*7. Menghapus Jarak.

1554 Kata
Part 7. Menghapus Jarak. === Langit berwarna jingga perlahan menjadi petang. Senja sebentar lagi akan berganti dengan gelapnya malam. Seseorang tak peduli dengan waktu. Merasa waktu telah berhenti dalam hidup, karena kehilangan putranya. Terus merasa sedih berlarut-larut, karena tidak mungkin bertemu dengan Satya lagi. Yang ada hari demi hari yang ia lalui, di lewati dengan kehampaan yang memenuhi relung dadanya. Satya, sang putra yang menjadi kebanggaan san selalu dinanti, kini tak tahu ada di mana. “Mama menangis?” tanya Yoga. Pria itu, tengah berdiri di ambang pintu dapur dan mendapati mamanya sedang berdiri di depan jendela. Melihat ke taman belakang dengan pandangan kosong. Sesekali ia terisak dan mengusap airmata yang jatuh menetes di pipi. Pasti sangat berat untuk sang mama. Yoga ingat betul saat Satya pertama kali berangkat berlayar, selama satu bulan mamanya teruas merasa sedih dan menunggu pesan di layar ponselnya. Menunggu Satya mengirim pesan, dan menunggunya pulang. "Hemm!" Yoga berdehem. Kehadiran Yoga membuat Bu Marissa terjaga dari lamunan. Menoleh ke arah Yoga, lalu menggelengkan kepala pelan. “Ada apa?” tanya Bu Marisa. Yoga berjalan mendekat. Mengamati wajah mamanya yang pucat. Kelopak mata pun menghitam. Tanpa antusias dan semangat sama sekali. “Begini Ma, apa perusahaan tempat Satya bekerja sudah memberikan kabar lagi mengenai meninggalnya Satya Ma?” tanya Yoga. Kedua orang tuanya, tidak mungkin mengurus tentang hal itu. “Belum!” jawab sang mama singkat. Ia menunduk untuk menghindari tatapan Yoga yang iba. “Apa pihak perusahaan memberitahu kapan akan memberikan informasi lagi?” selidiknya. Pasalnya mereka hanya sekali datang untuk memberitahu, dan tidak memberikan kabar lanjutan. Begitu yang Yoga tahu. “Mereka tidak bilang apapun, kecuali menyuruh kita untuk menunggu!” sahut Bu Marisa. Menunduk tidak ingin membalas tatapan Yoga. Yoga sangat mirip dengan Satya! Tapi dia bukan Satya! “Oh iya, Mama sudah makan?” tanya Yoga lagi. Ia tadi sudah memeriksa hidangan di meja makan yang masih utuh. “Mama belum makan. Mama tidak enak makan,” jawab Bu Marisa. “Berhenti menyiksa diri mama, mama bisa sakit, kalau mama terus seperti itu!” bujuk Yoga memelankan suaranya. “Mama tidak enak makan. Putra Mama sudah tiada. Bagaimana ini mama tidak sanggup menjalani hidup ini,” keluhnya dan tetes-tetes bening kembali berjatuhan, membasahi pipi dan menetes dari ujung dagunya. “Apa aku tidak ada apa-apanya dimata mama?” tanya Yoga. “Aku tidak marah, tapi tolong ayo kita makan! Mama tetap harus makan,” bujuknya. “Kamu jangan paksa Mama buat makan,” tolaknya menepis tangan Yoga. “Baiklah! Mama benar-benar membuatku merasa sedih. Aku memang tidak sebaik Satya, tapi aku juga anak mama. Seburuk apapun aku ... aku juga anak mama!” ucap Yoga. Sadar diri selama ini Satya yang lebih dekat, lebih peduli, lebih penurut sehingga lebih di sayang orang tuanya. “Bukan begitu Yoga. Tolong pahami mama ... mama hanya merasa kehilangan Satya,” jelas Bu Marisa. Menatap ke arah sang putra dengan sorot mata penuh kepedihan. “Tolong paham Yoga juga Ma! Yoga hanya ingin mama tetap baik-baik saja dan jangan sampai sakit,” tegas sang putra. Hening. Bu Marisa tidak berani membalas ucapan Yoga. “Kita tunggu sampai seminggu atau dua minggu, jika tidak ada kabar maka aku akan mencari tahu ke PT Samudra global untuk mencari informasi mengenai Satya,” jelas Yoga. Perlu memastikan dan mendapat informasi yang aktual mengenai kematian kembarannya. Terdengar isakan yang semakin sering. Tangan Yoga terulur, mengusap air mata yang membanjiri pipi sang mama. ==❤== Jam menunjukkan pukul 19.30 WIB. Calista tengah duduk bersandar di atas tempat tidur. Sembari mengamati layar ponsel. Membaca artikel mengenai kehamilan dan buah hati. “Mas belum mau tidur?” tanya Calista melihat Yoga yang hanya duduk diam di sebelahnya. Tanpa melakukan apapun. “Belum Istriku sayang, aku keluar dulu ya! Aku ingin bicara sama papa,” izin Yoga. Siapa yang akan memperbaiki hubungan yang dingin itu jika bukan dirinya. “Iya Mas, aku di sini saja!” jawab Calista. Akhirnya tahu, alasan di balik diamnya sang suami. Pria itu, ingin bicara dengan papanya. Yoga lantas beranjak dari duduknya dan keluar untuk menemui sang apa. Dia bergerak ke ruang tengah, tetapi beliau tidak ada di sana. Kemudian, ia mencari sang papa ke kamarnya. Tok. Tok. Tok. “Papa,” panggil Yoga seraya mengetuk pintu pelan. Tak berselang lama pintu pun terbuka. Bu Marisa berdiri di hadapannya. “Ada apa, Yoga?” tanya Bu Marisa yang saat ini tampak lebih bertenaga dari sebelumnya. “Papa di mana Ma?” Yoga merasa lega, tadi mamanya sudah mau makan. “Mungkin Papa sedang duduk di teras atau kalau tidak kamu bisa mencari nya di taman belakang,” sahut Marisa. “Baiklah.” Yoga bergerak ke taman belakang. Namun, sang Papa tidak ada di sana, lalu ia mendapati sang papa sedang duduk di teras depan. Tanpa berkata-kata Yoga bergerak, lantas duduk di samping sang papa. “Kapan papa pulang?” tanya Yoga mengawali pembicaraan padahal sebenarnya ia tahu jika sang Papa sudah pulang sejak pukul 19.00 WIB. “Sudah sejak tadi,” jawab Pak Seno singkat. Nada suaranya sudah lebih lembut dan hangat. “Bagaimana kerjaan di toko Pa?” tanya Yoga lagi. “Alhamdulillah baik dan lancar, banyak pengunjung juga. Kamu kapan ke sini?” Pak Seno balik bertanya. Kali ini ia melihat Yoga yang duduk di sebelahnya dengan saksama. Rambutnya pendek, hitam, dan tidak ada lagi aksesoris aneh yang dikenakannya. Benar-benar mirip dengan Satya. “Sejak pagi, Pa,” jawabnya. Pak Seno tertegun cukup lama. “Kau baik-baik saja kan?” tanya sang papa. “Aku baik-baik saja, bagaimana dengan papa?” Yoga mendapati sang papa yang tengah memperhatikannya. “Ya papa akan berusaha baik-baik saja, karena kalau Papa tidak baik-baik saja mamamu pasti akan lebih menderita dari ini,” sahut sang papa. Menelan ludah menunjukkan ketegaran hatinya. “Iya Pa. Terima kasih ya, Pa!” ungkapnya. “Papa yang makasih Yoga, makasih setelah semua yang terjadi, kamu masih mau membantu papa!” ujarnya melirih. “Bukankah itu kewajiban Yoga, Pa!” Yoga tersenyum ke arah sang papa. Menghapus jarak yang memisahkan mereka selama ini. Merobohkan dinding kuat yang menjulang di antara mereka. “Yoga,” sebut Pak Seno. “Iya Pa,” sahut sang putra. “Papa mau minta bantuanmu sejenak, untuk mengesampingkan kehidupanmu yang sesungguhnya, berpura-puralah menjadi Satya sampai bayi dalam kandungan Calista lahir ya,” pinta Pak Seno dengan sepenuh hati. “Iya Pa, aku akan melakukannya, aku melakukannya untuk diriku sendiri, Pa. Untuk Satya juga!” sahut Yoga. “Kalau begitu papa mempercayakan semuanya padamu,” ungkap Pak Seno. “Oh ya, mengenai kekasihmu itu, papa akan merestuinya. Papa tidak akan lagi menghalangi kalian untuk menikah, tapi kamu bisa melakukannya setelah sandiwara ini berakhir kamu mau kan Yoga?” tawar sang papa. Menyadari apa yang ia lakukan selama ini adalah kesalahan. “Ya Pa aku mau!” sahutnya seraya menyunggingkan senyum. Selama ini memang sang papa tidak pernah memberi restu tentang semua yang ada di hidup, pekerjaan, hingga wanita yang disukainya. Sang papa selalu saja bertolak belakang dengan Yoga. Berbeda dengan sang mama yang lebih terbuka dan mau menerima pilihan Yoga. Pak Seno dan Yoga terus berbincang, tak terasa hingga larut malam. “Ayo tidur!” ajak Pak Seno yang sudah menguap beberapa kali. “Iya Pa.” Keduanya sama-sama beranjak dari duduk dan bergerak menuju kamar masing-masing. Yoga berdiri di depan pintu. Iya bersiap untuk membuka pintu namun tetap berhati-hati karena tidak ingin Calista terjaga dengan pelan Iya memutar handle pintu lalu mendorongnya nya setelah itu ia kembali menutup pintu dengan lebih Kemudian ia melangkah berjinjit bergerak menuju tempat tidur masih sangat berhati-hati.Yoga naik ke atas ranjang lantas,.merangkak untuk berbaring di sebelah Calista. Baru kemudian ia bisa bernafas dengan lega karena berhasil merebahkan tubuhnya tanpa membangunkan Calista yang tengah tidur. Tangan Yoga terulur untuk menyalakan lampu tidur di sebelahnya. Baru kemudian ia menarik selimut dan bersiap untuk tidur. Mas Pannggil Calista yang ternyata belum tidur. “I ... ya ...,” jawab Yoga. Ia yang semula merasa lega dan ingin segera tidur. Kembali memaksa dirinya untuk terjaga. “Usap-usap Mas!” pinta Calista. “Usap-usap apa?” tanya Yoga tidak paham. “Nyalakan lampunya di atas nakas, ada minyak zaitun. Tolong bawa ke sini!” pinta Calista. Iya merebahkan tubuhnya miring menghadap ke arah sang suami. “Iya,” jawab Yoga. Selanjutnya, Yoga beranjak dari tempat tidur dan menyalakan lampu. Memaksa kedua matanya untuk tetap membuka. Tangan kanannya mengambil minyak zaitun, lalu duduk di samping sang istri yang tengah berbaring. Calista mengambil minyak zaitun dari tangan sang suami. Kemudian, menuangnya di telapak tangan dan mengusap-usap. Lantas mengaplikasikannya secara rata-rata di permukaan kulit perutnya yang membuncit. “Usap-usap di sini Mas,” jelas Calista memberikan pengertian, tangan kanannya mengusap perut bagian bawah yang terasa gatal. Sejujurnya Yoga menolak. Yoga mulai mengusap-usap perut Calista seraya memejamkan mata. Sudah sangat mengantuk. “Jangan keras-keras Mas, kulitku bisa terluka kalau Mas Satya menggaruknya seperti itu!” omel Calista. “Iya.” Kini Yoga mengusap dengan sangat pelan. Tepat di perut bagian bawah. “Lebih keras lagi!” “Lebih keras lagi! Calista terus saja bawel. Yang ia tahu, ia rindu dan ingin bermanja dengan sang suami. “Jangan bawel!” gerutu Yoga yang sudah hampir terlelap. “Apa bawel?” Calista emosi, tetapi ia menahan diri. “Awas saja kamu Mas!” ancamnya. Kedua jemari tangannya terkepal erat. To be Continue.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN