"Apa! Jadi Nira pemilik restoran itu? Bagaimana bisa?" seru Gita. Dia terkejut mendengar laporan dari orang suruhan yang dia minta untuk mengawasi Nira. Dia tidak menyangka, kehidupan Nira sekarang sudah berbeda.
"Bisa saja, Ma. Nira kemarin mengaku kalau ada hubungan dengan pemilik restoran itu. Mungkin dia simpanannya, makanya bisa ikut memiliki restoran itu," kata Niko sambil turun dari tangga.
"Pantas saja, sombong sekali dia. Dasar perempuan murahan. Kita harus segera mendapatkan anak kamu, Niko. Jangan sampai nanti dia dijual sama Nira." Gita meremas tangannya. Dia tidak rela kalau cucunya menjadi seperti Nira.
"Mana alamat Nira?" tanya Gita.
Orang suruhannya menyerahkan sebuah alamat.
"Rumahnya ada di pinggiran kota, ternyata walau jadi simpanan orang kaya, dia masih belum pintar. Harusnya dia minta rumah besar di pusat kota," ucap Gita sambil terkekeh. "Mama akan ke sana Niko. Hari minggu pasti sangat menyenangkan bepergian dan melihat pemandangan bagus."
Gita tersenyum sinis membayangkan rencana yang akan dia lakukan pada Nira. Gita mengendarai mobilnya sendiri mencari alamat Nira. Setelah bertanya ke beberapa orang, dia berhenti di depan sebuah rumah, dia bisa melihat Nira sedang menyiram tanaman dari seberang jalan.
'Lumayan besar juga rumah jal*ng itu. Pasti dia mengumpulkan hartanya tidak dari satu laki-laki,' batin Gita.
Gita keluar dari mobilnya dan bertanya pada seorang ibu yang kebetulan lewat.
"Bu, itu rumahnya Nira ya?"
Ibu itu mengangguk. "Benar Bu, itu rumahnya Mbak Nira, itu orangnya ada," jawabnya.
"Saya nggak nyangka dia masih punya muka, ya. Ibu tahu nggak, dia itu wanita simpanan. Makanya bisa punya rumah besar begitu, tadinya dia kan miskin banget. Hati-hati ya Bu, anak saya hampir jadi korbannya dia. Dia morotin anak saya. Untung aja ketahuan sama saya. Dijaga suaminya nanti diembat juga. Dia mau yang muda atau yang tua doyan semua." Gita memanasi ibu itu yang ternyata teman arisan dari ibunya Nira.
"Memang kan, sudah aku bilang. Dia pasti perempuan gatel, masa punya anak nggak ada bapaknya. Makasih ya Bu, saya bakal peringatkan semua orang di sini. Jangan sampai suami kami diembat juga," kesal si ibu.
Gita tersenyum mendengar ibu itu emosi dan menyalahkan Nira. Bahkan tanpa lama, si ibu langsung menyeberangi jalan dan datang ke rumah Nira.
"Eh, Mbak Nira. Lagi nyiram tanaman ya," si ibu berbasa-basi.
"Iya Bu, mumpung libur. Sambil cuci mata ngelihat yang ijo-ijo, seger." Nira tersenyum pada tetangganya itu.
"Iya, asal jangan cuci mata lihat suami orang ya, Mbak. Nanti kepengen lagi ngelihat yang cakep-cakep."
Senyum Nira pudar. "Maksud Ibu apa?"
Si ibu mencibir. "Halah nggak usah sok polos, saya tahu mbak Nira itu simpenan om-om. Sok suci nyumbang ke mesjid pake duit haram hasil jual diri."
"Bu, dijaga ya mulutnya. Siapa yang simpanan om-om. Saya bekerja dan punya usaha. Jangan menyebarkan fitnah." Nira mulai terbawa emosi.
"Dih mana ada maling ngaku. Saya bakal peringatkan semua ibu-ibu di sini biar jagain suaminya, nanti digodain sama kamu perempuan gatel, punya anak nggak punya suami. Jangan-jangan anaknya bakal dijual lagi udah mulai gede tuh, lagi ranum-ranumnya," balasnya tanpa merasa bersalah.
Halimah, keluar karena mendengar ribut-ribut di luar. "Ada apa, Nira? Eh, Bu Kokom, ada apa ini, kok kayaknya seru banget ngobrolnya."
"Itu anaknya dijaga Bu Halimah. Jangan sampai jadi pelakor, awas aja kalau dia sampai godain suami ibu-ibu sini. Kita rujak rame-rame," ancam Kokom.
Beberapa orang tetangga mulai keluar karena mendengar keributan yang dibuat Kokom. Mereka bergerombol di depan rumah Nira.
"Eh ibu-ibu, apa saya bilang, ternyata bener si Nira ini perempuan nggak bener. Dia itu simpenannya bos, makanya bisa punya rumah gede begini. Mana punya anak nggak ada bapaknya lagi." Kokom menghasut para tetangga yang mulai berdatangan.
"Bu Kokom tahu dari mana? Jangan bikin fitnah Bu." Tetangga sebelah rumah Nira menyahut.
"Dari ibu yang anaknya jadi korbannya si Nira. Tuh di sana." Kokom menunjuk ke arah Gita.
Nira terkejut melihat Gita sedang tersenyum berdiri menyandar ke mobilnya. "Tante Gita," bisik Nira.
"Semua itu fitnah ibu-ibu, saya tidak seperti yang dituduhkan wanita itu." Nira membela diri.
"Udah lah Nira. Maling mana mau ngaku." Ibu-ibu yang lain mulai kasak-kusuk dan menatap Nira dengan pandangan merendahkan.
"Memangnya ibu itu ngasih bukti apa sama Bu Kokom, sampai segitunya percaya sama dia?" Nira menatap Kokom tajam. Emosinya mulai tersulut.
"Emmm ...." Kokom melirik ke sana ke mari, tidak punya jawaban dari pertanyaan Nira.
"Buktinya mana Bu Kokom?" Ibu-ibu di sana mulai mendesak.
"Ya nggak ada sih. Dia cuma bilang begitu." Tanpa rasa bersalah Kokom berkata.
"Huuuu. Bu Kokom bikin rusuh. Orang nggak dikenal nggak tahu dari mana dipercaya aja." Tetangga dekat Nira berkomentar. Ibu-ibu mulai bubar satu persatu karena Kokom juga hanya diam tidak bersuara lagi.
Melihat Kokom yang mulai disalahkan, Gita masuk ke dalam mobilnya dan pergi dari sana. Tidak mau ikut disalahkan.
"Ah beruntung kamu Nira. Masih saja ada yang bela kamu." Gita kesal karena pertunjukan itu cepat sekali selesai.
Sedang Nira masuk ke dalam rumahnya dan duduk di dalam. Dia sangat kesal dengan kejadian yang baru saja terjadi. "Bisa-bisanya Bu Kokom percaya sama Tante Gita yang ngomong nggak pake bukti."
Halimah duduk di samping Nira dan menggeleng melihat Nira. "Makanya Ibu bilang apa, menikah Nir. Kalau kamu sudah menikah, statusmu tidak akan lagi dipertanyakan. Ayuni juga akan mendapatkan kasih sayang seorang ayah."
Nira diam sebentar, dia tidak ingin melampiaskan emosinya pada ibunya. Dia menarik napas panjang dan menghembuskannya lewat mulut pelan-pelan. Setelah tenang dia menatap ibunya. "Bu, bukannya aku nggak mau menikah. Tapi siapa yang mau menikah sama Nira dengan tulus. Kalau mau menikah sama aku ya harus sepaket sama Ayuni, anakku. Mereka kebanyakan cuma mau sama aku aja, nggak mau ikut membesarkan anakku Bu." Nira menjelaskan dengan tenang.
"Kalaupun begitu juga nggak masalah Nira, kamu juga berhak bahagia. Biar Ayuni sama Ibu aja. Dia pasti bisa mengerti," kata Halimah.
Nira terkejut mendengar perkataan ibunya. "Nggak mau. Ayuni putriku Bu, kemana aku pergi dia ikut sama aku. Untuk apa aku menikah kalau harus berpisah dengan putriku."
"Ibu cuma mau melihat kamu bahagia Nira. Kamu sudah lama menderita. Dengan menikah kamu tidak akan jadi bahan gunjingan orang lagi," kata Halimah sampai menangis berkata seperti itu.
Nira memeluk ibunya dan mengelus punggungnya. Setelah tangis ibunya berhenti dia berujar, "Mungkin Ibu lupa kalau sekarang anak Ibu ini juga sudah menjadi seorang ibu. Seperti Ibu yang mau melihatku bahagia, aku juga sama Bu. Aku ingin yang terbaik untuk putriku, Ayuni. Aku sayang sama dia, aku juga ingin dia membahagiakan dia."
Mereka saling memeluk dan menangis bersama. "Maafin Ibu, Nir." Nira mengangguk dalam pelukan ibunya.
Mereka tidak tahu sejak tadi Ayuni menguping pembicaraan mereka. Dia menunduk, meremas ujung kaos yang dipakainya. "Apa lebih baik aku ikut dengan Ayah, biar Ibu bisa mengejar kebahagiaannya sendiri?"
Bersambung
Tap love ya dear