Prolog

540 Kata
                “Shila!!!”                 Aku langsung menutup telingaku rapat-rapat begitu mendengar teriakan Mas Anton. Ada apa lagi? “ Apa lagi mas?” Tanyaku setelah Mas Anton berdiri di sampingku dengan tangan bersedekap. “ Dipanggil HRD.” “ Eh iya? Surat resignku sudah di acc kah?” Senyumku langsung terbit saat itu juga. “ Kok keliatannya bahagia bener kamu mau resign. Sebenernya ada apa?” Tanya Mas Anton penuh selidik. Aku bahkan sampai memundurkan kepalaku ketika wajah Mas Anton mendekat. “ Nggak papa mas, aku-“ “ Apa gaji disini kurang gede?” Potongnya sebelum aku menyelesaikan kalimatku. “ Nggak. Nggak gitu mas. Udah cukup banget kok. Hehe.” “ Bilang aja nggak papa kalau kamu merasa keberatan sama gaji. Aku bisa bantu negosiasi. Sayang banget Shil, kamu udah disini hampir tiga tahun. Kerjamu juga bagus. Sayang banget kalau harus keluar cuma perkara gaji kurang.” “ Nggak mas, bukan karena gaji. Aku mau balik Yogyakarta. Aku pengen lebih deket sama orang tua dan adikku.” Jawabku sambil tersenyum lebar.                 Mas Anton terdiam untuk beberapa saat. “ Bener karena itu?” “ Yap!” “ Nggak karena kurang gaji?” “ Big no.” “ Tapi apa nggak sayang Shil? Cari kerja jaman sekarang---” “ Aku ke HRD ya mas. Makasih buat bantuannya selama ini. Aku nggak bisa kaya gini kalau bukan tanpa bantuan Mas Anton.” Potongku sambil berdiri dan tersenyum. Aku bukannya menghindar dari pertanyaan Mas Anton, tapi aku hanya sudah terlalu malas memberi jawaban yang sama terus menerus. “ Pokoknya besok kamu pamitan juga sama yang lain. Nggak boleh asal kabur gitu aja.” “ Siap mas! Pasti.” ***                 Aku merapatkan jaketku ketika kurasakan angin berhembus lebih kencang. Saat ini aku sedang duduk sendirian di balkon kamar. Aku tersenyum sambil mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru ibu kota. Rasanya baru kemarin aku datang ke kota ini ditemani Ayah dan adikku, tak terasa malam ini adalah malam terakhir aku menetap di sini. Keputusanku sudah bulat. Meski sangat banyak kenangan indah di kota ini, aku ingin menyimpannya dan membangun kenangan baru yang lebih indah di kota ke lahiranku, Yogyakarta.                  Hai, kenalkan namaku Arshila Ayu Arkadewi, biasa dipanggil Shila. Umurku dua puluh lima tahun dan pekerjaanku sebelumnya adalah seorang konten kreator di salah satu perusahaan ternama di Jakarta. Aku asli Yogyakarta, yang menempuh pendidikan di Ibu Kota. Aslinya aku ingin kuliah di tempat kelahiranku saja, tapi rupanya Tuhan berkehendak lain, aku justru di terima kuliah di pilihan keduaku, yang mana lokasi kampusnya terletak di Jakarta.                 Kuliah empat tahun ditambah kerja tiga tahun, aku rasa sudah cukup bagiku untuk mencari pengalaman di kota orang. Sudah saatnya aku kembali ke kota kelahiranku. Selain karena aku ingin lebih dekat dengan kedua orang tuaku, aku juga punya tujuan lain.                 Apakah kalian pernah dengar ini?                 “Orang yang kau suka saat umur enam belas tahun akan berdampak pada hidupmu.”                 Aku tidak tahu apakah kalimat itu berlaku juga untuk orang lain, tapi yang pasti, kalimat itu sangat berlaku untukku. Bahkan ini sudah sembilan tahun sejak terakhir aku melihat dia. Ya, dia adalah cinta pertamaku. Terdengar sangat klise bukan? Tapi asal kalian tahu saja, aku masih memikirkan orang itu. Bahkan sampai detik ini. Adimas Dwi Adiwilaga, itu namanya. ***  Warning : Tulisan ini hanyalah FIKTIF BELAKA :) 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN