30

2280 Kata

Sesampainya di sekolah, berpasang-pasang mata memperhatikan kehadiran kami berdua. Belum lagi masuk ke kantor, baru saja tiba di parkiran, beberapa guru mulai berkomentar. “Aduh ada yang boncengan. Mesra banget saya lihat tadi.” Pak Dendi yang sampai belakangan dari kami sudah buka suara. Bahkan dia lebih mementingkan untuk berkomentar dulu ketimbang melepas helemnya tersebut. “Sekarang udah terbuka, ya. Bahasa kerennya go public.” Bu Fatma melirik ke arahku dengan sinis. Kata-katanya tajam menusuk, membuat kuping ini lumayan merah mendengarnya. “Bu Fatma pengen saya bonceng juga?” Lian menjawab ocehan perempuan yang memang sejak awal sudah tak senang padaku itu. “Enggak, lah, makasih. Enakan naik N-Max ketimbang vespa kamu.” Bu Fatma tersenyum kecut, lalu berjalan dengan lenggokny

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN