Kembali ingatanku pada masalalu membumbung tentang seorang gadis cantik dan cerdas bernama Siska itu. Sejak OSPEK aku sudah jatuh hati melihatnya, namun aku baru berani mengungkapkan isi hatiku saat kami selesai ujian semester satu. Bak gayung bersambut, ternyata dia juga jatuh hati kepadaku. Dan kemudian kami pun resmi berpacaran.
Aku adalah seorang laki laki yang sedikit introvent. Selalu patuh pada semua perkataan orang tuaku. Apalagi Mama ku adalah tipe orang tua yang suka mendikte dan memaksakan kehendak pada anak anaknya. Aku dan Kakakku Ratih, harus selalu menuruti semua keinginan Ibu, apapun titahnya mutlak dan wajib dilaksanakan.
Berbeda sekali dengan Papa ku yang selalu memberi kebebasan dalam memilih apapun kepada anak anaknya. Namun kadang Papa pun manut saja apa kata Mama, karena kadang Mama akan merajuk dan mogok makan jika apa yang diinginkannya tidak tercapai. Papa adalah seorang penyabar dan sangat rendah hati pada siapapun, dia adalah pensiunan kepala sekolah di salah satu SMA negeri disini, dan seorang pengusaha walet. Namun akhir akhir ini Papa sering sakit sakitan, karena darah tinggi dan juga asam urat.
Mama ku adalah seorang perempuan yang hebat, dan seorang pengusaha juga, usaha grosiran pakaiannya di Pasar Kapasan berkembang pesat. Mama selalu ingin anak anaknya menjadi pribadi yang pintar dan sukses. Memilih jurusan saat kuliah pun harus sesuai dengan pilihan Mama, dan masalah jodohpun ada di tangan Mama.
Seperti Kak Ratih yang sekarang sukses sebagai seorang Dokter Spesialis Paru, dan mempunyai seorang suami dokter pula. Suaminya adalah anak dari teman Mama, mereka sudah menikah lebih dari sepuluh tahun, namun hingga saat ini belum juga dikaruniai momongan.
Empat bulan setelah resmi pacaran, kami pun kebablasan dan melakukan perbuatan yang dilarang agama itu. Perbuatan zina itu sering sekali kami lakukan, karena merasa tak ada yang mengingatkan kami dan kurangnya kami memperoleh pendidikan agama. Hingga Siska pun hamil. Antara bahagia dan takut saat mendengar kabar kehamilan Siska. Dia pun meminta pertanggung jawaban dariku.
Akunpun mencoba mengatakan semuanya pada keluargaku, namun dengan lantang Mama menolaknya, dan menyuruhku menggugurkan kandungan itu. Aku pun mengabarkan hal itu pada Siska, dia makin down dan mengusirku dari hadapannya. Aku sungguh tak tega melihat orang yang sangat aku sayangi menangis dan hancur seperti itu, dan karena akulah yang telah menyebabkan kehancuran itu.
Kemudian aku kembali pulang, kali ini aku memohon dan mengancam akan bunuh diri jika mereka tak memberi restu. Akhirnya mereka pun luluh juga dan memberiku restu, malah Mama juga mengundang Siska kerumah. Setelahnya kami berencana untuk menikah secepatnya dan berkunjung ke rumah orang tuanya di kampung.
Aku sudah sangat bahagia, dan membayangkan kehidupan bahagia kami bersama anak dalam kandungan itu. Namun sikap Siska keesokan harinya sudah berubah, aku tak tahu kenapa. Siang itu saat aku menjemputnya di kost untuk membeli cincin perkawinan dia menolak,
"Maaf, aku berubah pikiran. Aku tak ingin menikah denganmu!" katanya di teras kost siang itu.
"Jangan bercanda dong Yank,"
"Aku tak lagi ingin bercanda denganmu saat ini. Sekarang pergilah, aku tak ingin melihatmu lagi. Aku ingin mulai saat ini kita putus dan melupakan masa lalu," kulihat wajahnya agak pucat.
"Kamu ini ngomong apa sih Yank? Kenapa tiba tiba berubah secepat ini? Apa kamu sakit?" tanyaku cemas.
"Memang ini lah yang seharusnya ku katakan. Pokoknya aku sudah tak ingin berhubungan denganmu. Pergilah sekarang juga,"
"Kita kan sudah berencana menikah Yank. Apa yang membuatmu berubah secepat ini? Terus bagaimana dengan anak kita yang ada di dalam kandunganmu itu Yank?"
"Jangan pikirkan tentang dia, dia sudah tidak ada lagi. Aku sudah meluruhkannya karena dia adalah kesalahan terbesar dalam hidupku dan hanya akan menjadi penghambatku untuk meraih cita citaku. Sekarang pergilah dan jangan tampakkan lagi wajahmu di hadapanku!"
"Kamu ini apaan sih? Aku sungguh tak percaya kalau kamu tega menggugurkan buah cinta kita. Jangan seperti ini Yank, tolong katakan padaku apa yang sebenarnya terjadi. Keluarga ku sudah setuju dengan pernikahan kita, kenapa kamu jadi seperti ini? Tolong jangan permainkan perasaan orang tuaku juga."
"Terserah kamu mau percaya atau tidak, yang pasti bagiku kamu itu sudah mati, dan aku sudah tak ingin ketemu kamu lagi," katanya sambil masuk dan menutup pintu.
Aku berusaha memanggilnya dan meminta penjelasan darinya namun percuma. Sejak saat itu juga, semua akses ku di blokir olehnya, dia sama sekali tak mau ku temui.
"Bagaimana si Siska? Sudah siap kan jadi bagian dari keluarga kita?" tanya Mama malam itu padaku yang sedang melamun di teras.
"Dia sepertinya berubah pikiran Ma. Dia malah memutuskanku dan tak mau lagi menemuiku,"
"Hah, kok bisa seperti itu sih. Kurang ajar banget tuh si Siska, sudah mempermainkanmu dan keluarga kita!" kata Kak Ratih yang duduk di sampingku.
"Hemmm benar kata Kakak mu, dia mempermainkanmu saja. Mungkin dia sudah menemukan mangsa lain yang lebih dari mu. Atau mungkin juga dia takut tak bisa mengimbangi keluarga kita?" tambah Mama.
"Dia bukan wanita seperti itu Ma. Aku sangat kenal dengannya, aku rasa dia mendapatkan tekanan dari seseorang," kataku.
"Kamu aja Ram, yang terlalu polos jadi cowok. Biarin aja deh suka suka dia mau berbuat apa. Lebih baik kamu sekarang fokus pada masa depanmu. Tak usah menoleh kebelakang, tak usah lagi memikirkan gadis nggak bener seperti dia itu," kata Kak Ratih.
"Iya Ram. Sebenarnya Mama marah sekali padanya, karena sudah beranu berani mempermainkan keluarga kita. Tapi yah, ada untungnya juga sih, nama baik keluarga kita tak jadi tercoreng karena dia. Kamu masih muda dan ganteng pula, banyak gadis gadis yang bisa kamu dapatkan melebihi si Siska itu. Sudah ah jangan jadi anak cengeng, ingat lho Mama nggak suka lihat laki laki yang mudah sekali menangis, apalagi hanya karena di sakiti gadis murahan seperti dia,"
Perkataan Mama dan Kak Ratih memang ada benarnya juga. Lebih baik aku memulai kehidupan baru, karena tak mungkin lagi aku menaklukan Siska. Mungkin memang dia bukan jodohku, namun sejak saat itu aku tak bisa lagi membuka hati untuk wanita lain, hingga aku bertemu dengan Vania ini.
Bertemu denganya di kampus namun dengan sikap tak acuh, membuatku semakin sakit. Akhirnya aku pun meminta pindah kuliah ke Singapura, Papa pun mengabulkan permintaanku. Aku mulai belajar melupakan Siska disana dan lulus dengan nilai cumlaude sebagai sarjana Bahasa Inggris.
Aku kemudian kembali ke Surabaya dan melanjutkan S2. Setelah lulus akupun tak ingin bekerja apapun, aku lebih suka berwiraswasta saja, dan kadang juga membantu Mama mengelola toko tokonya.
Selalu terlintas di pikiranku, ingin melihat wajah Siska, dan juga anak kami, karena menurut ku, dia tak mungkin tega mengugurkan janin itu. Dia adalah seorang perempuan yang penyayang.
Namun saat bertemu lagi kini, kami sudah haram untuk sekedar mengatakan kata rindu. Dan aku pun sempat mengira putrinya adalah anak kami, namun ternyata usianya baru delapan tahun, berarti dia memang bukan anakku. Ingin sekalu ku tanyakan dan meminta penjelasan padanya, namun hal itu hanya akan membuat semuanya menjadi runyam.
Untuk saat ini aku hanya harus fokus pada Vania dan calon anak kami. Tak masalah kan berdamai dengan mantan, yang sebentar lagi akan menjadi Kakak ipar kita? Masa lalu akan menjadi sebuah pelajaran agar kita bisa bertindak lebih baik kedepannya. Namun akupun sesungguhnya masih bimbang, haruskah aku mengatakan kisahku ini pada Vania?