TIGA BELAS

1542 Kata
Nusantara. Distrik 2, 10 Juli 2300. “Hai, nama ku Elisabeth dari distrik 2, usia ku 11 tahun.” Ucap seorang perempuan berambut hitam panjang dengan senyuman manis di bibirnya. Sambil berpura-pura ramah Elisabeth berdiri dihadapan teman-teman barunya di sekolah ini. Di distrik 2 tiap level pendidikan di bedakan dari masing-masing kemampuan yang dimiliki oleh muridnya, ada sekolah yang mengedepankan bidang akademik dan ada yang mengedepankan bidang non akademik. Dikarenakan tingkat kejeniusan Elisabeth yang diatas rata-rata, Elisabeth berhasil masuk ke dalam sekolah akademik dengan level tertinggi. Yang menandakan di umurnya yang baru saja menginjak 11 tahun, dia sudah berhasil duduk disamping siswa-siswa lainnya yang berusia 17 tahun. Hanya sedikit orang yang tersisa dilevel ini, karena kebanyakan siswa lainnya memilih untuk keluar dan menikah. “Benarkah? 11 tahun?” Ucap seorang laki-laki dengan tato di lehernya. “Ya, mohon bantuannya!” Sahut Elisabeth sambil menunduk memberikan hormat. Elisabeth digiring menuju sebuah bangku kosong yang terletak disamping perempuan dengan bando merah di rambut pirangnya. “Kau tidak akan bertahan disini.” Ucapnya. “Kenapa?” “Orang-orang disini lebih pantas disebut binatang daripada manusia. Sebaiknya, kau jauhi manusia dengan batang di sekolah ini sebisa mungkin.” Ucap perempuan itu sambil mengunyah permen karet, Elisabeth menatap perempuan itu cukup lama lalu akhirnya berani menanyakan hal yang mengganggu pikirannya. “Siapa?” Ucap Elisabeth. “Apa?” “Yang menghancurkan hidupmu?” Perempuan itu tertawa menunjukkan gigi putihnya yang rapi. “Kenapa kau menanyakan itu? Kau kira hidup ku hancur?” Elisabeth mengangguk. “Apa yang anak kecil seperti mu tau soal hidup?” “Jangan meremehkanku, bukan tanpa alasan aku bisa menginjak level ini di usia 11 tahun.” Ucap Elisabeth dengan angkuh. “Wah, kau berani juga ya. Memangnya siapa kau? Seorang bangsawan? Apa nama belakangmu?” Ucapnya mengejek Elisabeth. “Aku tidak pantas menyandang nama itu.” “Kenapa?” “Aku tidak diakui bahkan kehadiran ku juga tidak diketahui oleh ayah ku.” “Siapa ayahmu?” “Peter Bornslav.” “Kau seorang Bornslav?!” “Tunggu-tunggu! Peter Bornslav bukannya menteri pendidikan?” Ucap Perempuan itu terburu-buru. Berbeda dengan Amalia, Elisabeth mengangguk dengan wajah datar tanpa rasa semangat sedikitpun. “Keren.” “Aku ingin bertemu dengannya secara langsung. Aku yakin, jika aku bisa menginjak level ini di usia segini, dia pasti akan tertarik pada ku.” “Hahaha, kau memang pintar, tapi kau masih polos ternyata.” Ejek Amalia. “Apa maksudmu? Kau tidak tau apa saja yang telah ku lalui untuk bisa sampai dititik ini, jadi jangan remehkan aku.” “Hahaha. Jangan marah begitu, aku hanya ingin membuka mata mu. Orang-orang di Istana tidak ada yang peduli dengan kita. Bahkan jika kau bisa menginjak level ini di usia 5 tahun, mereka tidak akan peduli. Sistem pendidikan di wilayah Distrik tertinggal sangat jauh dibanding sistem pendidikan di Kerajaan.” Ucap Amalia. “Tapi ada satu cara supaya kau bisa bertemu dengan ayah mu.” “Apa?” Ucap Elisabeth penasaran. “The Unknown.” “Organisasi rahasia yang selama ini di cari kerajaan?” Ucap Elisabeth. “Ya.” “Kenapa dengan mereka?” “Seperti yang ku bilang tadi, menginjak level ini di usia 11 tahun tidak akan menarik perhatian kerajaan.” “Tapi, pasti akan menarik perhatian organisasi rahasia tersebut. Berjuanglah lebih baik lagi. Aku yakin, kau pasti akan dipanggil untuk masuk kesana.” Ucap Amalia. “Siapa namamu?” Ucap Elisabeth. “Amalia, kau bisa memanggil ku kak Amy.” Ucapnya sambil menyodorkan tangan kanannya. “Satu. Aku tidak akan menyentuh tangan mu itu jadi tarik saja kembali, dan dua, aku tidak akan memanggil mu kak.” Ucap Elisabeth serius. Pelajaran pun dimulai, selama jam sekolah berlangsung Elisabeth selalu menempel pada Amalia, banyak siswa-siswi lainnya yang memandangi Elisabeth secara terang-terangan saat perempuan itu memasuki Kantin. Bagaimana tidak? Sejak pihak sekolah mengabarkan soal Elisabeth, semua orang penasaran dengan bagaimana rupa pemegang rekor siswi level A termuda di Distrik 2 itu. “Biarkan saja mereka. Mereka hanya penasaran de-” “Hei! Ku dengar ada p*****r cilik yang menggoda kepala sekolah untuk masuk ke level A!” Sahut seorang pria memotong perkataan Amalia, hanya dengan suara nya yang nyaring itu, dia berhasil membuat seluruh kantin ricuh. “Hei jaga mulutmu!” Sahut Amalia. Elisabeth memandang laki-laki yang sedang menertawakannya dengan ekspresi datar, dan perlahan perempuan itu melangkahkan kakinya mendekati laki-laki dengan rambut mangkok itu. “Kau bilang aku apa?” Ucap Elisabeth sambil menatap mata lelaki tersebut tanpa rasa takut sedikitpun. “p*****r cilik? Ayo katakan, berapa tarif yang dibayar pak kepala sekolah untuk memakaimu?” Tepat setelah laki-laki itu berbicara Elisabeth melompat dan menggores mata kanan laki-laki tersebut dengan pisau kecil di tangannya. “Aku sudah cukup kesal karena prestasi ku saat ini belum bisa mempertemukan aku dengan ayah ku. Dan kau dengan seenaknya mengatakan kalau aku jual diri? Sebaiknya kau bersyukur karena aku tidak membunuh mu.” Semua orang terdiam dan menatap Elisabeth ketakutan, suara tawa laki-laki tadi berubah menjadi jerit kesakitan yang berhasil memenuhi seisi ruangan, Amalia menatap Elisabeth dari kejauhan. Sejak awal dia sudah sadar kalau Elisabeth berbeda dari anak-anak berusia 11 tahun lainnya. Anak kecil di depannya ini sudah terbentuk sempurna oleh  kekejaman dunia dan tidak akan ada yang bisa menghentikannya selain dirinya sendiri. Dia adalah seorang monster. “Ada apa ini?” Ucap seorang guru yang datang karena mendengar kericuhan di kantin, salah satu masyarakat istana itu terkejut saat melihat seorang muridnya terbaring di lantai bersimbah darah dengan Elisabet yang berdiri disampingnya sambil memegang sebuah pisau kecil. “Apa yang kalian lakukan?! Kenapa diam saja?! Bawa dia ke mobil saya!” Ucap perempuan paruh baya itu panik. Dengan cepat 3 orang siswa mengangkat badan laki-laki tersebut keluar dari kantin menuju parkiran guru. “Kau yang melakukan ini?!” Bentak guru tersebut pada Elisabeth, Elisabeth mengangguk tanpa rasa bersalah lalu menunduk. “Dia melecehkan saya.” Ucap Elisabeth. “Bohong bu! Perempuan itu ingin membunuh Agung! Keluarkan dia dari sekolah ini!” Sahut seorang siswa dari kejauhan diikuti dengan makian oleh murid-murid lainnya. “El tidak berbohong bu! Saya melihatnya sendiri. Agung mengata-ngatai Elisabeth pelacur.” “Kamu masuk ke ruang kepala sekolah, saya akan mengurus Agung terlebih dahulu.” “Sedangkan kamu Amalia. Masuk ke kelas, pelajaran selanjutnya akan dimulai lima menit lagi.” “Tenang saja aku akan menemani mu.” Ucap Amalia. “Tidak perlu, aku tidak butuh siapapun. Kembali lah ke kelas.” Ucap Elisabeth lalu pergi menuju ruang kepala sekolah sendirian. “Masuklah, aku sudah tau kejadiannya.” Ucap Gilbert Brahmana, sang kepala sekolah. “Karena perbuatan mu barusan, saya tidak bisa menerima siswa berbahaya seperti mu disini.” “Saya bisa menjelaskannya pak!” “Tidak perlu.” “Saya tidak bisa keluar dari sekolah ini pak, saya harus lulus dari sini dengan nilai terbaik.” “Saya sangat ingin bertemu dengan seseorang. Jika prestasi saya sangat baik, dia pasti akan mendengarnya lalu mencari tahu tentang saya.” “Tapi kelakuan mu tadi benar-benar fatal Elisabeth, kau tidak bisa bersekolah lagi disini, tempat ini tidak cocok dengan orang-orang seperti mu.” Ucap Gilbert dengan tegas. Elisabeth menunduk dan menangis, perempuan itu merutuki kebodohannya yang mengorbankan impiannya hanya dengan sebuah mata milik lelaki tak berguna. “Saya minta maaf. Mohon tarik kembali keputusan bapak. Saya janji saya akan memberikan banyak medali dan piala untuk sekolah ini.” Ucap Elisabeth memohon dengan air mata yang mengalir di pipinya. “Maaf Elisabeth, saya hanya bisa membantu mu agar tidak masuk penjara, tapi tidak untuk mempertahankan mu di sekolah ini. Silahkan kembali ke kelas mu dan kemasi barang-barang mu. Kau bisa pulang sekarang.” Dengan lemas Elisabeth keluar dari ruangan kepala sekolah menuju kelasnya, Elisabeth menatap Amalia dengan tatapan kosong. Perempuan yang baru dikenalnya selama beberapa jam tersebut bangkit berdiri dan memeluk Elisabeth dengan erat. “Senang bertemu dengan mu El, semoga kita bisa jumpa lagi dilain waktu.” Ucap Amalia lalu melepas pelukannya, Elisabeth tersenyum dan membawa semua barang-barangnya kembali ke rumah. “Ya, kalau kau masih hidup setelah tes fisik kerajaan.” Gumamnya. Perempuan itu melangkah masuk dengan kesal sambil membating pintu, Elisabeth berteriak sekuat tenaga sambil memukul-mukul dinding dengan tangannya sampai berdarah. “Bodoh!” Teriaknya penuh amarah. Setelah puas meluapkan emosinya, Elisabeth menghidupkan lampu rumahnya dan menerangi seluruh ruangan. Badannya tersentak kaget saat melihat seorang pria paruh baya dengan seragam tentara duduk di sofanya. “Siapa kau? Kenapa kau ada disini?” Ucap Elisabeth sambil menodongkan pisaunya didepan wajah pria tersebut. “Kuda-kuda yang bagus.” Ucapnya sambil tersenyum tanpa rasa takut sedikitpun. Dengan cepat pria itu beranjak dari tempat duduknya lalu menyerang Elisabeth, anak gadis itu melompat ke belakang untuk menghindari pukulan yang hampir saja mendarat di pipinya. Mereka berkelahi selama beberapa saat dan akhirnya pertarungan dimenangkan oleh pria paruh baya tersebut. “Gerakan mu cepat, badan mu juga sangat ringan dan atletis. Hanya saja serangan mu belum terkontrol, jika dilatih lagi kau bisa jadi pembunuh yang menyeramkan. Dan tentu saja berguna untuk ku.” Ucap pria itu sambil menarik tangan Elisabeth untuk berdiri. “Nama ku Fransiscus Alvero. Aku mengundang mu untuk masuk ke The Unknown.” Ucap Frans namun dibalas dengan satu tendangan telak dari Elisabeth di pipinya. “Persetan siapa kau! Aku tidak peduli.” sahut Elisabeth setelah meludahi wajah kakek tua itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN