Pukul 12 malam, Jesty dan Elwin baru bisa kembali ke kamar hotel mereka. Tubuh rasanya sudah remuk semua, terlalu banyak berdiri dan tertawa. Bermain bersama karyawan memang menyenangkan, menikmati sisa-sisa tahun baru yang telah usai. Jesty dan Elwin sendiri tidak sempat merayakan tahun baru. Mereka menganggap pesta pernikahan outdoor tadi pelaksanaan tahun baru yang tertunda. "Mas, Jesty mandi duluan ya?" Menyembunyikan kecanggungannya, Jesty memilih pergi mandi dulu. Ia harus berendam air hangat, tidak perlu lama yang penting lelah di badannya bisa sedikit hilang. "Iya, Sayang." "Sayang, terus!" teriak Jesty, menyindir Elwin. "Kalau nanti sudah enggak sayang, panggilannya apa, Mas? Iya, benci, gitu." "Tidak ada. Mas sayang terus sama Jesty." Jesty meletakkan tangannya di kedua pipi

