Kianara
Aku masih bertanya-tanya, ada apa Tante Diana mengajakku ke butik? Apa dia akan mengajakku pergi ke acara penting. Jika iya, ini akan menjadi hal langka yang terjadi selama hidupku. Sebab dia selalu mengajak Dilla, anaknya, bukan aku yang biasanya hanya berdiam diri di rumah menunggu perintahnya.
Pekerjaanku selesai, hari ini terasa sangat lelah dan amat panjang. Bukan tubuhku manja tidak bisa bekerja berat, aku bahkan sering melakukan pekerjaan lebih dari ini. Tapi, hari ini bukan hanya tentang fisik yang lelah tapi pikiran, dan juga hati. Melakukan kesalahan di hari pertama bekerja, itu sangat fatal. Untung saja aku masih dimaafkan dan tidak ada kata pemecatan. Aku bersyukur.
Aku melangkahkan kakiku dengan cepat, karena Tante Diana ternyata sudah menungguku di mobil. Saking tergesa-gesanya aku berjalan, tanpa sengaja menyenggol seseorang tepat di pintu utama lobi. "Maaf Pak," ucapku, tanpa berani mengangkat kepalaku. Aku langsung berniat kabur, karena terburu-buru juga karena rasa bersalahku.
"Ternyata, lo selain nggak punya otak, juga nggak punya mata ya?!" Suara nyalang seorang lelaki terdengar jelas di telingaku. Kata-kata penuh penghinaan yang dia lontarkan, sontak membuat aku menghentikan langkah dan menoleh. Siapa dia, enak saja mengatakan aku tidak punya otak.
Rasanya aku ingin menggunakan tas yang sedang kupakai ini, agar bisa memukul cowok sialan itu.
"Heh, saya kan udah minta ma-"
Aku terperanjat, mulutku yang hendak melontarkan kalimatpun tiba-tiba terhenti. "Maaf," ucapku sekali lagi. Dia lagi, dia lagi. Si jutek, sombong, dan angkuh.
Ya Allah, aku hanya ingin bekerja di tempat ini. Tapi bisakah hindari aku dari manusia angkuh dan kasar di hadapanku ini? Dalam hati aku memohon.
"Otak, dan mata lo dipakai baik-baik, kalau masih mau kerja di sini." Ucapnya dengan nada keras, sambil menunjuk tepat pada kepala dan beralih ke mata.
Aku hanya mengangguk, melawan? Oh tidak mungkin. Aku masih butuh pekerjaan ini. Lalu tanpa berkata-kata, aku meninggalkannya begitu saja, langsung menuju pada tempat di mana tante Diana memarkirkan mobilnya.
Langkah demi langkah, aku berjalan. Sedikit kesulitan mencari di mana mobil tanteku itu terparkir, sebab ada banyak sekali mobil di sana. Tapi untungnya, aku sudah cukup hafal dengan jenis mobil dan nomor plat milik tante Diana.
"Maaf ya tante, aku lama," cicitku pelan. Aku tahu aku salah, karena membiarkannya menunggu terlalu lama, dan aku juga sudah bersiap-siap jika Tante Diana mengomeliku seperti biasa.
"Nggak apa-apa," jawabnya singkat, dengan nada datar tanpa amarah. Dia lalu melajukan mobilnya perlahan-lahan, keluar dari area parkir.
"Gimana hari ini?" Tanyanya lagi, aku rasa tante Diana sedang kerasukan jin baik hati. Jarang sekali dia menanyakan tentang keseharianku, sampai rasanya aku gugup saat akan menjawabnya.
"Eum, ya… lancar tante." Aku berbohong, tentu saja. Tidak mungkin aku menceritakan kesalahan dan kecerobohan yang aku ciptakan di hari pertama.
"Lancar? Yakin? Terus numpahin kopi bergelas-gelas di ruang rapat, itu yang kamu bilang lancar?"
Dugaanku salah, tante Diana tetaplah tante Diana, ternyata sindiran pedas seperti biasa akan tetap keluar dari mulutnya.
"Untung aja, mereka nggak ada yang tau kalau kamu keponakanku, dan masuk atas rekomku pula," lanjutnya.
Aku menghela napas berat, "Maaf Tante, aku benar-benar gugup hari pertama," jawabku dengan nada pelan tak melawan sedikitpun.
"Padahal di rumah, kamu udah ngerjain banyak hal. Sekalinya dibawa keluar rumah malah malu-maluin," cetusnya lagi.
Aku benar-benar tak bisa berkata-kata. Aku juga tidak tahu, kenapa hari ini sial sekali. "Eum, Tante, aku boleh nanya nggak?" Ada sesuatu hal yang cukup mengganjal di benakku. Aku tahu, sebenarnya ini bukan urusanku. Tapi tetap saja aku tak bisa mengusir rasa penasaran dalam benakku.
"Apa?"
"Itu, Pak Satria… CEO di perusahaan, dia udah beristri atau belum?" Aku bertanya tentang ini, karena melihat jelas bagaimana dia b******u dengan sekretarisnya tadi. Akan sangat berdosa jika laki-laki beristri melakukan itu dengan wanita lain, kan? Apa dunia perkantoran memang sekotor itu, dan hal-hal demikian sudah biasa? Aku merinding membayangkannya.
Tante Diana malah tertawa cekikikan, bukannya menjawab pertanyaanku.
"Kenapa Tante? Sumpah aku nggak ada maksud lain kok, cuma pingin tau aja," aku membela diri saat sepertinya Tante Diana menuduhku sesuatu.
"Terpesona? Ya… dia memang ganteng Kia, berkarisma, gagah, uh aku aja pingin dapat yang begitu." Tante Diana malah bercanda, atau mungkin juga dia serius dengan ucapannya. Aku memakluminya karena dia adalah seorang janda yang mungkin haus akan kasih sayang lelaki.
"Nggak, Tante. Sumpah aku nggak terpesona atau apa, ih dia itu… sombong, angkuh-"
"Stop Kia! Jangan mengumpat orang yang akan menggajimu!" Titahnya keras. "Sadar, dia itu pemilik perusahaan!" Tante mengingatkanku. Dan tentu tanpa diingatkan aku juga tahu itu.
"Iya maaf Tante, tapi Tante belum jawab pertanyaan aku, dia single atau beristri?" Aku mengulang pertanyaanku, aku hanya ingin tenang dan terbebas dari rasa penasaran itu.
"Kamu akan tau jawabannya nanti," sahutnya singkat, dia menggantung pertanyaanku. Baiklah, saatnya lupkan soal Satria dan sekretarisnya itu. Biarlah hal yang mereka lakukan hanya menjadi urusan mereka saja.
Tanpa terasa, kami sudah tiba di sebuah butik langganannya. Aku terkesima akan tempat ini, baru pertama kali aku menginjakkan kaki di tempat mewah seperti ini. Dan pasti tak ada harga yang murah dari gaun-gaun indah yang di jual di sini.
“Tolong pilihkan yang cocok untuk dia, sekalian hijabnya. Kalau bisa ukurannya pas, jangan terlalu ketat, tapi juga jangan kelihatan kedodoran," ucap Tante Diana tanpa basa-basi, pada pegawai butik.
Aku terperangah. "Tante, bajunya buat aku? Tumben?" Sindirku. "Apa ini apresiasi Tante karena aku udah dapat kerjaan?" Aku masih saja kegirangan, dan terus bertanya, sedangkan dia masih diam sambil memilih-milih gaun yang sepertinya akan dipilih untuk dirinya sendiri.
"Mbak, silakan ikut kami ke arah sini," pinta pegawai butik tadi. Aku mengangguk, mengikuti langkah wanita itu, dan mengabaikan tante Diana.
"Untuk acara makan malam keluarga," ucap Tante Diana yang ternyata juga mengikuti langkahku di belakang.
"Bagus-bagus banget," gumamku, lalu menoleh padanya.
"Pilih, satu yang kamu suka," pintanya lagi.
Ya Allah alhamdulillah…
tapi, tunggu dulu! agenda makan malam keluarga katanya? Oh aku tahu, mungkinkah Tante Diana sudah menemukan pengganti dari suaminya yang dulu? Dan kami akan pergi makan malam dengan keluarga calon suaminya. Ya, kurasa begitu, aku mengulum senyum. Mungkin Tante Diana terlalu malu mengatakan kalau dia akan menikah lagi, makanya dengan cara diam-diam seperti ini.
"Ini bagus, Tante?" Tanyaku padanya saat aku menempelkan sebuah gaun berbahan lace, lengkap dengan furing di dalamnya, terlihat sederhana tapi manis. Apalagi itu adalah warna kesukaanku, warna peach.
"Bagus, kamu cobain gih! Kamu harus kelihatan cantik dan sempurna, Kia." Ucapnya penuh penekanan.
Aku mengangguk, patuh dan mencoba gaun itu dengan perasaan berbunga-bunga apalagi melihat bagaimana diriku di pantulan cermin. Aku merasa seperti wanita sempurna, berhayal menjadi princess sholehah yang sedang menanti datangnya pangeran yang sholeh pula.