A title form the Moon

1205 Kata
Hanya terdiam, tidak saling bersenyawa. Sampai-sampai, saat bertemu tatap diartikan sebagai keberuntungan. "Udah selesai?" Tanya Garry, karena melihat Ody yang sedang membersihkan mulutnya. Ody mengangguk kecil, karena, bibirnya terlalu kelu untuk membalasnya. Akhirnya, Garry berdiri lebih dulu. Ody segera menyusul, karena ia kira ini akan menjadi ajang baikkan dengan pantas. "Lo duluan aja ke kampus. Gua masih ada urusan." Kandas semua, kandas. Sial sekali nasip Ody hari ini. Kemana perginya sang dewi fortuna, yang selama it mendampinginya. "Ohh, oke. Bye, Garr." Pamit Ody, dan hanya dibalas lambaian sekali tangan Garry. Layaknya orang yang sedang berhemat tenaga, atau pelit untuk sekedar melakukan lebih pada temannya. Garrypun menyadari akan hal itu. Tapi, lebih baik ia melakukan sesuatu yang lebih berarti serta penting dari tenaganya. "Keluar deh lo!" Pekik Garry, membuat orang yang selama ini bersembunyi di gang kecil samping toko menampakkan diri. "Gua temen dari cewek tadi!" "Siapa namanya? Coba lo sebut namanya!" Ada aura dingin yang mengelilingi Garry, yang sedang melipat kedua tangan di dadanya. Orang itu tidak bergeming, padahal diketahui ia mendengar jelas perintah Garry. Membuat Garry mengurai poninya yang sudah memanjang, "Kalo lo jujur, gua anggep emang lo beneran temennya dia. Tapi, kalo lo kabur, gua bakal lapor ke daerah, kalo ada penguntit yang berkeliaran." Ia memberi jarak, sebelum akhirmya menyelesaikan. "You know a police in San Fransisco, right?" Dengan tampang tengilnya, Garry menilai dirinya sangat keren saat itu. "Lo perantau! Gak usah banyak gaya!" Namun, orang itu malah membalikkan semua ucapan Garry, alih-alih menjelaskan yang diminta. Biasa, orang bersalah emang sukanya memutar pembicaraan. "Lo gak tau gua? Gak uptodate berarti." Desis Garry, yang hanya memerlukan kurang dari satu menit untuk menjelaskan tentang dirinya. "Biarpun gua cuman pentau, tapi, gua lebih dikenal di kota sini. Oiya," Nampaknya, hari ini Garry sedang suka memberi jarak pada setiap perkataannya. "Gua bukan penguntit!" Jelas Garry, membuat lawan bicaranya seketika jengkel kala melihat raut wajah Garry, serta tingkah lakunya yang dinilai banyak omong. Orang itu masih belum mau menjelaskan siapakah dirinya, karena dirinya begitu tercengang. Mengetahui, jika Garry yang ternyata adalah salah satu orang terkenal yang berkutat di industry kreatif. "Sudah lah! Tidak penting juga urusan sama lo! Awas aja, sampe lo masih berani deketin cewek tadi!" Seru Garry, seraya melenggang pergi. Meninggalkan orang di depannya dengan bahu yang bergidik ngeri. Rasanya getir sekali, berhadapan dengan orang asing yang berperawakan layaknya gangster kota. Tubuhnya yang tegap, rahangnya yang lebar, serta tatapannya yang tajam. Untung saja, rasa percaya Garry sangat stonk naik ke puncak. Membuat rasa takutnya sedikit menghilang, serta tergantikan dengan tatapan yang tak kalah tajam. "Lo siapa?!" Garry tertawa, kala mengingat moment tadi. Suara baritone yang ia latih agar bukat sempurna, akhirnya bisa keluar dengan sangat nyaman. Membuat sang empu kegirangan, hingga sesampainya di ruang himpunan ia meraih gitar yang menggantung di dinding. Memetik pelan satu persatu senarnya, serta memutar benda kecil di ujung tangkainya. Seolah sedang menyocokkan kunci, dengan suaranya yang niat awal Garry ingin bernyanyi. Bergaya sekali dia... Hingga akhirnya Venus duduk di sebelanhnya, seolah menjadi voluenteer singer. "Cold play aja, garr." Pinta Venus, seorang bule yang bermata biru. Cantik sekali. Garry menganguminya sebagai ciptaanNya, tapi, tidak ada rasa yang lebih. Hanya sekedar untuk memanjakkan mata. Menghapus bayang-banyang gangster tadi dengan dirinya. "Oke. Ambil nada, Ven... One two three" Garry mulai memetik gitar, Venus juga menyanyikan bait awal lagu yang berjudul Fix You, dengan suara merdunya. "When you love someone, but it goes to waste..." "Could it be worse... " Lagu balada yang sangat menyentuh hati Garry, seketika membuat fikirannya kembali bercampur. Merasa kecil hati, jika nantinya ia akan seperti orang yang ada dalam lagu tersebut. Bagimana jika selama ini Garry hanya membuang waktunya untuk orang yang tidak mengetahui perasaannya. Padahal, ada orang lain yang menunggu untuk mencoba menyembuhkan permasalahan hatinya. 'YaAllah, gini banget punya kisah cinta yang bertepuk sebelah tangan." Lirih batin Garru, dengan mencoba tesenyum depan orang-orang yang sedang menikmati penampilan isengnya. Tanpa sadar, ada benda pipuh yang merekam semua gerak gerik Garri sejak tadi. Mulai dari menyiapkan chord gitar, hingga saat ini yang sedang menyanyi lagu kedua. Semuanya terekan apik oleh seseorang berada tidak terlalu jauh dengannya. Namun, sayang sekali Garry sama sekali tidak menatapnya. Membuat orang tersebut sakit hati, hingga merangkai kata-kata permohonan maaf dengan sangat indah. "Hubungan kita layaknya air pasang-surut, maaf, telah menciptakan jarak di tengah hubungan yan hangat ini. Maaf atas kesalahpahaman yang ku buat atas ke-tidak pengertianku pada temanmu. Maafkan aku, bisakah kita meluruskan semua malah menjadi baik-baik saja?" Dear, Garry. Tolong tengok diriku. Dengarkan kata hati ini satu kali saja. Aku telah ber-effort tinggi membuat kata-kata agar dimaafkan oleh mahasiswa sastra sepertimu. Dengan harapan, nantinya mereka berdua akan seperti sedia kala. Makan bersama, tertawa berdua, hingga bersenandung bersama. Tidak apa, kali ini dirinya memberikan kesempatan pada orang lain untuk bersama Garry. Tapi, jangan harap orang itu akan berlama-lama bisa begitu dengan Garry.. Hanya dia yang bisa, seperti julukan yang diberikan oleh Freddy. Jika Ody dan Garry layaknya teko dengan tutupnya, yang saling melengkapi serta membutuhkan satu sama lain. Sementara di ruang himpunan, telah dibuka konser dadakan oleh Garruy dan Venus. Di base camp, sedang dibuka teater dadakan antara Sofia dengab Guntur yang salinh bertengkar. Menyalahkan satu sama lain, akibat perbuatan tempo hari yang kini membuat mereka dipanggil oleh Freddy. Freddy yang sudah mengetahui konflik tersebut dari penglihatannya sendiri kala Roman berkerja sama dengan Sofia, untuk kolaborasi antar dua tim. Sebagai pemimpin, Freddy tidak menginginkan jika ada anggotanya yang berselisih paham, dan akan menyebabkan percikan api hingga membuat kekacauan. Walaupun fikirannya kali ini terlalu jauh menelaah. Namun, lebih baik sedia payung sebeluk hujan, bukan? "Gara gara suruhan lo kita dimusuhin." "Kita? Lo aja kali, guamah engga! Temen-temen gua masih biasa aja tuh sama gua." Seru Guntur, dengan intonasi yang sangat meledek. Membuat Sofia geram, dan berdecih seketika. "Biasa apanya? Mereka kasian aja sama lo! Kalo bukan mereka yg mau nemenin lo, lo bisa bergaul sama siapa lagi?! Dengan tingkah sok asik yang begini!" Damage akan perkataan Sofia menancap pada hati Guntur, membuat ia diam seketika. Berfikir, apakah benar jika dirinya begitu. Sofia seolah mengatakan jika sikap Guntur yang ia fikir humoris, ternyata malah sok asik. Membuat jenggah orang sekitar, dan terpaksa meladeni dengan kata terpaksa. Apakah benar semuanya? Guntur belum selesai atas semua fikiran negatinya, namun Sofia malah menambahkan kata-kata yang kembalu menyakiti dirinya. "Emang lo fikir, lo gak kaya gitu? Tingkah yang sok cantik, sok manja, berlagak bisa apa-apa. Padahal semuanya nothing! Lo modal muka doang! Gak punya pikiran!" Seru Guntur, dengan suara yang tak kalah tinggu dari Sofia tadi. Membuat Sofia langsung teekulai lemas di sofa, menundukkan kepala, serta linangan air mata. "Nangis kan lo? Bisanya lo cuman itu. Bukannya nyari solusi bareng-bareng! Lo sadar kan, kata-kata lo tadi begini! Nyakitin orang lain!" Guntur seolah menembak Sofia dengan kata-kata, dan langusung keluar, karena sudah jenggah. Kenapa para kaum hawa, jika dibalas dengan perlakuan yang sama tidak terima? Langsung berlindung di bawah linangan air mata, dan bertindak seolah korban. Kenapa semudah itu. "Nikmat sekali menjadi kaum hawa, bisa mencerca para laki-laki tanpa berfikir panjang apa kelanjutannya. Jika, semua itu dibalas, mereka hanya tinggal mengandalkan senjata airmata untuk melindungi diri layaknya korban yang sedang diintimidasi. Haruskah ber-empati pada wanita seperti ini?" Guntur yang sangat kesal, langsung membanting pintu untuk meluapkan semua rasa emosinya yang sudah tak tertampung.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN