“Sekarang apa?” Ucap Agra, perempuan itu menatap bulan dan bintang yang menyinari bumi dengan terangnya, sambil menghela nafas Tomi melepaskan rasa sesak yang tertanam di dadanya sedari tadi, laki-laki itu membuka tas besarnya dan membagikan semua senjata yang dibawanya pada teman-temannya.
“Sarah sudah sadar?” Ucap Dylan pada Aruna, perempuan itu mengangguk dan tak lama kemudian Sarah beranjak dari sebuah batu tempatnya tidur menuju tempat teman-temannya berkumpul.
“Sepertinya kita tidak bisa menyusup ke Istana.” Ucap Dylan.
“Orang bodoh pun tau kalau kita tidak bisa menyusup dengan keadaan seperti ini.” Desis Agra.
“Hei, ada apa ?” ucap Dylan menyadari kegelisahan di wajah Aruna.
“Ada yang sedang ku pikirkan, tapi bukanlah hal penting.” Jawab Aruna sambil tersenyum.
“Tidak apa-apa, kau tau aku akan selalu ada untuk mu.”
“Rasa ku seperti mau muntah.” Ucap Sarah yang membuat Tomi dan Agra tertawa.
“Ada apa Ara? ceritakan saja.” Ucap Agra.
“Setiap malam aku selalu bermimpi buruk tentang hal yang sama, aku melihat Yang Mulia Ratu membunuh Raja Arjuna.”
“Maksudmu?”
“Entahlah, rasanya seperti begitu nyata.”
“Sudahlah, kau tak perlu takut, itu hanya mimpi buruk.”
“Bisa saja itu benar-benar terjadi, kita tidak pernah tau dimana makam Raja Arjuna, yang kita tau dia mati karena terserang penyakit, dan setelah itu Ratu meninggal dunia—“
“Kalau mimpi itu benar-benar nyata aku adalah anak haram dari Raja Arjuna.” Ucap Aruna sambil menghela nafasnya.
“Kau bercanda.” Ucap Agra.
“Aku tidak tau, tapi bagaimana jika itu benar? Karena setelah aku memiliki kalung dengan lambang kerajaan di keranjang bayi ku dulu.”
“Kalung?”
Aruna mengangguk sambil menunjukkan sebuah kalung yang selalu disimpannya dengan baik.
“Kalung tuan putri.” Ucap Sarah kagum, ia tau bahwa kalung tersebut sudah hilang sejak lama entah siapa pencurinya. Sampai sekarang Sarah masih penasaran siapa pencuri dari kalung itu dan ternyata, Aruna lah pemilik dari kalung berharga tersebut.
“Dengan ini kau punya kekuasaan juga di Istana.” Aruna menggeleng.
“Mereka tidak akan mempercayai ku.”
“Ya mereka juga tidak akan mengakui Aruna sebagai Putri kerajaan.” Ucap Dylan.
“Tapi ada satu hal pasti yang bisa kita dapatkan dari masalah ini.” Ucap Sarah
“Menggiring rakyat.” Gumam Tomi menyambung perkataan Sarah.
“Saat ini hanya distrik 1 yang berada di pihak kita, sedangkan distrik lain belum bisa dipastikan, kita harus membawa Aruna kesana, tanpa pikir panjang mereka pasti akan memilih untuk ikut melengserkan Arka kalau ada pewaris yang lain.”
“Ya, tapi kalau sampai Arka tau tentang identitas asli Aruna, dia pasti akan menjadikan Aruna sebagai target utama.”
“Mau gak mau kita harus mengambil resiko itu. Kita butuh rakyat untuk melawan Arka.” Ucap Agra, Tomi mengangguk sambil meletakkan sebuah kotak hitam ditengah-tengah mereka.
“Apa ini?” Ucap Agra mengambil salah satu gelang yang ada didalam kotak tersebut, Tomi mengeluarkan laptopnya lalu menghidupkan alat-alat tersebut.
“Pakai gelang itu ditangan kalian.”
“Jarum apa ini?” Ucap Aruna memperlihatkan sebuah jarum yang ada di sisi gelang tersebut.
“Tusuk jarum itu dipergelangan tangan kalian, aku tau pasti akan sakit, tapi alat ini akan sangat berguna untuk kita nanti.”
Aruna mengangguk dan memakai alat tersebut sesuai dengan arahan dari Tomi, setelah perempuan-perempuan itu memakai gelang tersebut, Tomi mulai menyibukkan dirinya pada laptop didepannya, tubuh Sarah sedikit tersentak saat alat tersebut berhasil di aktifkan.
“Wah!” Sahut Aruna saat ia melihat nilai HP dan MP nya yang terpancar dari sebuah layar kecil di gelang tersebut.”
“Kalau sedang bertarung, kalian dapat melihat damage yang diterima melalui alat tersebut, selain itu kalian juga bisa berkomunikasi dengan alat ini.” Ucap Tomi sambil memberikan sebuah earphone pada masing masing temannya.
“Kenapa punyaku hanya menunjukkan HP?” Ucap Dylan.
“Apa aku perlu menjawab pertanyaanmu?” Ucap Tomi.
“Kau yang membuat ini?” Ucap Dylan.
“Ya, dengan bantuan seseorang.”
“Kau punya teman selain aku?”
“Seorang adik.”
“Sejak kapan kau punya adik?”
“Sekarang bukan waktunya membahas itu, kita harus menyusun rencana untuk besok.” Ucap Tomi.
“Oke-oke, tapi, apa rakyat akan percaya dengan Aruna?” Ucap Dylan.
“Hei, kau tidak lihat? Bandul ini hanya ada 1, dan hanya pewaris perempuan yang sah yang memilikinya.” Ucap Sarah.
“Kita akan merebut markas The Unknown terlebih dahulu.”
“Kau yakin? Tempat itu dipenuhi dengan senjata, lagipula status kita saat ini adalah buronan, kita tidak akan bisa masuk kedalam gedung itu tanpa sepengetahuan siapapun.”
“Aku yakin kita bisa merebutnya, asal kita berhasil melumpuhkan Adam terlebih dahulu.” Ucap Tomi lalu membeberkan rencananya pada Aruna, Sarah, Agra dan Dylan.
“Kau memang gila.” Ucap Dylan sambil menggelengkan kepalanya.
“Kita tidak mungkin meninggalkan Aruna dan Dylan disini, kita pasti butuh kekuatannya disana nanti.” Ucap Agra.
“Tidak, Markas terlalu beresiko untuk Aruna, hanya kita bertiga yang akan masuk kesana, besok pagi sebelum matahari terbit. Kau akan menunggu aku dan Sarah di pintu timur, saat kami berhasil menangkap Adam, di saat itulah kekuatan mu akan sangat dibutuhkan, kami akan membawa Adam ketempat yang aman selagi kau membereskan semuanya.”
“Dan kau mengorbankan ku untuk melawan mereka semua? Hei aku bahkan tidak tau berapa ratus orang yang akan menjadi lawan ku.”
“Tidak banyak, aku dan adik ku sudah membunuh hampir seratus orang saat aku keluar dari sana kemarin.”
“Adikmu? Kau punya Adik?”
“Dimana dia? Kenapa kau tidak membawa nya kemari?” Ucap Aruna. Tomi menggeleng sambil menunduk.
“Dia sudah mati. Untuk melindungi ku.”
“Hei, jangan bercanda begitu dong.” Ucap Dylan canggung. Sarah sambil menggenggam tangan Tomi untuk menyemangatinya.
“Kita tidak akan menyia-nyiakan nyawanya. Rencana ini pasti akan berhasil.”
Tomi mengangguk sambil menghela nafasnya. Sesuai dengan permintaan terakhir Elisabeth, jauh didalam lubuk hati pria itu, Tomi akan membunuh Adam dengan tangannya sendiri demi membalaskan dendam adik perempuannya yang selama ini hidup didalam penderitaan.
***
“Ayah.” Ucap seorang gadis kecil berambut pirang dibalik sebuah pintu raksasa yang berukuran enam kali lipat tingginya dibandingkan badan mungil gadis tersebut. Mata bulatnya yang besar menatap sang Raja dalam-dalam.
“Boleh aku masuk ayah?” Ucap Putri Maria sambil tersenyum manis. Arka menutup buku yang sedang dibacanya lalu tersenyum lembut ke arah gadis kecil kesayangannya.
“Sejak kapan aku melarang mu untuk masuk ke ruang kerjaku? Kemari lah, ada apa? Ada yang mengganggumu?”
“Aku baik-baik saja ayahanda.” Ucapnya sambil beranjak masuk kedalam ruang kerja sang ayah dengan secangkir teh hijau kesukaan ayahnya.
“Kenapa kau yang membawa cangkir itu? Dimana para pelayan di istana ini?!” Bentak Arka.
“Ayah, memang aku yang ingin memberikan ini pada ayah, ku lihat ayah selalu gelisah belakangan ini. Minumlah ayah, dari yang ku pelajari di sekolah, teh hijau bisa menenangkan diri.” Ucap Putri Maria sambil memberikan cangkir tersebut ke sang Ayah.
Dengan tersenyum Arka meminum teh hijau yang kemanisan itu.
“Bagaimana ayah? Sudah mendingan?”
“Ya, terimakasih putri ku.” Ucap Arka sambil mengecup putrinya.
“Lihat ayah, aku melukis wajah mu.” Arka mengambil selembar kertas dengan gambar yang tidak jelas dan tentu saja tidak mirip dengan wajahnya.
“Bagus! Ayah bangga sekali mempunyai putri yang pintar seperti mu.”
“Hahaha, aku tau, aku memang putri mu yang pintar kan ayah?”
“Tentu saja.”
“Permisi yang mulia, maaf mengganggu waktu anda dan tuan putri, namun Raja dari kekaisaran Agneta sudah tiba di Istana dan menunggu kehadiran anda di Istana Emerald”
Arka mengangguk sambil mengangkat tangan kanannya memerintahkan agar pelayan tersebut keluar dari ruangannya.
“Ayah akan pergi sebentar, setelah pertemuan ini selesai, kita akan menggambar wajah ibu bersama-sama, bagaimana?” Ucap Arka semangat sambil menatap putri kecilnya dengan penuh kasih sayang.
“Oke! Ayah jangan lama-lama ya.” Sahut Maria semangat.
“Ayah, bunga mawar di kebun ku sudah bermekaran. Indah sekali!” Sahut Maria sambil menatap taman bunganya dari jendela raksasa dibelakang Arka.
‘DOR’ Suara tembakan yang cukup keras memalingkan pandangan Arka menuju putri Maria yang sudah tergeletak kaku dengan peluru panas yang melekat dikepalanya. Mahkotanya yang indah terjatuh dan terbelah menjadi dua di atas lantai marmer ruang kerja Arka.
“Tidak!!” Sahut Arka sekuat tenaga sambil memeluk tubuh mungil putri kesayangannya, air mata sang Raja mengalir deras, suaranya meraung-raung melepaskan rasa pilu yang menyesakkan d**a.
“Adam!!” Sahut sang Raja sekuat tenaga.
“Siap yang mulia!” Mata Adam membelalak saat melihat keadaan Putri Maria yang sudah tidak lagi bernyawa.
“Periksa seluruh Istana, bunuh semua orang yang kau anggap mencurigakan.” Ucap Arka dengan tegas dan penuh amarah, Arka menatap peluru yang bersarang dikepala putri Maria sambil menangis, pria itu memejamkan matanya, dan bertekad untuk membunuh orang yang sudah merenggut hartanya yang paling berharga.
‘Selamat pagi yang mulia Arkasena Widjanarka.’ Ucap seseorang yang tidak diketahui identitasnya dari pengeras suara Istana.
Arka mengangkat tubuh putri Maria dan beranjak membawa anaknya itu menuju ruang medis.
‘Apa yang ku lakukan pagi hari ini adalah awal dari penderitaan yang akan terus-menerus kau rasakan. Nyawa putri Maria adalah bayaran dari penderitaan setiap anak di distrik yang harus kehilangan orang tuanya dan bertahan hidup sendirian tanpa kasih sayang orang tua.’
Sambil menangis, Arka menjerit sekuat tenaga meluapkan seluruh emosinya, bagaikan di tusuk seribu panah, hati sang Raja terasa sangat perih seolah hancur berkeping-keping.
Setelah membaringkan tubuh anaknya dan membiarkan para dokter dan pelayan kerajaan menangani sang putri, Arka beranjak menuju Istana Emerald untuk menemui tamunya.
Kaisar Agneta berdiri dan menundukkan hormatnya dihadapan Arka, dengan penuh keyakinan Tanoto memberikan selembar kertas perjanjian kerja sama antara kerajaannya dan Nusantara untuk menguasai dunia.
“Kirimkan seluruh pejuang terbaik mu untuk menangkap lima orang ini. Jangan sampai ada yang mati, aku ingin mereka hidup-hidup”