Jensen.
" hey nona lebih baik kau menonton saja sejarah vampire bahwa penduduk di daerah yang sekarang bernama Lithuania dan Polandia, mengaku berubah menjadi manusia serigala selama beberapa hari dalam setahun.
Masa itu manusia serigala adalah manusia dengan dorongan kuat memangsa manusia lainnya. Melalui sihir mereka berubah menjadi serigala hitam untuk memudahkan mewujudkan niatnya. Sekali berubah, menurut kepercayaan lama, akan terus menyimpan kekuatan dan kelicikan serigala.
Sebenarnya, transformasi sering dilakukan oleh dukun-dukun suku tertentu dengan tujuan baik untuk mengatasi masalah di kelompoknya. Saat langka makanan, misalnya, si dukun bisa saja berubah ujud menjadi binatang jadi-jadian serupa makhluk yang akan diburu, supaya lebih mudah melacak buruan itu.
Ada juga yang tidak berubah ujud tetapi meminjam tubuh binatang untuk memata-matai, menyantet, atau sekadar menakut-nakuti musuh.
tiap malam ia bisa berkeliaran sebagai serigala, namun di siang hari kembali ke bentuk manusia. Ia telah membunuh dan memangsa beberapa anak kecil yang sendirian di ladang, juga menculik bayi yang ditinggal di rumah.
Sejauh menyangkut perilaku kanibalisme, penyelidikan menunjukkan kebenaran pengakuannya.
Vampir umumnya diceritakan keluar dari makamnya pada malam hari untuk menggigit orang-orang dengan taringnya yang panjang dan mengisap darah mereka. Korban yang digigitnya biasanya akan menjadi vampir juga. mereka bahkan takut dengan sinar matahari "
" kau ingat Sebagian orang berpendapat banyak hal-hal aneh terjadi pada malam bulan purnama. Di negara-negara barat bila ada kejadian yang sifatnya negatif sering terdengar orang berkomentar "It must be a full-moon. Banyak srigala melolong kan aungannya."
" Pertanyaannya adalah mengapa hal tersebut diatas banyak terjadi di malam bulan purnama? Tidak dapat dipungkiri malam bulan purnama memang terlihat sangat Indah karena lebih terang dari malam biasanya. Bentuk bulan terlihat besar sangat memukau siapa saja yang melihatnya. Suasana ini seringkali mendorong orang untuk keluar dan melakukan berbagai macam aktivitas yang dapat meningkatkan resiko akan kecelakaan, perkelahian dan kriminal lainnya." itulah beberapa yang kutau sebelumnya aku juga tak benar benar tau masalah vampire dan sebagainya
Mereka berdua adalah dua insan yang sangat berbeda, bagaikan langit dengan bumi karena perbedaan yang selalu mereka miliki di antara satu dengan lainnya. Meskipun perbedaan yang membentang jauh di antara mereka adalah sebuah hambatan yang memungkinkan keduanya untuk tidak bisa bersatu, namun bila sebuah takdir berkehendak lain maka bisa saja keduanya dipertemukan di dalam suatu keadaan yang sama dan lambat laun perasaan demi perasaan pun bercampur menjadi satu dengan perubahan yang menyertainya. Untuk yang pertama kali mungkin kebencian, kebencian itu bisa berubah menjadi rasa netral sebelum berubah lagi menjadi sebuah hal yang tak terkira bernama persahabatan dan cinta.
Mungkin banyak orang yang tidak akan mempercayainya, melihat perbedaan status yang membentang di antara mereka, juga satu dari kedua orang tersebut membenci ras keduanya yang ia anggap telah membuatnya tersiksa di Bumi ini. Sebuah rahasia yang tidak bisa ditebak, sungguh bahkan hal yang demikian ini tidak pernah muncul dalam benak Senri sebelumnya.
Ketika ia menatap langit malam yang gelap dan hanya dipenuhi oleh bintang dan sebuah bulan purnama yang ada di langit, suasana nostalgiah pun tiba-tiba saja merasuk ke dalam dirinya, seolah-olah ia kembali ke bayang-bayang masa lalu dan menemukan dirinya kembali berada di pangkuan sang ibu untuk mendengarkan dongeng dan cerita pengantar tidur. Melihat pemandangan yang begitu indah di langit malam tersebut, Senri jadi teringat akan cerita sang ibu mengenai ayahnya yang bernama Kuran Rido. Mungkin dirinya tidak pernah bertemu dengan sang ayah sebelumnya, namun dari cerita sang ibu itu Senri bisa membayangkan bagaimana rupa sang ayah dengan begitu jelas.
Orang-orang sering mengatakan kalau Kuran Rido adalah orang jahat dan sangat berbahaya, memiliki ambisi yang sangat besar serta karena nafsunya kepada sang adik perempuan membuatnya semakin gila sehingga tega untuk membunuh keluarganya sendiri, hanya menyisakan Kaname seorang. Namun, seseorang pernah mengatakan pada Senri kalau dirinya tidak boleh menghakimi seseorang karena cerita yang ia dengar dari orang lain, ada beberapa sisi yang harus ia lihat untuk menilai apakah orang itu baik atau tidak, dan apakah ia patut mendapat simpati dari Senri atau tidak. Dari sini saja Senri tidak sependapat kalau Rido adalah orang yang jahat, ia perlu menyaksikan sendiri serta melihat alasan dari sang ayah untuk menganggap Rido sebagai orang jahat, dan entah kenapa rasanya ia semakin ingin bertemu dengan sang ayah, meskipun hal tersebut tidak mungkin untuk terjadi mengingat dari cerita ibunya sang ayah telah tiada di muka bumi ini.
Bersandar pada batang pohon yang kuat itu pun pada akhirnya membuat Senri memejamkan kedua matanya untuk beberapa saat lamanya, ia mencoba untuk menjernihkan pikirannya sendiri dengan bantuan angin malam yang sepoi-sepoi, masalah akan kerinduannya terhadap sang ayah itu harus ia simpat rapat-rapat, jangan sampai ada orang lain yang tahu akan hal ini. Senri tidak mau kalau orang seperti Kaname tahu akan kerinduannya pada Rido, hal ini akan menimbulkan sebuah perselisihan yang hasilnya tidak akan berbuntut menjadi baik, lebih baik ia menyimpannya sendiri.
"Apa yang kau lakukan di tempat seperti ini, vampire! Bukankah seharunya kau ada di dalam kelas dengan orang-orang sejenismu itu?!" Sebuah suara yang kasar dan sangat Senri kenal pun kali ini membuatnya sedikit terlonjak, terkejut akan sebuah bentakan singkat yang tidak ia perhitungkan sebelumnya.
Mungkin dirinya sudah memikirkan sebuah kemungkinan kalau Zero adalah orang yang menangkapnya selain Yuuki, namun yang tidak ia perhitungkan adalah kecepatan Zero dalam melakukan penangkapan, sangat singkat dari apa yang ia pikirkan sebelumnya.
Senri menghembuskan nafas pelan, mencoba untuk melupakan semua kejenuhan serta rasa bosan yang tengah melanda dirinya. Dari tempatnya duduk dan meletakkan kepalanya itu, ia bisa melihat bagaimana Ichijou Takuma tengah membaca salah satu buku manga yang baru saja ia beli, pemuda berambut pirang keemasan itu terlihat sangat bahagia membaca buku bergambar itu, seperti buku manga tersebut adalah sebuah kitab pusaka yang begitu berharga. Meski Senri dan Takuma adalah teman satu kamar, remaja yang sekaligus model terkenal itu tidak pernah paham mengapa Takuma sangat menyukai manga, bahkan bisa ia katakan kalau remaja yang berusia jauh lebih tua darinya itu adalah pecinta manga dan anime buatan manusia, padahal mereka berdua ini bukanlah manusia. Senri gagal paham di sini, dan ia pun membiarkan hal itu terjadi. Mungkin karena tatapan datar Senri yang begitu intens pada sosok Takuma, pemuda yang tadinya tengah sibuk membaca manga tersebut langsung mengangkat kepalanya dan menoleh kepada Senri, tidak lupa juga Takuma memberinya sebuah senyuman lebar dan sapaan ramah seperti biasanya sebelum perhatiannya kembali fokus pada buku manga yang ada di tangannya.
Beranjak dari sosok Takuma dengan manganya, Senri pun meletakkan perhatiannya pada satu-satunya vampire berdarah murni yang ada di Cross Academy serta ketua asrama bulan tempat para vampire bernaung di dalam sekolah ini. Kuran Kaname adalah namanya, ia merupakan satu-satunya orang yang memiliki hubungan darah dengan Senri meskipun sedikit jauh dengannya. Orang-orang menganggap Kaname itu sebagai dewa, rajanya para vampire karena ia berasal dari keluarga Kuran serta putra tunggal dari Haruka dan Juri Kuran, adik dari ayahnya Senri. Namun, sedikit yang orang-orang ketahui kalau sebenarnya Kuran Kaname yang sekarang ini bukanlah Kuran Kaname seperti anggapan mereka, Kaname yang duduk di atas bangku paling belakang tersebut adalah sang raja vampire yang telah berusia lebih dari 10.000 ribu tahun. Dan fakta ini tidak ada orang yang tahu, mungkin hanya Senri dan beberapa orang terpilih saja.
Sebuah pertanyaan singkat pun terbentang di sana, akan bagaimana Shiki Senri yang notabene adalah vampire dari kalangan bangsawan biasa bisa tahu akan hal itu. Jawabannya pun sangat singkat, Senri adalah orang yang sangat teliti dan cukup cerdas dalam personalitas diamnya. Ia membiarkan orang-orang menganggapnya diam dan tidak tahu akan apa-apa, padahal di balik semua itu ia bisa melihat semua yang terjadi dari baik kedua mata biru azure miliknya itu. Sebuah ironi di atas ironi memang, namun Senri lebih memutuskan untuk diam dan menganggap semuanya bukanlah masalahnya. Bila Kaname ingin merahasiakan siapa dirinya, maka Senri pun akan melakukannya tanpa perlu disuruh lagi, terlebih anak itu tidak terlalu menyukai jalan pikiran yang Kaname miliki, terlalu pelik dan entah kenapa gelap pada saat yang sama.
Tatapan mata biru milik Senri itu tanpa sengaja bertemu pandang dengan kedua bola mata merah marun milik Kaname, mereka pun saling menatap satu sama lain untuk mengetahui apa yang tengah dipikirkan oleh keduanya. Nihil, hasilnya nihil karena topeng emosi yang terpasang begitu tebal, tak bisa dipenetrasi oleh tatapan keduanya untuk satu sama lainnya. Tanpa mengucapkan apapun lagi Senri pun menarik tatapannya untuk bertemu pandang dengan Kaname, meski berikutnya ia masih bisa merasakan tatapan milik Kaname menusuk punggungnya secara tidak langsung.
Entah kenapa Senri merasa dirinya seperti masuk ke dalam jebakan begitu matanya bertemu dengan Kaname, rasanya ada perasaan aneh yang memperingatinya untuk tidak bertemu pandang lagi dengan Kaname di masa depan, dan Senri yang begitu percaya akan instingnya itu pun mematuhinya tanpa mengucapkan banyak protes.
"Senri," panggil teman sebangkunya yang juga partner modelnya ketika gadis itu melihat Senri tiba-tiba berdiri dari bangkunya.
"Aku ingin pergi ke toilet sebentar, ada hal yang harus aku bereskan," jawab Senri dengan suara lirih dan masih dengan nada tanpa emosinya.
Senri menghembuskan nafas pelan, mencoba untuk melupakan semua kejenuhan serta rasa bosan yang tengah melanda dirinya. Dari tempatnya duduk dan meletakkan kepalanya itu, ia bisa melihat bagaimana Ichijou Takuma tengah membaca salah satu buku manga yang baru saja ia beli, pemuda berambut pirang keemasan itu terlihat sangat bahagia membaca buku bergambar itu, seperti buku manga tersebut adalah sebuah kitab pusaka yang begitu berharga. Meski Senri dan Takuma adalah teman satu kamar, remaja yang sekaligus model terkenal itu tidak pernah paham mengapa Takuma sangat menyukai manga, bahkan bisa ia katakan kalau remaja yang berusia jauh lebih tua darinya itu adalah pecinta manga dan anime buatan manusia, padahal mereka berdua ini bukanlah manusia. Senri gagal paham di sini, dan ia pun membiarkan hal itu terjadi. Mungkin karena tatapan datar Senri yang begitu intens pada sosok Takuma, pemuda yang tadinya tengah sibuk membaca manga tersebut langsung mengangkat kepalanya dan menoleh kepada Senri, tidak lupa juga Takuma memberinya sebuah senyuman lebar dan sapaan ramah seperti biasanya sebelum perhatiannya kembali fokus pada buku manga yang ada di tangannya.
Beranjak dari sosok Takuma dengan manganya, Senri pun meletakkan perhatiannya pada satu-satunya vampire berdarah murni yang ada di Cross Academy serta ketua asrama bulan tempat para vampire bernaung di dalam sekolah ini. Kuran Kaname adalah namanya, ia merupakan satu-satunya orang yang memiliki hubungan darah dengan Senri meskipun sedikit jauh dengannya. Orang-orang menganggap Kaname itu sebagai dewa, rajanya para vampire karena ia berasal dari keluarga Kuran serta putra tunggal dari Haruka dan Juri Kuran, adik dari ayahnya Senri. Namun, sedikit yang orang-orang ketahui kalau sebenarnya Kuran Kaname yang sekarang ini bukanlah Kuran Kaname seperti anggapan mereka, Kaname yang duduk di atas bangku paling belakang tersebut adalah sang raja vampire yang telah berusia lebih dari 10.000 ribu tahun. Dan fakta ini tidak ada orang yang tahu, mungkin hanya Senri dan beberapa orang terpilih saja.
Sebuah pertanyaan singkat pun terbentang di sana, akan bagaimana Shiki Senri yang notabene adalah vampire dari kalangan bangsawan biasa bisa tahu akan hal itu. Jawabannya pun sangat singkat, Senri adalah orang yang sangat teliti dan cukup cerdas dalam personalitas diamnya. Ia membiarkan orang-orang menganggapnya diam dan tidak tahu akan apa-apa, padahal di balik semua itu ia bisa melihat semua yang terjadi dari baik kedua mata biru azure miliknya itu. Sebuah ironi di atas ironi memang, namun Senri lebih memutuskan untuk diam dan menganggap semuanya bukanlah masalahnya. Bila Kaname ingin merahasiakan siapa dirinya, maka Senri pun akan melakukannya tanpa perlu disuruh lagi, terlebih anak itu tidak terlalu menyukai jalan pikiran yang Kaname miliki, terlalu pelik dan entah kenapa gelap pada saat yang sama.
Tatapan mata biru milik Senri itu tanpa sengaja bertemu pandang dengan kedua bola mata merah marun milik Kaname, mereka pun saling menatap satu sama lain untuk mengetahui apa yang tengah dipikirkan oleh keduanya. Nihil, hasilnya nihil karena topeng emosi yang terpasang begitu tebal, tak bisa dipenetrasi oleh tatapan keduanya untuk satu sama lainnya. Tanpa mengucapkan apapun lagi Senri pun menarik tatapannya untuk bertemu pandang dengan Kaname, meski berikutnya ia masih bisa merasakan tatapan milik Kaname menusuk punggungnya secara tidak langsung.
Entah kenapa Senri merasa dirinya seperti masuk ke dalam jebakan begitu matanya bertemu dengan Kaname, rasanya ada perasaan aneh yang memperingatinya untuk tidak bertemu pandang lagi dengan Kaname di masa depan, dan Senri yang begitu percaya akan instingnya itu pun mematuhinya tanpa mengucapkan banyak protes.
"Senri," panggil teman sebangkunya yang juga partner modelnya ketika gadis itu melihat Senri tiba-tiba berdiri dari bangkunya.
"Aku ingin pergi ke toilet sebentar, ada hal yang harus aku bereskan," jawab Senri dengan suara lirih dan masih dengan nada tanpa emosinya.
Senri menghembuskan nafas pelan, mencoba untuk melupakan semua kejenuhan serta rasa bosan yang tengah melanda dirinya. Dari tempatnya duduk dan meletakkan kepalanya itu, ia bisa melihat bagaimana Ichijou Takuma tengah membaca salah satu buku manga yang baru saja ia beli, pemuda berambut pirang keemasan itu terlihat sangat bahagia membaca buku bergambar itu, seperti buku manga tersebut adalah sebuah kitab pusaka yang begitu berharga. Meski Senri dan Takuma adalah teman satu kamar, remaja yang sekaligus model terkenal itu tidak pernah paham mengapa Takuma sangat menyukai manga, bahkan bisa ia katakan kalau remaja yang berusia jauh lebih tua darinya itu adalah pecinta manga dan anime buatan manusia, padahal mereka berdua ini bukanlah manusia. Senri gagal paham di sini, dan ia pun membiarkan hal itu terjadi. Mungkin karena tatapan datar Senri yang begitu intens pada sosok Takuma, pemuda yang tadinya tengah sibuk membaca manga tersebut langsung mengangkat kepalanya dan menoleh kepada Senri, tidak lupa juga Takuma memberinya sebuah senyuman lebar dan sapaan ramah seperti biasanya sebelum perhatiannya kembali fokus pada buku manga yang ada di tangannya.
Beranjak dari sosok Takuma dengan manganya, Senri pun meletakkan perhatiannya pada satu-satunya vampire berdarah murni yang ada di Cross Academy serta ketua asrama bulan tempat para vampire bernaung di dalam sekolah ini. Kuran Kaname adalah namanya, ia merupakan satu-satunya orang yang memiliki hubungan darah dengan Senri meskipun sedikit jauh dengannya. Orang-orang menganggap Kaname itu sebagai dewa, rajanya para vampire karena ia berasal dari keluarga Kuran serta putra tunggal dari Haruka dan Juri Kuran, adik dari ayahnya Senri. Namun, sedikit yang orang-orang ketahui kalau sebenarnya Kuran Kaname yang sekarang ini bukanlah Kuran Kaname seperti anggapan mereka, Kaname yang duduk di atas bangku paling belakang tersebut adalah sang raja vampire yang telah berusia lebih dari 10.000 ribu tahun. Dan fakta ini tidak ada orang yang tahu, mungkin hanya Senri dan beberapa orang terpilih saja.
Sebuah pertanyaan singkat pun terbentang di sana, akan bagaimana Shiki Senri yang notabene adalah vampire dari kalangan bangsawan biasa bisa tahu akan hal itu. Jawabannya pun sangat singkat, Senri adalah orang yang sangat teliti dan cukup cerdas dalam personalitas diamnya. Ia membiarkan orang-orang menganggapnya diam dan tidak tahu akan apa-apa, padahal di balik semua itu ia bisa melihat semua yang terjadi dari baik kedua mata biru azure miliknya itu. Sebuah ironi di atas ironi memang, namun Senri lebih memutuskan untuk diam dan menganggap semuanya bukanlah masalahnya. Bila Kaname ingin merahasiakan siapa dirinya, maka Senri pun akan melakukannya tanpa perlu disuruh lagi, terlebih anak itu tidak terlalu menyukai jalan pikiran yang Kaname miliki, terlalu pelik dan entah kenapa gelap pada saat yang sama.
Tatapan mata biru milik Senri itu tanpa sengaja bertemu pandang dengan kedua bola mata merah marun milik Kaname, mereka pun saling menatap satu sama lain untuk mengetahui apa yang tengah dipikirkan oleh keduanya. Nihil, hasilnya nihil karena topeng emosi yang terpasang begitu tebal, tak bisa dipenetrasi oleh tatapan keduanya untuk satu sama lainnya. Tanpa mengucapkan apapun lagi Senri pun menarik tatapannya untuk bertemu pandang dengan Kaname, meski berikutnya ia masih bisa merasakan tatapan milik Kaname menusuk punggungnya secara tidak langsung.
Entah kenapa Senri merasa dirinya seperti masuk ke dalam jebakan begitu matanya bertemu dengan Kaname, rasanya ada perasaan aneh yang memperingatinya untuk tidak bertemu pandang lagi dengan Kaname di masa depan, dan Senri yang begitu percaya akan instingnya itu pun mematuhinya tanpa mengucapkan banyak protes.
"Senri," panggil teman sebangkunya yang juga partner modelnya ketika gadis itu melihat Senri tiba-tiba berdiri dari bangkunya.
"Aku ingin pergi ke toilet sebentar, ada hal yang harus aku bereskan," jawab Senri dengan suara lirih dan masih dengan nada tanpa emosinya.
Senri menghembuskan nafas pelan, mencoba untuk melupakan semua kejenuhan serta rasa bosan yang tengah melanda dirinya. Dari tempatnya duduk dan meletakkan kepalanya itu, ia bisa melihat bagaimana Ichijou Takuma tengah membaca salah satu buku manga yang baru saja ia beli, pemuda berambut pirang keemasan itu terlihat sangat bahagia membaca buku bergambar itu, seperti buku manga tersebut adalah sebuah kitab pusaka yang begitu berharga. Meski Senri dan Takuma adalah teman satu kamar, remaja yang sekaligus model terkenal itu tidak pernah paham mengapa Takuma sangat menyukai manga, bahkan bisa ia katakan kalau remaja yang berusia jauh lebih tua darinya itu adalah pecinta manga dan anime buatan manusia, padahal mereka berdua ini bukanlah manusia. Senri gagal paham di sini, dan ia pun membiarkan hal itu terjadi. Mungkin karena tatapan datar Senri yang begitu intens pada sosok Takuma, pemuda yang tadinya tengah sibuk membaca manga tersebut langsung mengangkat kepalanya dan menoleh kepada Senri, tidak lupa juga Takuma memberinya sebuah senyuman lebar dan sapaan ramah seperti biasanya sebelum perhatiannya kembali fokus pada buku manga yang ada di tangannya.
Beranjak dari sosok Takuma dengan manganya, Senri pun meletakkan perhatiannya pada satu-satunya vampire berdarah murni yang ada di Cross Academy serta ketua asrama bulan tempat para vampire bernaung di dalam sekolah ini. Kuran Kaname adalah namanya, ia merupakan satu-satunya orang yang memiliki hubungan darah dengan Senri meskipun sedikit jauh dengannya. Orang-orang menganggap Kaname itu sebagai dewa, rajanya para vampire karena ia berasal dari keluarga Kuran serta putra tunggal dari Haruka dan Juri Kuran, adik dari ayahnya Senri. Namun, sedikit yang orang-orang ketahui kalau sebenarnya Kuran Kaname yang sekarang ini bukanlah Kuran Kaname seperti anggapan mereka, Kaname yang duduk di atas bangku paling belakang tersebut adalah sang raja vampire yang telah berusia lebih dari 10.000 ribu tahun. Dan fakta ini tidak ada orang yang tahu, mungkin hanya Senri dan beberapa orang terpilih saja.
Sebuah pertanyaan singkat pun terbentang di sana, akan bagaimana Shiki Senri yang notabene adalah vampire dari kalangan bangsawan biasa bisa tahu akan hal itu. Jawabannya pun sangat singkat, Senri adalah orang yang sangat teliti dan cukup cerdas dalam personalitas diamnya. Ia membiarkan orang-orang menganggapnya diam dan tidak tahu akan apa-apa, padahal di balik semua itu ia bisa melihat semua yang terjadi dari baik kedua mata biru azure miliknya itu. Sebuah ironi di atas ironi memang, namun Senri lebih memutuskan untuk diam dan menganggap semuanya bukanlah masalahnya. Bila Kaname ingin merahasiakan siapa dirinya, maka Senri pun akan melakukannya tanpa perlu disuruh lagi, terlebih anak itu tidak terlalu menyukai jalan pikiran yang Kaname miliki, terlalu pelik dan entah kenapa gelap pada saat yang sama.
Tatapan mata biru milik Senri itu tanpa sengaja bertemu pandang dengan kedua bola mata merah marun milik Kaname, mereka pun saling menatap satu sama lain untuk mengetahui apa yang tengah dipikirkan oleh keduanya. Nihil, hasilnya nihil karena topeng emosi yang terpasang begitu tebal, tak bisa dipenetrasi oleh tatapan keduanya untuk satu sama lainnya. Tanpa mengucapkan apapun lagi Senri pun menarik tatapannya untuk bertemu pandang dengan Kaname, meski berikutnya ia masih bisa merasakan tatapan milik Kaname menusuk punggungnya secara tidak langsung.
Entah kenapa Senri merasa dirinya seperti masuk ke dalam jebakan begitu matanya bertemu dengan Kaname, rasanya ada perasaan aneh yang memperingatinya untuk tidak bertemu pandang lagi dengan Kaname di masa depan, dan Senri yang begitu percaya akan instingnya itu pun mematuhinya tanpa mengucapkan banyak protes.
"Senri," panggil teman sebangkunya yang juga partner modelnya ketika gadis itu melihat Senri tiba-tiba berdiri dari bangkunya.
"Aku ingin pergi ke toilet sebentar, ada hal yang harus aku bereskan," jawab Senri dengan suara lirih dan masih dengan nada tanpa emosinya.
Ketika ia menatap langit malam yang gelap dan hanya dipenuhi oleh bintang dan sebuah bulan purnama yang ada di langit, suasana nostalgiah pun tiba-tiba saja merasuk ke dalam dirinya, seolah-olah ia kembali ke bayang-bayang masa lalu dan menemukan dirinya kembali berada di pangkuan sang ibu untuk mendengarkan dongeng dan cerita pengantar tidur. Melihat pemandangan yang begitu indah di langit malam tersebut, Senri jadi teringat akan cerita sang ibu mengenai ayahnya yang bernama Kuran Rido. Mungkin dirinya tidak pernah bertemu dengan sang ayah sebelumnya, namun dari cerita sang ibu itu Senri bisa membayangkan bagaimana rupa sang ayah dengan begitu jelas.
Orang-orang sering mengatakan kalau Kuran Rido adalah orang jahat dan sangat berbahaya, memiliki ambisi yang sangat besar serta karena nafsunya kepada sang adik perempuan membuatnya semakin gila sehingga tega untuk membunuh keluarganya sendiri, hanya menyisakan Kaname seorang. Namun, seseorang pernah mengatakan pada Senri kalau dirinya tidak boleh menghakimi seseorang karena cerita yang ia dengar dari orang lain, ada beberapa sisi yang harus ia lihat untuk menilai apakah orang itu baik atau tidak, dan apakah ia patut mendapat simpati dari Senri atau tidak. Dari sini saja Senri tidak sependapat kalau Rido adalah orang yang jahat, ia perlu menyaksikan sendiri serta melihat alasan dari sang ayah untuk menganggap Rido sebagai orang jahat, dan entah kenapa rasanya ia semakin ingin bertemu dengan sang ayah, meskipun hal tersebut tidak mungkin untuk terjadi mengingat dari cerita ibunya sang ayah telah tiada di muka bumi ini.
Bersandar pada batang pohon yang kuat itu pun pada akhirnya membuat Senri memejamkan kedua matanya untuk beberapa saat lamanya, ia mencoba untuk menjernihkan pikirannya sendiri dengan bantuan angin malam yang sepoi-sepoi, masalah akan kerinduannya terhadap sang ayah itu harus ia simpat rapat-rapat, jangan sampai ada orang lain yang tahu akan hal ini. Senri tidak mau kalau orang seperti Kaname tahu akan kerinduannya pada Rido, hal ini akan menimbulkan sebuah perselisihan yang hasilnya tidak akan berbuntut menjadi baik, lebih baik ia menyimpannya sendiri.
"Apa yang kau lakukan di tempat seperti ini, vampire! Bukankah seharunya kau ada di dalam kelas dengan orang-orang sejenismu itu?!" Sebuah suara yang kasar dan sangat Senri kenal pun kali ini membuatnya sedikit terlonjak, terkejut akan sebuah bentakan singkat yang tidak ia perhitungkan sebelumnya.
Mungkin dirinya sudah memikirkan sebuah kemungkinan kalau Zero adalah orang yang menangkapnya selain Yuuki, namun yang tidak ia perhitungkan adalah kecepatan Zero dalam melakukan penangkapan, sangat singkat dari apa yang ia pikirkan sebelumnya.
Mereka berdua adalah dua insan yang sangat berbeda, bagaikan langit dengan bumi karena perbedaan yang selalu mereka miliki di antara satu dengan lainnya. Meskipun perbedaan yang membentang jauh di antara mereka adalah sebuah hambatan yang memungkinkan keduanya untuk tidak bisa bersatu, namun bila sebuah takdir berkehendak lain maka bisa saja keduanya dipertemukan di dalam suatu keadaan yang sama dan lambat laun perasaan demi perasaan pun bercampur menjadi satu dengan perubahan yang menyertainya. Untuk yang pertama kali mungkin kebencian, kebencian itu bisa berubah menjadi rasa netral sebelum berubah lagi menjadi sebuah hal yang tak terkira bernama persahabatan dan cinta.
Mungkin banyak orang yang tidak akan mempercayainya, melihat perbedaan status yang membentang di antara mereka, juga satu dari kedua orang tersebut membenci ras keduanya yang ia anggap telah membuatnya tersiksa di Bumi ini. Sebuah rahasia yang tidak bisa ditebak, sungguh bahkan hal yang demikian ini tidak pernah muncul dalam benak Senri sebelumnya.
Tbc....................................................