Jane bersiap untuk pergi meninggalkan hotel setelah ia menyiapkan hati dan otaknya untuk menerima kejadian yang baru saja menimpanya. Langkah kakinya sedikit tertatih karena Juna melakukan itu dengan semaunya. Perempuan itu menghela napasnya kasar saat ia menatap kunci mobil yang berada di dalam genggaman tangannya. Sekali lagi, Jane melihat pantulan dirinya di cermin yang berada di dalam tabung lift. Mata Jane terlihat sembab. Sore itu ia berpergian tanpa satu pun riasan melekat di wajahnya. Wajahnya yang terlalu pucat itu membuatnya penderitaannya terlalu kentara untuk dilihat. Ting. Bunyi dentingan lift terdengar. Pintu lift itu terbuka dan Jane keluar dari dalamnya. “Kamar udah gue bayar—” Ucapan Juna pagi kemarin terngiang di telinganya. Dalam hati Jane menerka-nerka, berapa lama

