Pov Alea Aku menatap layar ponsel yang berpendar. Nomor Banyu yang menelpon. Aku lekas mengangkatnya. “Ya ….” Aku menjawab malas. “Alea! Kapan kamu gabung lagi dengan tim kita?” Terdengar suara yang sejak dulu selalu membuat hatiku berdebar-debar. Namun, kini … entah kenapa tidak lagi. Aku seperti biasa saja ketika mendengar suaranya. “Ahm … sepertinya aku tak jadi menarik surat pengunduran dirinya.” Aku bicara setelah berpikir sejenak. “Loh? Maksudnya?” Suara Banyu terdengar heran. “Aku, tetap jadi resign. Soalnya … aku sudah menemukan pekerjaan baru di sini.” Aku berbohong. Padahal bukan menemukan pekerjaan baru, tetapi entah kenapa sikap Bara yang cuek dan masih marah justru membuatku penasaran. Aku masih butuh waktu untuk … hmmm … untuk apa, ya? Pokoknya, aku masih pengen d

