Keesokkan harinya, Dalwi dan kawan-kawan pun berjanjian di stasiun senen. Mereka sudah bersiap untuk kembali mendaki dengan misi mengembalikan apa yang tak sengaja mereka bawa. Mereka juga ingin berterima kasih kepada warga karena sudah membantu mereka keluar dari gunung tersebut. Di dalam kereta sudah ada Dalwi, Bang Opung, Ririn, Bayu, dan Indah. Mereka pun mulai menikmati perjalanan mereka. Namun, entah mengapa Ririn seperti terlihat ketakutan, bayangan apa yang terjadi di masa lampau kini keluar dalam benaknya, menari-nari, dan terus membuatnya gelisah. “Lu kenapa, Rin, pucet gitu?” tanya Dalwi yang melihat kalau Ririn yang ada di hadapannya berwajah pucat. “Gua … rada takut.” kata Ririn. “Tenang aja, bismillah. Kalau kemarin kan kita dateng ke sana dengan banyak problem, kalau sek

