Tidak ada yang lebih baik, dua-duanya sama-sama buruk. Jadi maafkan saya, Pak, saya tidak berhasil meyakinkan diri saya untuk menolak tawaran Bapak.
Kalimat Freya yang penuh ironi, pada malam itu langsung Arsen hadiahi dengan ciuman panjang, yang membawa mereka pada percintaan berikutnya.
Arsen tidak mengerti bagaiaman dia sanggup menjadikan Freya simpanan. Tapi ketertarikannya pada Freya tidak bisa diabaikannya begitu saja. Bukannya dia tidak mencoba, namun Freya terus bermain-main dalam benaknya dan hampir membuatnya merasa gila.
Sebelum menikah Arsen terkenal sebagai player. Arsen tidak akan menyangkal itu. Karena Arsen selalu gagal melihat daya tarik pada wanita yang telah dia dapatkan. Tapi pada Freya berbeda, semakin Freya pasrah, semakin Arsen ingin merengkuhnya.
Mungkin karena selama tiga tahun hidup dengan Vlora yang pada dasarnya mandiri, dingin. Kemudian di hadapkan dengan Freya yang nampak kuat tapi sebenarnya rapuh. Arsen merasa fungsinya sebagai lelaki ada bukan hanya untuk melindungi, tapi juga untuk dilayani.
Sambil berlalu, Arsen menaruh kotak kertas kecil berisi sandwich dan secangkir capucino di meja kerja Freya yang tengah berdiri menyambutnya. Tidak berkata apa-apa, Arsen hanya mengedipkan sebelah matanya.
Tidak mengerti kenapa, Arsen merasa harinya semakin berwarna. Arsen suka melihat wanita itu tersipu namun berusaha keras bersikap biasa ketika Arsen menggodanya.
Tidak lama setelah ia duduk dikursi, ada ketukan di pintu sebelum Freya masuk membawakan kopi. Arsen tersenyum, seperti remaja yang baru kasmaran. Menatap Freya lekat ketika wanita itu membacakan jadwalnya.
“Dan setelah makan siang ada rapat dengan tim A mengenai proposal yang akan dipresentasikan pada Pak Mentri.” Freya mengangkat pandangan, dan baru sadar Arsen menatapnya lekat dengan senyum diseluruh wajah, jadi salah tingkah.
“Ada yang salah, Pak?”
Arsen menggelangkan kepala. “Kamu udah makan sandwich-nya?”
“Belum, saya sudah sarapan tadi.”
Arsen mengerucutkan bibirnya kecewa. “Besok-besok jangan sarapan di rumah. Saya akan bawakan kamu sarapan setiap hari.”
“Bapak! Ini kantor!” Freya menekan suaranya rendah, seolah takut ada yang mencuri dengar percakapan mereka.
“Ya, terus?”
“Kita harus bersikap biasa aja. Gimana kalau ada yang lihat?!” suara Freya semakin rendah, membuat Arsen mendengus tawa.
Bagaimana mungkin ada yang tau? Lantai ini hanya di huni oleh Arsen dan papanya. Dengan ruangan berbeda. OB hampir selalu ada di pantry. Mbak Nana juga jarang sekali datang kesini. Apa lagi Dygta, aspri papa yang sekarang bisa dibilang pengangguran karena papa sudah jarang berkegiatan. Arsen sedang berpikir untuk mengambil Dygta jadi asprinya saja, dari pada terus makan gaji buta.
“Nggak ada yang akan lihat!” Arsen kedepan, meraih tangan Freya yang bebas dari tab jadwalnya.
“Bapak!” Freya menarik tangannya panik. “Ini kantor, Pak!”
Arsen gemas sekali melihat Freya takut-takut seperti itu. Entah kenapa ketakukan Freya justru menantang adrinalin Arsen. Dia berdiri, perlahan menghampiri Freya yang justru malah menjauh mundur.
“Memangnya kenapa kalau ini kantor?”
“Kita harus profesional dong, Pak! Kita harus konsentrasi sama kerjaan masing-masing!” Freya melirik pergelangan tangannya. “Satu jam lagi ada pertemuan dengan para kontraktor, dan Bapak belum memeriksa kembali berkas-berkas yang saya sudah siapkan.”
“Tapi saya nggak bisa konsentrasi, gimana dong?” Arsen tidak jadi mendekati Freya, dia malah kepintu untuk menguncinya. “Kamu mau bantu saya biar lebih konsentrasi?” berbalik, Arsen langsung menghampiri dan merangkul pinggang Freya yang belum siap dengan serangan mendadak itu.
Tab di tangan Freya hampir jatuh, beruntung Arsen dengan sigap menahannya. “Bapaahmmm!” pekik Freya tertahan ciuman Arsen.
Rasa manis Freya yang selalu berhasil membuat Arsen menginginkannya lagi, dan lagi. Dia menuntun Freya agar mendekat kesofa yang yang ada di kantornya, kemudian melepar tab yang tadi diambilnya dari tangan Freya ke sofa single. Karena Arsen punya rencana lain untuk sofa panjangnya. Membaringkan Freya di sana.
“Kalau saya berhenti sekarang, saya akan lebih tidak bisa konsentrasi loh.” Bisik Arsen ketika dia melepaskan ciuman.
Freya tersenyum. “Memangnya saya bilang apa?”
Mendapat persetujuan, Arsen langsung membaringkan Freya di sofa sesuai dengan rencananya. Kembali mencium wanita itu, lebih keras, lebih dalam, lebih tergesa-gesa. Dengan tangannya yang mulai sibuk mengangkat Blouse Freya sampai keleher. Tidak sampai membukanya, hanya supaya dia punya akses untuk mencumbu d**a Freya.
Arsen tidak membuka Bra yang wanita itu kenakan, hanya menariknya ke atas saja, kemudian memindahkan mulutnya kesalah satu n****e coklat muda milik Freya dan mereguknya rakus.
Tangan Freya mencengkram erat rambut Arsen, dan bagi Arsen itu adalah kode untuk mencumbu dadanya lebih dalam dan intens, sampai desahan halus keluar dari bibir mungil nan penuh milik Freya.
Arsen bersemangat. Agak terburu-buru mengingat ini jam kerja. Dia tidak tau kapan orang akan datang dengan kepentingan yang bermacam. Jadi langsung saja di angkatnya rok Freya, menyelipkan satu jemarinya hanya untuk mengecek, apakah wanita itu sudah siap. Dan setelah dirasakan jemarinya basah, Arsen mengangkat tubuh untuk membuka restleting celananya dan langsung menuntun dirinya masuk. Bahkan dia tidak membuka celana dalam Freya, hanya menyelipkannya kesatu sisi.
Nafas Freya tersengal seiring hentakan Arsen yang kuat, dalam, dan cepat. Menyentuh titik nikmatnya berulang-ulang sampai gelenyar itu mulai terbangun dalam tubuh Freya. Perlahan-lahan meningkat, sampai Freya merasakan ledakan nikmat yang belakangan mulai akrab. Mereka o*****e bersama. Begitu cepat. Tapi apa pentingnya durasi kalau mereka sudah sama-sama puas?
Tidak lama-lama menikmati pelepasannya, Arsen langsung bangkit dan mengajak Freya membarsihkan diri bersama.
Arsen baru keluar dari bilik toilet di dalam kantornnya, saat bergabung di depan cermin washtafel dengan Freya yang sudah membersihkan diri terlebih dahulu. Merasa puas dan dibanjiri endorfin.
“Kenapa sih, Pak? Ngeliatin saya kayak gitu?” tanya Freya pada Arsen yang menatapnya melalui cermin, karena Arsen berdiri di belakangnya.
“Memang saya nggak boleh ngeliatin kamu?”
“Tapi jangan kayak gitu…”
“Kenapa? Kamu jadi salah tingkah ya?” Arsen menertawakan leluconnya sendiri. tapi Freya malah menyetujui.
“Iya! Siapa yang nggak salting diliatin dengan mata yang berbinar-binar kayak gitu! Bisa aja ngeliatinnya, bisa?”
Lho kok Arsen yang malah berbalik tersipu mendengar keterusterangan seperti itu?
Dengan gemas Arsen memeluk Freya dari belakang, mengecup pipi wanita itu sekilas sebelum menatapnya lagi memalui cermin. “Gimana dong, kalau ngeliat kamu tuh udah nggak bisa biasa lagi.”
“Coba! Udah bisa konsentrasi kerja, kan sekarang?” Freya melapaskan kaitan lengan Arsen pada tubuhnya. “Jadi sekarang, waktunya bekerja!” Freya tersenyum menggoda, keluar dari toilet diikuti Arsen yang mencebik sebal.
Freya meraih tab khusus jadwal-jawal Arsen, memutar tubuhnya kearah Arsen yang sudah duduk kembali di balik meja kerjanya. “Bapak tolong periksa berkas untuk meeting, ya, biar kalau ada kekurangan atau kesalahan data saya bisa perbaiki.”
“Yes, Ma’am…” Arsen membuka map yang tadi diserahkan Freya.
Freya tersenyum, melihat Arsen yang dulu dalam pandangannya berwibawa, sekarang menjelma seperti anak kecil yang malas mengerjakan PR. “Saya undur diri dulu, Pak.”
“Oke, Ma’am!”
Tidak menanggapi lagi kelekar Arsen, Freya berjalan kepintu. Membuka kunci sebelum menarik pintu kaca itu terbuka, dan mendadak, jantungnya seolah terhenti. Freya terkesiap kaget mendapati Vlora berdiri di depan pintu, dan gagal menyembunyikan keterkejutannya itu.
Jantung yang tadi seolah berhenti, kini berdebar tidak karuan.
“Ada apa?” tanya Vlora datar.