Tepat pukuk enam pagi Alexa dan Leon meninggalkan hotel. Mereka bergegas pulang dengan penampilan seadanya. Terlihat sedikit kusut, karena pakaian itu masih sama dengan pakaian yang mereka gunakan saat tidur. “Apa kamu lapar? Aku merasa aneh saat perutku sudah protes sepagi ini,” ujar Leon. “Sepertinya kita punya masalah perut yang sama,” timpal Alexa. “Hahaha... Mungkin kita memang ditakdirkan untuk bersama oleh Tuhan.” Leon menyadari apa yang baru saja Ia katakan. Pandangannya beralih pada sosok cantik yang duduk manis dan menatapnya bingung. Takdir! Tuhan! Haruskan Alexa bahagia mendengar kata-kata itu, atau Ia harus merasa sakit? Semua tidak semudah yang terlihat, karena pada dasarnya hubungan mereka hanya terikat oleh sebuah perjanjian, yang di dalamnya dengan jelas tertulis

