Tiga Puluh

1184 Kata

Jesty dan Ayudia sudah sampai di depan kantor Elwin. Ayudia masuk ke dalam kantor sedangkan Jesty menunggu di luar. Jesty tidak berniat ikut masuk, ia tidak mau Elwin melihatnya dan tentunya ia tidak mau melihat sesuatu yang mungkin saja akan menyakiti hatinya. Duduk di trotoar di bawah pohon dekat gerbang masuk kantor, membuat Jesty tampak seperti orang peminta-minta. Tak jarang, orang-orang baik yang berkendara dan berjalan kaki menatap aneh dirinya. Sayangnya Jesty tidak peduli. Bodoh amat, enggak kenal juga kok. Peluang untuk bertemu lagi di hari-hari selanjutnya pun kecil. Buat apa dipikiran, ini hidupnya, ia yang jalani. “Neng kenapa diam di sini sendirian?” Jesty mendongak ke atas melihat siapa yang berbicara padanya. Seorang berprofesi sebagai satpam. Kenapa ia harus selalu berhu

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN