*3. Kami Berbeda

1080 Kata
Part.3. Kami Berbeda. Abiyoga mematut di depan cermin. Ada foto Abisatya di tangan kanannya. Apa yang ia lihat di dalam cermin, bukan dirinya. Namun, sudah mirip dengan kembarannya. Rambut gondrong yang semalam masih ia ikat ke belakang. Kini sudah berubah, pendek dengan potongan rapi khas TNI. Begitulah model rambut Abisatya. Warnanya pun hitam. Cat pirang yang baru saja di aplikasikan beberapa hari yang lalu terpaksa ia ikhlaskan. Gelang di tangan, kalung di leher juga ia tanggalkan. Tidak ada lagi aksesoris yang menempel di bagian tubuhnya kecuali jam tangan Rolex milik Abisatya. “Kamu sudah mirip dengan kakakmu, Yoga!” ucap sang Mama. Wanita paruh baya itu mendekat. Ia berusaha tegar dan menepis semua kegalauan hatinya. Cukup! Kehilangan putra yang disayangi memang sedih. Namun, hidup terus berjalan dan harus tegar demi Calista dan calon cucunya. Semoga bisa lahir dengan selamat. “Sampai kapan aku harus berpura-pura menjadi Satya, Ma?” tanya Yoga. Tidak mungkin ia diam saja tanpa mendapat kepastian berapa lama harus berpura-pura, bersandiwara! “Sampai bayi dalam kandungan Calista lahir!” jawab sang mama yakin. “Berapa lama lagi?” desak Yoga, harus mendapat kepastian. “Dua bulan sampai tiga bulan!” sahut mamanya. “Baiklah Ma, aku akan melakukan semuanya sampai anak Satya lahir. Setelah itu, aku mohon Mama dan Papa yang memberitahu Calista, aku yakin ini tidak mudah baginya!” tutur Yoga. Menjadi Abisatya atau bertukar posisi, belum pernah ia melakukannya sama sekali. Bahkan papanya, berpesan agar jangan melakukan hal itu. “Iya, mama dan papa yang akan bertanggung jawab. Kamu cukup berpura-pura menjadi Satya sampai anak itu lahir! Sekitar dua bulan dan tidak lebih dari tiga bulan!” jelas Bu Marisa. Abiyoga mengangguk. Bu Marisa menuntun tangan Yoga mereka berdua sama-sama duduk di tepi ranjang dengan posisi berhadapan. “Yoga,” panggil Bu Marisa. Air matanya kembali merebak. Kembali mengingat Abisatya. Mereka berdua sangat mirip, karena memang kembar identik. “Iya, Ma!” sahut Abiyoga. Mengusap bulir-bulir air mata yang membasahi pipi sang mama. “Maafkan papamu ya Nak, maaf karena tidak pernah mencarimu!” ucap sang mama mewakili suaminya. “Iya Ma, tak apa. Wajar Papa kecewa denganku!” tutur pria itu. Menyadari bahwa dirinya memang tidak bisa seperti Abisatya. “Terima kasih Nak!” sahut Bu Marisa. Meraih Yoga dalam pelukannya. Lama dan dalam. Ada rasa sedih karena Abisatya telah tiada, ada rasa lega yang berpadu dalam hatinya. Ponsel Bu Marisa berdengung. Ia mengurai pelukan. Ada panggilan telefon dari Calista. “Siapa Ma?” tanya Abiyoga. “Calista,” sahutnya. Bu Marisa menerima panggilan telefon dari istri Abisatya itu. Panggilan terhubung. “Halo,” sapa Bu Marisa. “Mas Satya lagi apa, Ma? Kapan ke rumah sakit? Kapan jemput aku?” cerocos wanita itu tidak sabar. “Setelah makan siang kita akan ke rumah sakit untuk menjemputmu, Calista!” sahut Bu Marisa. “Baik Ma, Calista akan bersiap, Calista sudah tidak sabar. Oh ya kenapa nomor Mas Satya belum aktif juga, aku jadi sering telefon Mama?” tanya Calista keheranan. “Mungkin baterainya habis!” dalih Bu Marisa. “Oh baiklah Ma,” jawab Calista. “Iya, sudah dulu ya Nak, kami mau makan siang dan menjemputmu di rumah sakit!” sahut Bu Marisa. “Iya.” Panggilan telefon berakhir. “Ayo kita turun!” ajak sang Mama. “Iya Ma,” sahut Abiyoga menurut. Ia mengekor mengikuti langkah mamanya. ===❤=== Bu Marisa sudah melarang Bu Sofi agar Calista beristirahat. Tidak membuka sosial media juga menonton televisi. Kabar mengenai kapal yang ditumpangi Abisatya yang tenggelam memang bukan berita yang menghebohkan di Indonesia. Itu merupakan kapal asing dan terjadi di negara asing, sehingga tidak tercium di media Indonesia. Bu Marisa, Pak Seno, dan Abisatya sedang dalam perjalanan menuju rumah sakit. Bu Marisa duduk di samping sang pengemudi. Membiarkan suami dan putranya duduk bersebelahan di kursi belakang. Tampak mereka berdua masih diam saja. Abiyoga tidak ingin bicara terlebih dahulu karena merasa sudah menolong dengan berpura-pura menjadi Abisatya, sementara sang papa ia merasa menjadi orang tua yang tak pernah salah. “Ehem,” gumam Bu Marisa. Memecah keheningan. Perang dingin antara suami dan putranya masih berlangsung. Entah sampai kapan akan berakhir. “Yoga,” panggil Pak Seno. Mengalahkan egonya menyapa sang putra lebih dahulu. “Iya, Pa,” sahut Abiyoga. Ia yang semula melihat keluar jendela beralih, menoleh ke arah papanya yang duduk di sebelahnya. “Kamu tahu kan apa yang harus kamu lakukan?” tanya Pak Seno. Pria paruh baya itu membalas tatapan putranya. Abiyoga mengangguk pelan. “Papa minta tolong, lakukan semuanya sampai cucu papa lahir, setelah itu kamu bisa kembali menjalani hidupmu dan papa tidak akan melarang apa pun yang akan kamu lakukan!” jelas Pak Seno. “Iya Pa,” jawab Abiyoga. “Terima kasih banyak Yoga,” ucap pria paruh baya itu. Menatap manik coklat putranya. “Sama-sama, Pa,” balas Abiyoga. Abiyoga kembali melihat keluar kaca. Hujan turun tiba-tiba. Ada ruang hampa di dalam hatinya. Sedih, masih belum percaya Abisatya telah tiada. Namun, dia harus tegar dan tetap bersandiwara. Setidaknya hingga, anak saudara kembarnya itu lahir. Tibalah mereka di rumah sakit. Si sopir menepikan mobilnya menuju area parkir bawah tanah. Mereka semua keluar dari mobil, lalu berjalan menuju lift. Pintu lift terbuka. Bu Marisa, Pak Seno, dan Abiyoga masuk sementara si sopir memilih menunggu di lobby rumah sakit. Abiyoga menekan tombol nomor empat. Alat transportasi dalam gedung rumah sakit itu membawa ketiga orang tersebut ke lantai empat bangunan rumah sakit. Di mama Calista di rawat. Pintu lift terbuka. “Kamu sudah siap?” tanya Bu Marisa. Ia meraih tangan Abiyoga. “Aku sudah siap, Ma,” sahutnya. Mereka bertiga keluar dari lift lalu berjalan menuju ruang perawatan Calista. Sampai di depan pintu. “Mama dan Papa percaya padamu!” lirih Pak Seno di indra pendengar putranya. Bu Marisa memutar handle pintu. Ia masuk terlebih dahulu. Baru kemudian diikuti suami dan putranya. Calista yang sedari tadi berbaring, beranjak. Ia duduk dan melihat ke arah pintu. Pandangan matanya beradu pandang dengan Abisatya. Ya, Calista mengira pria yang tengah berdiri di ambang pintu adalah suaminya. Pria itu pun membalas tatapan Calista. Mengalahkan rasa bimbang di dalam hatinya. “Kenapa tatapanmu berbeda? Kamu bahkan enggan memelukku!” protes Calista Rosaline. Pada sang suami yang sudah tujuh bulan, berlayar terombang-ambing di lautan, menggeluti pekerjaannya sebagai Chief Officer di sebuah kapal berskala Internasional. “Tidak!” sanggah pria itu. Berjalan pelan, menghampiri wanita yang sedang hamil besar. Mengalahkan rasa canggung, Abiyoga William memeluk Calista, yang merupakan istri dari saudara kembarnya Abisatya William. To be Continue
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN