Untuk beberapa saat, Alexa terkejut. Ia tidak pernah menyangka jika Vero akan mempertahan gaun tersebut. Meskipun Ia tahu, bahwa Alexa yang dulu pernah memimpikan gaun itu kini ada di hadapannya.
“Apa ada alasan khusus kenapa aku tidak bisa memiliki gaun itu? Aku lihat Alexa sangat cocok dengan gaun tersebut,” Leon melirik sekilas pada calon istrinya.
“Gaun itu sengaja saya rancang untuk orang spesial! Tapi semua itu hanya menjadi angan-angan, tapi saya tidak ingin kehilangan angan-angan tersebut dengan memiliki gaun itu. Sekali lagi saya minta maaf.”
“Bagaimana Alexa? Kau mendengar semuanya bukan?”
Alexa hanya bisa mengangguk.
“Kalau begitu aku permisi. Ini adalah gaun milik orang lain dan aku tidak berkah menggunakan gaun ini.”
Leon melihat kilatan di mata gadis itu. Terlihat aneh, dan ia mengira jika ada sesuatu yang belum ia ketahui dari gadis itu.
Dengan sedikit tergesa, Alexa kembali ke ruang ganti dan melepas gaun itu dengan cepat. Sebelum Ia benar-benar melepas gaun desain nya sendiri, ia memeluknya erat dan berharap suatu saat nanti ia bisa mengenakan gaun itu dalam sebuah kebahagiaan.
“Cla! Tolong antarkan ini pada desainer Vero. Katakan juga pada Tuan muda kalau aku akan menerima gaun yang ia pilih. Aku lelah dan ingin segera beristirahat.”
“Baik Nona muda.”
Cla membawa gaun tersebut dan menyerahkannya langsung pada tangan Vero. Di waktu yang bersamaan, Cla juga mengatakan pesan yang Alexa katakan. Semua orang termasuk Vero, tidak pernah menyangka jika akan mendapat sikap demikian dari Alexa.
Pada akhirnya, Leon dengan cepat memilih gaun dengan bantuan Cla. Bagaimana pun, selera pimpinan para maid itu cukup bagus dan Leon tidak akan meragukan hal tersebut.
Urusan gaun telah selesai dan Vero akhirnya meninggalkan villa tersebut dengan hati yang tidak tenang. Ia melirik ke lantai atas dan di sana Ia melihat sosok cantik itu menangis dalam diam dibalik sebuah kaca besar.
“Aku tidak bisa memberikan ini pada mu! Karena hanya ini yang aku miliki untuk tetap mengingat mu.”
***
Dua hari telah berlalu. Aji sudah mendapatkan izin dokter agar mendapatkan perwatan dan terapi dalam rumah. Tentu saja hal itu membuat Leon bisa bernapas dengan lega. Bagaimanapun, Aji bisa dalam bahaya jika mereka berhasil menemukan keberadaannya.
Aji sudah berada di Villa dan mendapatkan kamar khusus, sesuai dengan kebutuhannya. Leon menyiapkan semua fasilitas tersebut hanya untuk berjaga-jaga jika kondisi Aji menurun.
Pada hari ke-3, Leon menggelar cara pernikahannya bersama Alexa. Aji menjadi saksi utama dan untuk Alexa semuanya menggunakan wali hakim. Semua keluarga benar-benar sudah tidak ada, hanya Lingga yang tersisa dan perempuan itu sama sekali tidak berguna.
“Alexa, hari ini kita resmi menjadi suami istri! Bersikaplah wajar dan masuk ke dalam kamar ku malam ini,” bisik Leon.
“Ta-tapi aku belum siap, Leon!” Ia menggeleng.
“Menurut saja pada ku!”
Alexa pasrah dan Ia hanya mengangguk dengan memasang senyum palsunya. Tidak banyak yang menghadiri pernikahan mereka, hanya Aji, penghulu dan beberapa orang yang menjadi saksi, tidak lain adalah Jack dan anak buahnya.
Dengan menggunakan kursi roda, Aji dibantu oleh Cla mendekat pada Leon dan Alexa. Ia menyatukan kedua tangan mereka dan menggenggamnya erat. Matanya terlihat berkaca-kaca, tapi ia sangat bahagia saat ini.
“Papa bahagia,” Aji mulai bisa menggerakan bibirnya, meskipun hanya beberapa kata yang mulai terdengar jelas.
“Alexa dan Leon juga bahagia, pa. Sekarang papa harus sehat, ada Alexa dan Leon yang akan menjaga papa di sini.”
Leon hanya mengangguk. Lagi-lagi ia melihat sisi lembut Alexa pada Aji, dan ini sangat membuatnya tersentuh. Padahal baru semalam Leon meminta gadis itu untuk membubuhkan tanda tangannya pada sebuauh surat perjanjian, tapi Alexa benar-benar terlihat sangat tulus menyayangi Aji.
Acara telah selesai, hari semakin gelap dan ini waktunya untuk semua orang beristirahat. Dengan sangat mesra, Leon menggandeng tangan istrinya dan masuk ke dalam kamar pengantin mereka. Kamar yang belum pernah Aji ketahui sebelumnya, jika ada pintu rahasia dalam kamar tersebut.
“Apa aku tidur di sini malam ini?” Alexa duduk di tepi ranjang masih dengan gaun pengantinnya.
“Jika kamu ingin ada di sini silahkan! Tapi jika tidak, silahkan masuk ke kamar mu sendiri,” ujarany dingin. “Dalam perjanjian tiada ada keharusan bagi mu untuk melayaniku sebagai seorang istri di atas ranjang,” lanjutnya.
Hal itu benar-benar menyadarkan Alexa jika mereka hanya menjadi pengantin di atas kertas.
“Tapi kalau aku pergi ke kamar ku, papa atau siapa saja akan melihat ku, Leon!”
“Tentu tidak!”
Leon berjalan mendekati sebuah lemari dan Ia berdiri untuk beberapa saat di tempat tersebut. Tidak lama kemudian pintu terbuka dan Leon menyingkir.
“Silahkan istirahat di kamar mu sendiri, Alexa.”
Ia terbelalak, cukup terkejut saat melihat ada pintu rahasia yang menghubungkan kamar Leon dan kamarnya. Dengan sedikit kesulitan, Ia berdiri dan berjalan mendekati Leon, menatapnya tidak percaya.
“Jangan tanyakan apapun! Aku sangat lelah.”
Alexa hanya mendelik dan lansung masuk ke dalam kamarnya tanpa bicara apapun. Sejujurnya, Ia pun merasa sangat lelah dengan semua acara hari ini. Selain Ia harus berpura-pura, ia juga harus tetap tersenyum dan ini sedikit membuat wajahnya terasa pegal.
“Aku sudah mengubah kata sandi pintu ini. Tanggal hari ini! Jika terdesak, tekan tanggal pernikahan kita dan pintu akan langsung terbuka.”
Alexa mengangguk, dan tidak berselang lama pintu mulai tertutup. Pandangan keduanya bertemu beberapa detik dan setelah itu pintu tertutup dengan sempurna.
Dalam kamar yang berda, baik Leon maupun Alexa sama-sama duduk di tepi ranjang dan menghela napas dalam. Ada yang salah, dan mereka menyadari semua itu. Tapi mereka kembali mengingat apa tujuan dari pernikahan yang mereka jalani.
“Ma, pa! Sekarang Alexa sudah menikah, meskipun ini hanya terjadi karena perjanjian. Alexa berharap mama dan papa tidak marah dengan keputusan yang sudah ambil. Mereka harus mendapatkan balasan yang setimpal!”
Ia sudah sangat lelah, tanpa melepas gaun pernikahannya ia berbaring dan terlelap, masuk ke dunia mimpinya yang indah bertemu dengan orang-orang yang Ia sayangi.
**
“Jack! Ke kamar ku sekarang.”
Tidak lama kemudian terdengar ketukan pada pintu dan Jack masuk dengan sedikit menundukkan kepalanya. Bagaimanapun Tuan mudanya baru saja menikah dan ini adalah malam pertama mereka.
“Santai saja, Jack! Alexa tidak ada di kamar ku.”
Jack terlihat terkejut. Meskipun Ia tahu pernikahan ini terjadi hanya karena balas dendam, tapi Jack tidak pernah menyangka jika Leon akan benar-benar tidur terpisah dengan istrinya.
Leon mulai berpindah dan duduk di balik meja kerjanya. Mereka kini dudu berhadapan dan Leon mulai mengajukan banyak pertanyaan mengenai apa yang terjadi di rumah sakit sampai mereka tidak bisa mengenali Aji.
“Pria itu masuk dengan seorang dokter wanita! Sepertinya mereka sangat dekat. Saya benar-benar tidak menyangka jika pria bernama Reyhan itu benar-benar arogan. Andai saja saya bukan dalam misi, mungkin malam pagi itu dia akan lenyap dari muka bumi!” serunya dengan menggebu-gebu.
“Sabar Jack! Permainan ini baru saja akan di mulai.”