CHAPTER #25
BUNGA TIDUR
Fitria masuk kamar tidur setelah selesai makan malam bersama ayah dan ibunya. Badannya lemas dan penat setelah seharian penuh dengan kegiatan rutinnya.
Setelah membereskan guling dan bantalnya badannya lalu terlentang dan memandang langit-langit kamarnya.
Bayangannya kembali menerawang angan dan cintanya kepada Nicky yang dirasa masih ada hambatan dari ayahnya. Ayahnya masih tetap dengan pendirian untuk tidak bergaul lebih dekat dengan Nicky selama Fitria masih kuliah.
Senyum Santi juga menghantui dirinya yang sudah beberapa kali dia datang kekampusnya untuk menemui Nicky dengan alasan yang aneh-aneh menurut pikirnya.
“Ahh, apa benar kamu akan setia padaku Nick? Aku masih ragu akan kesetiaanmu Nick, karena aku bukan pasangan sepadan tidak seperti Santi. “Bisik hati kecil Fitria mulai mengganggu pikirannya yang membuat dia merasa ragu. “Atau Jeane yang lebih cantik dariku dan lebih dulu mengenalmu?”
Malam ini Fitria betul-betul resah hatinya bahkan sampai mempengaruhi akal sehatnya. Badannya bolak-balik kekiri dan kekanan susah untuk menutupkan matanya dan tidur.
Fitria mengambil teleponnya dan mencoba menghubungi Nicky.
“Hallo! Fit.”
“Hallo Nick, belum tidur?”
“Belum, ada apa Fit? Biasanya aku yang dulu telepon kamu. Sekarang malah keduluan. Ada masalah Fit? Atau kangen kali ya?”
“Ihh apaan sih! Aku nggak sengaja ketekan nomor kamu Nick. Jangan ge-er yah.”
“Loh malah uring-uringan. Jadi kamu telpon hanya buat uring-uringan ya Fit?” Balas Nicky.
“Ya nggaklah Nick Sayang, aku kangen kamu. Tapi justru itulah yang membuat aku tidak bisa tidur nih. Dari tadi bolak-balik terus diranjang. Banyak sekali yang aku pikirin tentang kamu Nick. Mulai dari kebaikan, kaya dan kemungkinan ketidak setiaan kami Sayang.” Ungkap Fitria yang mulai menggeserkan badannya bersender kedinding ranjang.
“Loh kok ada kata ketidaksetiaanku, apa maksudnya ya Fit?”
“Iya itu Nick yang aku sedang pikirkan sekarang ini. Kamu tidak menunjukan tidak setia tapi orang-orang yang datang, maksud aku perempuan yang datang lama kelamaan bisa membuat kamu tidak setia lagi sama aku.”
“Tau darimana kalau aku tidak setia sama kamu, aneh ah kamu ini. Jangan terlalu berfikir negatif tentang aku Fit. Aku memang sangat mencintai kamu dan tidak untuk main-main dengan cinta. Semoga kamu percaya.” Sanggah Nicky. “Sekarang mending kamu tidur saja dan jangan banyak pikiran tentang hubungan kita.”
“Iya Sayang. Aku akan coba ya, dan maafin aku kalau malah mengganggu kamu karena cerita aku.”
“Iya nggak apa-apa Sayang. Aku ngerti kok. Aku pernah juga seperti kamu waktu itu. Tapi syukurnya cepat sadar kalau kamu memang setia.”
“Oke deh Sayang, selamat istirahat ya dan tidur yang nyenyak. Mimpiin aku ya.” Kata Fitria lembut.
“Kayak bunyi lagu saja Fit.” Sahut Nicky tertawa. “Iya nanti mimpiin kamu Fit.”
Bunyi telepon ditutup terdengar oleh Fitria. Nicky menutup teleponnya.
Hati Fitria mulai tenang sekarang ternyata Nicky memang terdengarnya laki-laki setia.
Fitria kembali mencoba memejamkan matanya dan menghilangkan semua bayangan-bayangan yang mengganggu pikirannya.
Tidak terlalu lama sejak memejamkan matanya Fitria sudah terlelap tidur dengan membawa senyuman dan kegelisahannya.
“Fit! Fit! Tunggu. Come on! Jangan gitulah Fit. Dengar dulu penjelasanku.” Nicky setengah berlari mengejar Fitria yang mendadak pergi begitu saja.
Fitria yang saat itu sudah menunggu di parkiran motor merasa jengkel. Karena ternyata lama-lama menunggu Nicky ternyata yang ditunggunya malah bercanda dengan Jeane. Mereka bercanda dan tertawa-tawa di depan ruang kuliah.
Nicky menangkap tangannya Fitria. Tapi ditepis dengan keras oleh Fitria.
“Jangan cemburu gitu dong Sayang.” Ujar Nicky yang sudah tau saat memegang tangannya Fitria. “Aku hanya bercanda dan tidak bermaksud kamu marah Fit.”
“Siapa yang cemburu?” Fitria berhenti berjalan dan berbalik menghadap Nicky. “Kamu pikir kamu bisa seenaknya saja membuat saya jadi mainan ego kamu? Atau karena saya kamu anggap pacar? Nggak Nick! Kamu nggak bisa begitu sama saya.” Kelihatan mukanya Fitria memerah karena memang benar-benar marah pada Nicky.
“Kamu bisa saja begitu sama orang lain. Tapi tidak kepada saya. Sekarang lebih baik kita introspeksi dulu deh ya.” Fitria bicara kelihatannya sungguh-sungguh. Fitria membalikan badannya dan terus berjalan keluar kampus.
Nicky terkejut dengan sikap Fitria yang tiba-tiba itu. Dia segera mengejar Fitria.
“Tunggu Fit. Ada apa dengan kamu Sayang? Kalau saya salah, saya minta maaf Fit.” Ujar Nicky yang berjalan disamping Fitria.
Fitria tidak menjawab malah semakin mempercepat jalannya dan langsung naik angkutan umum yang kebetulan lewat.
Nicky terdiam dan bengong melihat Fitria.
“Kamu nggak apa-apa bro?” Tiba-tiba Andre sudah berdiri disebelah Nicky.
“Nggak tau gua Dre. Tiba-tiba saja Fitria marah ama gua. Padahal tadi gua hanya bercanda saja dengan Jeane didepan ruang kuliah.” Balas Nicky.
“Nggak mungkin hanya itu saja kali Nick. Gua pasti ada hal lain yang bikin dia marah. Gua tau Fitria sifatnya. Dia tidak akan marah kalau tidak tersinggung banget. Coba pikirin lagi.” Tanya Andre.
“Apaan ya? Seingat gua nggak ada yang aneh Dre. Tapi apa mungkin hanya karena gua nyuruh duluan dan tunggu gua datang?” Jelas Nicky.
“Ya iyalah Nick. Dia lu suruh nunggu. Yang ditunggu malah ngobrol sama Jeane. Kamu tau siapa Jeane buat Fitria?” Sungut Andre. “Halah bro itu sih bikin masalah namanya.”
Nicky baru tersadar mendengar ucapan Andre dan menepuk keningnya sendiri.
“Yahhh, bodo banget gua ya Dre.”
“Nggak bodo Nick, hanya ngaco dikit!” Kata Andre sambil berjalan menuju parkiran motor. “Yuk ah Nick.”
Nicky seperti kerbau dicocok hidungnya dia mengikuti Andre berjalan juga ketempat parkiran motor.
Tanpa banyak bicara lagi Nicky menaiki motornya kerumah.
Disepanjang jalan Nicky tidak bisa melupakan wajahnya Fitria yang baru kali itu dia melihatnya marah. Pada saat memegang tangan Fitria memang Nicky melihat dalam benaknya Fitria merasa dipermainkan. Sekilas dia melihat Fitria menendang roda motornya saat melihat Nicky bercanda dengan Jeane.
“Oh, jadi itu mungkin penyebabnya kenapa Fitria marah.” Bisik hatinya Nicky. “Maafin gua Fit.”
Nicky memacu motornya agar cepat sampai kerumah dan istirahat di kamarnya.
Dibelokan jalan menuju rumah sebuah mobil sport tiba-tiba memotong jalan Nicky dengan cepat dan hampir saja menyenggol motornya. Nicky kaget dan mengerem motornya.
“Awas Nick!” Fitria tiba-tiba berteriak dan terbangun.
“Aduhh, syukurlah hanya mimpi. Semoga tidak ada apa-apa pada Nicky.” gumam Fitria sambil bangun dan berjalan menuju meja tempat minumnya.
Fitria mengambil gelasnya dan meminumnya kemudia duduk dikursi belajarnya. Dia melihat jam dinding dikamarnya ternyat baru jam 3 pagi.
Ada ketukan di pintu kamarnya.
“Fit! Fitria! Kamu nggak apa-apa nak?” Suara ibunya memanggil-manggil di luar kamarnya.
“Tidak ada apa-apa Ma! Fitria hanya mimpi saja.” Jawab Fitria menuju pintu kamar dan membukanya. Tampak ibunya berdiri didepan pintunya.
“Barusan Mama dengar kamu teriak dan memanggil nama Nicky. Mimpi apa Fit?” Tanya ibunya.
“Mimpi jelek Ma. Ada mobil yang mau nyerempet Nicky lagi. Refleks aku teriak begitu. Untungnya dalam mimpi.”
“Makanya kalau mau tidur itu berdoa dulu Fit. Biar terlindungi dari segala macam niat jahat orang dan setan sekalipun.” Balas ibunya Fitriaa memegang pundak anaknya. “Sudah, jangan banyak pikiran ya. Sekarang kamu tidur lagi aja ya Fit.”
Ibunya Fitria membalikan badannya dan berjalan keluar kamar Fitria serta menutup pintunya.
Fitria kembali menarik nafasnya dan naik ketempat tidurnya untuk mencoba tidur lagi.
Paginya Fitria bangun dari tidurnya. Badannya terasa lemas karena tidak bisa tidur lagi setelah terbangun karena mimpinya.
Nicky sudah rapih untuk kuliah ketika keluar dari kamarnya. Lalu dia menuju tempat makan buat sarapan. Di meja makan tampaknya sudah ada ayah dan ibunya yang sudah mulai makan sarapan.
“Selamat pagi Pah, Mah.” Sapa Nicky yang terus menarik kursi makan didepan ayahnya. “Mana Amel Mah?” Tanya Nicky kepada ibunya.
“Kayaknya belum bangun deh Nick. Semalam dia pulang agak larut. Katanya ada acara di rumah temannya.” Kata ibunya.
“Ohh, pantesan belum bangun.” Sahut Nicky. “Tapi kayaknya dia makan mie instant dulu deh bareng teman perempuannya. Sekarang mereka berdua masih dikamarnya Amel.”
Ayah dan ibunya diam saja dan hanya tersenyum saja, mereka tidak menjawabnya. Mereka sudah maklum kalau Nicky bicara pasti keterangannya akurat.
Tidak 10 menit Nicky sarapan bersama ayah dan ibunya. Dia sudah pamitan mau berangkat kuliah.
Sebelum jalan keluar Nicky menoleh kepada ayahnya.
“Pah! Boleh nggak Nicky minta uang? Berapa saja yang penting untuk keperluan mendadak.” Kata Nicky tersenyum penuh arti.
“Iya Nick. Nanti Papah transfer ke rekening kamu yah.” Balas ayahnya menganggukan kepalanya.
“Iya Pah. Makasih ya Pah.” Nicky meraih tangan ayahnya dan menciumnya. Kemudian berputar menuju ibunya melakukan hal yang sama.
“Hati-hati Nick. Jangan ngebut ya! Pakai si Jagur kamu?” Tanya ibunya.
“Nggak Mah. Aku mau pakai yang biasa aku pakai saja. Soalnya sekalian mau jemput Fitria dan mengantarnya pas pulang kuliah ke toko makanan. Ada saudaranya kata dia.” Balas Nicky.
“Ohh. Iya Nick. Ajak dong Fitria ke sini. Mamah pengen ngobrol.”
“Iya Mah. Nanti kalau ada waktu. Soalnya lagi ada kegiatan tambahan di kampus. Nicky sampein nanti ke Fitria.”
Ibunya mengangguk. “Oke Nick.”
Nicky berjalan keluar rumah mau menuju garasi mobil. Namun tidak jadi karena ternyata mobilnya sudah ada didepan halamannya.
“Weyy, rajin amat nih pak Amir.” Kata Nicky menepuk pundak pak Amir. “Makasih pak.”
“Iya mas Nick. Hati-hati ya mas.” Sahut pa Amir. “Oh iya, bensinnya tinggal sedikit. Jangan lupa diisi nanti mas Nick.”
“Sip! Nanti saya isi di jalan.” Balas Nicky yang sudah masuk kedalam mobilnya.
Nicky menjalankan mobilnya dan keluar dari pekarangan rumahnya.
Belum lagi masuk jalan raya dari arah kiri mobil Nicky sudah ada mobil yang mau mencoba menyusulnya. Mobil itu membunyikan klaksonnya berulang-ulang. Mungkin maksudnya menyuruh Nicky berhenti.
Nicky melihat dari kaca spion mobilnya. Ada mobil berwarna metalik dibelakang mobilnya. Kelihatan tangan pengemudinya melambaikan tangannya.
“Siapa lagi nih orang.” Bisik hati Nicky.
Nicky membawa mobilnya kepinggiran jalan dan berhenti disebelah trotoar jalan.
Mobil yang mengikutinya dari belakangpun ikut minggir dan berhenti.
Pintu pengemudinya terbuka dan keluarlah Santi langsung menghampiri mobil Nicky.
Tanpa membuka pintu Nicky diam didalam mobilnya dan hanya jendela pengemudinya saja yang dia buka.
“Hey Nick! Sorry ganggu sebentar yah.” Kata Santi yang berdiri disebelah mobil Nicky. Semerbak bau wangi menerpa hidung Nicky.
“Iya nggak apa-apa San. Ada apa ya?” Tanya Nicky.
“Sebenarnya saya mau minta tolong kamu bisa ngantarin aku nanti siang ke Puncak. Ada acara ulang tahun sahabat aku disana. Bisa kan Nick?”
“Waduhh, maaf San. Kayaknya aku nggak bisa deh. Aku sama Fitria mau jalan ke toko makanan. Ada yang mau dibeli buat saudaranya Fitria yang datang dan menginap di rumahnya Fitria.” Sahut Nicky. Tangannya memegang pintu mobilnya.
Tiba-tiba saja Santi langsung memegang tangannya Nicky sambil merajuk untuk minta diantar oleh Nicky. “Please mau ya Nick?” Katanya.
Karuan saja Nicky jadi blingsatan dan kaget melihat kelakuan Santi. Nicky berusaha untuk melepaskan tangannya dengan sopan.
“Aduhh! Maaf San. Beneran deh saya nggak bisa. Saya harus mengantar Fitria.”
“Yah kamu Nick. Sekali ini saja. Kenapa sih kamu selalu menolak kalau aku minta tolong? Takut Fitria marah ya?”
“Maaf San. Aku harus berangkat sekarang soalnya sudah ditunggu di kampus. Maaf ya San.” Kata Nicky menutup kaca jendela mobilnya dan langsung menjalankan mobilnya.
Santi tidak bisa berbuat apa-apa lagi hanya bengong saja melihat mobilnya Nicky melaju menuju jalan raya Simpruk.
Nicky sebenarnya tau saat tangannya dipegang Santi. Yang ada dibenaknya Santi tidak akan ke Puncak tapi akan membawanya ke cafe tempatnya biasa nongkrong diblok M. Entaah apa maksudnya akan membawa kesana. Itu yang menjadi dasar Nicky menolaknya.
Telepon Nicky berdering. Kemudian Nicky menyembungkannya ke penerima telepon di mobilnya.
“Hallo!”
“Hallo Nick! Dimana Sayang? Kamu bawa mobil ya?” Sahut Fitria di telepon.
“Iya Fit. Aku masih di jalan tol. Paling 20 menit lagi juga sampai di kampus kalau nggak macet. Ada apa Fit?”
“Nggak ada apa-apa. Hanya ngingetin saja. Jangan ngebut-ngebut ya Nick”
“Iya Fit. Ini juga pelan kok. Makanya aku agak telat. Banyak halangan tadi.”
“Halangan? Halangan apa sih Nick? Cewek ya?”
“Kok kamu tau sih Fit. Hebat deh! Itu Santi tiba-tiba klaksonin aku buat minggirin mobil. Tau nggak apa yang dia mau? Hanya ingin diantar ke puncak katanya.”
“Tuh kan. Baru aku cerita semalam tentang takutnya kamu tidak setia. Sekarang sudah ada buktinya yang mau ganggu.” Kata Fitria.
“Nggaklah Fit. Aku tolak kok. Ehh sudahan dulu ya takut nggak konsen aku nyetir mobil.” Kata Nicky.
“Iya Nick. Hati-hati dijalan ya.”
Telepon ditutup oleh Nicky.
Hampir tepat 22 menit Nicky sudah sampai di kampusnya dan memarkirkan mobilnya.
Setelah mengunci mobilnya Nicky langsung menuju ke ruangan kuliahnya yang akan dimulai karena memang dosennya sudah hadir diruangan.
Nicky celingukan mencari kursi kosong. Dan hanya satu yang kosong adanya dipaling belakang.
Sebelum duduk Nicky melihat dulu Fitria yang duduk kedua dari depan disebelah kirinya. Nicky melambaikan tangannya. Fitria juga.
Fitria memberi isyarat dengan matanya yang mengerling kearah Nicky.
Tampak disebelah kursi yang kosong ternyata ada Jeane yang sudah duduk.
Nicky mengerti isyarat mata Fitria. Dia tersenyum dan mengangguk kepada Fitria.
“Hey Jeane!” Sapa Nicky menganggukan kepalanya.
“Hey Nick!” Balas Jeane. “Telat ya?”
“Iya Jean. Ada halangan yang memaksa terlambat.” Kata Nicky yang sudah mulai mengeluarkan buku dan diktat kuliahnya.
Jeane tersenyum melihat Nicky. “Makanya hati-hati Nick. Itulah salah satu kesulitannya jadi orang ganteng dan kaya.”
Entah apa maksud Jeane tapi Nicky pura-pura tidak mendengarnya.