BALADA HATI

1076 Kata
Selesai dengan omelannya, Nita berkeliling lagi ke setiap sudut rumahku. Rumah joglo kayu yang sangat amat sederhana. Terdapat debu di sana sini karena Mama tak sempat membersihkannya. Kami juga jarang di rumah karena kesibukan masing-masing. Mama Papa akan sibuk dengan pekerjaan di sawah, mengurus ternak dan juga mengurus usaha penggilingan padi. Hingga matahari terbenam, Nita tak juga selesai mengomentari tempat tinggal ku. Dia tak sedikitpun menghargaiku, menggerutu dan mengeluh saja. "Pantes mas, kamu gak ajak aku main ke rumah. Malu-maluin banget sih tempatmu. Ndeso dan kotor." Nita ketus mengatakannya. "Sudahlah dek, jangan ngomel terus. Sekarang kamu tau kalau aku ini ndeso. Terus kenapa?" Tanyaku kesal. "Aku gak mau lah nikah sama orang ndeso. Malu-maluin. Penampilan aja kamu keren mas, ku kira kamu ini anak pengusaha. Ternyata, jauh dari impianku." Cerewetnya seperti biasa, tapi kalimatnya sangat menyakiti perasaanku. "Oke. Aku juga tidak peduli. Kalau sudah tidak ada urusan, mending kamu pulang sana. Ngapain di sini?" Tanyaku kasar. Rasanya ingin sekali kutampar mulut gadis cerewet itu. Namun ku urungkan. Pantang bagiku menyakiti perempuan. "Bye." Nita berlalu tanpa rasa bersalah. Dia keluar rumah berpapasan dengan Mama dan Papaku yang baru saja dari penggilingan padi. Bahkan, Dia tak menyapa atau bertegur sapa. Hanya lirikan jijik memandang orangtuaku yang penuh keringat. Mama dan Papa hanya terheran-heran melihat gadis yang dikira temanku itu. Kini, usai sudah aku dan Nita. Setahun mengenalnya, ku kira dia adalah gadis impianku. Aku tak suka berpacaran lama-lama. Awalnya, aku berniat serius untuk menikahinya. Bahkan, aku sudah menyampaikan pada orangtuaku bahwa dalam lusa aku akan mengenalkan gadis pilihanku dan ingin menikah segera. Papa dan Mama sudah sangat senang mendengar kabar itu. Lalu, aku mendapatkan fakta bahwa Nita selingkuh dan membodohiku. Info itu fakta dan sudah ku buktikan dengan bantuan orang yang ku percaya. Urung niatku menikahinya, ditambah dia tiba-tiba datang dan menunjukkan sikapnya yang buruk. Bisa jadi itu adalah caranya membuat-buat alasan agar bisa putus denganku dan berpaling dengan pria yang lebih kaya. Ah, soal Nita. Biarlah, lupakan. Sakit hati dan kecewa pasti. Tapi aku harus menemukan cara agar tidak mengecewakan Papa dan Mama. Lalu, siapa yang harus kubawa esok lusa dan kukenalkan pada mereka? Haruskah ku sampaikan bahwa kami baru saja putus? ******** "Nduk, kamu ini nekat sekali to? Berani sekali kamu bertindak begitu?" Tanya Ibu. "Aku kan tidak salah apa-apa to Bu? Kenapa harus takut?" Jawabku. "Terus sekarang piye, pak?" Tanya ibu pada bapak yang duduk sambil menyeruput kopinya. "Gak apa-apa Bu. Sudah terjadi. Jangan menyudutkan Afi. Sekarang kan malah kita tau, watak dan perilaku mereka bagaimana. Yang terpenting, pemulihan kesehatan dan kondisi Afi dulu buk." Jawab bapak dengan bijak. Aku tak berfikir jika Arif akan merespon sikapku dengan tindakan yang nekat. Arif pasti tidak berani bertindak sendiri, dia didorong oleh abangnya yang super arogan itu. Tak ikhlas aku diperlakukan seperti ini, makin sebal dan benci aku padanya. Ku raih ponselku dan kuhubungi Kakak andalanku. Kurasa aku bisa minta bantuannya, untuk memberi pelajaran pada Arif. Kami menyusun rencana agar dapat membuktikan bahwa tindakan kecelakaan kemarin adalah perbuatan yang disengaja. Benar saja, meskipun butuh waktu beberapa hari, akhirnya kami berhasil. "Dek, sopir yang kemarin mau kerjasama." Kak Adi mengirim kabar baik. Aku makin bersemangat melakukan aksi ini. "Oke." Jawabku singkat. Kak Adi memiliki beberapa kenalan polisi yang cukup akrab dengan keluarganya. Bisa diandalkan dan bisa dipercaya. Dengan beberapa tawaran yang saling menguntungkan, sopir truk yang menyerempetku mau memberikan pengakuan di kantor polisi. Aku tak ingin masalah ini sampai ke meja hijau. Hanya saja aku ingin memberikan pelajaran pada si cupu itu. Kami mengatur agar sopir truk fokus melaporkan Arif sebagai dalang dari tindakan percobaan pembunuhan itu tanpa menyebutkan nama abangnya. Tentu Arif tak akan berkutik jika mendapatkan masalah dengan polisi dan tidak mendapatkan perlindungan dari keluarganya. Siang hari saat si cupu, Arif sedang nongkrong di warung terjadi penangkapan oleh Polisi. Momennya pas karena keluarganya sedang belanja di luar kota. Keluarga mereka adalah pedagang cukup sukses di desa kami. Mereka cukup punya banyak kios di pasar. Di kantor polisi, Arif tak berkutik karena sopirnya memberikan pengakuan dengan menyebutkan namanya. Dia hanya dia tak berkata apapun atau memberikan pembelaan. Hp nya sengaja di ambil oleh sopirnya sendiri agar dia tak dapat menghubungi keluarganya atau meminta bantuan pada pihak manapun. Aku terkekeh melihat dia berkeringat sebesar jagung hingga berjatuhan membasahi sebagian kaosnya. Masih dibantu dengan kursi roda, dibantu Kak Adi aku menyaksikan Arif dimasukkan ke dalam penjara. Jeruji besi itu tempat yang pantas untuknya. Arif meronta -ronta ketakutan memohon agar tidak dimasukkan penjara. Dia menangis dan memelas kepada polisi yang menyeretnya agar diizinkan menghubungi keluarganya. Aku tersenyum kecut menyaksikan pemandangan itu. Namun Kak Adi memperingatkan padaku agar tetap berhati-hati. Pasti dengan cepat, Arif dapat bebas kembali meskipun jika di bawa ke meja hijau, mereka dapat dinyatakan bersalah. Tak mau aku repot-repot harus mengurus kasus ini hingga ke meja hijau. Cukuplah aku menyaksikan dia meronta hingga menangis di dalam jeruji besi. Sudah puas aku dengan pemandangan itu. Kak Adi yang berdiri dibelakang kursi roda ku juga sempat mengabadikan momen memalukan itu dengan video pendek. Ini bisa jadi senjata suatu saat nanti. ******** Sebenarnya aku ingin sekali bertindak lebih. Menjebloskan mereka semua ke penjara dan menjadikan mereka tersangka percobaan pembunuhan hingga namanya buruk di kampung. Namun, Afi melarangku karena dia ingin fokus mengurus hal-hal lain yang lebih penting. Pemulihan kesehatan dan kondisi tubuhnya jauh lebih penting. Beruntung, sekolahnya sudah selesai ujian sebelum terjadi kecelakaan itu. Jadi dengan kondisinya yang terduduk di kursi roda dia tidak perlu pergi ke sekolah. Tinggal menunggu pengumuman kelulusan saja. Rencana studinya juga masih belum mendapatkan dukungan Orangtua, terlebih Orangtuanya sudah fokus terhadap permohonan dan sudah memimpikan memiliki mantu. Disisi lain, aku juga gundah setelah ditanya kapan akan mengenalkan gadis pilihanku pada Papa dan Mama. Sudah molor dari waktu yang ku janjikan. Ingin sekali aku mengatakan bahwa gadis yang sore itu datang adalah pacarku dan kami berakhir sore itu juga. Tapi rasanya tak tega sekali. Tersirat dalam hati, haruskah aku mencari gadis lain dalam waktu yang singkat ini? Tapi siapa? Atau aku minta saja, Afi berpura-pura menjadi pacarku? Tapi Papa dan Mama tahu dan sudah mengenal Afi sejak dulu? Atau Kuminta saja teman perempuanku yang lain agar mau menjadi istri ku? Ah memangnya semudah itu memilih istri? Nita yang sudah kukenal lama dan ku anggap baik saja ternyata mengecewakan, bagaimana bisa aku asal memilih gadis lain dengan waktu yang singkat? Lagi pula, siapa juga gadis yang mau tiba-tiba ku kenalkan kepada orangtuaku sebagai calon istri? Pasti mereka akan menolak. Bisa-bisa aku dianggap sebagai pria aneh dan tidak sopan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN