Satu tahun lebih sudah perjalanan mahligai rumah tangga antara Ocha dan Erga. Tidak ada kemajuan pesat, yang ada hanyalah saling belajar melengkapi satu sama lain. Kuliah Ocha pun berjalan dengan cukup baik, karena Erga sudah menerapkan aturan dalam hubungan mereka. Ocha harus serba melaporkan segala kegiatan setelah Erga berada di rumah, jika laki-laki itu sudah lelah maka dibicarakan saat selesai ibadah subuh.
Selalu berdua dalam satu rumah memang bukan hal yang mudah bagi keduanya. Rasa sepi seringkali menyergap keduanya, jika Ocha mulai merapatkan diri dan menyinggung soal bayi serta anak kecil, biasanya Erga akan dengan cepat mengalihkannya dengan aktivitas ranjang.
Memangnya apalagi yang lebih mudah membungkam Ocha? Tentu saja performa Erga. Sesekali, saat melihat wajah istrinya ketika usai berbagi peluh, Erga akan berpikir... dia sudah terlalu tua untuk segi umur. Dia suka mengelus wajah Ocha dan bergumam, "Kalo nanti kita selesai. Kamu enak, masih muda. Aku yang udah tua ini, kapan punya momongannya?"
Lalu diakhiri dengan mencium bibir serta kening Ocha. Ya, kening. Erga tidak tahu kapan pastinya, tapi dia senang mencium kening istrinya ketimbang pucuk kepalanya belakangan.
"Capek...," rengek Ocha ketika baru pulang dari kampus.
Erga yang lebih dulu pulang karena sedang kurang enak badan, melihat istrinya berjalan lunglai menuju kasur.
Ocha memantulkan diri di samping suaminya duduk bersandar pada kepala ranjang, lalu usapan hangat dari tangan Erga membuat lengkungan bibir Ocha merekah.
"Pijitin, ya?" tawar Erga pada istrinya.
"Maauuuu...."
Ocha dengan cepat mengubah posisi menjadi duduk membelakangi suaminya. Wajah sumringah Ocha membuat Erga menjadi tertawa senang. Lama-lama Erga menjadi gemas mendapati Ocha yang memekik senang hanya karena hal kecil.
"Ouhhhh... enaknya, Suamikuuuuu...."
Ocha terus meracau nikmat. Baginya tangan Erga bukanlah tangan kasar dan keras yang tidak akan membuat nyaman ketika memijat, justru kebalikannya.
"Suka?" bisik Erga.
"He'em! Sukaaa... enak banget pijitan kamu."
Erga mengecup belakang telinga istrinya, Ocha hanya merintih sesaat. Berbeda jika Erga menurunkan ciumannya ke tengkuk Ocha.
Erga suka sekali mendengar deru napas Ocha yang memendek. Lucunya lagi, Ocha tidak pernah sadar saat Erga sengaja membuat posisi mereka terlihat dari cermin yang menempel di dinding depan mereka. Ya, Erga sengaja membentangkan cermin itu, jadi ketika mereka baru bangun pasti melihat bayangan diri sendiri di sana.
Semakin lama, wajah Ocha semakin memerah, perempuan itu bahkan menggigit bibir bawahnya karena tidak tahan dengan godaan dari sang suami.
"Tunggu!" ucap Ocha saat menyadari tangan suaminya sudah tidak lagi memijat pundaknya, tapi merayap turun memijat daerah kewanitaannya.
"Kenapa?"
"Aku belum minum pil-nya," jawab Ocha yang masih menyesuaikan napasnya.
Erga menggeram tidak suka, dia menempelkan kening pada pundak Ocha.
"Kamu mau... kita... bikin anak?" tanya Ocha yang merasa Erga tidak mau melepasnya turun dari ranjang.
Tidak langsung menjawab, Erga hanya menggerakan kepalanya ke kiri dan kanan, menandakan bahwa dia masih belum mau program kehamilan.
Ocha menghembuskan napasnya perlahan, tidak ingin Erga menyadarinya. Lalu, Ocha menerbitkan senyumannya.
"Yaudah, lepas dulu tangan kamu. Aku mau minum pil-nya."
Dengan lemas Erga melepaskan tubuh Ocha dari pelukannya. Erga masih belum mau mengangkat wajahnya, dia memikirkan apa sebenarnya yang ia mau. Hubungannya dengan Ocha memang bisa dikatakan berkembang pesat, Ocha selalu menuruti apa maunya, sampai terkadang Erga jengah pada apa yang ia mau sebenarnya.
31 jelas bukan usia yang muda lagi untuk membicarakan anak. Tapi...
"Kenapa bengong?"
Erga terkesiap karena Ocha sudah duduk di atas pangkuannya, lengan kiri perempuan itu berada di pundak Erga sedangkan yang kanan sengaja membuka kancing baju tidur suaminya.
"Sore-sore gini nggak masalah, 'kan kita olahraga?" ucap Ocha polos.
Erga tertawa dibuatnya, tapi bukan tertawa lebar hanya sejenis kekehan yang agak lebih keras. Tidak menjawab pertanyaan istrinya, Erga memilih merayapkan tangan menuju d**a Ocha. Saat berhasil meremasnya, sang istri menengadah dan mengerang indah.
Indah, di mata Erga.
Dan sesi selanjutnya tidak perlu ditanyakan lagi. Erga yang asik melucuti dan Ocha yang senang saja menyerahkan diri.
*
Ocha tidak perlu merasa cemas akan sesuatu yang jelas-jelas sudah menjadi miliknya. Namun, entah pemikiran dari mana kalau ada perpisahan yang harus dia bayar.
Beberapa hari lalu, tante Ayu mengabarinya bahwa akan kembali ke Indonesia. Tante kesayangannya itu memang sudah lama tinggal di Hongkong, karena pekerjaan suaminya sebagai kedutaan besar Indonesia di sana. Ocha senang bukan main, maka dengan segera-setelah sesi percintaannya dengan Erga-dia memberitahu pada sang suami bahwa dia akan menjemput tante Ayu-nya.
Erga sama sekali tidak keberatan. Justru lelaki itu semangat untuk mengantarkan Ocha menjemput tantenya itu.
"Ga... ga... Erga... Sayang... Suamiku...."
Ocha terus membangunkan suaminya. Segala jenis panggilan sudah Ocha coba, tapi tidak ada yang mempan. Memukul? Ocha tidak seberani itu untuk memukul suaminya, apalagi itu tindakan tidak sopan kepada yang lebih tua. Menyiram dengan air? Ocha lebih takut lagi. Masalahnya, Erga tidak pernah melakukan hal itu padanya. Ocha tidak pernah dicontohkan untuk melakukan semua itu jika ingin membangunkan seseorang.
"Darliiinngggg...."
"Hm?" Erga baru menyahut.
Ocha terkesiap. "Jadi, kamu suka dipanggil darling, ya, Ga?"
Erga membalikkan badan dari posisi tengkurapnya. Ocha yang agak menyingkir memantau saja gerakan lelaki itu.
"Kenapa, sih, pagi-pagi libur begini kamu rame, Cha?" balas Erga masih dengan mata terpejamnya.
"Jalan, yuk, Darl? Aku bosen di rumah. Lagian, tante Ayu datengnya masih dua minggu lagi. Sekarang juga hari libur... mau, ya, Erga-ku Darling?"
Erga membuka matanya, menatap sejenak pada istrinya yang memasang wajah penuh harap.
"Lama-lama kamu mirip Zero-two, ya."
Ocha tersenyum lebar. "Hahaha. Aku suka lagi sama 02. Dia mirip aku, soalnya, kayak kata kamu!"
Sejak semakin dekat dengan Ocha, tontonan Erga jadi terkontaminasi dengan anime Jepang, terkadang Doramanya, juga jangan lupakan... drama Korea. Demi mendapat ketenangan selama mengerjakan pekerjaannya di rumah, Erga harus mau ikut menemani istrinya yang seperti bocah menonton apa saja yang Ocha mau.
"Kamu Darling aku, ya, Ga. Selamanya, 'kan? Kita, 'kan udah nikah."
Meski geli, harus Erga akui bahwa ada kupu-kupu yang terasa berterbangan sekaligus menggelikan di perut Erga. Pemandangan Ocha yang tersenyum lebar, mata yang agak menyipit, lali berkata-kata manis, merasuk dalam ingatan Erga secepat kilat yang menggelegar pagi ini.
"AAAKKKHHH!" teriak Ocha saat sadar suara keras tersebut datangnya dari langit.
Erga memekik pelan karena Ocha yang langsung melompat menindihi tubuh Erga yang telentang.
"Aku belum siap, Sayang... kamu udah napsu banget naikin aku begini." Erga bermaksud menggoda istrinya itu.
"Iiihhhh... orang lagi takut! Siapa juga yang pengen-"
Erga memotong ucapan Ocha dengan mengecup dalam bibir perempuan itu. "Aku yang pengen. Pagi-pagi begini, butuh kehangatan, lho."
Ocha mengangkat wajahnya dari lekukan leher suaminya. "Peluk aja, ya? Biar anget," jawab Ocha.
"No, no, no...." Erga menopang tubuhnya dengan kedua siku, Ocha berinisiatif mundur dengan posisi menduduki tubuh Erga.
"Eh?" pekik Ocha merasakan ada yang menyundul dari bawah. "Itu apaan, Ga?"
"Apa?" iseng Erga.
"Itu... di bawah punya aku... di atas kamu... kayak ada buntut gitu!" ucap Ocha dengan wajah parno.
"Kok takut gitu, sih?" tanya Erga.
"Iiihhhh, Ergaaaa... kayaknya di kasur kita ada tikusnya... huhuhu... takuuutttt...."
Mendengar itu, Erga dengan sisa tenaga kejahilan yang ada ingin melihat reaksi unik apa lagi dari istrinya.
"Kalo ada tikus di sini, kenapa kamu nggak loncat sekarang?"
"Iiihhhh... nanti kalo loncat ke mana-mana... gimanaaaa?!" panik Ocha makin menjadi.
"Pegang aja tikusnya," ujar Erga.
"HAH? KOK KAMU SURUH AKU YANG PEGANG, SIH?!!! KAMU, 'KAN YANG COWOOOOO?!" teriak Ocha.
"Ssstttt... aku suruh kamu pegang soalnya aku nggak bisa, Sayang. Cuma kamu yang posisinya pas. Terus..." Erga membimbing tangan Ocha menuju tonjolan tersebut. "... tikusnya nggak akan lari."
Ketika tangan Ocha menangkup tonjolan itu, geraman Erga meluap.
"Erga? Kok merem melek gitu?"
"Tikusnya... ahhh... udah... kamu pegang, Sayang..."
Merasa ada yang tidak beres, Ocha menyibak selimut yang dipakai suaminya. Mata Ocha langsung membulat kaget.
"Ergaaaaa... ini, sih bukan tikus! INI ULAR KADUT KAMU!!!"
*
Yang pasti itu tidak pernah ada. Fifty-fifty adalah kepastiannya. Itu lah mengapa, tidak ada pilihan tanpa risiko. Tidak ada keputusan tanpa jalan terjal. Manusia bodohlah yang selalu mengagungkan 'Dunia sebesar daun kelor' karena dunia mereka berada di lingkup yang sama, terus menerus. Lain jika manusia cerdas, tidak ada yang perlu diagungkan selain merunduk agar tidak terlalu dilihat orang dan menjadi pusat perhatian dengan lingkup yang luas. Karena menjadi pusat perhatian itu... melelahkan.
Dan Ocha, tidak mau menjadi pusat perhatian dalam dunianya yang sebenarnya luas tapi dia tak mau mengakui seberapa luas dia dikenal banyak orang.
"Ini nggak mau kamu angkat, Ga?"
Erga menengok dari sofa bed nyamannya. "Apa?" tidak tertinggal wajah tanpa dosanya.
Ocha memberengut kesal pada suaminya.
"Apa, sih, Sayang itu?" tanya Erga, mulai beranjak dari tempat dia berposisi pw(posisi wueenak)-nya.
"Tauk, ah!" rajuk Ocha berjalan meninggalkan Erga dengan barang belanjaannya yang cukup banyak.
Erga sempat kewalahan menyadari beratnya plastik-plastik berukuran besar hasil belanja sang istri.
"Kamu belanja banyak banget, Sayang? Ayah mau ada acara?" tanya Erga, sudah berada di belakang istrinya yang sedang membereskan barang-barang hasil belanja.
"Kok ayah?"
Panggilan pada ayah Ocha pun Erga mulai gunakan, karena aneh saja menurutnya, rumah tangganya sudah berjalan cukup baik dan lama tetapi memanggil mertua dengan panggilan resmi seolah orang asing.
"Iya, ayah. Nggak biasanya kamu belanja banyak kayak gini."
Erga mencomot satu apel untuk digigit langsung. Ocha yang mendapati itu tentu saja marah.
"Iiihhhh... jorok banget!!! Cuci dulu, Darling!" Ocha segera mengambil buah apel yang sudah terlanjur Erga gigit untuk dicuci.
"Jangan suka sembarangan makan, dong! Nanti kalo sakiy lagi kayak beberapa hari lalu, gimana? Kamu juga, 'kan yang repot. Diem di rumah aja, bukannya kerja."
Erga menerima uluran apel yang sudah dibersihkan Ocha. "Aku nggak bakal langsung miskin, kok dengan cuti sehari dua hari," timpal Erga.
"Terserahlah, Darling!"
Dengan jahil, Erga mengamit lipatan tangan Ocha hingga membuat perempuan itu mundur dari posisi semula.
"Ergaaa...!"
Erga mengecupi wajah Ocha ketika sudah mentok pada meja bar di dapur. Apel yang sebelumnya menjadi atensi utama Erga, kini hanya penyeling saja. Ciuman itu dimulai dengan rasa cairan apel yang tersisa dari mulut Erga, lalu tubuh Erga semakin menghimpit Ocha untuk menjulurkan apel dari mulutnya ke mulut Ocha. Keduanya saling melumat dan mengunyah apel satu sama lain.
Kemampuan Ocha untuk membalas ciuman memang maju pesat. Ajaran dari Erga memang terbukti ampuh.
"Kenyang?" ucap Erga menggoda istrinya.
"Nggak," jawab Ocha.
Keduanya saling berpandangan intens. Tidak peduli jika nantinya ada yang mengintip atau sekadar tidak sengaja lewat.
"Kenapa nggak? Harusnya kamu jawab belum, Sayang."
Ocha tetap merona, meski selalu belajar menjadi lebih berani menampilkan sisi liar nya.
"Nggak. Aku maunya jawab nggak, Darling. Soalnya, kalo kenyang emang nggak bisa. Mana bisa aku kenyang makan bibir kamu?"
Keduanya tertawa bersama, saling menyatukan kening, lalu merangkai jalinan jemari satu sama lain. Erat.
"Jadi, jawaban yang sebelumnya apa?"
"Hm? Jawaban apa?" Ocha balik tanya, bingung.
"Kamu belanja banyak," ujar Erga.
"Ooohhh... itu. Kan Tante Ayu mau ke Indo. Aku sengaja beli banyak, biar nanti tante Ayu nggak perlu capek nyari belanjaan lagi."
"Oohhh... gitu." Erga membalas seperti Ocha mengucapkannya.
Mendecak kesal, Ocha memberengut. "Iiihhh, Erga!"
"Ihhhh, Sayangnya Erga!"
*
Dua minggu berlalu cukup cepat. Kegiatan Ocha yang memang selalu ada, tidak membuatnya bosan menghitung hari di mana tante kesayangannya akan tiba di tanah air.
"Pelan-pelan, Sayang. Jangan buru-buru begitu," tegur Erga melihat tingkah istrinya yang mendadak hiperaktif itu.
"Iiihhhh —"
"Jangan bantah!"
Ocha sontak saja diam. Kalau suaminya sudah menegur dengan nada agak keras, Ocha pasti memilih diam. Dia tidak mau kejadian di masa lalu terulang. Tidak ingin dilihatnya tampang garang dan penuh emosi dari suaminya itu. Apalagi jika harus ada insiden ikat mengikat.
"Maaf," ucap Ocha.
"Kamu tau salah kamu di mana, 'kan?" tanya Erga retorik.
Ocha mengangguk. Dia pasti sudah terlihat seperti anjing peliharaan yang langsung diam ketika sang majikan tidak suka atas tindakannya.
"Duduk!" titah Erga.
Ocha sudah pasti menurutinya. Dia adalah tipikal istri penurut yang tidak neko-neko menuntut suami, itu sebabnya, terkadang Erga mulai merasa tidak ikhlas jika berpisah dengan Ocha sebab perempuan seperti istrinya ini jarang sekalo ditemukan.
"Kapan jemputnya?"
"Jam sebelas," jawab Ocha dengan pelan.
Perempuan itu tidak berani menatap ke arah suaminya.
"Oceana... dengarkan aku." Erga beringsut mendekati istrinya. "Jangan bertingkah seperti anak kecil, itu sangat merisihkan. Kamu juga memalukan aku kalo melakukannya dihadapan banyak orang. Aku tau, kekanakan adalah bagian diri kamu yang nggak bisa terpisahkan. Tapi tolong... perbaiki manner kamu ketika banyak orang melihat."
Ocha menggigit bibir bawahnya, dia agak tertekan dengan ucapan suaminya. Sejauh ini, Ocha memang masih membiasakan diri dengan tingkah kekanakannya, tapi itu dia lakukan karena ingin menarik perhatian suaminya. Selalu.
"Maaf," ucap Ocha lagi.
"Jangan cuma masuk kuping kanan ke luar kuping kiri!" sentak Erga.
Ocha sempat tersentak kegat, tapi cepat-cepat dia tutupi.
"Iya. Aku nggak akan seperti itu di depan orang lain."
"Bagus," gumam Erga seraya mengelus-elus rambut Ocha. "Saya selalu suka dengan kamu yang penurut seperti ini. Jangan jadi yang lain, ya...."
*
"OCHAAAA!" teriak senang sebuah suara.
Mata Ocha mencari-cari sumber suaranya, lalu ketika mendapati satu titik, Ocha berlari menghambur ke pelukan Ayu.
"Tanteeee... Ocha kangen!"
Keduanya tidak peduli jika banyak ditatap orang layaknya pemandangan yang aneh. Memang, Indonesia berbeda dengan masyarakat Hongkong yang lebih masa bodo.
"Kamu, kok kurusan, sih, Cantik? Tante nggak suka kamu yang begini!" ucap Ayu, meneliti penampilan keponakannya.
"Tante...!"
"No! Tante nggak suka pokoknya. Emangnya suami kamu nggak ngurusin?! Jangan diurusin suami nggak becus ngempanin kamu, ya. Tante mau liat kayak apa suami yang kata ayah kamu type ideal, husband material kamu banget, sampe mau kuliah kalo dinikahin sama laki-laki itu! Sinting kamu, ya? Coba tante nggak ikut suami, udah tante halangin kamu nikah muda!"
Ayu terus meracau ngalor ngidul, Ocha suka saja mendengarkan ocehan tantenya. Menurut Ocha, tantenya mengobati rasa sepinya yang sudah tidak mengenal ibu sejak lahir.
"Tante..."
"Mana sini suami kamu?! Masa jemput kita aja nggak? Suami macam apa itu? Oh! Atau jangan-jangan dia ngincer harta ayah kamu aja, ya? s****n—"
"Hai, Tante Ayu." Erga yang sudah menunggu di samping mobil membukakan pintu untuk perempuan ceriwis itu.
Ayu memicing tak suka pada sapaan Erga yang dikira sopir itu. "Siapa kamu?!"
"Tante, ini suami Ocha. Namanya Erga Pratama."
*
Ayu jelas bukan orang yang akan mudah direndahkan hanya karena salah mengira seseorang. Lagi pula, siapa yang menyangka suami dari ponakannya biasa-biasa saja. Ya, setidaknya menurut Ayu sosok Erga Pratama sangat biasa untuk standar suami baginya. Kalau dibandingkan dengan oom-nya Ocha yang masih berada di Hongkong, jelas lah Erga bukan tandingan yang sebanding.
"Tante, jangan gitu, dong...." Ocha meminta pada tantenya agar lebih menghargai Erga sebagai suaminya.
"Jangan gitu gimana?! Orang tante nggak ngerasa salah, kok. Penampilan suami kamu itu kayak sopir tante selama di Hongkong, Ocha. Bahkan... sama oom kamu aja dia kalah ganteng!" cerocos Ayu.
"Oom Angga, 'kan suami tante. Wajarlah tante banggain. Tapi jangan ngerendahin suami Ocha, dong."
Ayu sendiri sekarang minta diantarkan keponakannya untuk menginap di hotel langganannya yang terkenal mewah, mahal, dan highclass.
"Ya, ampuuunnn. Gitu aja masih dipermasalahin, deh, Cha. Suami kamu aja nggak keberatan tante sindir pake sebutan sopir."
Mulut nyinyir Ayu memang sudah bawaan sejak lahir, sepertinya. Karena bukan berarti nyinyir terus perilaku tante dari Ocha itu tidak baik, justru sebaliknya, Ayu terlalu jujur dan kebaikan itu malah disalah artikan oleh orang lain.
"Apa kerjaan suami kamu?" tanya Ayu sembari menaruh perintilan aksesorisnya ke dalam satu wadah kotak.
"Pengusaha."
"Heh? Pengusaha, doang?! Kalah, dong sama oom kamu, dulu. Umur segitu oom kamu udah jadi pengacara handal!"
Iya. Angga(suami Ayu) memang mantan advokat, dulu. Lalu ditunjuk sebagai kedubes Hongkong oleh presiden secara langsung, dan Ocha tidak tahu bagaimana proses terperincinya. Yang pasti, oom-nya memang sangat hebat. Ah, iya. Ayu sendiri adalah istri dari adik ayahnya. Dalam maksud, Angga adalah adik kandung Gagah.
"Tante mah gitu! Padahal aku mau pamer suamiku, eh, malah tante cibir."
"Yaiyalah tante cibir! Orang sok kegantengan kayak gitu aja dibanggain. Ya, ampun, Ocha! Sadar, ya. Laki-laki begituan, nggak level sama kamu, Cantik. Liat dari mukanya aja keliatan, angkuh, nggak mau ngalah, suka ngatur, banyak mau, belum lagi... nggak suka dikritik! Ewww! Mau jadi apa kepribadiannya itu kalau nggak mau belajar dari pendapat orang lain?!"
Ocha sekelibat mengulangi ucapan tantenya. Banyak bagian yang benar. Ocha yakin, pengalaman 35 tahun tantenya memilih non-komitmen memang memiliki pengalaman yang bukan lagi segudang. Bahkan tantenya mengatakan, 'Hanya lihat dari muka' dan terbacalah beberapa fakta yang hanya Ocha ketahui sebagai istri—orang terdekat—Erga.
Ocha memilih mengalihkan pembicaraan. "Yaudahlah, tante istirahat aja. Aku balik lagi nanti sore buat bawain masakan dari rumah. Tante belum nyobain masakan aku, 'kan?" ucap Ocha mendadak semangat.
"Yaudah, sana! Suami kamu pasti lagi misuh-misuh nungguin kamu di bawah."
Ocha hanya mampu menghela napasnya perlahan. Sungguh, jika tantenya sudah tidak menyukai seseorang pasti akan terus disindir, berkata dengan nada sinis.
"Oom Angga, kok kuat, sih hidup aama tante?"
Ayu menoleh kaget pada ucapan ponakannya.
"Heeeiii, dasar Canteeekkk! Gini-gini, tantemu ini punya s*****a yang nggak dimilikin sama perempuan lain. Perempuan lain ngadepin oom kamu? Hmmm... bisa langsung mateeekkk mereka semua."
Ocha bergidik ngeri. "Iihhh, Tante. Setau Ocha oom Angga baik, malah lebih kalem dari tante."
"Heeiii! Nyolot kau, ya?!"
Logat Ayu memang terkadang kental menjadi batak, karena tantenya itu memiliki sedikit turunan Batak. Tidak heran, ucapannya terlalu nyelekit kalau belum mengenal secara dalam.