Album yang belum lama dibagikan oleh Ody, setia menemani.
Garru menepuk pahanya, menginjak bumi sesuai irama. Serta bersenandung mengikuti melodi.
"Ganteng amat, mau kemana?"
"Cantik amat, mau kemana?"
Garry menimpali godaan dari Ody, yang baru keluar dari unit apartemennya.
Memakai celana jeans, serta kaos reebok bewarna putih, yang menjadi kesayangannya.
"Aku tau ya, Garr. Kamu ganteng pake apa aja. Tapii--"
"Kenapa? Ada yang salah?" Tanya Garry, seraya mengacungkan kerah kemeja bermotif polkadotnya.
"Sudah lah, capek aku."
Ody berjalan mendahului Garry, dengan kepala yang digelengkan, karena harus memaklumi gaya busana Garry.
Super absurd, dan sama sekali tidak jelas.
Layaknya mas-mas norak, yang suka nongrong di pinggir jembatan.
Namun, bukan tanpa alasan Garry memakai semua ini.
Karena, belum lama ini dirinya yang aempat kalah bermain dalam truth or dare, bersama tim kanal youtubenya.
Kenapa bisa begitu?
Karena, saat itu Garry memilih bungkam saar Freddy mengajukan satu pertanyaan.
**
Setelah 25 menit menyetir, akhirnya mereka berdua telah sampai di Ikea San Fransisco.
Tempat semua furniture lucu serta berkualitas berkumpul.
"Miss Ody?"
"Jijik, Garr."
Ody menepis tangan Garry, yang sudah siap menangkap tangannya dengan gaya ala-ala kerajaan.
Garry terkikih geli, menatap raut wajah Ody yang kini memanyunkan bibirnya.
Dan, kembali lagi. Ody mendahului Garry.
Mungkin hobi barunya adalah itu, untuk sekarang.
"Ody! Sini, makan dulu."
Ody menoleh pada Garry, dan langsung menjatuhkan b****g di kursi meja makan yang berbentuk lingkaran.
Mengambil serbet, serta memegang peralatan makan lengkap.
"Wow! Dagingnya begitu empuk." Seru Ody.
Garry tersenyum sumringah, dan seolah mengiris daging yang tersedia dalam piringnya.
Seketika, Ody berdiri membawa piringnya.
Membawa ke wastafel yang berada di belakangnya, "Sayang, apa keran air kita rusak?
"Hmmmm," Garry menyusul Ody, memutar keran air, serta menatap manik mana bewarna hazelnya itu.
"Iya benar, ini rusak."
"Kalau begitu, biar aku yang telfon tukang service." Pekik Ody, seraya berlari ke ruangan tamu, tempat telepon rumah berada.
"Sayang, tunggu!"
Tanpa rasa malu, Garry berteriak hingga para pengunjung lain menatapnya dengan aneh.
"Mereka ngapain si?" Gumam salah satu pengunjung, yang melihat Ody serta Garry yang saling berlarian di lorong-lorong Ikea, yang sudah diatur sebagaimana ruangan-ruangan seperti di rumah.
Mungkin bagi mereka yang melihat, seperti dua orang aneh yang berlarian, serta memeragakan kehidupan di rumah bersama.
Ada yang melihat dengan tatapan lucu, dan ada juga yang melihat dengan tatapan jengkel.
Karena mungkin, mereka merasa terganggu dengan itu semua. Yang padahal, itu semua adalah wajar.
Toh, ikea adalah tempat umum dan tempat furniture.
Bisa saja, beberapa pengunjung mencoba semua paket furniture sebelum membelinya.
Begitu juga dengan Garry dan Ody, bukan?
Salah, tapi.
Mereka berdua datang ke Ikea bukan berniat untuk membeli furniture.
Melainkan, untuk menjalani kencan yang selama ini tertunda karena kesibukkan masing-masing.
Sangat di luar fikiran, ya.
Tapi, begitulah kisah cinta Garry dan Ody, yang selalu menjadi inspirasi atau ide-ide untuk para temannya.
Yang terkadang, mengikuti gaya berpacaran mereka.
Balik lagi, ke dua insan yang sedang dimabuk asmara.
"Ahhhh, nyaman sekali kamar kita."
Garry merebahkan tubuhnya di ranjang berukuran king size, yang sudah terbalut dengan sprey bewarna biru langit.
"Pengharum ruangan yang kamu beli enak ya." Timpal Ody, yang ikut merebahkan tubuh di samping Garry.
Membuat Garry menatao Ody di sebelahnya, dengan tatapan senang bercampur haru.
"Garr..."
"So sorry, Dy. Aku belum siap."
Garry langsung terduduk, karena tidak sanggup menatap mata Ody.
Ia tidak sanggup serta belum siap, untuk berpisah dari Ody.
Hari demi hari, yang kian terkikis diantara mereka berdua adalah penyebabnya.
Hati yang semakin getir, dan fikiran yang semakin egois menyuruh satu sama lain, tidak pulang ke negara masing-masing.
Melepaskan semua janji-janji, untuk mencapai puncak dalam mencinta, dengan alasan sepele yang terbuai dengan kalimat the power of love.
"Jadi, begini rasanya menatap masa depan. Namun, tanpa arah. Akan tetapi, tidak ada hari se-menyenangkan hari ini. Karena, kita diberi kesempatan memainkan perasa sebagai pasangan halal, pada satu atap. Apa bisa, kita terus mencoba mewujudkannya?"
**
Lighthing, michrophone, serta headphone terpasang rapih di set. Membuat Garry menegun saliva beratnya, "Garr, ayo take!" Perintah Guntur yang kini sudah mandiri.
Mempunyai channel youtube sendiri, dengan konten mengundang banyak selebriti.
Bukan selebriti sesungguhnya, melainkan srlebgram atau dikenal dengan influencer.
Tentu saja yang berasal dari Indonesia, "Lo seriusab nyuruh gua cerita 'itu lagi'?" Tanya Garry, dengan manik mata hazelnya.
Ia memakai headphone pada telinganya, serta menjatuhkan b****g di kursi empuk yang sudah disediakan.
"Iya, emang kenapa?" Tanya Guntur, "Lo kan udah tau, dari A sampe Z." Balas Garry.
Yang langsung disambar oleh Guntur, "Subcribers dan fans lo kan belom tau, tapi."
DEG'
Garry tidak menyangka jika jantungnya kembali salto, seolah keluar dari tempatnya.
Karena, mendengar ucapan dari Guntur, yang seolah menegaskan jika sekarang ia masuk dalam jajaran influencer.
Akibat ketidak sengajaannya dulu yang membuat konten "Behind the Scene" Dari kanal youtube milik Fiola.
Dan kini, Garry dikenal sebagai juru kamera ganteng dari negeri Asia.
Sangat berlebihan bukan?
Tapi itulah julukannya dari para fans, dan tentu saja sifat narsistik dari Garry langsung kegirangan, karena sang empu yang sudah lama tidak memunculkannya.
"Oke... Take!" Seru salah satu tim Guntur.
Ia langsung menyebutkan opening dengan kata-kata nyeleneh sesuai dengan kepribadiannya.
Mengenalkan Garry selaku bintang tamu, dan tidak lupa juga sebagai temanya sendiri kala berkuliah.
"Sialan lu yaaa! Ini tuh pertanyaan di Freddy k*****t dulu." Pekik Garry.
Ia kembaki mengingat moment memalukan.
Memakai celana cutbray, serta kemeja kuning bermotif polkadot.
Sampai-sampai cermin kamarnya pun malu, saat Garry berada di hadapannya.
Guntur terbahak, setelah Garry mengatakan semuanya. Sampai, semua kru di belakang kamera ikut dengannya.
"Trus pas itu, Ody malu gak jalan sama lu, yang kaya orang gila?" Tanta Guntur, mendekatkan microphone pada dirinya.
Garry dengan sangat percaya diri, langsung berkata tidak.
Malahan, saat itu Ody mengambil foto Garry dan mengupload di media sosialnya.
Dengan caption manis, yang mamou mengalahkan gula pasir dan gula batu.
"Maklum ya, namanya juga realitionship goals,"
Guntur menatap kamera, tersenyum tipis, "ala kadarnya." Dan menyelesaikan perkataannya.
Yang mempunyai damage yang sakit bagi Garry.
"Sialan lo!" Tukas Garry.
Sementara gadis yang sedang dibicarakan oleh Garry dan Guntur, sedang dalam perjalanan ke sesuatu tempat untuk mengenal lebih jauh serta belajar hal baru.
'Haruskah aku menyamakan dirinya? Tapi, apakah aku kuat untuk menjadi pengkhianat?'
Langkahnya terhenti di depan bangunan cantik serta tempat satu-satunya yang sering Garry datangi setiap waktu-waktu tertentu.
Drrrt'
Ody terbuyar, karena getaran ponsel pada saku celananya.
"Hallo, kenapa Ivv?"
"Lu ke tempat Guntur gak? Kalo iya, bareng dong."
Ivanna menyerocos tanpa jeda, padahal belum mendengar jawaban dari Ody.
"Lo kesana gak?"
"Anjir! Lo diem dulu, gimana gua mau jawab pertanyaan lo!" Pekik Ody, dengan alis yang saling bertautan.
Ivanna terkikih di seberang sana, seolah kegirangan mendengat cibira Ody, dengan suara cemprengnya.