Jesty sudah selesai bersiap. Betapa senang hatinya, telah mendapat lampu hijau dari Elwin tadi pagi meski sedikit dibuat kesal juga. Mengingatnya saja, ia kesal. Tapi terpenting ia sekarang bisa keluar masuk rumah ini dengan mudah. Terima kasih untuk aktingnya yang luar biasa. Di tengah sarapan pagi, Jesty berniat mengatakan keinginannya pada Elwin. Ia rasa inilah waktu yang pas, mood pria itu tampak bagus. Sayang kalau tidak di manfaatkan dengan baik. “Mas Elwin,” panggil Jesty sebelum menyuap sesendok nasi dalam mulutnya. “Iya, Jesty.” “Jesty ingin sering-sering memasak di sini.” “Jesty mau minta izin buat masak?” Jesty menggoyangkan kedua tangannya, pertanda bukan itu yang ia mau. “Tidak, masak tinggal masak. Enggak perlu izin Mas Elwin segala.” “Jesty mau apa?” “Jesty mau belan

