DI KANTIN

1357 Kata
Memasuki pintu kantin, spontan Malik dan Isha menjadi pusat perhatian karena baru kali ini Malik datang dengan seorang perempuan yang sepertinya begitu akrab. Yang membuat pemandangan semakin aneh adalah ketika Malik membawa kotak bekal makanan. Beberapa pasang mata yang melihat mereka sebagian besar heran melihat Malik yang selama ini terkenal tidak begitu dekat dengan perempuan, kini datang ke kantin bersama seorang gadis —siswa baru yang cantik— bahkan membawa bekal makan siang. Meskipun ini membuat Malik canggung, akan tetapi dia sudah berjanji pada Rosminah untuk menjaga Isha agar dia tetap nyaman di sekolahan. Pun yang pasti, Malik tak mau ada seorangpun yang mengganggu Isha, karena desas desus hasil ospek kemarin menyebutkan bahwa ada salah satu siswi baru yang menjadi incaran para teman sekolahnya. Meskipun mereka tidak menyebutkan bahwa nama gadis yang mereka incar itu adalah Isha, akan tetapi firasat Malik sudah tak nyaman. Karena beberapa kali Malik mendengar nama Isha disebutkan oleh mereka. “Kita duduk di bangku yang dekat jendela saja,” ajak Malik sambil menggiring langkah Isha menuju ke bangku yang ada di dekat jendela. Isha mengangguk dan keduanya menuju ke sana. Beberapa bangku memang masih banyak yang kosong karena kapasitas kantin ini memang cukup besar sehingga bisa menampung siswa siswi yang istirahat dalam waktu bersamaan. “Mau minum apa? Jus buah?” tanya Malik ketika mereka sudah duduk saling berhadapan dan membuka bekal masing-masing. “Air mineral saja,” jawab Isha. “Dingin apa biasa?” tanya Malik ketika dia berdiri. “Yang dingin,” jawab Isha. “Oke, kamu tunggu di sini dan jangan kemana-mana. Oke?” ujar Malik berpesan pada Isha yang dijawab anggukan oleh gadis itu. Malik dengan segera menuju ke counter minuman dan mengambil dua botol air mineral untuk Isha dan untuk dirinya sendiri. “Besok lagi bilang sama tante Ros, nggak usah repot-repot buatin bekal buat aku,” ujar Malik ketika mereka berdua mulai makan. “Ibu yang mau, bukan aku.” Isha menjawab santai. “Tapi aku jadi nggak enak karena ini cukup merepotkan, Sha,” lanjut Malik. “Iya, besok aku bilang sama ibu.” Akhirnya Isha menjawab. Malik tersenyum melihat Isha mengalah. Tumben dia mau mengalah. Padahal biasanya gadis ini akan memilih untuk terus menjawab. Akan tetapi Malik tidak keberatan karena memang seperti itulah tabiat Isha. Selalu hidup cukup dan menjadi anak tunggal membuat Isha merasa harus menjadi pusat perhatian, sebagaimana ketika dia diperlakukan istimewa oleh keluarganya. “Besok lagi, kalau mau makan siang nggak ada aku di sini menemani kamu, sebaiknya kamu bawa teman.” Malik memberikan pesan di sela makannya. Isha menghentikan kunyahnya dan menatap Malik. “Memangnya mengapa?” tanya Isha tak mengerti mengapa Malik berpesan seperti itu. “Kadang-kadang ada sekelompok siswa yang usil terhadap anak baru. Sebaiknya kamu hati-hati. Mereka kadang membully tanpa pandang siapa yang dibully,” jawab Malik. Isha mengangguk mengerti dan kembali makan. “Apakah mereka meresahkan?” tanya Isha. “Beberapa kali memang sampai menimbulkan masalah yang lumayan besar karena mereka salah sasaran. Yang mereka bully ternyata anak anggota dewan. Sementara yang membully adalah anak pemilik yayasan sekolahan ini. Jadi, ya, memang sedikit rumit penyelesaiannya,” urai Malik menjelaskan kejadian beberapa bulan lalu. Isha mengangguk mengerti. “Bagaimana tadi di kelas? Sudah punya teman baru?” tanya Malik menyudahi makannya. Isha menatap Malik dengan mata yang berbinar. Gadis itu mengangguk dengan senyum lebar. “Sudah. Dia meminta duduk di bangku sebelahku yang kebetulan tadi masih kosong,” jawab Isha. “Namanya siapa? Dia baik nggak?” tanya Malik beruntun. Isha berdecak. “Namanya juga baru kenal sehari, Bang. Kemarin pas ospek kan masih acak, jadi baru kenal, ya, mana tahu baik nggaknya, sih, Bang?” jawab Isha. “Ya, setidaknya kesan apa yang kamu rasakan ketika pertama kali berinteraksi dengan dia?” Malik bertanya nyaris mirip interogasi. “Kalau dirasa sesaat, sih, dia baik.” Isha mengira-ngira sesuai yang dia rasakan ketika tadi berinteraksi dengan Risna untuk pertama kalinya. “Tunggu dulu! Laki-laki apa perempuan teman sebangku kamu itu?” tanya Malik penuh selidik. Isha kesal dan berdecak. “Dia cewek, Bang. Namanya Risna.” Isha menjawab sambil cemberut, membuat Malik tertawa karena melihat Isha kesal dengan sikapnya yang terlalu protektif. Memang tak bisa dipungkiri bahwa sejak dulu Malik memang sangat protektif terhadap Isha. Sering kali memberikan perlindungan di luar normal. Malik selalu tak bisa membiarkan isha terluka atau menangis, meskipun Isha kadang menangis karena ulahnya sendiri. Tapi Malik selalu tak bisa marah dengan gadis kecil yang sekarang sudah mulai tumbuh menjadi gadis remaja ini. “Ya, kan aku tanya sama kamu? Kali saja itu teman laki-laki, kan?” gurau Malik. Isha yang selesai makan kemudian minum air mineral yang dibelikan Malik tadi. Setelahnya dia menatap Malik dengan penuh tanya. “Memangnya kenapa kalau dia laki-laki?” tanya Isha penasaran dengan jawaban Malik. Malik melotot ke arah Isha untuk mengingatkan gadis cantik dan menggemaskan yang duduk di depannya itu. “Bukannya sama tante Rosminah nggak boleh pacaran?” tanya Malik mengingatkan. Dug!! Isha menendang tulang kering kaki Malik dengan ujung sepatu barunya, membuat Malik meringis kesakitan. “Isha? Apa-apaan, sih?” tanya Malik meringis kesakitan. “Salah sendiri ngapain ingatkan soal itu? Kalau ibu sama Abang selalu kayak gitu, sampai tua juga nggak bakal ada yang mau sama aku!” omel Isha dengan cemberut. Sekali lagi Malik tertawa melihat wajah lucu Isha. Di mata Malik, ini wajah tercantik yang Isha miliki karena dengan ekspresi seperti ini Isha terlihat sangat lugas. “Kamu tenang saja, kamu nggak bakal jadi perawan tua,” jawab Malik dengan santai. “Kalau Abang sama ibu selalu kayak gitu, ya, tentu saja aku akan jadi perawan tua,” sungut Isha. “Nggak bakal. Karena aku yang akan nikahin kamu,” jawab Malik tanpa senyum. Mendengar jawaban Malik, Isha kembali geram. Maka Isha kembali menendang tulang kering kaki Malik dan laki-laki itu kembali meringis mengaduh. “Sakit, Isha!” Malik melotot. “Awas kalau Abang bilang nikah-nikah lagi!” sungut Isha. “Iya, aku nggak bilang lagi. Tapi bagaimana ini kakiku yang sakit karena kau tendang dua kali?” tanya Malik sambil mengusap kakinya yang masih nyeri. “Ada yang bersedia mengobati. Abang mau?” tanya Isha dengan senyum penuh arti. Meskipun Malik kesal, tapi melihat senyuman Isha, mendadak rasa sakitnya musnah entah kemana. “Siapa? Kamu?” tanya Malik antusias. “Yee … siapa juga yang mau mengobati?” sungut Isha. “Jadi siapa?” tanya Malik. “Risna,” jawab Isha dengan suara lirih seolah khawatir ada yang mendengar ucapannya. Malik mengerutkan keningnya. “Risna? Risna siapa?” tanya Malik tak mengerti. “Ck! Dasar tua pikun! Begitu saja sudah lupa.” Isha mengomel. “Bukan karena tua dan pikun, Adik Manis. Tapi karena memang aku nggak punya teman yang namanya Risna,” jawab Malik polos. “Risna itu teman sebangku yang kubilang tadi, Bang. Dia naksir Abang,” kata Isha dengan polos. Mendengar kalimat Isha, Malik tersenyum masam. “Naksir? Bagaimana bisa dibilang naksir, ketemu saja nggak pernah?” tanya Malik. “Abang yang belum pernah ketemu. Tapi dia pernah melihat Abang beberapa kali,” jawab Isha. “Masih kecil jangan bicara pacaran. Belajar saja yang betul, biar lulus dengan nilai bagus, masuk perguruan tinggi dengan baik, lulus jadi sarjana dan bekerja. Baru bicara soal pacar, biar nggak jadi perawan tua,” omel Malik menghindari percakapan mengenai perempuan. Kalau sudah begini Isha pasti sudah tak berani lagi mengejek Malik, karena Malik akan marah jika mendengar hal-hal seperti ini. Karena bukan sekali ini saja teman-teman Isha menitip salam untuk Malik melalui Isha. Bahkan teman sekolah Isha ketika di SMP juga banyak yang melakukannya, karena Isha adalah satu-satunya teman yang dekat dengan Malik. Ketika Isha sedang mengemasi kotak bekal mereka karena waktu istirahat sudah hampir usai, tiba-tiba datang tiga orang siswa laki-laki yang mendekati ke arah mereka dengan sikapnya yang angkuh san tatapan mengejek. “Oh, jadi ini yang namanya Syalaisha Ghazali yang kemarin menjadi buah bibir di kalangan anak OSIS?” salah seorang diantara ketiga laki-laki itu memulai pembicaraan. Isha terkejut namanya disebut oleh siswa yang tidak dikenalnya itu. Dia mendongak menatap ke arah siswa yang tadi bicara itu. Namun Isha terkesiap ketika melihat siapa laki-laki itu. Dia adalah …. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN