TIGA BELAS

1453 Kata
Freya refleks berdiri, melihat seseorang berjalan di lorong ke arahnya. Dadanya mulai berdebar tidak karuan. Ini pertama kalinya Freya bertemu dengan Pak Hadi setelah dia memulai affair dengan anak lelaki itu. “Selamat pagi, Pak!” sapanya sambil tersenyum. “Selamat pagi, Freya, sudah lama kita tidak bertemu.” Balasnya ramah. Senyum cerah selalu menghiasi wajah Pak Hadi dan keramahan itu diturunkan pada Arsen. “Kamu tambah cantik, ya, auranya beda gitu.” “Masa sih, Pak?” satu tangan Freya mengelus lengan lainnya. Merasa agak canggung dengan pujian tersebut. Mata Pak Hadi menyelidik sebentar pada Freya yang sedang menunduk. “Ya sudah, lanjutkan pekerjaanmu. Saya mau ketemu Arsen.” “Silahkan, Pak. Pak Arsen sudah datang.” “Iya, tadi sudah whatapp-an juga kami.” Pak Hadi melanjutkan langkahnya menuju ruangan Arsen. Freya berusaha mengenyahkan gelitik halus ketidaknyamanan dari hatinya. Insting Pak Hadi sebagai pengusaha yang sudah bertahun-tahun terasah pasti kuat. Dia pasti bisa membaca situasi hanya dengan melihat. Tapi mungkinkah dia curiga hanya harena melihat Freya nampak berbeda? Di ruangan Arsen, kedatangan Pak Hadi langsung membuat Arsen berdiri dan menyambut lelaki itu. “Papa sudah datang?” tanyanya basa-basi. Mereka duduk di sofa, dan langsung membicarakan masalah yang lewat pesan singkat sudah mereka rencanakan untuk dibahas. Arsen menyerahkan berkas yang langsung Pak Hadi periksa. “Kita tidak melakukan pembelanjaan bahan-bahan, tapi kita merekomendasikan bahan-bahan yang bagus. Tim kita hanya mengerjakan sesuai dengan rancangan yang telah disetujui.” “Jadi kita tidak tau menau tentang anggaran?” tanya Pak Hadi masih memeriksa isi dari perjanjian kerja sama dengn Mentri yang belum ditandatangani. “Iya. Tapi bukannya bagus, jadi kalau ada masalah tentang anggaran, kita bisa lepas tangan?” Pak Hadi tidak langsung menjawab, dia terus membaca perjanjiannya dengan teliti sampai selesai, kemudian menutup berkasnya dengan helaan nafas panjang. “Jika kamu meminta pendapat Papa, Papa rasa kita tidak harus mengambil kerjasama ini.” Arsen menatap ayahnya bingung. “Kenapa? Fee nya lumayan, lho, Pa. Udah gitu kita bisa menaruh nama di gapura selamat datangnya. Bayangin berapa banyak orang yang akan lihat, menjadikan ini promosi yang bagus untuk perusahaan kita.” “Jangan tertipu, Arsen. Kita bisa jadi merekomendasikan, tapi pada akhirnya mereka yang membeli bahan-bahan. Dan untuk menekan budget, mereka pasti membeli dengan harga yang jauh lebih murah dari yang kita rekomendasikan. Kalau bahan-bahannya sudah jauh di bawah standart, sebagus apapun pengerjaan kita tidak akan membuat bagunan itu kokoh. Karena pada dasarnya pengerjaan dan bahan harus sama-sama baik. Dan kalau sudah begitu, bukan mendapat nama yang bagus, justru kita akan dipertanyakan.” “Tapi Pak Mentrinya sendiri yang berjanji akan membeli bahan sesuai yang kita rekomendasikan.” Pak Hadi tersenyum. “Ternyata kamu masih terlalu naif. Mereka mungkin membuat laporan dengan rekomendasi kita, tapi kenyataan dilapangan kita tidak pernah tau. Terlalu beresiko. Dan mereka memakai nama perusahaan kita untuk bersembunyi dari mata publik. Mereka akan bilang kalau memakai perusahaan swasta untuk menghindari KKN, tapi nyatanya, kita bahkan tidak pernah tau mengenai anggaran.” Arsen menyandarkan bahunya ke sandaran sofa, memikirkan apa yang dikataan ayahnya. Benar memang, tapi rasanya sayang sekali jika tidak mengambil kesempatan ini. Lagi pula, lelah-lelah Arsen melobi Pak mentri. Jika tidak mengambil proyek ini, semuanya jadi sia-sia. “Perusahaan kita sudah jauh berkembang setelah kamu menikah. kamu mau sebesar apa lagi memangnya?” Arsen menatap ayahnya. Yakin jika ayahnya tau kalau proyek ini seperti obsesi pribadinya. “Manusia tidak pernah ada puasnya, kan, Pa?” “Jangan sampai kita malah hancur oleh keserakan kita sendiri.” Arsen berdecak sambil memincingkan mata, mencoba meledek ayahnya. “Papa kayak nggak pernah muda aja! Gairah masa muda yang ingin menduduki puncak dunia!” Pak Hadi tertawa, menepok-nepuk pahanya sendiri. “Papa rasa nggak usahlah, terlalu beresiko.” “Siap, Pak Boss… saya, kan, masih bawahan Pak Boss, jadi cincay lah…” Lagi-lagi Pak Hadi tertawa. Mereka masih bersenda gurau ketika ada ketukan di pintu, kemudian Freya masuk membawakan dua cangkir berisi teh hijau. “Maaf agak lama, Pak, tadi teh hijaunya habis. OB baru aja beli lagi.” Freya menyuguhkan masing-masing satu cangkir di hadapan Pak Hadi dan Arsen. “Freya repot-repot. Padahal saya udah mau pulang.” Ujar Pak Hadi, tapi mengambil juga cangkir yang disuguhkan dan disesap isi di dalamnya. “Lho, pulang? Nggak ngisi kantor? Kasian itu Mbak Nana adanya di pantry terus.” Arsen juga mengambil cangkir dan meminum teh hijaunya. “Biar, saja. Kasian dia, sudah lelah dari dulu mendampingi saya.” Freya hanya tersenyum, kemudian pamit undur diri. Menghilang di balik pintu di bawah tatapan menyelidik Pak Hadi. “Papa lihat, Freya banyak berubah, ya?” Arsen yang sedang menaruh cangkirnya agak terkejut. Cangkir yang sedang dia taruh agak keras membentur tatakannya, menarik perhatian Pak Hadi. “Beda gimana? Sama aja, ah!” Pak Hadi menatap lekat Arsen dengan senyuman berjuta makna. “Apa, sih, Pa?” “Papa tau kamu orang yang teliti. Jika perubahan sebesar itu kamu bilang biasa aja, berarti ada yang coba kamu sembunyiin.” Arsen tidak menjawab. Dia ingin mengalihkan pembicaraan, namun kegugupan membuat otaknya terasa kosong. “Kamu yang beliin dia baju-baju mahal itu?” Arsen tersedak, dia meraih lagi cangkir tehnya dan lupa jika isinya masih panas. Lidahnya terbakar, membuatnya makin nampak jika sedang gugup. “Seperti yang kamu bilang, Papa juga pernah muda. Ada titik di mana Papa tertarik dengan wanita lain. Tapi kemudian sadar, tempat kembali hanya mamamu.” Arsen menghela nafas. Memang percuma menyembunyikan sesuatu dari orang yang sangat mengenal kita. “Papa tau, kan, sedingin apa Vlora?” “Itu pilihan kamu. Ketika Papa iseng-iseng ngejodohin kamu sama Vlora, Papa nggak expect kamu nerima, lho. Papa sampai tanya beberapa kali, kan? Apa kamu yakin? Tapi ternyata kamu terima. Kamu bilang bagus untuk meningkatkan nilai perusahaan.” Arsen tidak menjawab. Setiap yang dikatakan ayahnya memang benar, tapi hatinya tidak ingin menerima. Apa sih salahnya jika dia ingin menjalin hubungan dengan Freya? Ya, memang salah karena Arsen sudah menikah. Tapi pernikahannya tidak seperti pernikahan pada umumnya. Jika nanti Vlora tau pun, sepertinya wanita itu tidak akan peduli. “Freya itu anak yang baik, Arsen. Jangan sampai kamu menyakitinya, merusaknya.” Lanjut Pak Hadi menasehati. Tapi siapa yang mau menyakiti Freya? Justru Arsen ingin merengkuh wanita itu agar lengan Arsen bisa melindunginya. Tidak ada keinginan Arsen untuk merusak. “Ya sudah, Papa mau pulang. Ingat Arsen, jangan bermain api kalau kamu takut panas.” Pak Hadi bangkit. Arsen bahkan masih terpaku dalam duduknya, termenung cukup lama. Ketika kembali kekursinya, pikiran Arsen bercabang. Perkataan ayahnya terus tengiang sampai membuat Arsen bimbang. Apa benar Arsen bisa menyakiti dan merusak wanita itu? Dia hanya ingin dekat dengan Freya karena di dekat wanita itu terasa menyenagkan. Menghela nafas, Arsen menghusap wajahnya lelah. Perasaannya akhir-akhir ini memang agak tidak stabil. Apakah ini tandanya dia harus menjaga jarak dengan Freya, demi kewarasannya sendiri? Arsen mengambil telpon kabel yang menghubungkannya dengan Freya. “Tolong kamu bawakan saya MoU dengan Mitsu Group dan notulen terakhir saat meeting dengan para kontraktor, ya. Dan hubungi Tim A untuk meeting satu jam lagi.” Perintahnya sebelum Freya bahkan mengatakan halo. Kemudian menutupnya setelah Freya merespon hanya dengan dua kata; baik, Pak. Pekerjaannya masih banyak, jadi dipaksanya pikiran tentang hubungannya dan Freya menyingkir dulu. Tidak lama, Freya masuk dan menyerahkan berkas yang Arsen pinta. “Tim A sudah saya hubungi untuk meeting satu jam lagi.” “Oke, makasih.” Arsen tidak menatap Freya. Dia sibuk memeriksa berkas yang baru saja diserahkan. “Ini notulennya kok nggak ada, ya?” mengangkat pandangan, Arsen menatap penuh tanya. Freya melirik pada berkas yang kini ada di tangan Arsen, kemudian tersenyum. “Sepertinya saya lupa, padahal tadi saya sudah siapkan. Saya ambil dulu sebentar, Pak.” “Kamu lupa, tapi kamu tertawa?” tanya Arsen dingin. Senyuman langsung hilang dari wajah Freya. “Maafkan saya, Pak, saya ambil dulu sebentar.” Freya hendak berbalik, tapi rupanya Arsen tidak membiarkannya begitu saja. “Freya, saat sedang bekerja, kamu itu sekertaris saya. Bisa nggak kamu lebih teliti? Nggak usah mentang-mentang akhir-akhir ini kita dekat kamu jadi lupa diri! Apa yang saya perintahkan tadi begitu sulit sehingga kamu bahkan tidak mengingat salah satunya?” Freya mengencangkan rahang, menelan gumpalan menyakitkan yang tiba-tiba saja hadir di tenggorokannya. “Maafkan saya, Pak… saya ambil sebentar notulennya.” Arsen tidak menjawab. Dia melihat lagi MoU di hadapannya. Jadi Freya berbalik untuk kembali kemejanya. Tapi didengarnya Arsen bergumam. “Gitu aja nggak becus!” Freya merasa ini sudah keterlaluan sehingga dia berbalik lagi menghadap Arsen. “Saya memang salah karena lupa,” kata Freya dengan suara tegas. “Tapi apa kesalahan saya begitu besar sehingga layak diperlakukan seperti ini? Saya hanya lupa membawanya. Jadi selama bapak duduk di sini dan mempelajari MoU nya ulang, saya akan kembali mengambil notulen!”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN