Harapan

982 Kata
Suasana sore di minimarket tempat Nadia bekerja selalu ramai dengan pelanggan. Di balik meja kasir, wanita itu menatap layar komputer dengan fokus, memindai barang-barang belanjaan satu per satu. Suara mesin kasir yang terus berbunyi menjadi sesuatu yang akrab baginya. Namun, di antara banyaknya wajah-wajah pelanggan yang datang dan pergi, ada satu yang selalu membuat jantung Nadia berdegup lebih kencang. Surya. Dia adalah pelanggan setia minimarket ini. Setiap kali datang, ada senyum yang terbit di wajahnya. Sebuah senyum yang tak pernah gagal membuat hati Nadia berdesir. Surya adalah pemilik sebuah kafe kecil di dekat sana. Hampir setiap hari dia datang membeli bahan-bahan yang dibutuhkan. Namun, seiring waktu, interaksi mereka tak lagi sekadar tentang transaksi kasir. Sore ini Surya datang dengan senyum hangat yang mengiringi langkahnya. Nadia yang sedang melayani pelanggan lain, menangkap sosoknya dari sudut mata. "Hai, Nad. Ramai ya sore ini?" Nadia menoleh dan tersenyum kecil, meskipun merasa gugup. "Lumayan. Udah selesai nge-serve pelanggan hari ini?" tanya wanita itu basa-basi. "Baru kelar. Tadi kafe penuh, banyak yang order kopi sore." Surya menaruh beberapa barang di meja kasir. Kopi bubuk, gula, dan beberapa bahan lain untuk kafenya. Nadia memindai barang-barang itu dengan cepat, sementara perasaannya bergejolak. Surya adalah orang yang baik, sabar, dan selalu punya waktu untuk berbincang. Namun Nadia tahu, di balik senyum itu ada harapan yang tak terucap. Harapan yang belum bisa dia berikan. "Bagus dong kalau ramai. Berarti kafenya makin sukses." "Alhamdulillah. Tapi aku ke sini bukan cuma buat beli bahan-bahan." Nadia berhenti sejenak, menatap Surya dengan sedikit penasaran. "Terus, buat apa lagi?" Surya tersenyum sedikit lebih lebar, tapi kali ini ada keseriusan di matanya. "Buat lihat kamu, lah." Nadia tergelak, merasa wajahnya memanas mendengar kata-kata itu. Untuk menutupi kegugupan, dia berpura-pura sibuk dengan mesin kasir. "Jangan ngawur," sanggahnya. "Aku serius, Nad." Percakapan merekanterganggu sejenak oleh antrean pelanggan lain yang menunggu giliran. Nadia menyelesaikan transaksi berikutnya. Sebelum menoleh kembali ke Surya yang sabar menunggu di sisi lain meja kasir. "Banyak cuan dong kalau kafe ramai," ucapnya mengalihkan pembicaraan. "Ya cukuplah buat ngelamar kamu kalau mau." "Gombal." "Yang digombalin single kok. Nggak masalah kan?" "Yang digombalin janda," ralatnya. "Janda kembang. Seksi lagi." Nadia melotot sehingga membuat Surya tergelak. Untungnya teman-teman yang lain sudah terbiasa dengan kedekatan mereka. Surya selalu datang sejak Nadia bekerja di sini. Padahal lelaki itu punya karyawan yang bisa diminta tolong. Padahal lagi, akan lebih murah jika dia belanja di agen atau pasar. Belanjaannya banyak sehingga bos mereka senang. Jadi Nadia diizinkan mengobrol asal tak menganggu pekerjaan. Walau mereka masih tahu batas agar tak menganggu pembeli lain. "Hitungkan punyaku. Nanti pulang kerja aku ke sini lagi ya." Nadia mengangguk sembari memasukkan barang-barangnya ke dalam kresek. Seperti biasa, sisa uang kembalian dari Surya tak pernah diambil. Dan itu masuk ke kantong pribadinya. *** "Aku nggak tahu harus bilang apa, Surya. Kamu baik banget." Mereka duduk di teras depan mini market sembari mengobrol. Nadia menyeduh dua gelas kopi sachet dan mengambil roti bantal dengan isian selai cokelat. "Kamu tau perasaanku. Aku udah lama nunggu. Aku cuma pengen kamu tahu kalau aku ada di sini buat kamu, kapan pun kamu siap." Nadia merasakan tekanan di d**a. Dia tahu perasaan Surya tulus. Namun, bayang-bayang masa lalu dengan Hendra masih menghantui. Meski Hendra bukan lagi bagian dari hidupnya, kenangan itu masih membekas. Hati wanita itu belum sepenuhnya terbuka. Hingga Nadia merasa bersalah karena belum bisa memberikan jawaban yang pasti untuk Surya. "Aku hargai kamu. Cuma aku nggak yakin bakal siap buat hubungan baru. Kamu tahu, aku masih belum bisa move on dari masa lalu." Surya mengangguk pelan, senyumnya masih tak luntur. "Aku ngerti. Aku nggak mau maksa kamu untuk cepet-cepet. Aku cuma pengen ada di samping kamu, walau cuma jadi teman." Nadia terdiam, tersentuh oleh kesabaran Surya. Tidak banyak pria yang akan menunggu dengan tulus seperti itu. Sayangnya, ada ketakutan dalam diri Nadia. Dia tidak mau melukai perasaan Surya, kalau pada akhirnya tetap tidak bisa membuka hati. "Surya, aku takut kalau kamu nanti kecewa." Tatapan Surya begitu lembut, seolah-olah memahami ketakutan Nadia. "Aku lebih baik di sini nungguin kamu. Daripada nggak pernah coba sama sekali. Aku nggak takut kecewa. Aku takut kalau nggak pernah bilang perasaanku." Nadia menghela napas panjang. "Aku cuma nggak mau kamu terluka, Surya. Aku belum bisa janji apa-apa." "Aku nggak minta janji apa-apa. Aku cuma pengen kamu tahu." Nadia meneguk kopi dan menggigit roti untuk mengganjal perut. Sebenarnya dia sudah ingin pulang. Namun, Surya meminta untuk menemaninya sebentar. Tadi Surya mengajak Nadia untuk mampir ke kafe-nya. Namun, wanita itu menolak halus. Lebih baik duduk di teras mini market sembari melihat pembeli datang. Lagipula jam kerja Nadia sudah selesai. Jadi dia bisa bersantai sejenak walau mata sudah mengantuk. "Nad--" "Apa?" Mereka saling bertatapan sehingga degup di d**a semakin kencang. Mata Surya memancarkan ketulusan yang sama seperti sejak awal mereka berkenalan. "Aku nggak akan jadi pengganti Hendra. Aku cuma mau jadi aku. Jadi seseorang yang bisa membuat kamu merasa nyaman dan aman. Aku tahu masa lalu kamu berat, tapi aku ada buat masa depan." Kata-kata itu membuat Nadia terdiam. Surya dengan segala kelembutan dan ketulusan, tidak pernah memaksa masuk ke dalam hidupnya. Surya hanya menunggu dengan sabar, dan menawarkan apa yang benar-benar Nadia butuhkan. Yaitu waktu dan ruang. "Kamu selalu ngerti. Dan itu yang bikin aku takut. Aku takut terlalu bergantung sama kebaikan kamu." Surya menghabiskan kopi dan langsung berdiri ketika gelasnya kosong. Nadia tahu kalau lelaki itu harus kembali ke kafe dan memantau pekerjaan karyawannya. "Kalau ada apa-apa, kabarin aku ya. Jangan sungkan. Aku bakal selalu siap dengerin kamu." "Iya, aku bakal ingat itu. Makasih." "Hati-hati pulangnya. Jangan ngebut bawa motor." Dengan senyum terakhir yang lembut, Surya melangkah keluar dari minimarket, meninggalkan Nadia yang masih duduk termenung seorang diri. Nadia menatap punggung Surya hingga menghilang dari pandangan. Meski hati belum sepenuhnya siap, dia tahu bahwa Surya adalah seseorang yang tidak akan pergi. Nadia mulai berpikir, mungkin ada harapan baru yang perlahan tumbuh. Di tengah rasa ragu yang belum sepenuhnya hilang.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN