Eps 81

1870 Kata
"Kau cemburu padaku."Aku menyentuh pipinya. Wajahnya memberengut lalu mendekatkan diri semakin dekat denganku. "Tentu saja. Kau seharusnya tahu aku begitu mencintaimu. Jika seseorang mendekatimu maka aku akan kesal. Kau tidak boleh melihat ke arah pria lain. Kau hanya harus melihatku nona Megan. "Ucapnya dan aku menatapnya lalu tersenyum,ini lah yang kusukai darinya karena ia begitu sangat frontal dalam mengungkapkan isi hatinya padaku. Aku mendekatkan diriku padanya bahkan semakin dekat sampai jarak wajah kami tinggal beberapa inci saja dan bibir kami pun hampir menempel satu sama lain dan kurasakan ia balas mendekatkan wajahnya sampai bibirnya benar benar sudah menempel pada bibirku lalu tak lama menciumku dalam. Yaaaaaa mungkin sekarang Jensen akan berfirkir kalau aku sudah mulai sangat agresif duluan terhadapnya tak apa aku juga bahkan tak memikirkan hal itu, tak lama aku melepaskan pangutan kami karena merasakan udara di sekitarku kian menipis ia menatapku lalu tersenyum. "Maaf kau tahu ketika aku menciummu, maka ini yang sangat kutakutkan karena aku sama sekali susah untuk menahan diriku sendiri karena aku begitu menginginkanmu."Ucap jensen padaku. Aku masih terus mengatur nafasku sampai kurasakan ia menarikku ke dalam pelukannya dan memelukku dengan begitu erat. Lalu saat aku membuka mataku aku sudah berada di atas ranjangku dan dia melepaskan pelukannya dariku. ”Kau butuh tidur nona, dan aku tak ingin kau sakit karena kurang istirahat.”Ucapnya lalu membaringkan tubuhnya duluan ke atas ranjangku. Aku masih menatapnya yang sudah mulai berbaring di sampingku lalu aku ikut membaringkan tubuhku disampingnya dan mentapnya ia menarikku ke dalam dekapannya dan itu malah membuatku jadi mengantuk dan tak lama aku memejamkan mataku dan tertidur. Keesokan paginya aku terbangun dan tak menemukan Jensen berada di sampingku kemana dia pergi pikirku. Aku memutuskan untuk bangun dan membersihkan diriku setelah rapih dan memakai pakaian kerjaku, aku memutuskan untuk keluar dari kamar,saat keluar kulihat Jensen sudah berdiri di depan kamarku. “Kupikir kau belum bangun, aku baru saja ingin membangunkanmu,”Ucapnya.“Kupikir kau sudah pergi entah kemana, karena saat bangun kau sudah tidak ada.”Ucapku dengan sedikit sebal dan seperti biasa ia hanya tersenyum dengan geli. Aku memutuskan untuk membuat sarapan karena James pasti akan datang sebentar lagi. Saat sedang membuat sarapan pintu apartemen ku terbuka, tentu saja tanpa harus mencari tahu dan repot-repot untuk melihat ke arah pintu, hanya ada dua orang di dalam hidupku yang suka seenak jidatnya berlaku tidak sopan. Siapa lagi kalau bukan James dan Devian yang selalu mengekorinya kemanapun James pergi. Ini apartemenku tapi lihat bagaimana ia bersikap, masuk tanpa mengetuk pintu dan main duduk saja di kursi meja makan tanpa basa-basi menatapku atau berbicara sesuatu padaku sebagai alasan. Masih belum berubah, James melemparkan tatapan tidak sukanya pada Jensen, sudah seperti ayahku saja bukankah aku benar. Bahkan sangat mirip dan Devian jangan ditanyakan bagaimana ekspresi wajahnya saat ini, karena ia selalu terlihat santai . ”Sampai kapan kita akan seperti patung begini?.”seru Devian karena sudah sekitar 15 menit yang lalu mereka terdiam tanpa mengucapkan satu patah pun, terlalu sunyi di sini. Aku rasa Devian ikut merasakan ketegangan yang James buat dari pancaran matanya yang sudah seperti laser. James masih menatap Jensen sengit, aku berpikir ia akan bertingkah kekanakan seperti itu lalu tak lama ia berjalan dan duduk tepat di hadapan Jensen, masih tetap menatapnya dengan sinis sedangkan yang di tatap hanya memandangnya dengan santai, karena aku juga tahu Jensen sangat tidak suka keributan apalagi sampai harus meladeni James yang selalu saja bersikap sentimen kalau melihatnya ada di sini. “Kau......bisakah kau tidak datang setiap hari ke sini! Apa kau tidak punya rumah dan memilih menetap di sini! Apa kalian sudah lebih dari dekat! Berpacaran! Liana apa daddy sudah tahu tentang pria ini!.”Ucapnya dengan menunjuk Jensen dengan jari telunjuknya, aku benar bukan ia kembali menjadi cerewet melebihi seorang wanita paruh baya. Aku hanya menggelengkan kepalaku, Jensen pun tak mau berkomentar karena kulihat Jensen tetap santai tidak menanggapi ocehan yang James keluarkan, entah dia malas berdebat atau memang tak suka menanggapi tingkah kekanakan James, aku saja malas menanggapinya kadang-kadang ia membuatku jengkel karena sikapnya yang kelewat berlebihan. “Kenapa harus peduli pada tetangga!.”Ucap Jensen dengan santai harusnya tidak usah di respon pikirku menatap Jensen dan Jensen juga sedang menatap ke arahku aku menggelengkan kepalaku memberikan tanda isyarat padanya agar ia diam saja karena kalau ia terus meladeni James akan semakin panjang dan kami akan terlambat ke kantor. “Kalau kau tidak peduli pada tetangamu maka kusarankan tinggal saja di kutub selatan, aku pastikan di sana tidak ada yang peduli terhadapmu. Ini kota padat penduduk bagaimana bisa kau bilang tidak peduli dan jika terjadi apa-apa padamu jangan meminta tolong pada tetanggamu, minta saja pada keluargamu.”Ucap James dengan kesal. “Sudahlah mana sarapannya aku lapar.”Ucap Devian dengan malas. “Dan kau! kau itu temanku harusnya kau mendukungku, kenapa kau jadi menyebalkan juga sama seperti nya .”Ucap James menatap Devian kesal. Aku menaruh sarapan mereka masing-masing di hadapannya. ”Hei bung tak ada teman dan tak ada tetangga sekarang, karena saat ini aku lapar dan ingin sarapan, dan kau berhentilah mengoceh seperti wanita paruh baya telingaku sakit sekali mendengarnya.”gerutu Devian. James beralih menatap Devian dengan tatapan buas seolah akan menelannya hidup-hidup. “Ayo sarapan kalian akan telat nanti dan kau pria seperti nenek tua yang suka ngomel-ngomel, jangan berisik dan berbicara panjang lebar atau dilarang sarapan.”gerutuku yang membuat James menatapku sengit, mungkin ia semakin kesal padaku sekarang. Setelah selesai sarapan James dan Devian pergi menuju kantornya sedangkan aku dan Jensen juga bersiap berangkat menuju kantor. Jensen mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang dan tak lama kami sampai, aku memutuskan untuk keluar lebih dulu agar tidak ada yang curiga dan tak lama Jensen pun mengikutiku dengan jarak yang lumayan jauh karena beberapa kali aku selalu memperingatinya agar menjaga jarak karena aku tak ingin memdengar gosip gosip tak jelas dari karyawan yang berada di kantor ini. Aku memutuskan untuk masuk keruanganku dan berpisah dengan Jensen aku menatapnya sebentar dan ia hanya memberikan senyum miringnya padaku lalu menghilang menuju ruangannya. Aku mulai bergelut dengan pekerjaanku saat sedang sibuk dengan pekerjaanku aku tak sengaja membaca sebuah artikel yang memberitakan tentang penemuan mayat wanita dan seketika membuatku takut dan sedikit penasaran apa vampire sudah semakin banyak di muka bumi ini dan mereka mulai menunjukan tanda-tanda keberadaanya. Aku teringat akan perkataan Jensen padaku bahwa vampire juga memiliki Clan yang berbeda-beda, bagaimana Jensen dan Devian lalu apa perbedaan mereka pikirku apa mereka sama atau berbeda bahkan memikirkannya saja membuat kapalaku sakit, apa aku harus bertanya secara lebih detail pada mereka berdua setidaknya itu lebih baik dari pada aku mencari di buku belum tentu lengkap karena bisa jadi di buku hanya sebagian kisah yang di angkat dari mulut-kemulut karena sang penulis cerita belum menyaksikan kejadian itu sendiri. “Liana.”Panggil seseorang padaku aku menengok kearahnya dan kulihat Gilbert menatapku dan sudah berdiri di depan meja kerjaku. "Kita ada pertemuan dengan Tuan Mark.”Ucap Gilbert padaku aku hanya menganggukan kepalaku, Gilbert pun kembali masuk keruangannya. Aku merutuki ini kenapa aku selalu di hadapkan kepadanya haishhhhh aku harap Jensen tak tahu ini bagaimana kalau ia sampai tau dan apa yang harus kukatakan haish, kepalaku benar benar ingin pecah sekarang aku menangkupkan kepalaku di meja kerjaku. ”Liana .”Panggil seseorang padaku, aku akan mengutuk lagi jika itu penganggu aku mengangkat kepalaku untuk melihat siapa itu dan taraaaaaaaaaaaaaa Mark berada tepat di depan wajahku astagaaaaaaaa dan itu sangat membuatku kaget. “Kau tidak apa-apa, kau sakit?.”Tanyanya padaku. Ya aku sangat sakit jika melihatmu terus-menerus berada di sekitarku ucapku dalam hati, tak mungkin bukan aku mengatakannya secara langsung. “Tidak aku baik-baik saja.”Ucapku pada Mark lalu kembali melanjutkan pekerjaanku yang sempat tertunda. “Kau ingin bertemu Gilbert?.”Tanyaku padanya. Ia masih menatapku lalu tersenyum. “Ya aku sudah ada janji dengannya sekalian makan siang bersama, kau juga harus ikut aku tidak menerima penolakan . ”Ucapnya lalu masuk keruangan Gilbert. Aku melirik jam di tanganku sekarang pukul 11 siang masih ada 1 jam untukku mencari udara segar sekalian ke toilet, akupun bergegas ke toilet yang sudah biasa kupakai dan tak sengaja tatapan ku melihat Jensen sedang berdiri menatap ke bawah dari balkon ruangan dekat toilet. Aku memutuskan untuk masuk ke toilet saat selesai merapihkan penampilanku aku keluar dan melihat ke arah tempat Jensen berdiri tadi tapi ternyata sudah kosong kemana ia pergi cepat sekali pikirku, aku berbalik lalu tiba-tiba ia sudah berada di hadapanku dengan tampang khasnya aku menatapnya kesal kenapa pria-pria ini suka sekali muncul secara tiba-tiba di depanku. “Astagaaaaaa kau mengagetkanku.”Ucapku dengan kesal. Ku lihat ia hanya tersenyum. “Apa kau sedang mencariku nona Megan?.”Tanyanya. Aku masih menatapnya dengan terkejut dan segera mengubah mimik wajahku menjadi senormal mungkin. “Tidak aku baru saja dari toilet .” “Benarkah, baiklah kalau begitu kau ingin makan siang di mana hari ini ?.”Tanyanya, astaga ini yang kutakutkan dari tadi bagaimana kalau ia sampai bertanya dan ternyata ia mengeluarkan pertanyaan terkutuk ini “Gilbert mengajaku makan siang bersama karena ada beberapa project yang harus kita bahas juga.”Ucapku. Ia hanya memandangku lalu menepuk pundakku. “Baiklah sampai bertemu nanti.”Ucapnya lalu pergi, untunglah dia tidak bertanya macam-macam tapi tunggu apa maksud dari perkataannya “Baiklah sampai bertemu nanti.” Ck apa dia juga ingin ikut atau haish membuatku tambah pusing, sudahlah lebih baik aku kembali karena sebentar lagi jam makan siang. Saat aku kembali kulihat Gilbert dan Mark tengah berbincang dekat mejaku, apa ingin keluar sekarang fikirku aku menghampiri mereka dan berdiri dekat dengan mejaku. “Liana sepertinya makan siang harus di batalkan, karena tuan Mark ada urusan mendadak dengan Kolega bisnisnya .”ucap Gilbert padaku, syukurlah aku menatap ke arah Mark yang sedang menatapku juga dengan raut wajah penuh penyesalan, aku hanya tersenyum seolah mengatakan tidak apa-apa. “Maaf tiba-tiba saja aku harus bertemu dengan kolegaku mungkin lain waktu kita bisa pergi makan siang bersama, kalau begitu saya pamit.”Ucapnya . Aku bisa bernafas dengan lega sekarang. Aku makan siang dengan siapa ya fikirku terlintas di benaku untuk menghubungi Devian, karena aku masih merasa penasaran dengan Clan vampire. Ya aku harus mengajaknya makan siang dan memaksanya untuk memberikan semua informasi tentang vampire aku harus, aku mengambil ponselku dari saku mantelku dan menghubungi Devian tapi tidak diangkat. Aku chat saja kalau memang dia sibuk baiklah tak apa. Tak lama ia menelepon ku balik. “Halo Liana kau rindu padaku ?.” Ucapnya di sebrang telepon. “Kau sibuk ?.”Tanyaku tanpa basa-basi. ”Tidak ada apa memangnya?.”Tanyanya padaku. “Aku ingin mengajakmu makan siang bersama kau mau?.” Tanyaku. “Baiklah kirimkan alamatnya.”pintanya, aku pun mengirim alamatnya melalui chat pribadi setelah sambungan terputus. Sudah pas jam makan siang akupun segera bergegas menemui Devian. Saat sampai di restoran tempat aku ingin bertemu Devian, aku sudah melihatnya duduk menungguku akupun menghampiri mejanya. “Kau menunggu lama?.”Tanyaku. “Tidak aku juga baru sampai, aku kira kau sudah datang .”Ucapnya. Kami duduk berhadapan dan tak lama seorang pelayan datang untuk mencatat pesanan. "Aku ingin pasta." Ucap Devian. "Sama kan saja ya ."Ucapku pada pelayan tersebut. Sambil menunggu makanan datang aku mulai menanyakan tentang vampire pada Devian.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN