Diffa baru selesai menempuh jam kerja yang panjang serta melelahkan. Lebih lelah dibanding mengerjakan tugas lukisan yang ditunda selama 2 minggu, "Ini bayaran anda." Pemilik coffe shop memberikan amplo putih yang berisika uang hasil kerja keras Diffa. Senyumnya mengambang sempurna, layaknya anak kecil yang diberikan balon oleh orang tua, "Thank you, kalau begitu saya pamit dulu." Jelas Diffa sambil membuka celemek dan melipatnya. Ia memasukan celemek itu ke dalam tasnya untuk dibawa ke penatu, "Diff!" Suaranya sangat ia kenal, sampai-sampai sang otak sudah memberikan nama dari empu suara tersebut. "Kenapa, Tur?" Tanya Diffa dengan raut wajah kagetnya. Pasalnya, tumben sekali ia datang menemui Diffa, yang padahal, biasanya mereka berdua hanya ketemu sengaja di basecamp ataupun ti

