Bab 14: Fakta & Curiga

2259 Kata
*** Aya baru saja selesai membereskan berkas perpanjangan kontrak milik Gama. Ia membaca sekali lagi isi dalam kontrak tersebut. “Terniat banget sih teman kamu nikahin pacarnya, Rel,” komentar Aya pada Farel yang sejak tadi entah melamunkan apa. Farel berdehem, ia mengalihkan perhatiannya dari meja kepada Aya. “Karena Gama cinta sama pacarnya,” jawabnya. Aya mengangguk singkat. Terlihat jelas dari mata Gama soal itu. Aya pikir Farel tak salah menilai. Sengaja Aya tak menyahuti karena ingin melihat reaksi Farel. Aya mengerutkan dahi karena Farel lagi-lagi melamun. Aya penasaran apa yang membuat pacarnya itu tampak linglung. “Kamu kenapa, Rel?” tanyanya. “Melamun terus dari tadi,” “Huh?? Nggak apa-apa, aku heran aja kenapa mamanya Gama nggak setuju Gama menikah dengan pacarnya ini?” Memang hanya itu yang membuat Farel melamun sejak tadi. Akibat rasa ingin tahu yang ia miliki, diam-diam Farel mencari tahu siapa Dea sebenarnya. Dari apa yang Farel dapat, ternyata Dea juga dari keluarga yang cukup berada. Namun, memang tidak sekaya orangtua Gama. “Kamu penasaran juga, kan, Sayang?” tanya Farel. Sesungguhnya sejak ia diam-diam mencari informasi mengenai keluarga Dea, Farel menemukan sesuatu yang janggal. Ini mengenai masa lalu keluarga Dea yang sepertinya ada hubungannya dengan keluarga Gama. Farel menghela napasnya dengan berat bila mengingat lagi hasil penelusurannya sejak Gama menjadi kliennya. Namun, Farel tidak bisa menceritakan kejanggalan ini pada Aya atau pun Giana. “Iya juga sih, Rel. Aku juga penasaran kenapa mamanya Gama menolak perempuan secantik Dea?” Aya menganggukan kepalanya. “Apa sebelumnya mamanya Gama kenal sama keluarga Dea? Sesuatu pernah terjadi tanpa sepengetahuan Gama?” Farel menoleh cepat pada Aya. Dahinya berkerut semakin dalam. Apa benar sesuatu pernah terjadi hingga membuat mamanya Gama menjadi dendam? Dalam pencariannya beberapa hari ini, Farel menemukan konflik masa lalu di antara kedua belah keluarga, tapi sebatas masalah antar sesama pengusaha saja. Awalnya menurut Farel hal itu biasa. Dari data tersebut tidak ada yang terlihat mencurigakan, hanya saja jika diteliti lagi, kejanggalan akan terlihat di sana. Itu lah yang Farel dapatkan beberapa hari ini. Namun, seseorang yang sudah jatuh cinta seperti Gama, tidak akan percaya pada kejanggalan yang Farel rasakan. Alih-alih menyelidiki, Gama pasti lebih memilih menuduh Farel ingin merusak hubungan percintaannya. “Rel? Tuh kan melamun lagi!” ujar Aya saat melihat Farel hanya menatapnya sambil mengerutkan kening. Mata Farel boleh saja sedang menatapnya, tetapi Aya yakin seratus persen pikiran Farel tidak pada tempatnya. “Ada apa sih, Rel? Ada yang kamu sembunyiin dari aku?” tanya Aya penuh selidik. Aya tidak suka bila Farel memiliki rahasia darinya. Entah itu kecil, apa lagi besar. “Apa yang kamu ketahui, Sayang? Jangan sembunyiin apapun dari aku maupun Gia,” Farel tahu bila Aya masih meminta dengan cara yang baik-baik itu berarti ia masih memiliki waktu untuk jujur. Farel menghela napasnya dengan berat. Sungguh ia tidak berhak menyelidiki semua ini, tetapi Farel betul-betul merasakan kejanggalan. Farel melakukan ini karena ia peduli pada Gama. Karena Gama adalah teman semasa remajanya. Meskipun mungkin lelaki itu tidak pernah menganggapnya ada. “Ada yang aneh Ay, keluarga Gama dan Dea pernah terlibat sesuatu di masa lalu,” beberapa menit yang lalu Farel pikir ia tidak bisa membicarakan masalah ini dengan Aya atau pun Giana, tetapi desakan dari Aya, pada akhirnya membuatnya terpaksa jujur. Aya mengerutkan dahinya, menunggu Farel mengatakan sesuatu yang lebih mudah ia pahami. “Aku nggak tahu lebih jelasnya seperti apa, tapi aku yakin sesuatu yang besar pernah terjadi di masa lalu tanpa sepengetahuan Gama,” terang Farel. Pupil mata Aya membesar. Ia semakin penasaran. Hal ini memang bukan urusan mereka, tetapi Aya mengerti bila Farel merasa harus mengetahui kebenaran mengingat Gama betul-betul dia anggap sebagai temannya. “Terus gimana, Rel?” tanya Aya tak tahu apa yang harus dilakukan. Farel menggelengkan kepalanya dengan pelan. Ia sama bingungnya dengan Aya. Masalahnya, Gama tak bisa diajak bicara. Orangtuanya saja ia abaikan, apalagi mereka, orang-orang yang mungkin tidak ada di mata Gama. “Apa kita batalin aja kontrak ini, Rel?” usulan Aya cukup baik, tetapi Farel menggelengkan kepalanya tidak setuju. “Gama akan tetap melanjutkan rencananya, ada atau nggak adanya bantuan kita, Ay,” ucap Farel memberikan penjelasan atas apa yang membuatnya menolak usul Aya. “Coba kita dengar pendapat Gia, Rel. Ngomong-ngomong Gia juga belum sempat cerita soal pengalamannya jadi kakak perempuan Gama,” Kali ini Farel mengangguk setuju. Sepertinya keputusannya untuk jujur pada Aya tidak salah juga. “Hubungi si Gia. Minta dia datang ke sini, Sayang!” “Siap!” balas Aya dengan segera. Tidak membutuhkan waktu lama, Aya sudah berhasil menghubungi Giana. Sesuai intruksi Farel, Aya meminta Giana datang ke kantor secepatnya. Untunglah, Giana sedang tidak melakukan apa-apa. Setelah kemarin meminta cuti, hari ini Giana akan datang ke kantor meskipun agak siangan. Itu juga karena ingin melihat kontrak yang Gama perpanjang dengan mereka. Namun, karena mendapatkan perintah dari Farel untuk segera datang ke kantor, mau tak mau Giana pun menyanggupi. Giana kenal situasi seperti ini. Mereka pernah mengalami beberapa masalah dengan kilen di masa lalu, sehingga membutuhkan penyelesaian dengan segera. Tanpa banyak bicara, Giana mengiyakan saja perintah itu karena ia yakin sesuatu pasti telah terjadi. *** Pukul Sepuluh lewat Tiga Puluh menit Giana baru sampai di kantor mereka. Ia mengucap salam seperti biasa. Lalu duduk di kursi lusuh yang masih sayang untuk dibuang. “Ada masalah apa, Ay?” tanya Giana secara langsung. Dapat ia lihat wajah Farel yang tampak terbebani. Kemudian mengalirlah cerita tentang kejanggalan yang Farel rasakan. Satu pun tidak ada yang dirinya tutupi. Farel menceritakan bagaimana awalnya ia bisa menemukan kejanggalan ini. “Jujur semua ini bukan urusan kita. Tapi karena Gama kuanggap sebagai teman, aku sedikit terbebani, Gia,” ucap Farel. Giana menganggukan kepalanya. Ia pun sama, tak ingin ikut campur terlalu jauh. Apa lagi ini Gama Pradipta, lelaki yang baru dia kenal selama menjadi klien mereka. Selebihnya, Giana tidak tahu apa-apa. Namun, apa yang Farel rasakan juga ia rasakan. Jika Farel mencurigai alasan Dindra Paramita menolak seorang Dea Andriano, maka Giana justru merasakan kejanggalan terhadap keluarga Dea. Jelas mereka memiliki sesuatu yang disebut sebagai rahasia. “Ngomong-ngomong gimana keluarga Dea Andriano menurut pandanganmu?” pertanyaan yang Farel ajukan membuat Giana tersadar dari lamunannya. Meskipun awalnya ia tak ingin bercerita, tetapi sepertinya ia tak bisa menyimpan rasa curiganya seorang diri. Giana menghela napasnya dengan berat, lalu mulai menceritakan pengalamannya selama menjadi Putri Pradipta, kakak perempuan Gama satu-satunya. “Putri Pradipta? Ternyata Gama nggak nyebut nama kakaknya secara keseluruhan,” komentar Farel. Setahunya, nama lengkap Kakak perempuan Gama adalah Aninta Putri Pradipta. Dokter yang selalu diperhitungkan di mana pun dia berada. Dokter Anin menikah dengan pengusaha terkenal yang juga pernah menjadi klien Gama. Iya, Farel pun sudah mencari tahu sejauh itu. “Memangnya siapa nama lengkapnya?” tanya Aya penasaran. Ia sedikit memotong pembicaraan mereka mengenai keluarga Dea. “Aninta Putri Pradipta. Akrab disapa sebagai dokter Anin,” jelas Farel sambil mengedikan bahunya. Aya mengangguk singkat, merasa jawaban itu sudah cukup untuk memuaskan hatinya. Namun, diam-diam Giana bertanya pada dirinya sendiri, di mana kira-kira ia mendengar nama itu? Terasa cukup akrab di telinganya. Merasa tak juga menemukan nama itu dalam ingatannya, Giana memilih untuk mengabaikannya. Ia mengedikan bahu untuk menyudahi segala tanya dalam benaknya mengenai dokter Anin. “Aku pikir keluarga Dea punya rahasia yang nggak boleh diketahui oleh Gama,” ucapnya kembali memfokuskan diri pada pembicaraan mereka. “Aku setuju! Tapi rahasia apa itu?” timpal Aya. Giana menggelengkan kepalanya. “Aku juga nggak tahu Ay, Cuma kerasa banget sama aku. Mereka tampak memudahkan segala usahaku dalam bersandiwara, seolah mereka sudah tahu kalau aku cuma sister contract bagi Gama,” Gia mengedikan bahunya sekali lagi. Dalam diamnya, Farel terus berpikir. Ia menyatukan potongan-potongan kenyataan yang ia temukan dengan cerita dan kecurigaan Giana selama berbaur bersama keluarga Dea. Satu hal yang Farel simpulkan, benar-benar ada masalah yang belum terungkap di antara kedua belah pihak keluarga. Namun, Farel pun menyadari sesuatu, bahwa Diandra Paramita sudah tahu tujuan Dea mendekati Gama. Itu adalah alasan kenapa Diandra Paramita menolak Dea untuk menjadi menantunya. Tidak salah lagi. Namun, memberitahu semua ini pada Gama adalah perbuatan yang sia-sia. Lelaki itu tidak akan percaya pada mereka semua. Gama sudah terlalu jauh terpengaruh oleh Dea yang ia anggap sebagai malaikat dalam hidupnya. Satu-satunya yang bisa membantunya untuk menolong Gama adalah Dindra, mamanya Gama yang sampai detik ini Farel ketahui masih tidak menyerah menentang hubungan Gama dan Dea. Bukan bermaksud ingin ikut campur urusan Gama, tetapi Farel yang terlanjur penasaran, lalu sedikit demi sedikit mengetahui apa yang sedang terjadi, tidak bisa mundur dan melupakan semua kecurigaannya begitu saja. Farel mengkhawatirkan kelangsungan hidup Gama bagaimanapun juga. Tidak peduli seperti apa sikap Gama padanya, selagi bisa Farel ingin menolong Gama. “Rel! Farel! Astaga kamu melamun lagi!” sudah untuk kesekian kalinya Aya memanggil Farel dengan suara yang cukup kencang. Hal itu membuat Aya kesal sekaligus khawatir. “Maaf, Sayang,” ucap Farel sedikit salah tingkah. Untuk apa yang akan dirinya lakukan setelah ini, tidak bisa ia bagi pada Aya atau pun Giana. Farel tidak ingin melibatkan keduanya. Biarlah ini menjadi urusannya karena Gama adalah temannya. Aya memutar bola matanya. Kesal karena Gama tidak mendengar pertanyaan yang ia ajukan beberapa saat lalu. “Jadi kita harus gimana, Pak Farel? Tetap lanjutin kontrak, atau batalin aja? Aku nggak mau terlibat sama masalah Gama yang sepertinya sedikit pelik ini,” ucap Aya mengulangi pertanyaannya. “Tetap lanjut Ay, kan aku udah bilang kita nggak bisa batalin kontrak ini karena Gama akan tetap nikahin Dea tanpa bantuan kita. Lagi pula uang yang Gama berikan sudah aku alokasikan ke biaya pergantian sofa,” kalimat terakhir hanya alasan Farel saja. Ia memang mengganti sofa mereka, tetapi uang yang ia gunakan adalah dari tabungannya sendiri. “Apaaa??? Dasar kamu, Rel nggak bilang-bilang dulu sama kita!” ujar Aya sambil mendelikan matanya. “Terus kamu nggak apa-apa, Gi, nerusin sandiwara ini?” Aya mengalihkan perhatiannya pada Giana. Jujur, yang paling Aya khawatirkan adalah Giana, karena sahabatnya itu yang paling terlibat di antara mereka. Bagaimana jika keluarga Dea adalah orang jahat? Mereka bisa saja menyakiti Giana demi kepentingan mereka sendiri. Aya menjadi parno dibuatnya. Aya tidak tega membiarkan Giana menghadapi orang-orang itu sendirian. “Nggak apa-apa, Aya. Kalau Farel mau lanjut, ya aku siap-siap aja. Aku nggak harus libatin diri juga, kan? Tugasku cuma memainkan peran,” ucap Giana sambil mengedikan bahunya. Giana tidak mudah takut. Ia sudah terbiasa menghadapi orang-orang licik. Pamannya, misalnya. Giana sanggup menghadapi, meskipun sampai detik ini rumah mereka masih dikuasai oleh pamannya itu. “Lagi pula kita sudah terlanjur tanda tangan kontrak sama Gama. Nggak baik kalau tiba-tiba batalin semuanya. Kita harus tetap profesional, kan?” Bahu Aya melemas mendengar itu. Giana benar, mereka harus tetap profesional. Bukan gaya mereka bila harus membuat klien kecewa. Selama ini, mereka selalu mendapatkan pujian atas bantuan yang diberikan untuk klien. Meskipun pekerjaan ini tampak rendah di mata orang yang tidak membutuhkan bantuan dari mereka. “Tapi kamu harus jaga diri ya, Gi. Jangan sampai mereka nyakitin kamu,” Giana tergelak. Ia merasa lucu pada kekhawatiran Aya terhadapnya. “Tenang aja Aya sayangggg, mereka nggak akan berani nyentuh aku selagi aku nggak ikut campur urusan mereka,” ucapnya. “Masalahnya seorang Giana yang aku kenal selalu suka ikut campur urusan orang lain!” Aya memutar bola matanya, membalas tawa Giana yang mengejek kekhawatirannya. “Uluh-uluh sahabatku tercinta, perhatian banget sih. Aku janji nggak akan kenapa-napa. Lagi pula ini hanya kecurigaan kita saja, belum tentu nyata,” ucap Giana menenangkan. Meskipun sebenarnya ia sendiri merasa khawatir. Apa yang Aya katakan memang benar, dirinya kerap kali tak tahan untuk tidak ikut campur bila mencium sesuatu. Kejadian di masa lalu misalnya. Masalah yang pernah mereka hadapi juga karena dirinya terlalu ikut campur urusan klien. Giana tidak puas dan tidak rela membantu kliennya karena ternyata cerita yang kliennya bagi pada mereka berbeda dengan kenyataan yang ada. Alhasil, Giana pun berbalik menyerang, bukan membantu seperti yang dijanjikan. Untung saja masalah itu terselesaikan. “Kalian berdua nggak usah khawatir, aku sendiri yang akan memastikan semua baik-biak aja,” Farel menimpali. Lebih dari Aya, Giana percaya pada Farel. Ia yakin Farel memiliki sesuatu yang menjadi rahasia untuk dirinya sendiri. Sudah pernah Giana katakan bukan? Kalau ia pandai membaca sesuatu dalam diri seseorang akibat terlalu seringnya mendapatkan pengalaman. Sebaik apapun Farel menyembunyikan rahasianya, Giana sudah lebih dulu menyadarinya dari Aya sekalipun. “Sipppp. Lagi pula ya Ay, aku yakin kalian juga akan hadir di pernikahan Gama nanti. Kalau Gama nggak mau ngundang kalian, aku yang akan lakuin itu, secara aku kan termasuk bagian dari acara pernikahannya,” kekeh Giana. Aya mengangguk sumbringah. Kekhawatirannya tentang Giana yang akan bekerja seorang diri hilang seketika. Giana benar, pada hari pernikahan itu, mereka bertiga bisa berada di sana secara bersamaan. Tidak akan ada yang tahu siapa mereka sebenarnya bila tidak ada yang membocorkannya. “Baiklah! Masalah sudah kelar. Kita hanya perlu diam, tanpa harus ikut campur urusan Gama.” Aya menatap Giana penuh ancaman. “Ingat ya Gi, jangan sampai kejadian di masa lalu terulang lagi. Selama ini kamu sudah cukup pandai dalam menahan diri untuk nggak ikut campur urusan orang lain,” peringatnya. Giana terkekeh. “Itu karena selama ini kita meneliti dengan benar permasalahan klien kita, Ay,” ucapnya. Mulut Aya ternganga, itu artinya Giana bisa saja lepas control dan ikut campur lagi urusan klien seperti di masa lalu. “Astaga!” pekik Aya. Namun, Aya dapat bernapas lega setelah mendengar janji dari Giana, bahwa ia akan menahan diri sekuat tenaga untuk tidak peduli pada masalah yang mungkin saja saat ini sedang Gama hadapi. Aya memegang janji itu dan berharap Giana menepati. . . To be continued. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN