Dalwi tidak tahu harus berbuat apa, tangannya kini gemetar hebat. Surat itu kini beralih ke tangannya, dia mencoba terus membaca surat itu beberapa kali hingga akhirnya air matanya menetes lagi. Rahmat, temannya itu benar-benar sudah tidak lagi bisa menemaninya di kampus. “Gue bener-benar nggak nyangka kalau pendakian ini bakalan berakhir kayak gini.” kata Dalwi. “Iya, gue juga nggak nyangka. Dari setiap pendakian gue, cuma ini yang sampai memakan korban jiwa.” kata Bang Opung. Bang Opung sendiri merasa menyesal dan beliau merasa sangat bingung setengah mati lantaran semua yang terjadi ini, dirinya tidak tahu kenapa hal ini bisa terjadi kepadanya, entah apa yang dia lakukan sampai akhirnya dirinya mengalami kejadian buruk. “Kita harus gimana ngadepin orang tua mereka?” tanya Ririn tiba

