Bab 5. Umpan untuk Cumi Rebus

1220 Kata
Tidak ada perjuangan yang sia-sia. Hanya saja waktu belum menentukannya untuk sempurna. Selama mengantri tiket untuk nonton, Sofi hanya diam. Berdiri di samping Nevan yang sedang sibuk memilih kursi untuk mereka berdua. Tak sengaja beberapa kali Sofi memergoki orang-orang terutama perempuan yang menatap aneh dirinya dan Nevan. Sofi sadar dia hanya perempuan biasa. Bahkan dikatakan sangat biasa karena pakaian yang ia kenakan masih menggunakan seragam tokonya. Namun apa salahnya bila dia menonton berdua Nevan. Lagi pula bukan Sofi yang mengajak, tetapi Nevan sendiri yang meminta ditemani. "Ayo ...." ajak Nevan ketika tiket sudah ditangan. Sofi mengintip dari sudut matanya, kira-kira film apa yang akan mereka tonton berdua. Ternyata film action figure yang sedang tayang di bioskop saat ini. Memangnya apa yang dia harapkan? Nevan mengajaknya menonton film romantis? Semua rasanya hanya mimpi. "Mbak Sofi mau makan dulu?" tanya Nevan sopan. Sofi menggeleng. Dia celingukan ingin mencari toilet yang berada di dalam bioskop ini. Walau Sofi bekerja dalam mall yang sama. Akan tetapi hampir dua tahun dia berada di mall ini, Sofi sama sekali belum pernah merasakan menonton di sini. Maklum saja, yang Sofi dengar dari Rama harga tiket di sini benar-benar luar biasa diatas rata-rata. Bila di mall lain masih ada yang harga tiketnya 35ribu. Sedangkan start harga tiket di sini mulai dari 50ribu sampai 100ribu. Padahal film yang ditonton pun sama. Entah apa yang berbeda. Sofi belum pernah merasakan. Pikirnya dari pada 100 ribu ia berikan cuma-cuma hanya demi sebuah film, lebih baik ia berikan kepada orang tuanya yang hampir gila setiap hari meminta uang kepadanya. "Hei, kenapa melamun?" tegur Nevan. "Kamu nggak nyaman jalan sama saya?" "Ah, bukan begitu. Saya mau ke toilet dulu Mas Nevan," "Ayo saya temani." "Apa?" ulang Sofi kaget. Nevan tersenyum, dia berjalan lebih dulu menuju arah toilet. "Saya juga mau ke toilet," jelasnya. Sofi menarik napasnya berkali-kali, mengapa dia memikirkan hal yang tidak-tidak dengan Nevan. Apa mungkin faktor dirinya sering menonton film dewasa sendirian? Sehingga ingin sekali mempraktekannya. Hanya saja selama ini tidak ada lawan jenis yang bersedia melakukannya bersama atas dasar cinta bukan sekedar napsu belaka. Setelah Sofi keluar dari toilet, dia tidak menyangka bila sosok Nevan masih setia menunggunya di depan pintu. Laki-laki itu nampak sedang menelepon seseorang sambil tertawa. "Iya. Nanti ditelepon lagi," ucapan Nevan yang mampu Sofi dengar membuatnya curiga. Sedang berbicara dengan siapa Nevan karena terdengar begitu mesra? Batinnya bertanya penasaran. "Ya udah. Hati-hati. Iya. Nanti aku telepon balik. Kita video call." "Hm ...." "Je t'aime trop ...." ucap Nevan seolah-olah lawan bicaranya berada di depan matanya saat ini. Kedua alis Sofi terangkat tinggi. Merasa aneh mendengar kata-kata Nevan yang tidak menggunakan bahasa Indonesia. Nevan membalas rasa penasaran Sofi dengan senyuman. "Udah?" "Hm ...." "Ayo. Filmya udah mulai," ajaknya kembali. Langkah Sofi mengikuti di belakang laki-laki itu. Dia tidak nyaman bila berjalan berdampingan bersama laki-laki sesempurna Nevan. Karena semakin banyak gosip-gosip yang ia dengar, semakin membuat telinganya panas. Selama di dalam bioskop pun Nevan begitu fokus dengan film yang dia tonton. Sesekali dia akan tertawa melihat beberapa adegan konyol para tokoh dalam film tersebut. Namun sayangnya dia sama sekali tidak melirik Sofi. Seakan-akan Nevan sedang menonton seorang diri sekarang. Dalam diam, Sofi terus saja mencuri-curi pandang pada wajah tampan yang terpahat begitu sempurna. Mulai dari bentuk mata, hidung, hingga bulu-bulu halus yang tumbuh di sekitar rahang Nevan. Dari tampilan yang terbentuk pada wajah serta tubuh Nevan, Sofi tahu laki-laki ini bukan keturunan Indonesia asli. Hidungnya yang mancung serta tinggi badannya di atas rata-rata semakin memperkuat dugaannya. "Jangan tatap saya, Mbak. Filmnya di depan bukan di wajah saya," goda Nevan. Sofi merasakan hawa panas di wajahnya. Dia mengkipas-kipas wajahnya sendiri dengan kedua tangan merasa malu karena tertangkap basah sedang memperhatikan Nevan. "Nggak usah malu. Bukan Mbak Sofi saja yang terpesona sama saya," ucapnya masih dengan ledekan yang sama. Dengan lirikan sebal hampir saja Sofi memukul tubuh laki-laki itu. Untung saja dia ingat, mereka bukanlah sepasang kekasih yang bisa seenaknya saling menyentuh. Setelah kurang lebih dua jam, akhirnya film tersebut selesai. Nevan meregangkan otot-otot tubuhnya sebelum dia bangkit untuk keluar dari studio tersebut. Beberapa gadis remaja bermata sipit nampak berbisik-bisik sambil menujuk ke arah Nevan. Mungkin gadis-gadis itu berpikir Nevan itu artis yang sedang menonton film bersama pembantunya. Entahlah Sofi tidak mau ambil pusing. Karena itu lain kali dia tidak mau menerima ajakan tersebut. "Terima kasih Mbak Sofi, mau menemani saya menonton film." "Sama-sama Mas," jawabnya malu-malu. Sofi tidak bisa menghentikan perasaan di hatinya yang mengharapkan Nevan melakukan hal lebih lainnya. Seperti mengantarkannya pulang. Tetapi lama Sofi menunggu, Nevan hanya diam membisu. Fokusnya langsung tertuju kepada ponsel di tangannya. "Mas Nevan, saya permisi dulu." "Ah, iya." Rasa sakit perlahan merayap di hati Sofi. Mendengar jawaban singkat dari Nevan bagaikan serangan jarum-jarum kecil yang langsung menusuk pada hatinya. "... sa ...." Sofi ingin berkata lagi, namun ia urungkan sebelum mendapatkan sikap acuh dari Nevan. Pelan-pelan Sofi melangkahkan kakinya, keluar dari bioskop ini. Ternyata waktunya menjadi seorang cinderella sudah habis. Lalu kini kembalilah ia kepada kehidupan normalnya. Seorang upik abu yang bisanya diperintah-perintah oleh kedua orang tuanya untuk mencari uang. Sofi menyesal terlalu berharap lebih pada Nevan. Dia pikir setelah menonton bersama, hubungannya dengan Nevan menjadi lebih dekat. Bahkan menuju ke arah serius. Namun nyatanya tidak. Menangkap seorang cumi rebus tidak semudah itu. Sofi butuh semua umpan untuk bisa mendapatkan sesuatu yang luar biasa. Apalagi kalau bukan harta yang selama ini ia jaga, yakni keperawanannya. *** Ketika sampai di rumah suara musik dangdut dari televisi yang menyala sudah menyambutnya. Ada Ayahnya di sana tengah berbaring di ruang keluarga seorang diri. Entah di mana Ibunya berada. Sofi berusaha untuk mengabaikan apa yang terjadi di keluarganya. Namun ketika dia membuka pintu kamar, ia melihat Ibunya tengah memijat perut adiknya, Desi. Gadis remaja itu terlihat pucat, dan terbaring lemah. Di meja kecil kamar mereka ada segelas air teh hangat serta obat magh cair yang terlihat habis dikonsumsi oleh sang adik. "Desi kenapa, Ma?" "Dari pulang sekolah tadi muntah-muntah aja. Kalau sampai besok nggak berhenti, bawa ke dokter aja deh. Mama bingung. Takut kenapa-kenapa." "Maghnya kambuh?" tanya Sofi sambil melepas seragamnya, mengganti dengan celana pendek dan kaus tipis andalannya di rumah. "Kayaknya begitu." "Telat makan kali?" tanya Sofi kembali. Desi tiba-tiba saja menangis sedih. Dia melirik Sofi yang duduk di atas ranjangnya. "Desi nggak jajan Mbak seharian. Padahal seharian ini Desi ada pelajaran tambahan sampai sore. Bekal yang Mama bawain udah Desi makan waktu istirahat jam 10," ceritanya dengan menangis. "Terus? Kenapa nggak jajan?" "Nggak ada uang jajan ...." lirihnya pelan. Sofi terdiam. Dia menggigit bibir bawahnya kuat. Menghalau air mata yang akan turun tanpa ia minta. Di sampingnya sang Mama sudah menangis lebih dulu. Tanpa banyak berkata-kata seperti biasanya. "Kenapa nggak bilang sih, Des. Kan bisa minta ke Mbak. Jangan sampai kamu nggak makan gini. Kalau udah sakit biayanya jauh lebih mahal," ucap Sofi dengan air mata di pipinya. "Kata Mama, Mbak Sofi belum gajian. Jadi ...." "Mulai sekarang jangan begini ya. Kamu itu punya penyakit magh akut. Harus sering-sering makan walau sedikit. Jangan sampai perut kosong. Kalau Mbak kan nggak sakit. Jadi Mbak masih bisa tahan kalau telat makan. Kamu ngerti kan, Des?" "Iya, Mbak." "Ini uang jajan buat kamu. Hari ini Mbak udah gajian, jadi besok kamu nggak boleh kayak gini lagi. Kalau kurang apa-apa ngomong. Jangan diam aja," nasihat Sofi sambil memberikan 3 lembar uang seratus ribuan. "Ini uang buat Mama. Sofi nggak bisa kasih banyak." "Makasih ya, Sof." "Sama-sama," "Tapi Mama masih dibelajain juga kan nanti? Isi warung udah kosong semua. Kalau kosong siapa yang mau beli?" Pertanyaan tiba-tiba yang keluar dari mulut Mama membuat perasaan haru Sofi menjadi kesal. Apa hanya orang tua dia yang tidak mensyukuri apa yang sudah diberikan oleh anaknya? Diberikan satu macam, mintanya berbagai macam. Yang ada lama-lama Sofi bisa gantung diri. _____ Continue Sekali taplove, komen berkali-kali
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN