Part 20

2466 Kata
Gagal lagi dan gagal lagi. Mawar kesal sekali. Ini karena kebodohannya. Karena ia tidak bisa tega melihat pria itu terluka. Padahal harusnya dibiarkan saja. Siapa tau Kris sekarat, lalu harus dibawa ke rumah sakit, dan saat di rumah sakit, Mawar bisa pergi. Malam ini, Mawar harus mencoba cara lain lagi. Apa tadi kata mamanya, dia harus memberi kesempatan pada Kris sebulan ini? Seminggu lebih lama pun Mawar tidak mau. Pasti pria sialan di belakangnya ini sudah mengancam atau melakukan sesuatu pada keluarga Mawar. Setelah beberapa jam, tepatnya jam setengah tiga, Mawar memastikan kelelapan Kris dalam tidurnya. Setelah merasa aman, Mawar melangkah berjinjit, perlahan-lahan, berusaha tidak menimbulkan suara. Dia membuka lemari, mengeluarkan selimut tebal, dan segera keluar kamar. Untung Kris sedang sakit, jadi otak liciknya agak sedikit lemah. Dia lupa memastikan bahwa Mawar tidak akan menemukan kunci kamar. Setelah berhasil keluar kamar, Mawar memantau sekeliling, siapa tau para asisten rumah tangga siaga mengawasinya. Karena aman, dia pun segera turun ke lantai satu, masih dengan mengendap-endap, berjalan ke pintu samping. Di antara pintu rumah, memang pintu samping yang paling aman karena pintu depan sudah pasti akan memancing perhatian satpam, sedang pintu dapur berdekatan dengan kamar para asisten rumah tangga. Dia berhasil! Mawar segera meletakkan selimut dan mengambil tangga. Menempelkannya di pagar. Mengambil kembali selimut, lalu dengan bersusah payah menaiki tangga sambil membawa selimut itu. Pagar mereka tidak terlalu tinggi, tetapi bagian atasnya ditancapkan pecahan botol sebagai pengaman. Mawar meletakkan selimut di atas pagar itu, berdoa semoga ketebalan selimut berhasil menghalangi runcingnya pecahan botol itu untuk mengenai kulitnya. Saat Mawar menaiki pagar dengan susah payah, terdengar bunyi pecahan botol yang retak. Dia meringis karena lututnya terasa perih, terkena goresan, tapi ia lebih khawatir pada bunyi retakan itu. Semoga saja satpam tidak sedang berkeliling dan kalaupun iya, telinga mereka tidak setajam itu. Berhasil menaiki pagar, Mawar menenggak ludah karena melihat sisi tempat ia harus melompat adalah parit kecil dan jalan. Dia harus terjatuh di jalan, bukan parit. Memejamkan mata sejenak untuk berdoa, Mawar memberanikan diri untuk melompat. Melihat sekeliling sejenak, memastikan kalau tidak ada orang yang melihat, takut disangka maling, dan setelah aman dia pun melompat. “Aduh!!!” ringisnya saat tubuhnya menyentuh aspal. Sakit sekali, bahkan rasanya ia ingin menangis. Berusaha berdiri, tapi rasa sakit ditubuhnya membuat ia harus bergerak perlahan-lahan. Tidak pernah disangka, ia harus pergi dari rumah dengan cara yang semiris ini. Tanpa uang, tanpa apa pun, hanya pakaian yang melekat di tubuh. Demi kebebasan, ia harus berani. Berani jalan kaki untuk jarak yang terbilang jauh ke rumah kakaknya – Awan. Angin malam menjelang pagi begitu dingin, bertambah dingin karena pakain Mawar yang minim. Hanya gaun sederhana berlengan pendek dan rok sepaha. Untungnya dia mengenakan celana pendek di dalamnya. Tadinya, tidak terpikir bahwa ia akan menghadapi situasi seperti ini. Terlalu sibuk memikirkan perencanaan yang matang untuk kabur. Tin Tin Tin .... Mawar berjalan lebih ke tepi lagi, merasa mendapat klackson karena menghalangi jalan mobil itu. Suara itu kembali terdengar, membuat kening Mawar berkerut, dan ia pun menoleh ke samping karena kini mobil itu sejajar dengannya. “Hai, Manis. Mau ke mana? Sama Om yuk?” Wajah Mawar merah padam. Dia dianggap wanita bayaran. Sialan! “Saya ... saya bukan p*****r!” ucapnya lantang, lalu berjalan lebih cepat. Karena mobil it uterus mengikuti, Mawar berhenti di sebuah kedai pinggir jalan, hanya berdiri saja sambil berdoa agar mobil itu pergi. Saat si pemilik kedai bertanya, Mawar hanya menjawab sambil lalu, kembali melanjutkan perjalanannya. Bisa saja dia menaiki taksi, tetapi takut karena beberapa kali pernah membaca tentang kasus supir taksi yang memperkosa penumpang. Bahkan saat berjalan kaki pun mata Mawar awas terhadap sekitar, takut ada pemuda kurang kerjaan yang berkeliaran, khilaf, dan melakukan sesutau padanya. Karena lelah, Mawar akhirnya berhenti di sebuah minimarket 24 jam, duduk di kursi terasnya. Sebentar lagi pagi. Akan lebih aman untuknya untuk melanjutkan perjalanan. Rasa kantuk menghampiri, dan untuk mengusirnya, Mawar sengaja membayangkan hal-hal buruk dalam hidupnya, agar rasa marah kembali menguar dan semangatnya kembali membara. Jalanan pun mulai ramai. Mawar bersorak dalam hati. Sebentar lagi, dia sudah berani menghentikan taksi. Mengingat kemungkinan Kris sudah bangun, Mawar pun beranjak dari minimarket itu. Duduk sendirian di teras minimarket tentu saja akan sangat mencolok. Tin tiinnn Mawar mengepalkan tangannya. Merasa kesal karena sudah subuh pun p****************g masih saja berkeliaran. “Saya bu–” Ucapannya terhenti saat sosok yang didapatinya bukanlah pria tua, melainkan seorang pria muda yang tampan. Merasa malu karena rasanya pemuda seperti itu tidak akan menawar wanita di pinggir jalan. Tapi ... Kris dulu juga suka memakai banyak wanita. Kembali Mawar membantah pemikirannya. Kris memang memakai banyak wanita, tetapi bukan jenis wanita yang berkeliaran di pinggir jalan. “Ada apa?” tanya Mawar pada pemuda itu. “Mau ke mana, Mbak? Jalan sendirian?” “Eum ... pulang.” “Kok jalan kaki? Emang rumahnya deket sini? Aku antarin, yuk?” Jangan-jangan dia memang pria yang seperti itu. Bermobil bukan berarti kaya. Tampan bukan berarti dia laku. Maksudnya, memiliki wanita yang dijadikan pelampiasan nafsu. “Aku jalan aja.” Mawar kembali melanjutkan langkahnya. “Hei, jangan takut sama aku. Aku bukan cowok jahat, kok. Cuma kasihan aja ada cewek cantik jalan sendirian subuh begini. Trust me. Kalau kamu takut, kamu bisa duduk di belakang. Anggap aku taksi online yang kamu bayar nantinya.” “Kok kamu ngotot? Kamu sendiri kenapa subuh-subuh ada di jalanan? Habis dari mana atau mau ke mana? Ha?!” Mawar mulai terpancing untuk berargumen. “Baru balik dari rumah ortu. Hayuklah. Aku nggak gigit kok.” “Ya iyalah, memangnya kamu an–” Mawar kembali menghentikan ucapannya. Pria ini bukan Kris yang bisa mentolerir sungutannya. Bisa saja dia akhirnya marah dan melakukan sesuatu. Lagi pula, melayani pria ini sama dengan membuang waktu. “Udah, ya. aku ... udah sampai.” Ia sengaja masuk ke dalam sebuah gang kecil yang tidak memungkinkan pria itu untuk masuk dengan mobilnya. Merasa lega karena akhirnya mobil itu pergi juga. “Ada-ada aja anak jaman sekarang,” ucapnya sambil menggelengkan kepala. Tidak lama kemudian, nasib berpihak padanya. Sebuah taksi berhenti dan menawarkan jasa, yang langsung Mawar sambut dengan anggukan kepala. Sebentar lagi dia akan sampai ke rumah Awan. Setidaknya, itu tempat yang paling aman untuk sementara waktu. Di keluarga Mawar, hanya Awan yang membenci Kris sejak pertama bertemu. Meski cara Awan menunjukkan kebencian tidak separah keluarga Kris yang begitu terang-terangan. Mawar kembali memaki Kris di dalam hatinya. Begitu banyak kekurangan dalam keluarga itu, dan sialnya, dia baru berani mengakui itu sekarang ini. Sebegitu pengecutnyalah Mawar. “Abaaaanggg!!!” teriak Mawar begitu sampai di depan rumah Awan. “Mawar? Astaga Mawar!” Mawar langsung memeluk Awan, merasa aman setelah satu malaman dia dihantui kegelisahan. “Bang Awan, Mawar takut ....” akunya. “Udah ... udah ... kamu aman sekarang.” Mawar mengangguk, membiarkan dirinya memeluk Awan sebentar lagi, lalu akhirnya berkata, “Bang, bayarin taksi. Mawar nggak ada uang sama sekali.” *** Akhirnya, Mawar bisa mendapatkan rasa berani untuk tidur karena telah berada di tempat yang aman. Meski begitu, dia tetap mengunci pintu kamar. Siapa tahu, Kris berhasil melacaknya, dia masih sempat untuk menghindar sejenak atau mungkin kabur lewat jendela. Entah berapa jam ia tidur, yang jelas, saat bangun, matanya terasa lengket dan kepalanya terasa sakit. Saat berjalan, barulah ia sadar, ada yang membuatnya tidak nyaman di bagian kewanitaan. Segera ia ke kamar mandi, dan meringis kesal ternyata periodenya sudah datang. Untuk menyegarkan diri, Mawar akhirnya mandi. Mengenakan pakaian sembarangan yang diambilnya dari lemari. Sepertinya itu pakaian bekas milik si kakak ipar-Friska. “Kamu sudah bangun?” tanya Friska dengan wajah yang terlihat kurang bersahabat di mata Mawar. “Eum ... iya, Kak. Oh, ya, ada pembalut nggak? Aku lagi mens.” Friska mengangguk. Berlalu pergi meninggalkan Mawar lalu kembali dengan sebungkus pembalut di tangan, menyodorkannya pada Mawar. Setelah kembali ke kamar untuk mengamankan tamu bulanannya, Mawar pun ke meja makan. “Kamu belum makan, kan? Makan dulu,” ucap Friska. Mawar mengangguk, merasa tidak nyaman dengan cara Friska berbicara padanya. Bertanya-tanya dalam hati kemungkinan sang kakak ipar tidak suka atas kedatangannya. “Kakak udah makan?” Mawar mencoba berbasa-basi, mencairkan suasana. Friska menggeleng. “Kakak sarapannya tadi jam sepuluh, jadi masih kenyang banget. Kamu makan aja, jangan sungkan. Kakak ke kamar dulu, ya.” Wanita itu pun segera pergi, meninggalkan Mawar yang masih merasa tidak nyaman. Selepas makan, dia hanya duduk di meja makan, berpikir sekaligus menunggu sang kakak ipar keluar kamar. Jika memang Friska tidak suka atas kedatangannya, maka dia harus tau diri, melakukan sesuatu untuk mengambil hati. Beberapa jam berlalu, Friska akhirnya keluar kamar dengan wajah yang masih sama–masam. “Eh, kamu masih di sini?” “Iya. Nggak apa-apa,kan?” Friska tersenyum tipis. “Ya nggak papalah. Santai aja.” Mawar memperhatikan kakak iparnya itu yang mulai duduk dan mengisi piringnya, makan dengan pandangan kosong, seperti terbebani sesuatu. “Mawar ngerepotin Kakak, ya?” tanyanya akhirnya, tidak bisa membendung rasa bersalah. Bibir Friska langsung tersenyum kecut, secara tidak langsung membenarkan dugaan Mawar. “Maaf, ya, Kak. Nanti ... Mawar cari tempat sembunyi yang lain. Mawar nggak mau juga ngerepo–” “Jangan bilang begitu. Maaf kalau kesannya Kakak nggak tulus menerima kamu. Cuma ... belakangan banyak yang terjadi dan itu membuat Kakak terganggu. Terutama masalah keuangan. Ya ... kamu taulah kalau biaya anak sekolah nggak sedikit. Itu membuat Kakak merasa takut. Dibesarkan oleh keluarga pas-pasan, harus serba hemat sewaktu sekolah, dan pernah terancam gagal kuliah, membuat Kakak sangat takut anak Kakak akan mengalami hal yang sama. Itu yang membuat Kakak jadi sering ... sering nggak bisa ngontrol diri.” Dan Mawar paham apa artinya itu. Kedatangannya sama saja menambah masalah. Kris pasti akan melakukan sesuatu pada keluarganya. Pria b******k itu pasti akan menarik saham, memastikan dengan segala cara keluarga Mawar jatuh miskin, dan bisa jadi kalau masih kurang puas dia akan menghalangi segala akses keluarga Mawar untuk mendapatkan kenyamanan hidup. “Mawar ... Mawar bingung juga, sih. Cuma ... Mawar nggak bisa pulang, Kak. Mawar nggak mau sama Kris lagi.” “Iya, Kakak paham. Nggak mudah menjadi kamu. Kakak sendiri mungkin nggak akan kuat kalau abang kamu melakukan hal yang sama seperti Kris. Cuma ... itulah. Manusia ini ada kurangnya ada lebihnya. Suami Kakak setia, tetapi secara finansial masih belum masuk kategori aman. Suami kamu sangat kaya, sayangnya dia tidak setia.” Friska mengangkat bahunya lalu kembali memasang senyum kecut. “Tuhan memang adil, ya. Tidak meletakkan semua kelebihan pada satu manusia yang sama.” Mengangguk. Hanya itu yang bisa Mawar lakukan. Berharap bahwa saat ia kabur Kris akhirnya merasa muak dan membiarkannya pergi begitu saja. Menjalani hidup bahagia dengan Nita dan anak mereka. Atau mungkin si Nenek Lampir menghalangi Kris berbuat sesuatu, mengingat wanita tua itu sangat menyayangi Nita. *** “Sial semuanya! Nggak berguna! Bodoh! t***l!” Dan makian Kris terus bergema di dalam rumah. Sejak pagi dia sudah mengamuk karena tau Mawar pergi, dan bertambah murka karena tidak menemukan Mawar di rumah orang tua istrinya itu. Blank. Sama sekali tidak terpikir olehnya Mawar ada di mana. Kris sudah menyuruh orang mencari Mawar, tapi tetap saja dia tidak bisa tenang. Tidak disangka olehnya Mawar akan seberani dan selicik itu. Harusnya dia lebih waspada. Bahkan harusnya, Kris menambah orang di rumahnya untuk mengawasi Mawar. Tanpa uang, tanpa membawa pakaian, tanpa ponsel, semua bisa terjadi pada Mawar. Bagaimana kalau dia ditangkap oleh sindikat perdagangan manusia dan dijadikan wanita malam? Atau mungkin, diperkosa p****************g? Atau saat berlari ada kendaraan yang menabraknya? “Aaarrkkhhh!!!” teriaknya lagi, memukul meja kuat. Sakit di tangannya tidak seberapa dengan rasa sakit di hatinya. Dia tidak bisa kehilangan wanita itu, apa pun alasannya. Mawar sudah mengambil tempat dalam porsi yang begitu besar dalam kehidupannya, meratui hatinya, dan menguasai pikirannya. Untuk pertama kali dalam hidupnya dia merasakan apa itu cinta, dan wanita yang membuatnya merasakan cinta itu malah pergi. “Pak ... makan–” “Pergi kamu!” maki Kris segera. “Tapi Pak–” “Sayang bilang pergi! Bila perlu kamu pergi dari rumah ini! Semuanya pergi! Semua nggak berguna sama sekali! Semuanya Cuma makan gaji buta!” teriaknya marah, melampiaskan perasaan murkanya pada si asisten rumah tangga. “Tapi ... di bawah ada Nyonya Kemy.” Kris terdiam sejenak setelah mendengar bahwa mamanya sedang bertamu. Saatnya sangat tidak tepat. Kedatangan wanita itu hanya membuat suasana hatinya memburuk, tetapi akhirnya ia pun menghampiri sang mama. “Kenapa?” tanya Kris langsung. “Apa-apaan kamu? Kenapa kamu suruh Nita menggugurkan kandungannya?” “Karena Mawar nggak suka. Ide Mama ternyata konyol dan malah membuat Mawar marah.” “Tapi dia anak kamu! Semudah itu kamu bicara?! Ayah macam apa kamu ini?!” Kris tersenyum sinis lalu menarik kursi, duduk dengan gaya arogan di depan sang mama. Melirik sejenak ke arah asisten Kemy yang berdiri saambil memegang kursi roda. Wanita itu mengangguk, mengerti bahwa Kris membutuhkan privasi untuk berbicara dengan mamanya. “Mama jangan bicara moral. Jelas itu sama sekali bukan hal yang lazim di keluarga kita, kan? Anak itu ada cuma karena saat kami melakukannya, tidak ada pengaman. Jadi, kalau dibilang b******k, aku memang b******k. Kalau aku mau, wanita mana saja bisa mengandung anakku selama ini. Cuma memang aku tidak mau. Dengan Nita pun, itu cuma ketidaksengajaan, kan. Kebetulan jadi, dan ... karena Mama dan Mawar ngotot untuk memaksa aku bertanggung jawab, aku tanggung jawab. Untuk kehamilan keduanya, itu ide Mama. Tapi semuanya rusak. Hancur. Kalau sudah begini, meski semua perempuan yang kutiduri melahirkan anakku, aku tidak perduli. Spermaku memang sudah menyebar ke mana-mana, jadi tidak ada yang istimewa.” Plak Sebuah tamparan mendarat di pipi Kris. Mendapat tamparan, jelas Kris merasa marah, tetapi dia tidak berkata apa pun. Menikmati raut marah mamanya yang terpancar jelas. “Dia itu anak kamu! Darah daging kamu! Bagaimana mungkin kamu bisa–” “Diam Mama! Sekarang aku tanya, memangnya semua perempuan yang Papi nikahi, dia rawat? Dia tanggung jawabi? Enggak, kan? Sama! Sama dengan aku, Papi pun melakukan itu bukan untuk mendapatkan anak! Hanya untuk bersenang-senang, tapi sialnya jadi! Dulu Mami suka marah sama Papi, kenapa sekarang Mami mau aku seperti Papi, ha?! Kenapa Mami mau aku mengabaikan istriku?! Apa Mami mau Mawar seperti Mami? Dibuang dan tidak dianggap sama sekali sebagai istri?” Lagi, Kris mendapat tamparan di pipinya. “Mawar itu mandul!” teriak Kemy. Kris berdiri, lalu menatap Kemmy dengan pandangan bengis. “Sudah, Mami pulang, sana! Ternyata benar, Mami membenci Mawar! Ucapan Mami yang mau membujuk Mawar agar tidak marah ke aku lagi, itu palsu! Mami sengaja kan ngasih saran konyol itu supaya ada alat untuk memisahkan aku dan Mawar. Mami pikir berhasil? Enggak! Sekarang juga, aku akan membuang Nita! Baik anak itu anakku atau bukan, aku tidak peduli. Kalau Mami menyayanginya karena itu cucu Mami, silakan Mami rawat dan beri nafkah, tapi aku tidak mau!” Kris pun berjalan cepat menuju kamarnya. Saat berpapasan dengan asisten rumah tangganya, ia memerintahkan wanita itu untuk mengusir Kemmy, bagaimana pun caranya. Sejahat itulah dirinya. Tidak merasakan perasaan keterikatan dengan siapa pun termasuk keluarganya sendiri, apalagi anaknya yang dilahirkan hanya karena sebuah keteledoran. Kalau bukan karena tekanan untuk memberikan cucu dan Mawar yang terus mendesaknya untuk mengakui anak itu, dia tidak akan mengakui anak itu. Bahkan saat itu dia sudah menyiapkan dokter kenalannya untuk aborsi. Meski pada akhirnya dia memang menerima tawaran untuk menjadikan Nita simpanan tetap. Saat itu di kepalanya, apa salahnya memiliki dua wanita. Yang satu memuaskan dan memberi anak, yang satu lagi memuaskan dan menjadi teman hidupnya. Setelah Mawar pergi, dia baru merasakan apa itu rindu. Sering berkunjung dan terlambat menyadari wanitanya telah berubah. Mawar menjauh, menjadi dingin, dan terkadang mencari-cari alasan untuk tidak melayaninya.  Itu membuat Kris terganggu, dan pada akhirnya sadar bahwa Mawar telah menguasai dirinya secara utuh meski gairahnya masih saja tidak bisa dikondisikan. Semakin sering memikirkan Mawar, semakin sedikit pula ketertarikannya secara seksual dengan wanita lain, hingga akhirnya dia mengerti kalau masa bermain-mainnya sudah habis. Dia ingin Mawar kembali ke rumah, menjadi istri yang seperti dulu, dan menjalani rumah tangga dengan keluarga lain pada umumnya. Bukan seperti keluarganya yang carut marut.   
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN