Keluarga Henni & Hendi

957 Kata
Nina membagikan goodie bag yang berisi snack box, souvenir berupa payung dan gelas yang sudah dipersiapkan untuk peringatan seribu hari kepergian Erick kepada tamu-tamu yang turut hadir dalam ibadah malam ini. Selain saudara-saudara dekat, juga ada beberapa perwakilan dari kantor dan kolega-kolega bisnis dan beberapa teman Erick. "Hai Na, lama ngga ketemu ya." Adalah Hendi, teman baik Erick sejak mereka bertemu di bangku kuliah. Hendi adalah abangnya Henni, teman baik Nina. Keduanya bertemu di rumah sahabat mereka itu sampai akhirnya berpacaran dan menikah. Nina segera menghampiri Ko Hendi, begitu dia memanggilnya bersalaman dan berpelukan sebentar, "Hai Ko, gimana kabarnya?" "Baik, kamu sehat kan?" Nina mengangguk, baru saja ingin bertanya dengan siapa Hendi datang, ternyata kedua orang tua Hendi sudah menghampiri mereka. Segera Nina memeluk keduanya, karena mereka juga sudah mengganggap Nina adalah anak mereka. "Mami Papi... Nina kangen... Maaf ya belum sempat ke rumah lagi." Papi Henni mengelus kepala Nina, dan tersenyum, matanya sedikit berkaca-kaca melihat ke arah Nina, Mami pun sudah mulai menghapus air matanya yang mulai menetes, "Tidak apa-apa, tapi secepatnya kamu harus ajak si kembar main ke rumah kami ya... Papi kangen cucu Papi." "Iya Na, Mami juga kangen, mereka sudah besar sekarang ya... Tadi mereka peluk Mami erat sekali, ya ampun... Rasanya jadi ingat kamu sama Erick jaman masih pacaran." Nina menangis haru, kedua orangtua angkatnya ini masih sangat baik kepadanya. "Makan dulu yuk Pi, Mi, Ko." Akhirnya mereka berempat menuju garasi yang disulap menjadi area makan sementara. Hidangan buffet dari catering sudah disusun dengan baik. Nina mengambil sepiring mie dengan ikan fillet asam manis, sayur capcay dan sedikit daging sapi lada hitam. Kemudian mereka duduk di bangku yang disediakan. Mami Henni banyak bercerita tentang cucunya yang di Australia, anak dari Henni, yang sudah berusia 7 tahun. Mami juga bilang kalau Henni titip salam, dan minta maaf dia tidak bisa hadir. Rencananya dia akan pulang 2 bulan lagi, dan ingin bertemu. Nina tentu menyetujuinya, dan bahkan mengajak mereka untuk menginap di villa Papi Erick. Semua tentu bersemangat. *** Pram baru sampai di rumah Nina saat waktu sudah menunjukkan pukul 20.10 dan Ibadah sudah selesai sedari tadi, walaupun masih ada beberapa orang yang sepertinya keluarga dekat masih berada di ruang tamu rumah itu. Dia memang bilang akan mampir sebentar namun agak malam. Begitu masuk dari teras, dia melihat Marco yang sedang duduk di bangku taman, segera Marco menghampirinya, "Ko Pram, baru datang?" "Iya nih Co, ada meeting dulu tadi, setengah delapan baru selesai. Tadi udah bilang Nina sih kalau datang telat." "Ooohh iya, makan dulu ya Ko. Yuk Nina kayanya masih nemenin Ko Hendi deh di garasi." Marco mengajak Pram ke garasi dan melihat ada Nina, Papi dan Mami masih mengobrol dengan seorang laki-laki dan kedua orangtuanya. "Nah tuh dia, Ci, Ko Pram datang nih. Langsung kesana aja ya Ko, saya mau telepon Myrcia dulu." "Makasih ya Marco." Pram langsung menghampiri Nina, kemudian bersalaman dengan semua orang yang sedang duduk disitu. "Mam, Pi, kenalin ini Pram." "Oh iya... Pacar mu ya?" "Iya Om." Nina hanya tersenyum saja, tidak ingin menjelaskan lebih lanjut. "Ini, Ko Hendi, teman kuliahnya Erick. Adiknya Ko Hendi ini, namanya Henni, teman kuliah aku dulu. Nah aku ketemu Erick pertama kali ya di rumah mereka. Trus waktu lamaran juga, keluarga Erick datang ke rumah Henni ini, sebagai perwakilan keluarga aku. Karena Mama Papa ku sendiri sudah meninggal, dan karena aku deket banget sama Mami Papi Henni, jadi aku diangkat anak oleh mereka." Keduanya bersalaman dan tersenyum saling mengenalkan diri. Pram hanya mengangguk dengar sejarah singkat soal hubungan Nina dengan keluarga ini. "Makan dulu Pram, langsung dari kantor?" "Iya Pi, meeting dulu tadi sampan jam 19.30, langsung kesini begitu selesai." "Ya udah, Na temanin Pram makan dulu sana." Akhirnya Nina berdiri dan mengajak Pram ke area buffet. Nina mengambil piring dan menyendokkan nasi ke piring tersebut, "Segini cukup?" "Cukup. Ini masak sendiri?" "Engga, catering. Aku ada bikin macaroni tuh, kalo kamu mau." "Eh mau dong." Pram hanya mengambil sedikit-sedikit menu yang disediakan, kemudian dia berbalik badan dan ternyata Papi sudah melihatnya segera menepuk kursi di sebelahnya yang masih kosong. "Duduk sini Pram. Nina lagi ke dapur ambil macaroni." Pram segera duduk ditempat yang ditunjuk oleh Papi tadi. "Kerja dimana Pram?" Tanya Hendi yang belum mengenalnya, Hendi seperti sedang menilai pria di hadapannya ini, apakah dia sebaik Erick atau tidak. Sebab dia juga akan merasa sakit hati kalau Nina tidak mendapatkan pria sebaik Erick nantinya. "Pram ini yang punya agency Citra Gemilang itu Hen." Kata Papi membantu Pram menjawab pertanyaan Hendi. Pram hendak menyuapkan makanannya kembali, sebab dia baru merasa lapar saat di perjalanan menuju kesini. "Ooohh.. CG itu punya mu ternyata." "Punya Papa saya sih Ko awalanya, tapi sekarang saya sama Cici yang jalanin. Soalnya Papa udah meninggal juga kan." Papi dan ko Hendi hanya mengangguk-angguk paham. Tak lama Nina keluar dengan membawa pinggan macaroninya yang masih panas, dia dibantu mbak Atun yang membawakan tatakan untuk pinggan tersebut dan sebuah kantong berisikan kotak berwarna coklat. "Permisi, ada yang panas-panas mau lewat..." Semua segera menengok ke arah meja Nina, dan mengerubunginya, "Wah... Wangi banget sih ini beneran..." "Cobain Ko, nih piringnya." Nina mengambil beberapa bagian untuk semuanya. Dia juga membagikan untuk Pram agak besar dari yang lainnya. "Pram, kamu minta Nina bikinin nasi Hainan deh. Itu salah satu masakan Nina yang best, sampai bikin Erick jatuh cinta sama Nina waktu itu." Nina tersenyum mendengar informasi tersebut, Nina tahu, bukan hanya rasanya yang dia rindukan, tapi juga cerita dibaliknya, tentang bagaimana makanan itu mempertemukannya dengan Erick dan membuat mereka berpacaran. Pram menoleh ke arah Nina, kemudian mendapati Nina tersenyum, dia juga penasaran jadinya. Mungkin akhir pekan ini bisa dimanfaatkan untuk makan nasi Hainan buatan pacarnya. Erick saja bisa jatuh cinta gara-gara nasi Hainan, apalagi dia, mungkin rela tidak makan diluar demi menikmati masakan Nina.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN