MEMINTA MAAF

1288 Kata
“Waalaikumsalam,” jawab Aminah yang kemudian menjabat tangan Malik yang mendekat padanya. “Ada tamu rupanya,” ujar Malik menatap Isha sekilas. Isha lantas tersenyum canggung. “Iya, ini tadi Isha nyariin kamu. Eh, kenapa pakai masker?” tanya Aminah heran. Malik dan Isha bertatapan mata dengan sama terkejutnya. Malik berharap bahwa Isha tidak menceritakan apapun pada ibunya mengenai peristiwa tadi. Gelengan kecil Isha cukup membuat Malik lega. “Udara panas berdebu, Bu. Lagian musim pandemi juga, kan?” ujar Malik beralasan. “Oh, iya. Memang sedang tidak sehat cuaca dunia belakangan ini,” sahut Aminah dengan lugunya. “Isha ke sini mau ada kepentingan?” tanya Malik menatap Isha yang sejak tadi duduk dengan canggung. Nada bicara Malik masih ramah, seolah tidak ada permusuhan sebagaimana yang sebenarnya terjadi. Isha jadi heran sendiri mendengar hal ini. Bagaimana mungkin Malik bisa sehebat ini bersandiwara di depan ibunya? Isha tersenyum canggung, kemudian mengangguk. “Ada … ada yang ingin aku tanyain sama Abang. Bisa?” tanya Isha dengan muka memerah menahan malu dan gugup. “Soal apa? Pelajaran?” tanya Malik seolah-olah tidak terjadi apapun di antara mereka. ‘Ha? Pelajaran?’ tanya Isha dalam hati sambil menatap Malik dengan bengong. Namun kedipan mata Malik sudah cukup membuat Isha paham bahwa mereka harus bermain sandiwara di depan Aminah. “Oh, iya. Pelajaran. Ada yang tadi tidak aku paham,” jawab Isha dengan senyum aneh dan sangat canggung. “Oke. Aku ganti baju dulu.” Malik kemudian meninggalkan Isha di truang makan bersama dengan Aminah. “Sudah lama kalian tidak belajar bersama, ya, Sha?” tanya Aminah dengan senyum lebar. Isha menjadi salah tingkah mendapat pertanyaan seperti ini, karena dia tahu bahwa apa yang dia perlihatkan dengan Malik bukan yang sesungguhnya terjadi. Isha mengangguk namun tak menjawab karena tak punya jawaban yang pas untuk pertanyaan Aminah ini. Untung saja Malik keluar dari kamar masih dengan maskernya untuk menutupi wajahnya yang sepertinya masih lebam. Laki-laki itu memegang sebuah buku, yang entah buku apa Isha tak tahu. “Mau belajar dimana, Sha?” tanya Malik masih ramah. “Ha?” tanya Isha bingung karena intinya dia ke sini bukan untuk belajar. “Katanya tadi mau belajar?” tanya Malik dengan sikap dan nada biasa. Melihat hal ini tentu saja Isha harus ikut bersandiwara. “Eh, iya. Belajar di saung bapakku saja bisa?” tanya Isha sedikit canggung. Saung yang dimaksud adalah saung yang berada di pinggir kolam ikan milik keluarga Isha. Selain sebagai pengusaha meubel, pak Ridwan juga memiliki kolam ikan yang juga dibuat untuk ternak ikan lele dan beberapa jenis yang lain. Malik terdiam sesaat sebelum akhirnya mengangguk setuju. “Ayolah kalau begitu,” ujar Malik setuju. Isha mengangguk. “Saya izin minta belajar sama bang Malik dulu, Bu. Bisa, kan?” tanya Isha menatap ke arah Aminah yang tersenyum. “Ya, boleh. Kayak nggak pernah belajar bareng saja kamu ini, Sha. Sana cepat berangkat!” ujar Aminah. “Terima kasih, Bu,” ujar Isha mengangguk setuju. Malik kemudian melangkah mendahului Isha, dan gadis itu mengekor di belakangnya. “Pakai motor satu saja boleh?” tanya Isha dengan nada pelan ketika mereka tiba di teras rumah. Malik bimbang sesaat, menatap Isha dengan pandangan canggung. ‘Tuhan, aku merindukan gadis ini,’ batin Malik merasa kalah dengan dirinya sendiri. “Boleh. Pakai motorku apa motor kamu?” tanya Malik dengan canggung. Padahal beberapa saat tadi Malik begitu lihai bersandiwara di depan ibunya. “Pakai motorku saja,” jawab Isha kemudian menyerahkan kunci motornya pada Malik. Laki-laki itu menerimanya dengan canggung, kemudian segera naik dan menghidupkan motor yang sepertinya baru itu. Isha kemudian naik di boncengan Malik. Malik lantas melajukan motor menuju ke saung di kolam ikan milik pak Ridwan yang ada di pinggiran kampung. Keduanya sama-sama diam selama dalam perjalanan menuju ke sana, seolah sedang hanyut dalam pikiran masing-masing. *** Masih seperti beberapa bulan lalu ketika terakhir kali mereka datang dan bermain di saung ini. Ada dua buah saung di kolam ini. Satu adalah saung untuk bersantai saat keluarga Ridwan butuh berlibur pribadi, yang satunya adalah saung yang berdinding rapat yang digunakan sebagai tempat tinggal oleh pak Ujang, penjaga kolam ini. Mereka berdua —Malik dan Isha— masih saja saling berdiam diri ketika mereka tiba di kolam yang sekitarnya terlihat sangat asri itu. Tak ada yang ingin mendahului percakapan. Malik diam, demikian juga dengan Isha. Kemudian Malik melangkah menuju ke saung santai yang berada di atas tengah-tengah kolam itu, sementara Isha mengikutinya dari belakang. Tiba di saung, Malik membalikkan badannya menatap Isha dengan intens. “Aku tahu kamu menemuiku bukan untuk mengerjakan PR,” ujar Malik membuka percakapan mereka. “Bagaimana luka Abang? Boleh aku melihatnya?” tanya Isha yang bukannya menjawab pertanyaan Malik, malah menanyakan keadaan Malik. Malik menatap Isha dengan mengerutkan keningnya. “Untuk apa?” tanya Malik dengan bodohnya. “Untuk … melihat lukanya,” jawab Isha dengan suara pelan. Malik terkesiap. Tidak! Isha tak boleh melihatnya. “Tidak usah. Hanya luka kecil,” elak Malik mengalihkan tatapannya agar dia tidak luluh dengan permintaan Isha kali ini. “Hanya melihat saja tak boleh?” Isha bersikeras. Malik menggeleng. “Bukan luka besar. Nanti malam juga sudah membaik,” ujar Malik dengan nada suara datar. “Aku … aku ke sini untuk minta maaf karena sudah menyebabkan Abang berantem dengan Rendra.” Akhirnya Isha bisa mengungkapkan apa yang ingin dikatakannya, meskipun hatinya berdebar tak karuan. Mendengar hal ini Malik tersenyum masam. “Tak perlu merasa bersalah. Aku bukan melakukannya untukmu. Aku melakukannya karena aku tak suka dengan apa yang dia lakukan. Lagi pula ada banyak hal yang tak selesai antara aku dengan Randra, jadi kamu tak perlu merasa bersalah,” ujar Malik dengan datar, menatap ke arah kejauhan. Deg! Isha malu karena sudah merasa menjadi penyebab perkelahian itu. “Apakah Abang dendam sama Rendra karena Rasti?” tanya Isha tiba-tiba membuat Malik terkejut, bagaimana Isha bisa tahu mengenai Rasti. Padahal dia sama sekali tak pernah bercerita mengenai Rasti pada Isha. Namun Malik sedang tak ingin menyangkal apapun kali ini. Biarlah Isha berpikir sesuai dengan apa yang ingin dia pikirkan, Malik tak ingin meluruskannya. Tak akan ada gunanya. “Ya. Karena Rasti,” jawab Malik tegas penuh kebohongan. Namun ketika mengatakan ini Malik tidak mau menatap wajah Isha. Dia tak ingin kebohongannya terbaca oleh gadis itu. Karena mengingat pertemanan mereka dahulu, Malik selalu gagal berbohong jika sudah menatap manik mata Isha. Mendengar jawaban Malik, entah mengapa ada rasa tak nyaman di hati Isha. Rasa aneh yang tak dia sangka akan bisa dirasakannya terhadap Malik. “Ya, aku mengerti jika Abang melakukannya untuk Rasti. Bagaimanapun kalian pasangan fenomenal dulu,” ujar Isha dengan nada pahit. Sebenarnya Malik terkejut, bagaimana mungkin ada julukan pasangan fenomenal untuknya dan Rasti, padahal mereka baru pada tahap pendekatan ketika itu. Itupun sudah berlangsung lebih dari satu tahun yang lalu. Namun sekali lagi Malik tak ingin menanyakan lebih lanjut mengenai dia dan Rasti di mata Isha. “Katanya Abang kena skors?” tanya Isha dengan nada muram. Malik hanya mengangguk. “Ya. Tapi hanya seminggu. Tidak masalah bagiku. Aku masih bisa mengejar ketertinggalan pelajaran,” jawab Malik. “Apa alasan yang akan Abang katakan sama ibu Abang?” tanya Isha khawatir. Malik menghela napas panjang. “Aku akan tetap berangkat sekolah meski tidak sampai sekolah. Jadi ibuku tidak khawatir. Kamu tenang saja, semua akan baik-baik saja selama tidak ada yang mengadu sama ibuku.” Malik menjawab datar. Isha mengangguk. “Aku juga mau minta maaf untuk yang dulu,” ujar Isha melanjutkan. Malik tersenyum masam. “Aku yang seharusnya minta maaf sama kamu. Kamu benar. Aku memang sudah mengkhianati persahabatan kita dengan membiarkan perasaan sayangku sama kamu. Tidak lagi sebagai seorang kakak terhadap adiknya, tetapi sebagai seorang laki-laki terhadap perempuan.” Keduanya terdiam, larut dalam alam pikiran masing-masing. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN