★Tujuh★

1263 Kata
Pagi hari sinar matahari masuk melalui celah-celah jendela. Seseorang masih rebah di tempat tidur. Selimut berwana hitam, kontras sekali dengan kulit putihnya. CEO taman bermain Elanis itu seminggu ini selalu pulang dengan keadaan mabuk. Ia juga tak datang ke kantor, seolah tak lagi memiliki hasrat dalam kehidupannya. Seminggu ini ia terus saja mabuk-mabukan. Hatinya terasa semakin sakit, saat luka harusnya semakin membaik, dari hari ke hari. Ia justru merasakan hal sebaliknya. Saat itu pintu kamarnya terbuka. Seseorang wanita paruh baya, tatapannya mirip seperti Yunki, dengan mata yang sipit, lalu bagian rambutnya disanggul sederhana. Tampilan elegan nan sederhana menunjang penampilan Nyonya besar Min. Ia melangkah masuk melihat anak lelaki satu-satunya itu masih rebah di tempat tidur. Begitu sampai di samping tempat tidur CEO pucat, ia membuka selimut yang dikenakan Yunki. Pria itu menggeliat, hanya itu reaksi yang ia tunjukkan. "Bangun Min Yunki!" Ia berkata sambil membuka selimut yang dikenakan anak semata wayangnya itu. Yunki bergerak malas lalu duduk dengan mengusap matanya. Ia melirik ke arah Min Nari, ibunya, dengan tatapan tak suka. "Kenapa ini ada di sini?" "Tentu aku harus datang ke apartemen mu karena kelakuanmu seminggu ini. Tak datang ke Kantor dan menghadiri rapat; mengabaikan semua telepon penting. Kau seorang CEO, pemimpin. Lalu mengabaikan semua pekerjaan? Kau pikir ini main-main, Min Yunki?!" Pria pucat itu berpaling, tak ada senyum sejak tadi ia bangun, juga seminggu kebelakang. "Ibu segera kembali saja ke Amerika." Sementara Nari bergerak dengan kesal. "Dengan kelakuan dan tingkahmu kau pikir aku bisa dengan tenang berada di Amerika? Mabuk, bertengkar di pub. Kau harus sadar Min Yunki! Terima kenyataan Reya sudah tiada." Yunki menatap marah ke arah sang ibu, setelah mendengar apa yang dikatakan Nari tadi. Ia marah, jelas ketika kenyataan yang benar memang harus ia hadapi, diucap jelas oleh Nari. Meski dalam pikiran ia tau bahwa yang ia dengar itu benar. Tetap saja, salam hatinya terasa berat sekali. "Jangan berkata hal bodoh itu, ibu." Ia berucap dengan suara rendah. Sebenarnya melihat ini membuat Nari sedih. Namun, hidup harus tetap berlanjut 'kan? Kehilangan memang hal menyedihkan. Namun waktu bukan hal yang bisa dihentikan. Mereka akan terus berjalan. Hingga hari ini akan menjadi kemarin; lalu esok akan jadi hari ini. Begitu seterusnya. Lalu jika kau terhenti di hari ini, karena luka yang kau alami. Apa waktu akan menunggu? Tentu tidak, Yunki harus bangkit sendiri. Merapikan kembali kepingan hatinya, meski tak akan lagi sama. Ia harus menyapa esok, lalu menyelipkan nama baru dalam hidupnya. Meski mungkin, sulit bagi pria itu melupakan gadis yang menemaninya dilebih dari setengah kehidupannya. "Itu kenyataan." "Reya tak mati, ia hanya—" "Ibu tau jauh di dalam hatimu terluka. Mengerti sekali... Tapi, tolong... Sadarlah, hadapi. Jangan menjadi pengecut yang akhirnya larut dalam sebuah luka. Kau—" ia terhenti menunjuk pada putranya. "Kau yang harus menghadapi dan mengobati lukamu sendiri Min Yunki." "Ibu pergi saja." Ia lalu memilih rebah lagi. Hidupnya seolah tiada arti. Sementara Nari memijat keningnya yang mulai berdenyut, karena kelakuan anak laki-lakinya itu. "lebih baik bangun lalu ke kantin polisi. Sewa semua pengacara terbaik untuk menghukum pria itu." "Aku sudah melakukannya." Wanita yang mengenakan setelan jas berwarna maroon itu menarik napas berat. "Bibi Ma, akan di sini menyiapkan makanan setiap pagi dan ia akan kembali ke rumah utama setelah semua selesai." Ia lalu memilih berjalan keluar meninggalkan Yunki yang kembali menarik selimutnya. Di depan kamar Yunki, Nari melihat William yang berdiri menunggu. Wanita itu menatap Will dengan sedih. Sejujurnya ia juga merasa kehilangan. Apalagi Reya acap kali membantunya meruntuhkan pendirian Yunki yang keras. Termasuk saat mencalonkan diri sebagai CEO. Jika bukan gadis itu yang membujuk, mana mau seorang Yunki melakukannya. Melihat Nari, Will membungkuk. "Bibi." "Masuklah Will, dia seolah kehilangan kesadaran. Sekarang tingkahnya seperti seorang pengangguran." Will tersenyum ia juga sedang menata hati yang pikirannya lagi. Seharusnya jika dipikiran Will yang paling terluka. Ia kini seorang diri, keluarga satu-satunya yang ia miliki tewas dengan cara mengenaskan. Hanya saja, ia percaya jika ia terluka dan tak lekas bangkit. Adik perempuannya yang cerewet itu akan sedih. "Aku masuk Bi." Nari mengangguk, lalu berlalu. William membuka pintu, lalu masuk. "Bukankah sudah—" "Sudah apa?" Suara berat William membuat Yunki menoleh. "Will?" Pria itu segera duduk melihat. William menunjuk senyum kotaknya sambil berjalan mendekat. "Sampai kapan kau akan seperti ini?" "Jangan paksa aku, aku butuh waktu. Aku pikir jika aku bangun esok, semua akan semakin baik. Lalu saat aku menjalani hariku. Semua terasa semakin sesak. Bukankah luka akan semakin membaik seiring waktu?" Yunki lalu terkekeh sendiri. William menghela napas. Sejujurnya ia juga merasa seperti itu. Semakin hari semakin terasa kehilangan. Hanya saja ia mencoba mengobatinya sendiri. Ia tau jika Reya masih ada ia juga pasti akan marah melihat ia yang terus terpuruk. "Kau pikir aku baik-baik saja? Hmm? Dia satu-satunya yang aku miliki. Kau pikir aku bisa menerima semua? Aku berjalan saat ini, tersenyum saat ini. Bukan karena aku tak terluka. Hanya saja, mendiang adikku tak akan suka jika aku terus larut dalam luka. Aku tak ingin membuat ia bersedih." Yunki berpaling, ia belum bisa melakukan apa yang dilakukan William. William terkekeh kecil. "Bayangkan apa yang akan ia katakan jika kau seperti ini saat ini?" "Ia akan marah padaku, mengerucutkan bibirnya. Dan mengatakan aku menyebalkan." "Bayangkan saja ia ada bersamamu sampai kau bisa melepaskannya. Bayangkan bagaimana ia akan kesal karena semua tingkahmu saat ini. Setelah kau merasa lebih baik, terima kenyataan. Yunki, jangan buat adikku sedih, biarkan ia tenang. Hmm?" Meksi berat Yunki mengangguk. "Aku akan ke Australia. Sementara waktu. Aku butuh menenangkan diri. Semua urusan di Korea akan ditangani sekertaris Choi. Jangan lupa jenguk dia. Ia tak suka kesepian. Seminggu ini aku setiap hari menyapa adikku, membawakan bunga Lily. Ia akan marah karena aku melakukan itu." "Ia tak suka bunga Lily," sahut Yunki. Will mengangguk. "Aku harus pergi. Keberangkatan ku sebentar lagi. Saat aku kembali, kau harus lebih baik." Will menepuk bahu sahabatnya itu. "Maaf." "Untuk apa?" "Karena tak bisa membantumu, menemanimu melalui luka hatimu." "Aku hanya butuh waktu." "Tanpa berusaha waktu tak bisa membantumu pulih, Min Yunki." Tentu yang dikatakan Will itu benar. Jika Yunki tak berusaha mengobatinya sendiri. Waktu sama sekali tak bisa membantunya. Luka hati akan pulih seiring waktu dan usaha diri sendiri yang terus berusaha mengobatinya. **** Di sebuah rumah sederhana sepasang ayah dan anak tengah duduk bersama menikmati santapan sederhana. Dia adalah Jeon-gu dan sang ayah Heosok. Hari ini anak itu akan datang ke kantor kepolisian untuk menjadi saksi. Jeon-gu salah satu saksi, karena ia melihat hampir semua kejadian. "Kau harus makan banyak karena hari ini akan banyak ditanyai polisi." Jeon-gu mengangguk, sementara mulutnya terus mengunyah makanan. Lalu ia teringat sesuatu, ia terhenti lalu menatap sang ayah. Heosok juga terhenti, menatap anak lelakinya dengan penasaran. "Ada apa?" "Ayah sebelum gadis itu ditusuk, aku melihat seperti aura hitam mengelilinginya." "Ya sepertinya itu karena, malaikat maut memang sudah menunggunya," jawab sang ayah enteng. "Bukan berarti ia orang jahat?" "Kau tak bisa menilai seseorang dari wajah dan auranya." Heosok menjawab sambil sibuk dengan ikan makarel miliknya. Jeon-gu mengangguk. "Aku penasaran, apa , gadis itu menjadi arwah penasaran karena ia korban pembunuhan." Heosok mengangguk. "Itu dia ada di samping kananmu." Mendengar itu, dengar segera Jeon-gu menoleh. Lalu Heosok terkekeh geli sendiri. Senang sekali jika berhasil membuat anaknya ketakutan. "Tak ada apapun, ia sepertinya sudah tenang. Dan rohnya baik-baik saja. Tak ada dendam." "Apa roh seperti itu bisa dipanggil Yah?" "Tentu. Lanjutkan sarapan mu, aku akan bekerja setelah mengantarmu ke kantor polisi." "Aku bisa berangkat sendiri. Lagipula, aku ke sana bukan sebagai tersangka." Mendengar itu membuat Heosok mengangguk. Setelahnya mereka melanjutkan sarapan pagi hangat antara ayah dan anak. ,***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN