★Lima★

1170 Kata
Jalan malam di depan minimarket tempat Jeon-gu bekerja begitu ramai. Mobil polisi berada di sana. Sementara Jeon-gu berdiri mematung di depan minimarket yang ia jaga. Tepat saat William memarkirkan mobilnya. Lalu berjalan masuk ke dalam, tempat itu kosong. Bahkan penjaganya saat ini masih terdiam. Pria dengan senyum kotak itu berjalan kembali keluar. Melihat Jeon-gu yang mengenakan seragam. Ia tau bahwa anak itu bekerja di sana. "Maaf kau melihat gadis yang tadi di sini?" Jeon-gu menatap Will dengan sedikit terkejut. "Gadis dengan sweater kuning?" "Iya, adikku." Dengan cepat membekap mulutnya. Reaksinya jelas menunjukan ada sesuatu. William mengerenyitkan kening. "Apa yang terjadi? Dimana dia?" "Di-di—" terbata tak mampu mengucapkan apapun. Namun, ia menunjuk ke seberang jalan. Di sana para polisi berada, diantaranya memasang tali pembatas. Merasa tak bisa mendapat jawaban, William berlari menghampiri arah yang ditunjuk. Jantungnya berdegup kencang, ia tak tau apa yang terjadi. Namun, ini pasti tak baik. "Maaf apa yang terjadi?" Ia bertanya dengan napas tersengal. "Terjadi penusukan terhadap seorang gadis—" "Di mana ... Di mana dia?" "Ambulance membawanya ke rumah sakit Central." Tak membuang waktu ia berlari lagi menuju mobilnya. Segera menyalakan mesin dan melaju dengan kencang. Ia menekan panggilan dari mobil, suara sambungan telepon terdengar. Ia gelisah menunggu jawaban. Ia menggerakkan jemarinya gelisah di bibir. "Yeoboseyo?" "Yunki, apa adikku menghubungimu?" "Tidak, ada apa?" "Dia bersamamu?" "Tidak, ada apa Will?" "Aku harap itu bukan dia. Tolong—" William terhenti saat mendengar panggilan masuk. Reya ... Ia segera mengalihkan panggilan tanpa mematikan panggilan Yunki. "Ya! Kau di mana?! Jangan buat—" lagi suaranya terhenti saat mendengar suara yang berbeda. "Maaf apa anda sanak saudara dari Kim Reya." "Nde." " ..........." Setelah panggilan di matikan suara Yunki terdengar. "Ada apa Will?" "Ke rumah sakit Central sekarang." "Ada apa?" Tak menjawab Will mematikan panggilan lalu memacu mobilnya. Ia harus segera tiba ke rumah sakit hanya itu yang ada di pikirannya. Jalan malam yang mulai sepi. Sementara temaram lampu taman begitu indah dengan kesan keemasan. Musim ini musim semi saat akan ada hati yang mungkin harus menerimanya kepergian dan kehilangan. Di depan rumah sakit Yunki telah berdiri dengan cemas. Melihat langkah William yang bergegas masuk. Raut wajah William jelas tak baik. "Ada apa Will?" Tak menjawab William terus berjalan masuk menuju meja resepsionis rumah sakit. "Dimana ruangan korban penusukan distrik sembilan?" Mendengar kata penusukan membuat Yunki menoleh. "Will ...," Ia memanggil pelan seolah ada sesuatu mencekat kerongkongan. Sang suster menjaga membuka lembar buku di hadapannya. "Nona Kim?" Lagi mendengar itu membuat Yunki semakin khawatir. Ia menatap William ia terlihat cemas dan takut. Perlahan membuat perasaan itu hinggap juga. Yunki takut dan cemas, jelas yang dimaksud perawat tadi adalah Reya. Siapa lagi? "Dokter sedang melakukan penanganan di IGD." Suster menjawab seraya menunjukkan arah dengan tangannya. William berlari diikuti Yunki yang belum mengetahui apa yang terjadi sebenarnya. Langkah mereka terhenti melihat lampu merah di depan pintu ruang operasi. Will bersandar pada tembok, Yunki berdiri di hadapannya menatap pria itu. William mengaitkan jemari, mengangkat hingga kebatas dadanya. "Aku tau aku bukan umat yang taat. Kali ini apa Tuhan akan mendengarku?" "Will—" "Reya pasti baik-baik saja. Tenanglah." William berusaha menguatkan, sementara ia sendiri nyaris hilang akal. Mendengar adik yang jelas keluarga satu-satunya yang ia miliki berada di dalam sana. Yunki ingin tak percaya. Ia mencoba membangun keyakinan sendiri, sementara William hening dalam doa yang ia panjatkan. Yang ia ketahui kini gadis yang ia cintai terbaring di sana. Belum ia ketahui alasannya. **** Di sebuah atap gedung Jimmy duduk bersama rekan barunya gadis yang setengah jam lalu, nyawanya di tarik oleh malaikat dengan lesung pipi, Nam si malaikat pencabut nyawa. "Jadi aku sudah mati?" Jimmy mengangguk sementara tatapannya mengarah ke depan. Pemandangan malam di kota Seoul, gedung tinggi dengan aneka lampu yang indah; mobil-mobil berlalu-lalang bergerak memberi kesan lain. Meski terlihat ramai tetap saja Jimmy merasa sendiri, dulu. Sementara itu gadis di sampingnya mengenakan gaun putih pendek, menutupi lututnya; rambut yang semasa hidup berwarna huzelnut brown, kini menjadi hitam, sesuai dengan kodratnya; dengan sebuah sayap kecil, seukuran telapak tangan di belakang punggungnya. "Lalu aku siapa?" tanya Reya, ia lupa siapa dirinya. Layaknya terlahir kembali, ia tak memiliki memori semasa ia hidup. Semua terjadi agar ia patuh pada tugasnya sebagai malaikat. Perasaan sering kali mengacaukan nalar. Kenangan memantik napsu, hasrat, harapan, mimpi, ambisi dan banyak hal. Sementara sebagai malaikat ia harus bisa bertindak sesuai jalan takdir dari Tuhan. Semua nasib dan takdir tertulis. Maka Tuhan memutihkan kembali pikiran dan kenangannya yang sempat terisi, tulisan-tulisan hidupnya. Malaikat senior di hadapannya menatap. "Kau? Hmm, Belle." "Belle?" "Namamu Belle, mulai saat ini. Aku seniormu." Sekita empat puluh menit yang lalu ... Reya masih berada di minimarket, menikmati ramen, lalu menghubungi kakaknya, William. Sampai sebuah kejadian menarik perhatiannya. Seorang nenek tua di seberang jalan menarik perhatiannya. Ia ingin menghampiri, tapi menunda sejenak hingga santapan malamnya habis. Belum sempat ia berpaling seorang pria berusia tiga puluhan tahun, berjalan terhuyung mendekati nenek tua. Meminta uang dengan berteriak-teriak. Bukan hanya Reya yang memperhatikan tapi juga Nam dan Jimmy. Dua malaikat itu sedang dalam tugasnya. Gadis itu mengambil ponsel dan dompet, meletakan di dalam saku sweater kuning yang ia kenakan, lalu melangkah keluar dengan cepat. Menyeberang jalan yang sepi, menghampiri sang nenek yang bahkan tak sanggup berdiri. "Berikan uang itu!" Itu yang terlontar dari bibir pria berjaket kulit tebal itu. "Tak ada lagi." Nenek menjawab lirih. "Aish! Sialan!" "Tuan, jangan seperti ini." Reya kini berdiri dihadapan Taejo, si pria pemabuk. Rahang pria itu mengeras jelas ia marah, urusan malamnya diganggu seorang gadis. "Minggir atau kau akan menerima akibatnya." Ia berucap dengan kata-kata tak jelas. Ya jelas sekali dia mabuk berat. Reya tak peduli, ia membantu sang nenek berdiri. Lalu Reya di dorong oleh Taejo. Nyaris terjatuh untung ia bisa mengendalikan diri. "Tak apa dia anakku. Pergilah Nona." Nenek berucap meminta Reya menyingkir saja. Gadis itu menoleh, mendengar jika itu adalah ibunya. semakin membuatnya naik pitam "Seorang anak harusnya merawat kedua orang tuanya. Bukan seperti ini. Pecundang." Gadis itu kembali menolong sang nenek, membantunya memapah. Berjalan beberapa langkah. Taejo mengeluarkan sebuah pisau dapur dari dalam belakang jaketnya. Saat itu Jimmy dan Nam telah bersiap. Taejo berjalan dengan terhuyung, langkahnya lebih cepat dari Reya yang memapah sang nenek. "Gadis bodoh!" Ia memaki lalu dengan mengayun pisaunya hendak menghujam tepat di punggung Reya. Saat itu Nam telah menghentikan waktu. Semua yang ada di sana terhenti. Ia melangkah menuju Reya diikuti Jimmy. "Kim Reya, hari ini hari terakhirmu." Ia lalu melirik Jimmy. Nam menarik bagian belakang tubuh Reya perlahan. Jiwa gadis itu keluar dalam keadaan lelap. Jimmy menerima, memegangi pundak Reya. "Aku harus membawanya?" tanya Jimmy. Malaikat pencabut nyawa Nam, melirik, menaikkan sebelah alisnya. "Kau pikir aku yang harus membawanya? Dia urusanmu. Urus dengan baik, malaikat baru akan sangat merepotkan." "Baik terima kasih senior," ucap Jimmy lalu ia pergi begitu saja. Nam masih berada di sana. Ia menjentikkan jari, lalu semua kembali seperti semula. Dalam persekian detik saja malaikat dengan sayap hitam lebar berkilau itu menghilang. Lalu semua kembali berjalan. Gadis itu tewas dengan hujaman pisau dapur yang ia terima bertubi-tubi. ****
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN