat seorang siswa baru melangkah tepat di belakang sang guru.
"Perhatian semuanya, hari ini kita kedatangan murid pindahan baru," ujar Bu Rina dengan senyum ramah. "Silakan perkenalkan dirimu."
Maya yang awalnya menunduk merapikan buku sontak membeku. Udara di dalam kelas mendadak terasa sarat akan aroma tanah basah dan pinus liar yang menusuk indra penciumannya.
Pemuda itu berdiri tegak di depan kelas dengan seragam sekolah yang tampak sedikit ketat di bahunya yang bidang. Rambut hitam pekatnya jatuh berantakan membingkai rahang yang tegas, sementara tato cakar samar di sisi lehernya tertutup sebagian oleh kerah kemeja putihnya.
"Namaku Kael," ucapnya dengan suara berat dan serak yang langsung membuat seisi kelas terpesona.
Tatapan pemuda itu menyapu seisi ruangan tanpa minat, hingga akhirnya berhenti tepat di meja baris ketiga tempat Maya duduk mematung. Sudut bibir Kael terangkat membentuk senyum tipis yang mematikan, sementara sorot mata keemasannya berkilat liar di balik pantulan cahaya lampu kelas.
"Aku pindah ke sini untuk mencari seseorang yang sangat berharga bagiku," lanjut Kael, suaranya terdengar lembut namun sarat akan ancaman kepemilikan yang hanya dimengerti oleh Maya.
Bu Rina menunjuk satu-satunya bangku kosong yang tersisa—tepat di sebelah Maya. Dengan langkah santai penuh percaya diri bagai predator yang memasuki wilayah barunya, Kael melangkah mendekat. Saat menarik kursinya dan duduk di sisi Maya, ia berbisik sangat pelan hingga hanya gadis itu yang bisa mendengarnya:
"Sudah kubilang, Maya... jarak tidak akan pernah bisa menjauhkan ku darimu."
Napas Maya tertahan di tenggorokan saat kursi di sampingnya bergeser pelan. Kael menaruh tas punggungnya yang tampak ringan di atas meja, lalu menyandarkan punggungnya dengan santai. Gerakan pemuda itu begitu anggun namun sarat dengan keluwesan predator yang selalu siap menerkam. Seisi kelas mulai berbisik-bisik, mengagumi ketampanan liar murid baru itu, tetapi Maya hanya bisa merasakan sensasi panas membakar yang merambat dari liontin giok di balik seragamnya.
"K-kenapa kau bisa ada di sini?" bisik Maya nyaris tanpa suara, menatap lurus ke papan tulis demi menghindari tatapan teman-teman sekelasnya yang mulai melirik ke arah mereka.
Kael menopang dagunya dengan satu tangan, memiringkan kepala ke arah Maya. Sepasang mata keemasannya menelusuri garis wajah gadis itu tanpa rasa malu sedikit pun.
"Hutan itu terlalu sunyi tanpamu, Maya," jawab Kael dengan suara rendah yang menggetarkan meja kayu mereka. "Dan aromamu tertinggal di seluruh penjuru kota ini. Sangat mudah melacak milikku sendiri."
Pelajaran matematika dimulai, tetapi Maya tak mampu mencatat satu angka pun. Setiap kali lengannya tak sengaja bergesekan dengan lengan kemeja Kael, sengatan listrik aneh menjalar di kulitnya. Hawa tubuh Kael luar biasa hangat, kontras dengan AC kelas yang menyala dingin.
Ketika jam istirahat tiba, seorang siswa laki-laki bertubuh jangkung—Fahri, kapten tim basket sekolah yang sudah lama mendekati Maya—berjalan mendekati meja mereka. Dengan percaya diri, Fahri meletakkan kaleng minuman dingin di atas meja Maya.
"Maya, nanti sore nonton aku tanding antar-kelas, ya? Aku simpan satu kursi paling depan untukmu," ujar Fahri sambil tersenyum lebar, sama sekali mengabaikan keberadaan Kael.
Sebelum Maya sempat menjawab, suasana di sekitar meja mereka mendadak membeku. Udara di ruangan itu terasa aneh, dipenuhi desisan bahaya yang tak kasat mata. Kael menegakkan tubuhnya perlahan. Rahangnya mengeras, dan pupil matanya menyempit tajam menatap Fahri.
Kael mengulurkan tangannya, meraih kaleng minuman itu. Tanpa mengeluarkan tenaga yang terlihat, kaleng aluminium tebal di genggamannya remuk seketika hingga cairannya muncrat ke lantai kelas.
"Dia punya rencana lain sore ini," desis Kael dingin. Geraman buas yang samar bergetar di balik pita suaranya, membuat bulu kuduk Fahri berdiri seketika dan langkah kakinya otomatis mundur selangkah karena insting bertahan hidup.
Kael lalu mengalihkan tatapannya kembali ke arah Maya, sorot matanya yang liar melembut dalam sekejap, namun sarat akan obsesi tak terbantahkan. "Benar kan, Maya? Kau akan ikut denganku setelah ini."
Fahri mematung di tempat, wajahnya pucat pasi menyaksikan kaleng minuman yang hancur berkeping di atas meja seperti kertas mainan. Insting dasarnya memperingatkan bahwa pemuda di hadapannya bukan manusia biasa yang bisa dilawan, melainkan predator puncak yang siap merobek lehernya jika ia melangkah maju satu senti lagi. Tanpa sepatah kata pun, Fahri berbalik dan bergegas pergi menjauh dari sudut kelas itu.
"Kael, hentikan! Kau bisa membongkar dirimu sendiri di sini!" bisik Maya panik, menyapu serpihan kaleng yang tersisa dari atas mejanya dengan tangan gemetar.
Kael tidak peduli dengan tatapan ngeri beberapa teman sekelas yang sempat melihat kejadian itu. Ia justru meraih tangan Maya yang gemetar, mengunci jemari lentik gadis itu di dalam telapak tangannya yang besar dan hangat.
"Aku tidak peduli dengan mereka, Maya," gumam Kael dengan tatapan intens yang menghipnotis. "Laki-laki itu berani mengklaim sesuatu yang sudah ditandai. Dia beruntung aku masih menahan diri di tempat ramai ini."
Saat bel pulang sekolah berbunyi sore harinya, Kael tidak melepaskan genggaman tangannya. Ia menuntun Maya keluar dari gerbang sekolah, mengabaikan bisik-bisik murid lain yang terpana melihat murid baru yang dingin dan berbahaya itu berjalan berdampingan dengan Maya. Kael membawa Maya menuju sebuah motor hitam besar yang terparkir di bawah pohon rindang di seberang jalan.