Ayuni berkendara sambil menahan perasaan kesal, marah sekaligus sedih. "Kalau cemburu padaku kenapa harus melibatkan ibuku. Harus bagaimana aku menghadapi Binar setelah ini. Ternyata sikap aslinya seperti itu." Ayuni sudah kehilangan rasa hormat pada supervisornya itu. Dia turun membawa belanjaannya dan memasuki rumah ayahnya. "Ayuni. Cucu nenek akhirnya datang. Kamu bawa apa?" Gita melihat barang bawaan Ayuni yang lumayan banyak. "Oleh-oleh buat Nenek." Ayuni meletakkan bawaannya di kursi ruang tamu yang langsung dibuka Gita dengan semangat. "Ini kesukaan Nenek semua. Kamu memang pengertian." Ayuni menatap neneknya yang dengan cekatan membuka oleh-oleh yang ia bawa. Gita tersenyum kecil, lalu mengeluarkan kotak manisan dari dalam tas. “Baguslah kalau kamu masih ingat Nenek. Tapi

