Hari yang di tunggu telah tiba. Detak jantung Jesty sudah berdebar sejak semalam. Ia sampai tidak bisa tidur hingga pagi. Jesty menyesal pernah mengatakan orang-orang menikah itu lebay, tinggal nikah aja sampai tidak bisa tidur, itu aneh menurutnya. Namun sekarang ia mengalami rasanya. Cemas, khawatir, gelisah, takut dan mengantuk, semua jadi satu. Tidak punya keluarga lagi, di rumah Jesty hanya ada Indi, Harsa beserta suami dan anak-anaknya mereka, ada pula Ferdi, mereka semua yang akan mengantar Jesty ke gereja. Jesty sudah selesai di rias, tinggal pemasangan tudung saja. "Tidak ku sangka kau cantik juga," ejek Dio. Jesty melototi pria yang berdiri di sampingnya sedikit jauh melalui cermin. Ia tidak mau menoleh, tidak ingin mengganggu penata rias di belakang. "Dari dulu aku memang can

