“Sudah selesai ?” Ucap Tomi.
“Kenapa jadi aku sendiri yang mengerjakan ini, kau benar-benar mudah percaya pada orang asing ya?” Ucap Elisabeth.
“Tidak juga, aku rasa kau tidak berbahaya sama sekali makanya aku membiarkan mu mengerjakan itu, sedangkan aku sibuk melakukan pekerjaan ku yang lainnya. Lihat ini.”
“Kostum karet?”
“Bagaimana menurutmu?”
“Apa aku harus memujimu?” Ucap Elisabeth sambil menatap Tomi kebingungan.
“Kostum ini akan ku berikan pada perempuan yang sangat cantik.”
“Oh Tuhan.” Perempuan itu bergumam malas melihat tingkah aneh Tomi.
Tomi melipat kostum khusus yang akan diberikannya pada Sarah kedalam sebuah kotak berwarna hitam, setelah itu laki-laki berbadan tegap tersebut menghampiri adiknya sambil memakai kaca mata.
“Boleh aku bertanya sesuatu padamu?” Ucap Elisabeth.
“Apa?”
“Apa Ayah pernah menyebut namaku? Atau apakah dia kenal dengan ku?” Ucap Elisabeth penuh harap. Kematian Peter Bornslav terasa sangat menyakiti hatinya, hal itu membuat harapan Elisabeth untuk menghabiskan seluruh sisa hidupnya bersama dengan seorang ayah menjadi sirna.
Tomi terdiam menundukkan kepalanya, ia tak tau harus berkata apa, meskipun ia adalah satu-satunya anak yang di akui keberadaannya oleh Peter, hubungannya dan Peter tidaklah sebaik yang dikabarkan oleh para bangsawan, Peter dan Tomi tidak sering berbicara atau pun bercanda tawa layaknya seorang ayah dan putra, selama ia tinggal bersama Peter, Tomi di paksa untuk belajar terus-menerus demi menjaga nama baik Peter yang saat itu menjabat sebagai Menteri Pendidikan.
“Maafkan aku, tapi aku sendiri juga tidak dekat dengan Ayah.” Ucap Tomi, Elisabeth tersenyum sambil menggeleng.
“Tidak apa-apa, aku juga salah berharap terlalu tinggi, bagaimana orang sepertinya mengetahui keberadaan, bahkan mungkin dia juga melupakan wajah ibu ku.”
“Meskipun mempunyai ayah yang seorang b******n. Aku cukup bangga memiliki abang tiri yang tidak buru-buruk amat.” Ucap Elisabeth sambil tersenyum tulus.
Tomi memandang gadis cantik yang duduk diatas kursi tempatnya biasa bekerja, baru kali ini dia bertemu dengan seseorang yang benar-benar mirip dengannya baik dari fisik maupun sikap, hanya saja Elisabeth terlihat lebih bersih.
Baru saja beberapa jam ia mengenal perempuan ini namun rasa sayang yang teramat sangat tiba-tiba muncul dalam hatinya.
“Kau ini dari divisi apa?” Ucap Tomi penasaran.
“Ghost.” Jawab El dengan bangga.
“Ghost?”
“Ya, aku bekerja hanya untuk Frans.”
“Wah Hebat sekali.” Ucap Tomi menertawakan Elisabeth.
“Kenapa? Kau tidak mengenal siapa Frans sebenarnya.”
“Oh oke, aku tidak akan meremehkan penghianat tersebut.”
“Penghianat?”
“Seperti yang kau liat sendiri, The Unknown terpecah karenanya.”
“Frans tidak mati.”
“Apa?”
“Dia ada di suatu tempat yang aman.”
“Dimana?”
“Nanti akan ku beritahu kalau sudah waktunya, ini, sudah selesai.” Ucap Elisabeth sambil memberikan sebuah alat yang menyerupai jam tangan digital pada Tomi.
“Kau membuatnya sesuai dengan petunjuk ku?”
“Ya, dan aku juga menambahkan fitur telepon agar kalian bisa berkomunikasi dari kejauhan. Tentunya aku juga membuat ini tidak dapat terdeteksi oleh sinyal, kalian tidak perlu takut ketahuan atau disadap ketika sedang menggunakan alat ini.”
“Kau memang adik ku yang pintar!”
“Aku tahu.”
“Ayo kita pergi dari sini.” Ucap Tomi sambil memasukkan keenam alat itu kedalam kotak hitam tadi.
Elisabeth mengangguk patuh dan mengikuti abangnya keluar dari ruangan tersebut dengan mengendap-endap menyusuri lorong panjang yang sepi tanpa bersuara sedikitpun, apapun yang terjadi, tidak ada yang boleh tau kalau Tomi ada didalam gedung ini, jika ketahuan Tomi akan di tangkap, dan rencana mereka akan gagal sepenuhnya.
Dengan was-was mata Elisabeth menyusuri tiap sudut.
‘DOR!!’ Tubuh Elisabeth melompat menghindari peluru panas yang hampir saja membunuhnya dari belakang. Tanpa memalingkan wajahnya, Tomi menarik tangan adiknya dan berlari dengan cepat menuju pintu keluar.
“Kita harus melawan mereka!” Sahut Elisabeth diikuti dengan perubahan warna lampu gedung yang sebelumnya berwarna putih menjadi merah.
“Sialan!” Bentak Tomi sambil menghentikan langkahnya, laki-laki itu menatap pasukan dari divisi Defender yang sudah berhasil mengepung mereka berdua.
“Pergi dari sini, bawa ini ke lumbung padi di distrik 1, aku akan menyusul mu nanti setelah aku selesai mengalahkan mereka.”
“Satu lawan seratus? Kau punya kekuatan super juga huh?” Ucap Elisabeth meremehkan abangnya.
Tomi terdiam mendengarkan perkataan adik perempuannya itu, bagaimanapun apa yang dikatakan oleh Elisabeth adalah benar. Saat ini stamina milik Tomi sedang tidak baik, ditambah lagi dengan tidak adanya senjata ditangannya, dia pasti akan mati jika harus melawan pasukan defender sendirian.
Mata Tomi membelalak saat melihat adiknya melompat tinggi dan memulai pertarungan. Seperti sedang menari Elisabeth terlihat sangat cantik saat menginjak kepala anggota-anggota defender itu dengan kakinya.
“Kak!” Sahut perempuan itu sambil melemparkan dua senapan milik defender yang berhasil dicurinya, Tomi menangkap kedua senjata api itu dan menembakkan peluru panas ke arah kepala defender-defender didepannya.
Pukulan kuat dari tangan kosong Elisabeth dengan mudahnya menumbangkan defender yang saat ini sedang berhadapan dengannya, Elisabeth melakukan semua pekerjaannya sesuai dengan didikan dari Frans Alvero.
Tangan kecil miliknya selalu menyerang titik-titik kelemahan lawan didepannya seperti tinjuan yang kuat di ulu hati, pukulan siku pada hidung lawan, tendangan chagi atau tendangan taekwondo yang di targetkannya untuk mematahkan rahang lawannya atau untuk menghancurkan buah zakar lawannya, tinju dengan kekuatan tinggi yang diserang Elisabeth ke arah pelipis atau jakun lawan, dan jari-jari dengan kuku yang sengaja di asah oleh Elisabeth untuk menusuk kedua bola mata musuhnya.
Saat ini di mata para Defender yang melawannya, Elisabeth bertarung selayaknya seekor Alpha yang bertarung demi melindungi pack nya, tatapan membunuh perempuan itu terlihat benar-benar menyeramkan sampai-sampai banyak Defender yang merasa ragu untuk terus bertarung dengannya.
Siapa perempuan ini? Kenapa tidak ada yang mengenalnya di The Unknown? Begitulah pertanyaan yang muncul di tiap-tiap kepala Defender disana, dengan senyuman dan suara tawa yang melengking Elisabeth melompat ke tengah-tengah mereka yang sedang berpikir untuk bersenang-senang dengan bermandikan darah.
Perempuan itu mengeluarkan dua buah pisau kecil super tajam di dari sakunya, bagi Elisabeth kepuasan terbesar dalam hidupnya adalah membunuh orang-orang yang mengancam nyawa orang yang ia sayang.
“Ah, sudah lama rasanya kulitku tidak perawatan.” Ucap Elisabeth.
“Perawatan apa maksudmu?” Ucap salah satu Defender berusaha menangkap tubuh kecil Elisabeth, namun dengan lincahnya perempuan itu melompat menjauh sambil tertawa.
“Aduh, kalian belum tau ya? Kulit ku bisa se-halus ini karena mandi darah loh.” Ucap Elisabeth dengan suara manja lalu memotong segala sesuatu yang bisa di potong di depannya.
“Psikopat.” Gumam Tomi ikut membantu Elisabeth dengan menyerang orang-orang di belakangnya tanpa bantuan senjata apapun.
Kalau bukan karena latar belakang Tomi yang adalah seorang Marksman, Adam pasti sudah membunuhnya saat ia bertemu dengan Tomi kemarin, kabar kematian laki-laki dengan kemampuan menembak terbaik itu sudah pasti akan menjadi ancaman terjadinya pemberontakan bagi kerjaan, satu-satunya hal yang harus dia lakukan sebelum membunuh Tomi adalah membunuh anggota-anggota The Unknown yang kemungkinan besar akan berpihak padanya.
“Dimana dia.”
“Target ada didalam ruang XR di lorong 3.”
“Apa yang dia lakukan digudang komponen?”
“Dari informasi yang saya dapatkan, target sering masuk kedalam ruangan tersebut untuk menciptakan senjata.”
Perhatian Adam teralih saat seluruh lampu diruangan ini berubah menjadi merah dan alarm tanda bahaya dibunyikan. Sang komandan berlari menyusuri tiap lorong di gedung ini menuju ruangan tempat Tomi dan Elisabeth berada, mata Adam benar-benar takjub saat melihat lusinan mayat anggota Defender yang sudah tergeletak tak bernyawa akibat dua orang yang sedang bertarung dengan sengit didepannya.
Elisabeth melayangkan tinjunya dengan sangat keras ke arah defender disebelah kanannya lalu membanting defender lain yang ada di belakangnya ke lantai, dari jauh Adam memandangi perempuan itu dengan teliti seolah dia mengenalnya. Mata Adam membulat sempurna saat ia berhasil mengingat siapa perempuan itu. Bagaimana bisa perempuan itu masih hidup sampai sekarang? Adam benar-benar yakin kalau dia sudah berhasil mencabut nyawa anak didik kesayangan kakeknya itu dengan tangannya sendiri.
“Ayo pergi dari sini!” Sahut Tomi sambil menarik tangan adiknya dengan kuat. Elisabeth berlari mengikuti Tomi dengan tertatih-tatih, pertarungan sengit tadi berhasil mengakibatkan pergelangan kaki perempuan itu terkilir.
Kalau saja ia tidak menambah berat badannya dia tidak akan menjadi sulit seperti ini, bahkan tanpa bantuan Tomi ia sendiri pun bisa menghabisi semua penghianat yang ada didalam sana.
“Apa yang terjadi?”
“Tidak apa-apa, kaki ku hanya terkilir.” Tomi menghentikan langkahnya dan berjongkok didepan Elisabeth.
“Naik.”
“Tidak. Lebih baik kau pergi duluan. Aku akan menyusul. Lumbung padi distrik 1 kan?”
“CEPAT NAIK!” Bentak Tomi dengan sangat menyeramkan, namun segitu saja belum cukup untuk membuat Elisabeth menurut dengan perintah Tomi, bahkan perempuan tersebut tidak terkejut sama sekali.
“Aku hanya akan memperlambat gerakan mu bodoh! Pergi dari sini sebelum mereka berhasil menangkap mu.”
“Aku tidak akan meninggalkan mu.”
“Aku lah yang lebih banyak membunuh dibandingkan kau, kau yang lebih lemah daripada ku Estomihi Bornslav, sekarang pergi! Akan merepotkan jika aku harus melindungi diri mu sekalian saat aku bertarung dengan mereka.”
“Pergilah, aku tidak akan kalah dari mereka meskipun kaki ku begini. Aku pernah bertarung sengit dengan kondisi yang lebih parah dari ini.” Sambung Elisabeth dengan nada lembut setelah mulutnya selesai merendahkan Tomi habis-habisan.
“Mereka ada disini!” Sahut seorang Defender yang langsung di tembak mati oleh Tomi.
Tomi mendesis kesal saat mengetahui hanya ada 3 peluru yang tersisa didalam senapan miliknya.
“Lihat betapa bodohnya kau, bagaimana bisa orang seperti mu dimasukkan ke Markas Ghost? Pergi dari sini Tomi! Aku bisa memperlambat gerakan mereka untukmu, dan aku juga tidak akan mati percayalah.” Sahut Elisabeth geram, bagaimana bisa dia diremehkan seperti ini.
“Baik. Tepati janjimu, jangan mati.”
“Ah iya. Aku tidak memindahkan tas senjata mu itu, semuanya masih tersimpan rapi dibawah pohon rambutan tempat kau menaruhnya pertama kali.” Ucap Elisabeth sambil tersenyum, Tomi mengangguk.
“Aku akan menunggu mu disana.” Ucap Tomi sambil berlari meninggalkan satu-satunya saudara yang dikenal olehnya.
Lagi-lagi Elisabeth merutuki kebodohan dirinya yang menambah berat badan sebanyak tiga kilo sebelum pergi ke markas The Unknown untuk menjemput Tomi.
“Oke, mari selesaikan ini dengan cepat, lalu bertemu dengan Tomi di Lumbung Padi.” Gumamnya dengan niat bertarung yang tinggi, mata Elisabeth yang hitam legam itu terlihat seolah berkilau saat menatap Defender-defender yang akan menjadi daging jagal di tangannya.
Elisabeth membalikkan badannya dan mengeluarkan dua pisau kecil yang selama ini menjadi senjata andalan miliknya. Dengan nafas terengah-engah Elisabeth melawan puluhan tentara didepannya untuk melindungi Tomi.
Tubuh Elisabeth bergetar saat melihat seseorang yang sangat dibencinya muncul setelah ia berhasil menghabisi nyawa setengah pasukan defender yang lemah itu, laki-laki tersebut adalah Adam Bornslav, cucu kandung dari Fransiscus Alvero yang berani melecehkannya saat ia masih di didik oleh Frans dulu. Melihatnya saja sudah berhasil membuat seluruh amarah perempuan itu meluap, dengan mudahnya Elisabeth membunuh sisa anggota defender yang masih melawannya seolah mereka tidak memiliki kemampuan apa-apa, gerakan tubuh Elisabeth yang begitu cepat membuat dirinya terlihat bagaikan seekor belut dan tidak bisa tertangkap oleh mereka.
“Bagaimana bisa kau masih hidup?” Ucap Adam dengan rasa takut yang muncul dari dalam dirinya.
“Aku tidak akan mati sebelum kau!” Jerit Elisabeth sekuat tenaga sambil melayangkan pisaunya ke wajah Adam, dengan cepat Adam mengelak dari serangan itu namun tetap saja, kecepatan Elisabeth tidak dapat diragukan lagi, pisau kecil itu berhasil menyayat pipi Adam dan menorehkan luka diwajah tampannya.
“Anak kecil sialan!” Bentak Adam yang dibalas dengan senyuman puas dari Elisabeth, rasa sakit di kakinya seolah tidak terasa lagi saat ia berhasil merobek wajah laki-laki yang selama ini sangat di bencinya itu.
“Hidup ku yang sudah hancur ini semakin menderita karena kau!” Elisabeth kembali melompat ke arah Adam, kali ini perempuan itu mengincar leher milik Adam untuk di tebas.
Dengan sigap Adam mengeluarkan pistol miliknya, peluru panas yang dikeluarkan oleh Adam berhasil menembus tubuh Elisabeth tepat di d**a perempuan itu. Elisabeth terjatuh kelantai dengan aliran darah yang mulai mengalir keluar dari dadanya.
“Kalau tau kau masih hidup seperti ini seharusnya aku tidak membiarkan mu sekarat waktu itu.” Ucap Adam.
Elisabeth mengangkat kepalanya dengan angkuh dan menatap Adam tanpa rasa takut sedikitpun.
“Sebaiknya kau melakukan pekerjaan mu dengan lebih baik kali ini, karena jika begini saja aku tidak akan mati.”
“Kau menghayal?”
“Aku akan terus hidup sampai saat dimana dia akan melubangi kepala mu itu dengan pelurunya!” Teriak Elisabeth sekuat tenaga diikuti oleh suara tembakan yang berasal dari senapan milik Adam.
Langkah Tomi terhenti, badannya membeku seketika setelah mendengar suara teriakan adiknya dan suara tembakan yang sudah pasti merenggut nyawa Elisabeth saat itu juga. Tubuh Elisabeth terbaring kaku sambil tersenyum seolah sedang mengejek Adam. Sambil menahan sakit akibat luka yang di torehkan Elisabeth pada wajahnya, Adam mengambil pisau kecil dari tangan Elisabeth dan membuat luka yang sama seperti di wajahnya pada wajah mungil Elisabeth.
“SIALAN!” Sahut Adam. Dengan perasaan campur aduk di hatinya Tomi kembali berlari keluar dari markas tersebut menuju sebuah hutan tempat ia menyembunyikan tasnya yang berisi senjata-senjata tersebut. Tubuh laki-laki itu terpental jauh saat seseorang dengan tubuh yang lebih besar dua kali lipat daripada tubuh Tomi menendangnya dari belakang.
Tomi menatap orang itu, dia adalah Bima, pemimpin dari Divisi defender. Dengan keadaan lemah dan senjata yang tidak memadai, sudah pasti Tomi akan mati jika melawannya.
“Aku tidak percaya kau berpihak padanya.”
“Jika membunuh mu akan memberikan status sosial yang tinggi untuk ku kenapa tidak?”
“Aku sudah cukup muak hidup dibawah bayangan seperti ini, aku ingin semua orang mengenal siapa aku. Aku ingin memiliki kekuasaan yang besar sama seperti para bangsawan. Dan aku akan melakukan apapun untuk mendapatkannya.” Ucap Bima sambil melompat tinggi lalu menimpa Tomi dengan badan besarnya.
Kedua tangan raksasa itu mencekik leher Tomi sekuat tenaga, sampai seorang laki-laki muncul dari belakang Bima dan memukul kepala besar itu dengan linggis.
“Pergi lah!” Sahut laki-laki yang tidak dikenal oleh Tomi itu sambil menarik tangannya untuk bangkit berdiri.
“Aku akan melawannya. Pergi dan bunuh Arka demi organisasi ini. Itu rencana kita dari awal bukan?” Ucapnya sambil menghadang Bima. Tomi mengangguk sambil mengatur pernafasannya, laki-laki itu berlari dengan kencang sambil menembakkan tiga peluru terakhirnya untuk menjatuhkan tiga pengawal kerajaan yang hampir saja menangkapnya.
Setelah berhasil mengambil tas berisi senjata tersebut, Tomi berlari dengan kecepatan tinggi dan menghilang ditengah hutan.
***
“Bagaimana keadaannya?” Ucap Agra pada Aruna.
“Hanya pingsan. Sarah tidak apa-apa.”
“Syukurlah.”
“Jadi apa yang akan kita lakukan sekarang.”
“Tengah malam nanti, kita akan menyelinap ke Istana.” Ucap Dylan
“Kau gila? Kau lupa kalau ada Beatriz disana?”
“Tidak, aku sudah tau pasti apa saja yang akan kita lakukan, sekarang aku hanya butuh kau untuk jadi anak baik dan mengikuti semua yang ku perintahkan.”
Percakapan mereka terhenti saat melihat Tomi berlari masuk kedalam lumbung dengan tubuh bersimbah darah.
“Apa yang terjadi denganmu?” Ucap Dylan panik.
“Aku tidak apa-apa. Apa yang terjadi dengan Sarah?”
“Dia baik-baik saja, tenanglah.”
Tomi membuka tasnya, dan melemparkan beberapa senjata pada teman-temannya.
“Kita harus pindah lagi, tempat ini sudah tidak aman.”
“Tapi kita mau kemana?”
“Kemana saja asal tidak disini.” Ucap Tomi sambil menggendong Sarah dipunggungnya.
“Apa yang kau lakukan?” Ucap Agra tidak senang.
“Kau bawa Aruna terbang menuju hutan, aku dan Dylan akan berlari menyusul kalian.”
“Tapi kau terlihat lemah Tomi, kau tidak akan bisa berlari jauh dengan kondisi seperti ini.” Ucap Agra.
Aruna beranjak dari tempat duduknya lalu menyembuhkan luka-luka disekujur tubuh Tomi dan mengembalikan staminannya. Tomi menatap ke arah Aruna sambil memikirkan Elisabeth, seandainya dia tidak meninggalkannya sendirian di markas, Elisabeth mungkin masih bisa selamat dengan kekuatan milik Aruna.
“Ayo pergi.” Ucap Tomi sambil berlari keluar.
Dylan mengemas semua barang-barang penting milik mereka dan membawa barang-barang itu di punggungnya.
“Hei kau tau Sarah itu keturunan Bornslav kan?” Ucap Dylan.
“Ya, terus kenapa?”
“Jangan kira selama ini aku tidak tau identitas asli mu Tomi.”
Tomi terdiam dan memutuskan untuk tidak mendengar perkataan Dylan, kakinya yang sudah tidak terluka lagi berlari dengan cepat sambil membawa Sarah menuju hutan tempat mereka akan bersembunyi sebelum menyerang Istana.