"M-maafkan aku, Alice. Aku tidak sengaja, memang dia selalu rutin seperti ini setiap pagi," lontar Alan begitu vulgar menurut Alice yang masih polos.
"A-aku pergi dulu untuk melihat perangkap buruan kita," ucap Alan mencari alasan agar bisa segera pergi dari keadaan yang memalukan itu.
Alice masih terpaku di tempatnya, tidak percaya dengan apa yang baru saja terjadi di hadapannya. Dia melihat junior seorang pria mengeras di pagi hari. "Luar biasa, besar sekali," gumamnya polos lalu menggelengkan kepalanya agar pikirannya kembali waras.
Untuk mengalihkan pikiran mesumnya, Alice mengambil beberapa batang kayu lalu mencoba menyalakan api, untuk di gunakannya memasak.
Setelah begitu lama mencoba, akhirnya kayu-kayu itu bisa menyala. Alice pun mengeluarkan bungkusan daging terakhir yang di milikinya, lalu memotongnya menjadi beberapa bagian dan di tusuknya menggunakan ranting.
Alice membakar daging itu, dengan alat dan bumbu seadanya di tengah hutan belantara. Tidak butuh waktu lama, daging itu siap untuk di santap, karena sebelumnya memang sudah di masak dan tinggal di panaskan kembali.
Tubuhnya terasa lengket, terakhir kali dirinya mandi saat di tepi sungai yang jernih beberapa hari yang lalu. Alice menunggu Alan cukup lama untuk mengajaknya ke sungai setelah sarapan.
Tapi dirinya masih canggung untuk memulai pembicaraan pasca kejadian tadi pagi.
"Apa yang kamu lamunkan?" suara Alan dari belakang mengagetkan Alice yang tengah asik melamun.
"T-tidak ada, kenapa lama sekali? aku sudah kelaparan menunggumu dari tadi," gerutu Alice.
"Jangan-jangan kamu masih membayangkan milikku yang besar, ya?" ucap Alan tanpa filter, sontak membuat mata Alice melotot.
"M-mana ada! Dasar m***m!" bantah Alice sambil melempar satu tusuk daging ke arah Alan.
Tawa pecah Alan menggema di pagi itu, sebab dirinya sangat suka melihat ekspresi kesal Alice setelah di godanya.
"Cepat habiskan! Lalu antar aku ke sungai setelah ini! Tubuhku sudah lenget dan berkeringat semua karena tidak mandi berhari-hari," ujar Alice.
"Astaga! Kamu sengaja mau menggodaku lagi di sungai?" goda Alan sambil cengingisan.
"Alan!" bentak Alice kesal.
"Haa.. Haa.. Haaa.." tawa Alan pecah, berhasil membuat Alice merengut.
"Tenang saja, aku hanya bercanda. Lagi pula mana berani aku berbuat yang tidak-tidak dengan putri ketua di desa Midle. Secara kasta dan status sosial saja kita sudah jauh berbeda," imbuhnya sarat akan kesedihan dalam hidupnya.
"Jangan berpikir seperti itu. Kita semua sama saja, tidak ada yang membedakan siapapun. Peraturan seperti itu hanya di desa Midle, sedangkan sekarang kita berada di tengah hutan. Kita harus menjadi teman ataupun saudara yang bisa saling mengandalkan," balas Alice.
"Iya aki tau, tadikan aku sudah bilang. Aku hanya sedang bercanda dan ingin mengodamu saja, karena itu sangat menggemaskan," sahut Alan sambil melebarkan senyumnya.
Wajah cantiknya jadi menggemaskan, ketika marah atau cemberu. Meski sebelumnya itu adalah hal yang mustahil baginya untuk berdekatan dengan Alice, karena dirinya hanyalah pria biasa di desanya.
Sesampainya di sungai, Alice mencari tempat yang banyak bebatuan besarnya, agar Alan tidak melihatnya saat mandi. Dirinya masih trauma, jika tiba-tiba Alan tegak berdiri karena melihatnya sedang mandi.
Air jernih yang mengalir cukup tenang hari itu, membuat Alice ingin berlama-lama berendam di dalamnya. Rasa penat dan lengket di tubuhnya telah sirna, luntur bersamaan air mengalir membasuh tubuh mulusnya.
Alan yang berada cukup jauh dari Alice, hanya bisa melihat kepala dan punggung putih wanita itu di balik bebatuan besar. Namun sialnya, junior yang terendam dalam air itu sudah tegak berdiri hanya karena melihat punggung Alice.
"Tahan dirimu, si*l*n! Kamu tidak boleh seperti itu padanya, dia tidak akan mungkin mau dengan pria seperti aku!" umpatnya pada juniornya yang tidak tahu diri.
"Alice, ayo cepat! Sebentar lagi akan turun hujan," teriak Alan agar segera naik ke daratan.
Alice segera memakai kembali semua pakaiannya, lalu menyusul Alan yang sudah menunggunya di bawah pepohonan.
"Saat aku berjalan mengambil hasil buruan, tadi aku melihat ada jejak kaki manusia banyak sekali. Kemungkinan ada orang lain selain kita di sekitar sini, yang ikut terjebak di dalam hutan ini," ujar Alan.
"Benarkah? apa kamu tau ke arah mana jejak kaki itu selanjutnya?" tanya Alice.
"Anehnya itu! aku tidak bisa menelusuri kemana arah jejak kaki itu selanjutnya. Saat aku mengikutinya, aku kembali lagi ketempat yang sama, seperti ada sesuatu yang menghalangiku untuk mengikuti jejak itu," jelas Alan sambil berjalan kembali ke pondok berteduh mereka.
"Aku merasa, ada yang mengawasi kita dari jauh dan menghalangi jalan kita untuk masuk ke hutan lebih dalam," gumam Alice berkecamuk dengan pikirannya sendiri.
"Masuklah ke dalam, biar aku yang menyalakan apinya," ucap Alan ketika sudah sampai di pondok.
Setelah kejadian hujan kemarin malam, Alan berinisiatif membuat penutup di atas perapian dan tempat persediaan kayu kering, dengan menggunakan empat penyangga di setiap sisi.
Dirinya tidak mau kedinginan kembali, saat malam tiba dan membuat hal memalukan seperti tadi pagi.
"Jika terus turun hujan seperti ini, sampai kapan kita akan sampai tempat Suci yang di maksud Ayahku," gumam Alice terduduk di depan perapian dengan menekuk kedua lututnya.
"Aku tidak tahu. Yang terpenting, kita harus tetap bertahan hidup agar semua tujuan itu bisa tercapai," sahut Alan.
Hawa dingin mulai merayap membelai kulit mereka, Alice meraih selimut tipis andalannya yang tergantung di dalam pondok.
Alice membuat selimut itu memanjang, membagi dengan Alan yang juga kedinginan.
Keduanya sama-sama hanyut dalam pikiran masing-masing, terduduk dengan menekuk kedua lutut mereka di depan perapian.
Namun, entah setan apa yang merasuki pikiran mereka berdua, hingga keduanya saling bertatapan dalam diam.
Perlahan Alan mendekatkan wajahnya kearah wajah Alice, saat wanita itu juga memiringkan kepalanya dengan mata terpejam.
Alan menempelkan bibirnya ke bibir dingin Alice, menyecapnya perlahan merasakan manisnya bibir wanita paling cantik di desanya.
Dia mendorong lidahnya menerobos bibir Alice yang masih kaku itu. Alan memiringkan tengkuk wanita di hadapannya, untuk mempermudahnya menjelajahi l*d*h Alice.
Wanita itu belajar dengan cepat, mengikuti gerakan yang di lakukan Alan di dalam mulutnya. Suara cecapan dengan l*d*h yang saling beradu, menyalurkan sengatan gairah dalam tubuh mereka.
Desahan kecil lolos dari bibir mungil Alice, hal itu adalah pengalaman pertamanya berciuman dengan seorang pria. Pasalnya, di dalam peraturan desanya di larang berhubungan dengan seorang pria, sebelum mereka menikah.
Jika mereka ketahuan melakukan hal tidak terpuji itu, mereka akan di beri hukuman setimpal dan di keluarkan dari desa mereka.
Tapi, setelah merasakan sensasi nikmat itu, Alice membuang jauh pikirannya tentang peraturan yang di buat di dalam desanya.
Di tambah, tangan Alan yang sudah turun ke bawah di tubuh bagian depan Alice, membuat wanita itu semakin melenguh nikmat.
Tangan nakalnya yang penasaran dengan ukuran junior Alan yang dia lihat di balik celana tadi pagi, menuntunnya untuk turun ke bawah dan menyentuknya.
Sontak membuat Alan mengerang, saat tangan lembut wanita itu menyentuh juniornya yang sudah mengeras di balik celana.
Alice yang penasaran, masih terus meraba junior milik Alan, mengukur seberapa besarnya kejantanan itu jika dia menyentuhnya.
Tiba-tiba dari arah kejauhan, terdengar suara banyak orang berteriak mengucapkan kata-kata yang tidak di mengerti telinga mereka.
Tapi hal itu tidak di hiraukan oleh keduanya, dan tetap melanjutkan cumbuan panas keduanya.
Hingga sebuah kepulan asap muncul di hadapan mereka, yang membuat Alan dan Alice melepaskan cumbu mereka. Saat Alan ingin melihat kepulan asap itu berasal dari mana, tiba-tiba dengan cepat muncul lebih banyak kepulan asap dan menutupi wajahnya dan Alice hingga tak sadarkan diri.
Terakhir yang dia lihat saat itu hanya, dirinya seperti di angkat di atas tandu dan di bawa oleh banyak orang yang tidak dia kenal, sebelum dirinya benar-benar hilang kesadaran.