Part 1 : Orang aneh

1361 Kata
“Darren sangat tampan.”  Thalia mendesis mendengar kalimat yang baru saja terlontar dari mulut teman kerjanya, Elena.   “Aku penasaran, dia benar-benar tidak punya pacar atau bagaimana?” Elen menunjukkan ponselnya kehadapan Thalia. “Lihat, dia tampan kan?”   Thalia justru mendengus dan memutar bola matanya. “Tidak.” Jawabnya  yang membuat Elen mendesis tajam.   “Thalia awas, jangan sampai kau terpesona jika bertemu dengannya.” Thalia mencebik. “Kau tidak tau saja, dia b******k gila.”   “Hng? Apa kau bilang Thalia?”   “Kalian! Kerja! Malah mengobrol.” Tegur salah satu senior mereka.   Thalia menghembuskan nafasnya lega. Beruntung ia tak harus menanggapi ucapan temannya itu lagi. Karena jujur saja, ia masih belum siap jika harus mengatakan kejadian yang menimpanya dua hari lalu pada Elen. Malu, tentu saja. Karena selama ini ia terkenal sebagai perawan tua yang menghabiskan waktu dengan bekerja. Tak jarang ia akan pulang menjelang dinihari karena ia harus menyelesaikan beberapa pakaian dalam satu hari demi mendapatkan upah lebih untuk menunjang kehidupannya. Sampai terkadang membuat Elena geleng-geleng kepala.   Selain itu Thalia selalu mengatakan dia akan melakukannya—s*x, setelah menikah. Bukan dengan cara memalukan seperti itu. Terlebih ia sangat ingat, jika malam itu ia yang memohon seperti jalang, meminta lebih bahkan mereka melakukannya lagi hingga menjelang pagi. Sangat gila memang, untuk ukuran dirinya yang baru pertama kali melakukan hal itu. Namun siapa yang akan menolak pesona Darren? A hottest man yang tentu saja menjadi incaran banyak wanita. Dan—jujur saja, ia akui jika Darren sangat ahli dan dia benar-benar membuat kesan yang indah untuk pengalaman pertamanya.   “Thalia! bekerja!”   Thalia terperanjat mendengar seruan itu.   “Ah? Ya—Madam.” Seru Thalia kemudian segera berfokus pada desain yang berada dimejanya.   Thalia meneguk ludahnya kasar. Membayangkan malam itu, bayangan tubuh kekar Darren dan juga mata tajamnya. Entah kenapa justru membuat bulu kuduk Thalia berdiri, tubuhnya terasa meremang saat membayangkan sentuhannya dan terasa ada desiran aneh ketika tiba-tiba terbersit sekilas desah nafas lelaki itu.   Dengan membayangkannya saja, Thalia kembali b*******h.   Oh s**t, Darren sialan.   ***   Thalia merenggangkan otot lehernya setelah berkutat dengan kain yang ia potong. Desain baju yang akan ia jahit kali ini benar-benar rumit dan membutuhkan konsentrasi lebih untuk menyelesaikannya.   “Thalia, ayo makan siang.” Elen menenteng sebuah paperbag dan bersiap dibawanya keluar ruangan. “Kau butuh makan untuk berkonsentrasi tinggi.”   Thalia mengangguk kemudian meraih paperbag yang ia bawa dari flat-nya, berisi makan siang yang sengaja ia siapkan. Keduanya berjalan menuju tempat istirahat. Sebuah meja dibawah pohon rindang tepat dibelakang tempatnya bekerja.   “Sepertinya malam ini aku akan pulang sangat malam lagi.” Ujar Thalia. “Satu baju saja sepertinya sulit sekali.”   “Lagipula kenapa kau menerima tugas itu? Seharusnya tugas Bella” —senior mereka.   “Aku tak enak hati, pekerjaan dia juga banyak.”   “Tapi resikonya jika gagal maka gajimu akan dipotong.”   Thalia mendesah pelan. “Benar juga.”   Elena menatap Thalia kemudian menghembuskan nafasnya. “Kau jangan terlalu baik Thalia, jangan terlalu polos juga. Kau bisa dimanfaatkan orang-orang jika terus begini. Pulang malam terus juga bahaya. Apalagi malam ini aku tidak bisa menemanimu.”   Thalia menghembuskan nafasnya seraya melirik Elena. “Tak masalah Elen, aku bisa sendiri, pasti pacarmu akan berkunjung ya?”   Elena tersenyum lebar. “Benar. Kebetulan dia senggang. Bagaimanapun hubungan kami jarak jauh Lia. Jadi aku harus memanfaatkan waktu selagi aku bisa.”   “Ya—ya—ya aku mengerti. Kau pasti akan menghabiskan malam panjang yang indah bukan? Aku sangat mengerti.”   Elena tergelak. “Makanya, kau cari pasangan sana. Punya pasangan tidak buruk Lia. Dia bahkan bisa kau andalkan, dia bisa membantumu juga saat kau kesulitan.” Kali ini Elena tersenyum lembut. “Siapa tau, orang itu juga bisa membantumu mencari Tania kan?”   Thalia menghembuskan nafasnya pelan. semenjak datang kesini, tak pernah terbersit sedikitpun baginya untuk mencari pasangan atau mendapatkan pasangan. Karena fokusnya ia harus mencari Tania. Ia harus mendapatkan kabar terbaru dari adiknya itu. Ia pikir, memiliki kekasih bisa saja menghambat rencananya. Belum tentu juga mereka setuju dengan dirinya yang menghabiskan waktu untuk bekerja demi menghidupi dirinya sendiri dan juga membayar seseorang agar mendapatkan informasi tentang Tania.   “Memiliki pasangan belum tentu buruk Thalia. contohnya aku, dia—sangat mengerti pekerjaanku juga.”   Thalia mendesis. “Bagaimana jika dia selingkuh?”   “Hey! Jaga ucapanmu.”   “Aku bilangkan jika.” Thalia menghembuskan nafasnya. “Kalau aku memiliki pasangan, mungkin bisa membantuku Elen. Tapi bagaimana jika mengalihkan fokusku? Contohnya dengan lelaki itu selingkuh? Aku justru akan terpuruk, sakit dan akhirnya—aku tidak bisa fokus mencari adikku kan?”   Thalia menghembuskan nafasnya lagi. “Apalagi lelaki tampan. Kalau tidak b******k, ya pasti dia gay.”   Elena menatap Thalia sendu, selalu saja seperti itu. Thalia selalu saja begitu, menekan dirinya sendiri karena tujuannya. Thalia bahkan hampir tidak pernah bersenang-senang, kecuali dihari ulangtahunnya. Dia benar-benar menghabiskan waktunya hanya untuk bekerja dan bekerja, meski saat orang lain berbondong-bondong liburan. Dia tidak begitu. Thalia hanya akan terus bekerja walau disaat oranglain bersenang-senang.   Thalia meneguk ludahnya kasar saat pandangannya menatap seseorang yang sejak tadi seperti menatapnya, seseorang yang mengenakan pakaian serba hitam disertai tatapan dingin yang terasa mengancamnya.   “Kau kenapa Lia?”   “Elen, perasaanku saja atau—orang itu mengawasi kita sejak tadi?”   Elena berbalik, mengalihkan pandangannya pada orang yang dimaksud Thalia. namun beberapa saat kemudian orang itu pergi bersama seorang wanita menggunakan sebuah mobil mewah.   “Ck! Pasti hanya perasaanmu saja. Lihat! Dia memiliki pasangan. Jangan terlalu percaya diri Thalia.”   Ahh—begitu ya?   Tapi kenapa firasatnya memburuk?   ***   BUK!   BUK!   Bruk   Thalia baru saja mengunci rumah jahit yang menjadi tempatnya bekerja selama ini saat mendengar kegaduhan dari sebrang jalan. Ini memang hampir tengah malam dan kejahatan memang marak terjadi, Apa itu rampok? Pikir Thalia.   “Serahkan semuanya!”   Benar. Itu rampok.   Thalia buru-buru menghubungi polisi seraya berlari sekuat tenaga menghampiri gerombolan itu. Karena bagaimanapun korban mungkin akan mati jika terus menerus mendapatkan pukulan keras dari tiga orang itu.   “Polisi ada kasus pencurian disini, didepan Gloria Clothing.”   Pukulan itu kembali dilayangkan pada korban membuat Thalia sedikitnya memekik.   “Berhenti!”   Tiga orang itu menoleh pada Thalia. Membuat Thalia tanpa sadar meneguk ludahnya kasar. Apalagi saat salah satu penjahat itu mendekat, perasaan takutpun mulai menguasainya.   “Perempuan manis. Siapa yang memintamu jadi pahlawan?” salah satu penjahat itu tertawa pelan. “Bos, lumayan. Bisa kayaknya diajak bersenang-senang semalaman suntuk.”   Thalia meneguk ludahnya lagi. Apa katanya? Bersenang-senang? Kaki Thalia melangkah mundur secara perlahan. Keberaniannya menguap seiring dengan langkah para penjahat itu yang semakin mendekat.   Thalia bodoh! Seharusnya tadi kau diam saja. Bukan sok jadi pahlawan kesiangan begini.   Satu orang diantara mereka menaikan satu alisnya kemudian tersenyum miring, membuat bulu kuduk Thalia berdiri.   “Boleh juga. Barang bagus sepertinya.” Ujar salah satu penjahat itu yang mereka panggil bos kemudian ikut mendekati Thalia.   “Berhenti! Apa yang akan kalian lakukan hah?! Menjauh dariku atau aku akan lapor polisi!” gertak Thalia.   Penjahat itu tertawa kompak, menertawakan gertakan Thalia. kali ini Bos mereka mendekat, bahkan berani menyentuh wajah Thalia. “Cantik juga.”   Tangan kanan Thalia menepis tangan penjahat itu. “Jauhkan tangan kotormu! Dasar penjahat tidak tau malu!”   Penjahat itu menggeram, lalu mencengkram pipi Thalia dengan kencang. “Apa kau bilang?”   Thalia memegang tangan itu dengan kedua tangannya. “S-sakit.”   “Cih! Sakit kau bilang?”   “Lepas—.”   “Singkirkan tangan laknatmu sialan! Hadapi aku!”   Lelaki yang tadi tersungkur karena beberapa pukulan kini berdiri dengan sebilah balok yang entah dia dapatkan darimana.   “Da—Darren?” ujar Thalia pelan. Lelaki itu—yang tadi sempat tersungkur. Dia Darren.   Darren memukulkan balok kayu dengan kencang pada dua anak buah si penjahat secara bergantian, lalu berhadapan dengan bos si penjahat.   Cih!   Darren meludahi wajah penjahat itu. “Jangan kira aku lemah.”   Thalia dapat melihat mata menyalang dari penjahat itu, layaknya hewan buas yang terganggu tidurnya. Perlahan ia mundur, menjauhi dua orang lelaki itu.   Baku hantam tidak terelakan lagi, kali ini Darren bahkan tidak tersungkur seperti sebelumnya lagi. Mungkin karena satu lawan satu? Ia juga tidak mengerti.   Thalia memekik suaranya saat melihat penjahat itu mengeluarkan sebilah belati. Beruntung Darren dapat menghindari belati itu dengan cepat sehingga tidak melukainya.   “Beraninya kau pakai alat.”   Darren hampir melawan penjahat itu lagi, namun bertepatan dengan itu suara sirine polisi mendekat. Membuat si penjahat membulatkan mata kemudian berlari dengan meninggalkan dua anak buahnya.   “Pecundang.” Desis Darren begitu penjahat itu pergi.   “Darren—apa yang kau lakukan disini? Wajahmu—.” Thalia menyentuh beberapa lebam diwajah lelaki itu. “Ayo aku obati. flat-ku tak jauh dari sini.”   “Kau memang harus bertanggung jawab.”   “Kenapa jadi aku? Memangnya aku memintamu diam disini? Lagipula ini bukan tempat parkir Tuan Darren yang terhormat.”   Darren mendekatkan wajah pada Thalia. membuat wanita itu menjauhkan wajahnya. “Lalu, menurutmu apa yang membuatku diam disini?”   Thalia meneguk ludahnya kasar apalagi saat Darren terus mendekatinya. Saat Thalia mundur, Darren terus saja maju. Begitupun selanjutnya.   “Jangan kurang ajar Darren!”   Darren mengeluarkan smirk-nya. “Aku kurang ajar? Menyentuhmu saja, tidak.”   Mata Thalia menatap tajam sekaligus gugup. Jujur saja, jika akal sehatnya sudah hilang ia pasti akan menyerang Darren sekarang juga. Karena aroma jantan yang dikeluarkan oleh Darren benar-benar memenuhi inderanya dan membuatnya seolah mabuk. Thalia meneguk ludahnya sekali lagi. “Aku akan teriak dan minta tolong pada polisi itu.”   “Teriak saja, aku tinggal bilang kau kekasihku dan kau hanya sedang marah.”   “Daren sialan!”   “Mulut cantikmu.” Kali ini Darren mendekatkan bibir menuju telinga Thalia. “Daripada mengumpat, sebaiknya mendesahkan namaku lagi. Bagaimana?”   ***      
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN