Dalwi dan yang lain pun langsung mengerjakan puisi-puisi yang dimaksud oleh Via. Seperti biasa, bukannya membuat, teman-teman Dalwi yang memang lebih suka cara instan lebih memilih untuk mengutip puisi-puisi milik sastrawan yang ada di internet. Sedangkan Dalwi yang memang sedang berbunga-bunga memilih untuk membuat puisi tentang rasa kasmarannya kepada Ririn, dia tahu ini menjijikan namun mau bagaimana lagi. Otak dan hatinya kali ini terasa tidak sinkron sama sekali. Bayangan Ririn yang sedang tersenyum memenuhi otak Dalwi. Senyum ku tersenyum, Wajah cantik terus membayang: Menyita waktu, mengukir bulan sabit di pagi, siang, dan malamku. Aku adalah pujangga Yang didadak oleh keadaan Sebab cantik parasmu merongrong tenang pikiranku. Tapi tak apa, karena aku pun suka. Asalkan kamu

