"ini," Kak Gandra memberikan aku empat lembar uang berwarna merah muda, "buat biaya taksi ke RS."
Jujur, aku agak kecewa. Aku pikir, dia akan mengantar aku dan Ibu sampai ke rumah sakit, tetapi nyatanya dia hanya mengantarku sampai ke depan rumah Ibu.
"Antarkan ke RS aja enggak bisa?" pertanyaanku yang mengandung permintaan didalamnya.
Kak Gandra terdiam melirik ke arah jam digital di mobil lantas menggeleng. "Saya mau ke percetakan. Lagi banyak orderan."
"Alasan gitu terus!" ucapku agak kencang, "Kakak kan punya banyak karyawan. Bos telat datang enggak masalah. Orderan juga tetap ada yang ngurus."
Kak Gandra diam, menatap ke arahku lantas melirik ke arah luar. "Kak, antarkan aja."
Pria itu masih terdiam.
Aku menunggu beberapa detik sebelum akhirnya aku berdecak sebal. "Jadi enggak mau antarkan aku dan Ibu?" tanyaku memperjelas.
"Enggak," Kak Gandra mengepalkan uang empat ratus ribu itu ke tanganku, kemudian dia kembali memberikan aku uang dua ratus ribu. Totalnya dia memberikan uang enam ratus ribu, "biaya taksi. Sekalian jemput Mine pulang, naik taksi."
"Daripada Kakak mengeluarkan uang enam ratus ribu, mending Kakak yang antar ke RS plus Kakak yang jemput Mine."
"Kalau dibandingkan, lebih baik saya mengeluarkan uang enam ratus ribu," pria itu membuka kunci mobil, "oh ya, bilang sama Mine, Papinya sibuk di percetakan. Dia pasti paham."
"Iya," aku memandangnya kesal, "Mine ngerti, tapi aku enggak! Aku pamit, bye!" ucapku kemudian disusul dengan suara pintu mobil yang aku tutup kencang.
°°°
Ibu memiliki penyakit gagal ginjal sehingga dia memerlukan cuci darah setiap dua kali seminggu. Jadwalku mengantar Ibu pada hari Sabtu, sedangkan Rosa—adikku—pada hari Rabu sore sepulang dia sekolah.
Keluarga kami enggak mempunyai asuransi kesehatan sehingga pembayarannya perlu dikeluarkan setiap Ibu melakukan cuci darah. Biayanya pun cukup mahal, kalau tidak dibiayai oleh Kak Gandra, keluargaku pasti tidak mampu.
Uang dari Kak Gandra adalah sumber pemasukan terbesar bagi keluarga kami. Dari biaya sewa kontrakkan rumah, biaya makan setiap hari, biaya sekolah Rosa, dan juga biaya rumah sakit Ibu semuanya ditanggung oleh Kak Gandra. Namun, meskipun begitu aku tetap memilih bekerja sebagai guru SD, walaupun uang gajinya tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan uang bulanan yang Kak Gandra berikan.
"Rosa temani Ibu di sini ya," aku menunjuk ke arah pintu luar, "Mbak urus pembayarannya dulu."
Rosa mengangguk lantas aku mengambil tasku kemudian berjalan ke arah luar ruangan. Aku memegang kartu debit milik Kak Gandra, seluruh kebutuhanku dan keluargaku selalu dibayar dengan menggunakan kartu debit ini.
Ini adalah keuntungan paling besar aku menjadi istri Kak Gandra.
Urusan kebutuhan cinta belakangan yang terpenting kebutuhan finansialku dan keluargaku tercukupi.
Seperti pada konsep pernikahan kami, pernikahan kami memang terjadi atas simbiosis mutualisme. Ada pertukaran antara sumber daya dan juga pelayanan. Dia memberikan aku uang, sedangkan aku memberikannya pelayanan.
Hubungan pernikahan kami terlihat seperti hubungan bisnis, bukan?
Kedua pihak masing-masing diuntungkan di sini.