Pintu lobi tertutup di belakangnya, meredam suara kota yang masih bergerak di luar. Edward berdiri diam beberapa detik, membiarkan kehangatan gedung menyelimuti tubuhnya. Namun pikirannya masih tertinggal di luar—tepatnya pada kelip lampu merah mobil Daisy yang perlahan menjauh.
Ia tidak menyangka Daisy akan mengantarnya pulang. Sejujurnya, ia tak berharap apa pun darinya setelah mereka turun dari pesawat. Daisy bukan tipe orang yang suka menempel pada orang asing, apalagi pria asing yang secara kebetulan tahu nama aslinya.
Tapi ia berdiri di sana menemaninya ketika ia mendapat kabar dari manajernya, lalu berkata dengan suara pasrah, “Baiklah. Aku antar.”
Dan yang lebih mengejutkan, Edward langsung menerima tawaran itu tanpa pikir panjang.
Lift tiba dengan bunyi lembut. Ia masuk, menekan lantai unitnya, lalu bersandar pada dinding logam dingin. Pantulan wajahnya di cermin lift terlihat lelah sekaligus gelisah—seperti tubuhnya ingin tidur bertahun-tahun, tapi otaknya masih sibuk berputar tanpa henti.
Wajah Daisy muncul di pikirannya, berkali-kali. Cara ia melirik Edward dari kursi pengemudi, hati-hati tapi tidak dingin. Cara alisnya sedikit terangkat saat melihat bangunan officetel—bukan mengejek, tidak juga meremehkan. Hanya… mencoba memahami.
Edward tahu ekspresi itu. Banyak orang menunjukkannya saat mengetahui ia, seorang aktor yang tampil di beberapa drama dan film, tinggal di tempat sederhana seperti itu.
Ia terkekeh kecil, mengusap tengkuknya. “Dia pasti berpikir aku tidak punya uang,” gumamnya.
Ya, itu bukan sepenuhnya salah. Gajinya tidak buruk, tapi setelah potongan agensi, membantu keluarga, dan cicilan yang tak ada habisnya, ia memutuskan tinggal sederhana lebih realistis. Apartemen mewah? Itu untuk bintang besar. Ia belum sampai di sana.
Tapi berbeda dengan orang lain, Daisy tidak langsung mengambil kesimpulan. Tatapannya tidak menghakimi—hanya penasaran.
Lift berbunyi lagi. Edward melangkah keluar dan berjalan menuju unitnya. Ia mengeluarkan kartu akses, tapi sebelum pintu terbuka, ia berhenti.
Ia tidak ingin masuk.
Bukan karena ruangannya kecil atau sunyi. Tapi karena setelah beberapa jam bersama Daisy, keheningan itu terasa… terlalu sunyi.
Ia melangkah mundur, bersandar pada pagar lorong yang menghadap ke kota. Dari lantai atas, lampu-lampu Kota Seoul tampak seperti taburan bintang yang jatuh ke bumi. Cantik, tetapi jauh dan sulit digapai.
“Daisy…” bisiknya tanpa sadar.
Nama itu terasa ringan di lidahnya. Mungkin karena ia tidak memperlakukannya seperti aktor. Mungkin karena ia tidak peduli reputasi atau penampilannya. Mungkin karena ia melihatnya sebagai manusia biasa—bukan sorotan, bukan figur publik.
Dan itu menenangkan.
Ia ingat bagaimana Daisy menyetir tanpa banyak bicara. Bagaimana ia tidak memaksakan percakapan. Bagaimana ia membiarkan keheningan hadir tanpa membuatnya canggung.
Edward menyukai itu. Mungkin terlalu menyukai.
Pikirannya kembali ke pertanyaan yang muncul saat Daisy menyebut mobilnya diparkir di bandara selama sebulan. Siapa yang melakukan itu? Orang sibuk? Orang yang sering bepergian? Atau orang yang, seperti dirinya, menyukai privasi dan kemandirian?
Ponselnya bergetar. Pesan dari manajernya:
“Dia sudah mengantarmu? Sampaikan terima kasih dariku. Aku harus mentraktir dia kopi nanti.”
Edward mengetik balasan: Iya, dia sudah pergi. Jari-jarinya berhenti saat ia hendak menambahkan sesuatu yang terlalu pribadi. Ia hapus dan mengirim versi pendeknya saja.
Ia memasukkan ponsel kembali ke saku.
Malam semakin larut, tetapi pikiran Edward tidak ikut tenang. Ada sesuatu yang mengikat mereka—bukan takdir berlebihan, bukan kebetulan dramatis. Hanya… pertemuan-pertemuan kecil yang tidak pernah benar-benar berakhir.
Pertama di pantai.
Lalu di imigrasi.
Lalu di pesawat.
Di klaim bagasi.
Dan sekarang di depan rumahnya.
Semua kesempatan yang seharusnya selesai begitu saja, tapi tidak pernah benar-benar selesai.
Edward menatap jauh ke gemerlap kota, napasnya keluar pelan.
Ia ingin melihat Daisy lagi.
Dan untuk pertama kalinya, keinginan itu tidak terasa naif atau mustahil.
Lebih seperti awal sesuatu yang belum bisa ia namai.
Belum sekarang.
Tapi segera.