BAB 5 - Always Appeared Suddenly

2026 Kata
“Jadilah milikku.”Aku terhenyak. Aku menatapnya, menatap tepat di kedua manik matanya yang menggelap. Aku tidak tahu harus bagaimana. Percaya padanya. atau tetap pada keyakinanku untuk menjauh kan diriku darinya.Dia pasti sudah gila. Apa ini caranya untuk memangsa di jaman modern saat ini. menjadikan mangsanya miliknya lalu setelah itu hisap darahnya hingga mati. “Apa kau berniat menjadikanku milikmu agar kau bisa menghisap darahku?.” Pertanyaan itu lolos begitu saja dari bibirku, membuat alisnya menyerngit menatapku dengan tatapan bingung. Bibirnya berkedut geli menatapku dengan tatapan geli, dengan senyum samar di bibirnya. “Aku sungguh-sungguh,apakah aku seperti orang yang sedang bergurau?." “Tapi bagaimana bisa kau memintaku menjadi milikmu?.”tanyaku seolah masih tak percaya dengan perkataannya yang terlalu cepat menyatakan kepemilikan. “Kenapa tidak, percaya saja padaku aku serius.”ucapnya dengan santai dan seketika emosiku memenuhi isi kepalaku. “Kau menyuruhku percaya padamu! apa kau tidak ingat Belum lama ini kau mengancamku akan menghisap darahku, lalu kau tiba-tiba mengajakku untuk menemui seluruh keluarga vampirmu. Dan kemudian kau ingin aku menjadi milikmu. Apa kau sudah tidak waras !Dan Aku pasti tidak waras juga jika aku mengatakan iya.”ucapku dengan emosi dan menatapnya dengan sengit “Lalu apa salahku kenapa kau marah?bukankah ketika kau menjadi milikku aku tetap akan mengenalkanmu pada keluargaku. aku juga tidak tahu bagaimana bisa ini terjadi aku pun tidak mengerti. karena yang ku tahu kau menarikku.”apa katanya.. Aku Menariknya padahal Aku malah sangat ingin menjauh darinya. Dia begitu dekat denganku, jas dan dasinya entah kemana, satu kancing kemeja line putihnya dibiarkan terbuka. Sebelah tangannya terangkat, ingin menggapaiku tapi terhenti tepat di hadapan wajahku sebelum ia kembali menarik tangannya untuk menjauh. “Istirahatlah.” Ucapnya bergegas bangkitmenyingkir dari sisiku. Hal itu membuatku panik. “Kau akan pergi?.”tanyaku ketika ia berdiri. Aku terpaksa harus mengadahkan kepalaku ke atas untuk menatapnya karena dia lebih tinggi dariku, ia bediri menjulang di hadapanku.Ekspresinya datar namun kau aku dari sorot matanya ia nampak kecewa. Begitu juga denganku. “Apa kau mau aku tetap berada di sini?.”tanyanya yang membuatku terdiam, bibirnya tersenyum masam. Pada kenyataannya aku ingin sekali menahannya entah kenapa sedikit merasa nyaman akan keberadaannya walaupun terkadang ia seperti hantu yang muncul dengan tiba-tiba tapi aku tetap merasa sedikit takut, walau di mataku dia terlihat tidak begitu buruk. “Ya, aku akan pergi.”ucapnya dengan berjalan keluar dari kamarku. Perlahan-lahan aku menyingkirkan selimutku lalu berjalan menuju ke luar kamar mencoba mengikutinya tapi Saat aku keluar melihat ruang tengah apartemenku kosong. Tidak ada siapapun di dalam sini Kecuali aku. Dia pergi tanpa menghilangkan jejak Kecuali jendela yang terbuka dengan kain gorden yang berhembus akibat tertiup angin aku menghampiri jendela. Dan berusaha terus melihat sekelilingku siapa tau dia masih berada disini tapi ternyata tidak ada. Aku mengangkat sebelah tanganku menyingkirkan kain gorden dan tatapanku terarah keluar jendela. Kosong.. Aku tidak melihatnya lalu aku menutup jendelanya dan menguncinya hingga rapat karena aku merasakan udara malam ini begitu sangat dingin. *** Seperti biasa James datang dan membuatkanku soup pagi-pagi dia datang dan memasakan sup penghilang mabuk ketika mencium aroma alkohol dari tubuhku. “Dengan siapa kau minum?.”tanyanya membuatku menoleh ke arahnya. “Teman kantorku.” Ucapku dengan santai lalu melihat sup yang ia masak. Asap mengepul keluar dan aromanya begitu sedap yang membuat perutku semakin berteriak kelaparan, aku harap air liur tak kekuar dari bibirku karena itu akan sangat memalukkan. “Pria atau wanita?.” “Kenapa kau bertanya begitu!.”ucapku sedikit kesal. Apa pedulinya dengan siapa aku akan minum. "Jawab saja Dia pria atau wanita?." ucapannya membuatku terheran-heran kenapa ekspresinya begitu apa dia sedang menginterogasi ku. Kenapa sifatnya jadi seperti ayahku. Menyebalkan "Dia adalah pria, Jika kau bertanya siapa pria itu maka akan kujawab ia adalah rekan kerjaku." Ucapku tanpa melihat ke arahnya. “Bagaimana kalau dia bertindak kurang ajar padamu saat kau tidak sadarkan diri!.”ucapannya membuat tatapan sengit. “Dia baik. Dia bukan orang seperti itu.”mungkin. Aku sendiri belum terlalu mengenalnya. Tunggu. Kenapa aku jadi membelanya, dasar bodoh. Aku tidak bisa berhenti untuk merutukki diriku sendiri. Hal ini membuatku bingung. “Kau harus berhati-hati Liana, Seattle itu bukan seperti California kau harus selalu berhati-hati jangan minum alkohol jika aku tidak ada.”Ocehanya memarahiku seperti seorang wanita tua. Ini menggelikan, aku kan sudah dewasa. “Aku bahkan tidak berniat untuk meminumnya lagi.”gerutuku bahkan aku masih merasa pusing akibat alkohol semalam, aku akan bersumpah untuk tidak meminumnya lagi pikirku. “Bagus.”ucapnya yang kemudian membawakan sup ke atas meja dan menghidangkannya di hadapanku. James itu luar biasa jika memasak sup, catat hanya sup jika aku menyuruhnya memasak yang lain aku tidak akan memjamin bagaimana rasanya karena sangat buruk. “Ini hari minggu, apa yang ingin kau lakukan?.”tanyanya ketika duduk bergabung denganku,James duduk tepat di hadapanku sambil memperhatikanku. “Kepalaku masih pusing. Jadi aku akan berbaring bermalas-malasan karena besok aku akan kembali bekerja.”James mendengus mendengar apa yang baru saja ku katakan. Laki-laki itu memang tidak pernah mendukungku untuk hal ini “Dasar wanita pemalas.”ejekannya yang membuatku menatapnya dengan sengit. Dia itu suka sekali mengejekku, rasanya tak pernah bosan membuatku marah-marah. Disaat seperti ini aku tidak mau meladeninya, aku akan mengabaikannya saja dan tetap menikmati sup buatan James. “Diamlah. Kau juga suka bermalas-malasan.”James merenggut membuat wajahnya terlihat lucu dan aku tertawa karenanya. “Kau mau beli sarapan atau membuatnya?.”tanyaku aku harap dia mengatakan tidak. “Memangnya kau mau makan masakanku kalau sudah matang?.”tanyanya begitu dramatisir dan berlebihan. Aku tersenyum dengan cengiran di wajahku, syukurlah karena jawabannya adalah tidak karena masakan yang James bisa hanyalah adalah, mie, sup penghilang mabuk, dan dia tidak akan membiarkan sosis gosong ketika di masak, dan air panas, Selain itu tidak layak untuk dimakan. “Kita makan di luar saja.”serunya menangkap arah pikiranku. “Okey. Kau yang traktir.” ucapku “Hei. Bukankah ini giliranmu.”serunya hampir berteriak padaku. Protes James “Baiklah. Jangan berteriak seperti itu. Apa kau mau membua gendang telingaku menjadi tuli?!."omelku membuatnya terkikik. Menyebalkan karena ia selalu tertawa setelah membuatku marah. James memang minta dihajar, laki-laki iu benar-benar. Asrahdjskahsysuskak. *** Aku membatalkan niatku untuk bermalas malasan karena, setelah membersihkan diri, kami berdua langsung bergegas untuk mencari tempat makan. waktu sudah menunjukan Jam 10 Pagi dan Restoran pun biasanya sudah buka di jam jam seperti ini. “Kau mau makan apa?.”James bertanya padaku. Aku mengedarkan pandanganku, melihat ke arah Restoran yang berjejer di sini. “Menurutmu apa?.” “ Kau yang bayar, kau yang memilih. Tapi jika kau bertanya padaku. Aku lebih suka makan daging.” “Kita makan daging saja.”tawarku. “Jangan dipagi hari please. Ya...ya...”rengekannya seperti anak kecil. Membuatku tidak bisa berkata tidak. “Baiklah. Terserah. Aku ikut.”aku pasrah. Makanan Apapun aku suka. Tapi tidak dengan James karena ia lebih cenderung suka memilih. James benar-benar memilih dengan baik makanan yang Dia suka ,berbagai pilihan makanan Ia pilih karena dia ingin makan semuanya dasar serakah aku jadi berfikir dia ini serakah atau rakus. Pada akhirnya kami pergi ke sebuah Restoran sup ayam kuah bening yang disajikan panas di tengah cuaca yang mulai dingin karena sebentar lagi akan memasuki musim dingin. Aku menyesap kopi panasku yang mengepul, lalu menyendokan nasi dengan kuah soup ke dalam mulutku. Tiba-tiba seseorang duduk di sebelahku, aku menoleh padanya dan mendapati Jensen yang baru saja duduk di sebelahku hingga membuatku menyemburkan nasiku yang mengenai wajah James. Di manapun aku berada dia selalu muncul dengan tiba tiba. “Maafkan aku.”ucapku lalu mengambil tisu dan memberikan padanya James menatapku dengan sengit. “Apa kau sudah gila.”omel James. Aku melirik Jensen, bibirnya berkedut. Apa menurutnya ini lucu. Kenapa sih aku selalu bertindak konyol di hadapnnya. ini sangat memalukan,dan sangat menyebalkan. “Bagimana bisa kau ada di sini?.”aku melotot padanya, bagaimana bisa dia tahu aku di sini. Ini sungguh-sungguh tidak masuk di akal. “Kalian saling mengenal?.”tanya James dengan tatapan bertanya. “Begitulah..apa kau temannya?.”tanya Jensen, tidak menganggapi pertanyaanku. “Aku bukan temannya tapi aku kakaknya.”jawab James. Aku tidak protes. Aku malah berharap di mengaku sebagai kekasihku agar Jensen bisa menjauh. “Aku tidak tahu maaf ku pikir Liana anak tunggal.”jawaban Jensen membuatku terkejut setengah mati. “Kalian terdengar cukup akrab.Aku bukan kakaknya Tapi Aku sahabat terdekatnya.”ucap James membenarkan. “ Jadi apa kalian berpacaran?.”lanjut James membuatku melotot padanya. “Sedang mengarah ke situ.”jawab Jensen dengan santainya. “Mau kuberitahu sesuatu?kau harus tau, dia ini adalah wanita yang sangat sangat merepotkan.”ucapan James membuatku menginjak kakinya, dia melotot padaku dan aku membalas melototkan mataku padanya. Mengisyaratkan padanya untuk berhenti berbicara. “Aku sudah tahu tentang itu.”Jensen merespon dengan baik. Hebat fikirku Dia benar benar membuatku Tercengang. “Berhenti membicarakanku.”ucapku mulai kesal dengan mereka berdua ,karena mereka terus saja membicarakanku. “Kalau kau mau tahu tentangnya. Kau bisa tanyakan langsung padaku ,karena aku sangat tau sifat.”aku memutar kedua bola mataku malas. Terkadang James bisa menjadi sangat sangat menyebalkan apalagi di saat seperti ini “Tidak terimakasih karena aku bisa memahaminya dengan berjalannya waktu.”Jensen menoleh padaku tersenyum dengan sudut bibirnya yang tertarik sedikit. “Makanlah.”Jensen menggeser mangkuk nasi agar lebih dekat ke arahku. “Tidak karena nafsu makanku sudah hilang.”Aku benar-benar kehilangan selera makanku karena mereka berdua. “Kalau begitu ayo ikut aku.”Jensen berdiri dan mengulurkan tangannya padaku. Aku menatap tangannya yang terulur padaku. Mendongak untuk melihat wajahnya yang sedang menatapku. “Hey kalau kau ingin pergi pergilah. Tapi setelah kau membayar makanan ini.”ucapan James membuatku menoleh padanya dan menggeleng heran, aku bahkan baru memakan nasiku sedikit lalu menyemburkan ke arah wajahnya dan sekarang ia menyuruhku dengan santai nya untuk membayar. “Aku yang akan membayarnya.”ucap Jensen lalu menarik tanganku pergi setelah membayar makanan. *** Aku mengikutinya ,dia berjalan di sampingku. Jalanan terlihat begitu ramai ini hari minggu, siapapun ingin menikmati hari libur mereka dengan berjalan-jalan,bersantai atau melakukan hal lainnya."Bagaimana keadaanmu apa kau baik baik saja?"tanyanya. yang sedang berjalan di sampingku,aku menoleh padanya."Aku Baik. Bagimana kau bisa tahu tentangku,dan bagaimana kau bisa ada di sekitarku terus menerus! Kau memata-matai ku. Apa kau menaruh alat pelacak di tubuhku, atau jangan jangan di apartemenku!." "Itu sangat berlebihan. Tapi kalau bisa. Ya aku ingin melakukannya."jawabannya membuatku berdecak. Aku tidak percaya. Dia pasti sudah gila. "Kau pasti sudah tidak waras."ucapku. "Ya. Karenamu."timpalnya. Aku membalikkan tubuhku menjadi menghadap ke arahnya, wajahku mendongak karena ia lebih tinggi dariku. Mata kami bertemu, aku menatapnya sengit, menaruh curiga. Apa dia memasang alat penyadap.. ini membuatku khawatir. Rasanya seperti di jadikan target mata-mata. Jangan-jangan dia bukan hanya seorang vampire, apa dia agen CIA. "Jadi... katakan padaku. Bagaimana kau bisa tahu?." Bibir nya tertarik membentuk senyum geli, sebelah alisku mengernyit semakin penasaran."Segalanya mudah bagiku. Kalau kau sudah tahu siapa aku, seharusnya kau tidak perlu terheran-heran dan bertanya lagi padaku." Aku berdecak, bersedekap dengan kedua tangan terlipat di depan d**a seraya menatapnya lebih tajam. "Aha! Jadi.. karena kau memiliki segalanya di Seattle atau karena radar vampire mu itu.."ucapaku terhenti ketika ia menjawab dengan cepat. "Dua-duanya."timpalnya menjawab pertanyaanku. "Tapi Itu privasiku, apa kau tidak tau privasi itu apa!."kekesalanku terbit. Dia mendesah frustasi. Menatapku dengan kedua tangan bertolak pinggang. "Aku tau dan aku tidak peduli."dia mengendikkan bahu. dengan santainya. Membuatku jengkel setengah mati. "Aku hanya ingin kau menjadi miliku. Dan jujur memahami sifatmu itu begitu sulit untukku. Kita baru saling mengenal beberapa hari . Tapi tetap saja aku tidak sabar untuk menunggu agar kau mau menjadi milikku." "Dan Jangan protes bagaimana aku mendapatkan informasi karena jika aku bertanya langsung padamu. Kau tidak akan pernah mau memberikan jawabannya." "Ya.... Tentu saja, kenapa juga aku harus memberitaumu ckkk ini kan privasi ku."ucapku kesal dia kembali menarikku dan aku mengikutinya. Entah kemana Dia akan membawaku pergi. Aku memberhentikan langkahku lalu menatapnya dan dia balas menatapku. "Kenapa apa kau masih lapar.?"tanyanya padaku "Kau menemuiku bukan untuk mengajak ku bertemu dengan keluarga vampirmu itu bukan?."Ucapku. "Apa kau sudah siap bertemu keluargaku."ucapnya sambil terus berjalan. "Tidak."ucapku dengan cepat. Dia kembali menarikku dan aku tetap mengikutinya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN