Dua Puluh Empat

1486 Kata

Dikta tidak ingat kapan benar-benar kali terakhir dirinya memegang alat panahan. Karirnya sebagai atlet panahan berakhir begitu cepat dan begitu tiba-tiba, itulah kenapa dia tidak bisa mengingat betul hal tersebut. Sebab, hingga detik ini dia masih menolak fakta akan apa yang terjadi padanya bertahun-tahun lalu. Tanpa sadar laki-laki itu meneguk ludah, untuk pertama kali merasa tidak nyaman memegang busur. Benda yang dulunya bagaikan separuh jiwanya itu, kini terasa seperti benda terlarang yang membuat hatinya terasa berat bukan main. Pandangan Dikta lantas teralih pada sosok Adelia, masih tidak percaya bahwa anak SMP yang dirinya temui bertahun-tahun lalu adalah perempuan itu. Berbeda dari sebelumnya, postur tubuhnya sudah jauh lebih sempurna. Pegangannya pada busur lebih mantap, dan sed

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN