Pertemuan Tak Diduga (1)

889 Kata
Tiga bulan sudah Nina berpacaran dengan Pram, hari-hari mereka selalu diisi denga bahagia. Maklumlah pasangan baru, terutama Pram, bikin sakit kepala kalau jarang bertemu, padahal memang kadang suka ada maunya. Hari ini adalah hari peringatan kematian Erick yang ke-tiga tahun. Nina rencananya akan mengunjungi makam Erick sendirian. Sebab tanggalnya jatuh di hari biasa, Mami Papi, anak-anak dan keluarga yang lain akan ziarah di hari Sabtu. Tapi nanti malam di rumah akan diadakan ibadah seribu hari. Nina mengendarai mobilnya sendiri ke daerah Karawang, tepatnya menuju ke sebuah komplek pemakaman elite yang dibangun luas di daerah tersebut, di maps, Nina sudah menandai titik tersebut dengan nama "Erick's home." Seperti biasa, Nina membawa sebuah buket mawar putih, dua buah lilin putih, kemudian ada juga 3 cup macaroni dan 2 slice black forest yang sengaja dia bawa untuk 'makan bersama' di makam Erick. Dia segera menyusunnya di dekat nisan. "Hi sayang... It's been 3 years since you were gone. I miss you sayang. Anak-anak, Papi Mami, Marco dan Ko Jansen sehat semuanya." Nina mengeluarkan bunga tabur yang dia beli, kemudian menaburkannya di makam Erick. Buket mawar putih yang dia bawa, dibuka ikatannya dan ditaruhnya di atas pusara suaminya. Kemudian menyusun macaroni dan kue serta air mineral di baki nampan yang dibawanya, kemudian menyalakan lilin. "Aku sekarang sudah punya pacar Rick. Dia baik sama aku, dia sayang juga sama anak-anak. Tapi aku ngga tahu apa Mamanya bisa menerima aku dan anak-anak kita." Nina mulai merasakan bulir air matanya menetes, dia hanya mengusapnya, dan mengeluarkan tissue dari dalam tasnya. Nina hanya terdiam sejenak, dia hanya ingin berbicara soal Pram dalam hatinya kepada Erick. Tak terasa lilin sudah habis, Nina segera membereskan barang-barangnya. Sesaat kemudian dia sampai di mobilnya dan memasukkan bawaannya ke bagian belakang mobil. "Maaf, Nina ya?" Terdengar suara yang agak lumayan familiar di telinganya. Nina segera mengangkat kepalanya, mencari sumber suara tersebut berasal dan ternyata ada Mama Pram berdiri sekitar 5 meter darinya. Ada mobil sedan di belakangnya, kemungkinan besar mobil yang ditumpangi Mama Pram. "Oh iya Tante, apa kabar? Lama ngga ketemu ya Tante." Nina mengajak Mama Pram bersalaman, namun terasa sekali bahwa Mama Pram membuat pertemuan mereka itu sedikit berjarak. "Kabar baik. Iya.. Kamu ngapain kesini? Kamu sendiri?" "Saya sendiri Tante, habis ziarah ke makam suami saya. Disebelah situ." Nina menunjuk ke arah makam Erick yang terlihat dari tempat mereka berdiri karena ada bunga mawar putih disana. "Oh gitu. Ohiya, ada yang perlu saya bicarakan sama kamu. Apa kamu ada waktu sekarang? Ini soal hubungan kamu dengan anak saya." Rasanya lemas lutut Nina, padahal dia belum tahu apa yang ingin Mama Pram bicarakan dengannya. Tapi sepertinya Nina sudah bisa menebak arah pembicaraan mereka nanti. "Sekarang bisa Tante. Saya kosong." "Ya sudah, kita bicara di rest area terdekat arah Jakarta saja ya. Kamu bisa ikuti mobil saya." "Baik Tante." *** Mungkin memang hari ini adalah hari yang tepat untuk Nina menuntaskan rasa penasarannya akan respon dari keluarga Pram atas pertemuan mereka beberapa bulan yang lalu. Kalau keluarga Nina tentu tidak perlu Pram menebak-nebak, bahkan saat acara ulang tahun Papi Myrcia saja, Pram dengan mudahnya berbaur dan berbincang bersama dengan para lelaki yang berkumpul disana. Tapi kali ini berbeda, Nina bukan takut, hanya ada rasa segan dan sungkan saja. Karena setelah acara Mama Pram, mereka belum pernah bertemu lagi. Sekarang, keduanya duduk berhadapan di salah satu kedai kopi yang ada di rest area. Nina memilih Iced Americano dan Mama Pram memilih Hot Latte Cappucino, dan ada sepiring pisang goreng yang Nina pesan, dia pikir barangkali Mama Pram ingin ngemil sejenak. "Saya sudah tahu kalau kamu pernah menikah sebelumnya. Dan kamu juga punya anak dua kan?" Nina hanya mengangguk, menunggu Mama Pram melanjutkan bicaranya, dia merasa belum perlu banyak bicara. "Citra Gemilang, itu didirikan oleh suami saya 40 tahun yang lalu, bahkan sejak Pram belum lahir. Memang Nova dan Pram yang membuat perusahaan menjadi lebih besar dan terkenal seperti sekarang ini." Nina masih sabar menunggu jawabannya, walaupun dia sepertinya bisa menebak arah percakapan ini. "Jadi saya minta kamu sebaiknya menjauhi Pram. Saya tidak suka dia menggunakan uangnya untuk membesarkan anak orang lain. Tidak ada kewajiban Pram untuk mengurus anak yang bukan darah dagingnya sendiri. Kamu harus paham itu. Turunkan gaya hidupmu, hidup semampunya saja, jadi kamu tidak membebani orang lain dengan kebutuhan mu." Nina mengerjapkan matanya, terkejut dengan tuduhan Mama Pram, tapi akhirnya dia sadar bahwa apa yang Mama Pram khawatirkan lebih kurang sama dengan pemikirannya sendiri. Tidak apa-apa, semua orang bebas berpendapat apapun tentangnya. "Begini Tante, sejauh ini, saya merasa belum pernah minta uang ke Pram untuk anak saya, kami kan baru 3 bulan lebih dekatnya. Lalu, soal gaya hidup, saya merasa ini hak saya untuk menentukan. Selama ini saya juga bekerja kok, walaupun saya single mother, tapi saya tidak pernah menyusahkan orang lain soal membesarkan anak kembar saya." "Kamu memang tidak minta kepada Pram, tapi saya tahu, Pram pasti dengan sukarela membiayai kebutuhan kamu dan anak mu. Suami mu mungkin memang banyak uang, makanya dia bisa dimakamkan di Karawang sana. Mungkin uang mu sudah tidak banyak kan?" "Maaf ya Tante, tapi semua yang Tante tuduhkan kepada saya itu tidak benar." "Wanita yang mendekati anak saya, kebanyakan wanita yang materialistis, minta dibelikan barang mewah dan mahal. Dan bodohnya anak saya, menuruti saja kemauan mereka. Mungkin kamu memang tidak minta tas mahal atau mobil, tapi kamu pasti menjual nama anak kamu supaya Pram luluh."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN